CERPEN "NURINA"
Terungkap semua isi hatiku.
Alam sadarku alam mimpiku semua milikmu andai kau tau.
Rahasia hatiku.
“Click…..(loading)”
Aku menghela nafas panjang, lelah mengeja kata. Baru
saja puisi singkat menghiasi wall facebookku. Dini hari, 02.13 WIB. Sambil
menguap kecil Aku mengutuk mataku yang tak kunjung mengantuk.
***
“Bi, jadi Nuri jawab apa ke Mas Bayu?”
Aku terus mengaduk-aduk makanan yang ada dihadapanku.
Sesekali Aku melirik Bibi yang terus sibuk memasak.
“Hufffhhh……”
Bibi terdengar menghela nafas dalam. Kemudian menghampiriku sambil berkata “Berpandai-pandai lah Nduk…..Kami sekeluarga yang kini menjadi walimu belum berubah fikiran. Masih seperti kemaren”
Pelan dan tegas. Seketika mataku berkaca-kaca dan satu bulir bening akhirnya jatuh dipipiku.
***
Aku Nurina, gadis 20 tahun yang masih kuliah semester tiga. Ayah dan Ibuku sudah tiada. Hanya ada Aku dan adik laki-lakiku. Kami berdua dalam pengawasan Bibi. Ayahku meninggal dunia saat Aku masih kelas lima sekolah dasar. Dan Ibuku baru saja meninggal 3 tahun yang lalu saat Aku SMA.
Aku gadis biasa dengan perawakan sedang dan hitam manis. Sederhana. Mudah akrab dan mencintai sastra. Jiwa sastralah yang membuatku ada di fakultas sastra ini.
Dan sastra jualah yang kemudian mempertemukanku dengan seorang laki-laki yang akhirnya menjadi sahabat. Kami dekat. Dia pemuda yang menarik. Satu tahun lebih diam-diam Aku melirik. Rupanya ada cinta dalam diam. Hingga suatu ketika dia yang kuanggap sahabat itu datang menghampiriku. Tiada disangka diapun nyatakan cinta. Ya sudah gayung ternyata bersambut. Sosok yang selama ini menari-nari di diatas kertas berupa bait-bait puisi kini menjelma nyata. Hadir didepan mataku. Aku seolah tidak percaya.
“Mas Bayu yakin??” Kataku terbata. Takut masih berada dalam alam mimpi.
Dan dia mengangguk.
Aku terdiam lama. Ingat bahwa selama ini Aku sudah terlalu banyak menabung dosa. Kekagumanku dalam diam. Keinginanku untuk selalu dekat dengannya. Kebahagiaanku saat beraktifitas dengannya. Semua itu dosa. Lalu setelah ini akankah menambah dosa lagi?.
"Aku ingin kita menikah" dengan sangat yakin kalimat itu kolantarkan kepadanya.
Dan dia menjawab “Baik, kapan saya bisa kerumah mu?”.
***
“Nurina. Jangan kamu kira menikah itu gampang. Ingat kamu masih kuliah. Masih lama hingga waktu wisuda datang. Bibi dan keluarga tidak mengizinkan. Maaf ini demi kebaikan masa depan kamu. Kami tidak ingin masa depanmu berantakan hanya karena keinginan sesaat.”
Jelas sekali bahwa Bibi dan keluarga tidak memberiku restu. Meski sudah satu baskom air mata tumpah demi menjelaskan dan meyakinkan mereka bahwa semua akan baik-baik saja. Bahwa kuliah akan berjalan dengan lancar dan justru ini demi kebaikanku, dunia wal akhirat. Aku sudah siap dan sangat ingin menikah. Ahh bagaimana ini?.
***
Aku disini terdiam pilu.
Tersentak tanpa kata,
Seakan dunia gelap oleh kabut malam,
Cahaya mataharipun hilang bersamanya………………..
Satu kata. Merana. Aku kewalahan dalam membujuk hatiku. Hari-hariku terganggu, sangat terganggu. Aku berantakan. Meski Mas Bayu bisa menerima dengan baik, tapi Aku tidak. Menikah belum dibolehkan. Lalu hubungan semacam apa yang akan Aku lalui, yang tidak akan menimbulkan dosa? Adakah?.
Realita kini menjadi pahit. Jiwaku dikuasai nafsu. Aku cinta, titik. Pernikahan, itu yang ku inginkan. Tak kuasa Aku melepaskannya, ingin tetap bersamanya dalam bentuk hubungan apapun. Ahh sementara dosa hendak ku asingkan kemana??.
***
“Mas Bayu maaf ya. Nurina minta kita jalan aja dulu masing-masing. Jika memang jodoh akan ada cara terindah yang Allah berikan. Keluarga Nurina belum mengizinkan dan Nurina tidak ingin pacaran atau hubungan tanpa status….Maaf….”
Aku tersenyum kecut. Hatiku hancur. Ingin sekali Aku menangis tapi tidak mungkin. Kemudian Aku berlalu dengan Jilbab lebarku yang melambai seakan menyisakan jejak kepahitan untuk Mas Bayu yang kukagumi itu. Aku meninggalkannya begitu saja. Rasa bersalah menyelimuti hatiku.
***
Waktu berlalu. Aku berupaya menghindar. Tetapi syaitan bekerja keras dengan sangat apik. Pertemuan demi pertemuan yang tak disengaja ternyata meluluhkan segalanya. Puisi cinta diam-diam kembali tercipta. Secara bahasa dan kata mungkin kami tidak ada hubungan apa-apa. Tapi jiwa tidak bisa berdusta. Setiap hari kami rajin menambah tabungan dosa. SMS an tanpa tema. Jalan bareng tanpa tujuan yang jelas. Kepustaka, kekampus dan ke ke lainnya. Entahlah….
Hari ke hari Aku terus mengusik Bibiku. Berusaha untuk mendapatkan restu. Mencari celah agar diberikan lampu hijau. Siapa sangka. Usaha tidak ada yang sia-sia. Beberapa bulan berlalu akhirnya Bibi luluh juga. Kalimat “Boleh” keluar dari mulut Bibi dan keluarga lainnya. Sungguh Aku bahagia.
“Mas Bayu, Alhamdulillah Bibi sudah mengizinkan. Bolehkah niat kita dulu itu dilanjutkan?” Dengan perasaan yang sangat bahagia dan sedikit gemetar Aku menyampaikan berita bahagia itu kepadanya.
Mas Bayu tercenung. Lama. Dan kemudian menarik nafas dalam.
“Emmmm....oh soal itu nanti kita bahas ya? O ya Nurina saya ada urusan sebentar…..Maaf ya saya tinggal…..” Diapun berlalu dengan langkah yang berat. Aku bingung. Memandang punggunggnya dengan seribu tanda tanya.
***
Aku baru saja hendak tidur. Jam dinding menunjukkan angka 23.03. Angka kegalauan. Seperti halnya hatiku yang masih kebingungan menjawab pertanyaan Bibi. “Jadi kapan pemuda itu akan kesini?”.
Tiba-tiba sebuah pesan singkat masuk. Dengan enggan Aku membacanya.
“Dek, Mas minta maaf ya. Untuk saat ini kita jalani aja dulu semua apa adanya seperti air yang mengalir. Setelah Mas tanya kediri Mas sendiri disitu baru tau kalau Mas ini belum benar-benar yakin untuk segera menikah. Rupanya keinginan sesaat. Berat. Maaf dan sekali lagi maaf…..”
Ingin sekali Aku berteriak kencang. Sayang handphone ku cukup mahal untuk dilemparkan. Tubuhku gemetar. Terguncang. Aku menangis. Sesak. Bahkan kalau boleh bunuh diri Aku ingin bunuh diri saja. Ahhhh.
***
Tujuh bulan berlalu. Selama itu pula semua sunyi. Aku memilih untuk menjauh. Bermain api tiada gunanya. Hanya akan menyiksa diri sendiri. Lebih baik fokus untuk kuliah. Tinggal dua semester lagi. Aku merasa kebodohan menguasai diriku sejak lama.Kebodohan tak terkendali. Sudah berapakah tabungan dosaku?.
Aku tau Allah sudah peringatkan untuk menjaga jarak dengan lelaki non mahram. Entah kenapa dulu malah tidak menarik diri, merasa lemah dalam menolak keinginan hati. Nafsu menguasai. Mata buta, telinga tuli. Terlena dengan indahnya kalimat cinta. Hari ke hari ku lalui dengan upaya membunuh kerinduan yang kadang masih menyala. Aku jelas tersiksa. Oh Tuhan berikanlah kekuatan dan jalan terbaik.
Sementara Mas Bayu, dia masih terus berupaya meminta maaf dariku. Rasa bersalah ada di tatapan matanya yang sendu. Setiap kali dia mendekat Aku segera menjauh. Sms dan telfon darinya ku abaikan dengan segunung rasa penyesalan. Hingga suatu saat Aku kembali diuji melalui pesan singkatnya.
“Dek, Apa kabar? Bolehkah Mas dan keluarga bersilaturrahmi dengan keluargamu....."
Bagai disambar petir Aku gemetar. Harapan yang sudah hampir mati itu kembali bertunas. Apakah dia sudah siap menikah pikirku dalam hati. Ada sedikit kebahagiaan didalam hatiku tetapi bercampur dengan seribu keraguan. Aku tidak ingin bermain-main lagi. Lelah. Upayaku menjaga diri selama tujuh bulan belakangan ini tidaklah mudah.
“Datanglah kerumah bila memang Mas sudah siap menikah. Antara halalkan atau lepaskan, pilihlah salah satunya. Insyaallah kami akan menyambut baik keduanya...."
Click. Tanganku gemetar. Sebuah pesan singkat baru saja kukirim. Apapun akhirnya semoga itu yang terbaik.

