Home » Archives for 2014
Kamis, 18 Desember 2014
Cerpen "Rumitnya Jodoh"
8:38:00 PM Maiyade Laila Yane
Puisi "Sunyi"
8:30:00 PM Maiyade Laila Yane
Kipas berputar putar.
Dingin, merasuk celah pori.
Ruang empat kali tiga.
Alun mengalun, sayup-sayup suara mengaji.
Ahhh sunyi....
Temani hingga pagi,
Ke pagi lagi berkali kali.
Dan kipas berputar putar
Dari pagi hingga ke pagi lagi
Teman teman sudah pergi,
Sunyi...
Batam, 06 Des 2013
Puisi "Jarak"
8:25:00 PM Maiyade Laila Yane
Jika harus memang mengukur jarak.
Tidak ingin tau lagi jumblahnya detik,
Bila itu tentang waktu.
Tapi,
Angin bisikkan bahwa
Detik, meter.
Itu tidak ada.
Katanya pejamkan saja mata.
Hirup lalu rasakan...
uhhhhh....
Tidak pernah ada jarak,
Karena ia ada disini.
Dihati.
Batam, 07 Desember 2013
Puisi "Cinta"
8:21:00 PM Maiyade Laila Yane
Apa itu cinta?
Kenapa begitu sulit bagiku,
Mengejewantahkannya
Dalam kata.
Bahasa demi bahasa,
Sungguh Aku tidak bisa berkata mesra.
Jangan terka,
Seberapa besar cinta yang kupunya.
Cukup mengerti saja.
Bahwa segala yang kulakukan ini
Disebabkan cinta.
Bahkan tak sanggup lagi aku mengeja,
Apa masih ada cinta yang bersisa.
Dariku, teruntuk jiwaku dan segala
Ke Akuan ku.
Batam, 03 September 2014
Cerpen "Tidak Perlu Menggadaikan Bukit Tengah"
7:28:00 PM Maiyade Laila Yane
“Rara? Ngapain disitu…….”
Aku dikejutkan oleh suara seorang lelaki. Aku kaget dan langsung berdiri. Dengan sedikit malu aku tersenyum pada lelaki itu. Dia adalah tetanggaku yang baru saja pulang mandi dari “luak” sebutan tempat pemandian dikampungku
“Eh….Nggak……ini Rara lagi ngambil sesuatu yang jatuh...”
***
“Makan aja susah…….”. Abah menggerutu. Tiba-tiba Abah sangat sensitif.
“Memangnya siapa yang minta kuliah Abah? Rara kan cerita si Marni……..” Aku berusaha menjawab dengan suara selembut mungkin agar Abah agak sedikit reda.
Malam itu kami makan malam bersama. Aktifitas yang tidak pernah tertinggal dalam keluarga sederhanaku. Setelah melaksanakan sholat magrib, Aku, Abah, Ibu dan ketiga orang adikku akan segera berkumpul. Aku dan Ibu sibuk menghidangkan makan malam. Semuanya tanpa diperintah karena memang kebiasaan ini telah mengakar dikeluarga kami.
***
Bapak kepala sekolah pagi ini memberikan nasehat khusus. Upacara bendera bertemakan PMDK, persiapan kelulusan dan persiapan SPMB. Kepala sekolah memberitahukan bahwa minggu ini sudah ada beberapa Universitas yang akan memberikan kesempatan penerimaan mahasiswa baru lewat jalur khusus yaitu PMDK. PMDK selalu ada setiap tahunnya, tidak sedikit dari siswa SMA ku lulus program ini. Kiri kanan kulihat sebagian besar teman-temanku agak sedikit ribut, mereka membicarakan tentang beberapa Universitas yang diminatinya. Dan Aku?.
***
“Ra, kamu beneran ngak mau ambil PMDK? Nilaimu kan memenuhi….., Aku insyaAllah ambil, Aku mau jadi guru. Aku mau kuliah di Universitas Pendidikan. Ibuku telah mengizinkan, Abangku yang akan membiayai semuanya”
“Nggak….aku ngak bakalan kuliah Mar. Aku tidak mampu. Lihat sendirilah kehidupan keluargaku. Lulus SMA aja aku Alhamdulillah…..”
Aku berusaha menahan kesedihanku, aku ingin tetap tersenyum meskipun terlalu pahit.
***
Tidak jauh berbeda di tempat kos pun terlihat sibuk. Beberapa teman ikut PMDK, terutama mereka yang sejurusan denganku. Di kosan ini ada 3 siswa IPA. Aku, Marni dan Fitri. Hanya aku yang tidak sibuk.
“Kamu nggak ikut PMDK Ra?”
“Enggak……”
Dengan wajah yang tidak mengeenakkan aku langsung masuk kamar. Kulihat temanku yang baru saja bertanya kebingungan. Dia bingung tidak tau apa “salahnya” sehingga aku bersikap tidak mengenakkan. Akulah yang salah, karena untuk saat itu Aku sangat benci dengan pertanyaan-pernyataan dan cerita tentang PMDK. Aku benar-benar tidak suka dan mereka yang ada disampingku akan menjadi korban perlakuan dan sikap yang kurang mengenakkan.
***
“Bu…..”
***
“Alhamdulillah, akhirnya selesai juga Ra... Anak anak kelas kita sebagian besar ambil PMDK lho, Si Nengsih ambil di UNBRAW kedokteran. Si Risa IPB, si Anu………………………………..”
***
“Nak, setiap kemauan itu selalu ada jalan. Kita ini adalah manusia yang lemah, segala sesuatu itu ada ditangan Allah. Ketika kita memiliki kemauan, maka disitu Allah akan memberikan jalan. Kita tidak boleh berputus asa terhadap rahmat Allah. Itu sebuah dosa besar. Maka selayaknya kamu coba untuk ikut PMDK, bagaimana nanti itu adalah urusan Allah….”
Kemudian ibu guru biologiku itu menceritakan kisah yang mirip dengan kisahku. Kisah anak-anak kurang mampu yang akhirnya bisa mengenyam pendidikan tinggi. Aku tidak tahu kenapa hari itu Bu Sakinah dengan senang hati menasehatiku. Selesai belajar di laboratorium biologi Aku disuruh untuk tinggal sebentar.
“Ibu sarankan ambillah PMDK dari kampus ini Nak. Ini adalah kesempatanmu yang terakhir. Walaupun hanya D3, tidak apa-apa. Masalah uang, ibu bersedia meminjamkanmu uang. Bayarnya kapan-kapan saja.”
Aku tersenyum. Kesedihan dan optimisme membuat hatiku siang itu galau. Aku memang yakin bahwa Allah selalu membantuku. Dulu bukankah masuk SMP dan SMA juga penuh dengan perjuangan? Tapi buktinya Aku bisa melalui semuanya.
Ku lihat dijari manisku ada sebuah cincin mas 23 karat. Hasil jerih payah Ibu sebagai “buruh cuci”.
***
Aku hari ini senang. Di papan pengumuman sekolah terpampang kesempatan beasiswa untuk melanjutkan kuliah. Bagi yang lulus administrasi maka akan diikutkan dalam tes penjaringan mahasiswa baru. Dibiayai, dikasih uang saku dan transportasi. Bagi yang lulus tes maka universitas yang bersangkutan akan memberikan beasiswa selama satu tahun. Selanjutnya beasiswa akan dipertimbangkan sesuai dengan nilai mahasiswa tersebut selama satu tahun kuliah.
Dengan wajah yang sumringah kusapa temanku Marni siang itu.
“Ikut masukin syarat beasiswa yuk…mana tau kita lulus. Lalu kita bisa kuliah…..” Aku benar-benar senang.
“Yuk, aku juga mau. PMDK ku kan belum tentu lulus juga. Mana tau ini lulus.” begitu jawaban Marni.
Dan kami berdua dengan beberapa teman yang lainnya melengkapi persyaratan beasiswa itu. Tidak banyak yang ikut, karena memang khusus untuk siswa kurang mampu.
***
“Ibu. Maaf……..” lirihku siang itu.
Aku bergegas mengurus surat keterangan sehat ke Puskesmas terdekat. Kemudian menyerahkan uang seratus dua puluh lima ribu rupiah ke Bu Sakinah sebagai syarat pengambilan formulir PMDK yang tinggal dua hari lagi. Aku dan satu lagi temanku, ya hanya dua orang saja yang berminat mengambil PMDK ini. Mungkin karena D3 dan lagi pula yang lain sudah mengambil di Universitas yang lebih bagus dua minggu yang lalu.
“Wah kamu jadi ngambil ya Ra…kok nggak ambil yang kemaren-kemaren? Kan Universitasnya lebih bagus”
“Mungkin rezekiku ini Mar….oh ya kemaren juga ada beasiswa kuliah di AMPJ yang ada di Jogja kan? Kamu ambil? Aku kemaren juga masukin kesana…” dengan semangat empat lima aku menceritakan kepada Marni.
“Nggak lah….nggak minat…..” Marni menjawab dengan lesu.
***
Sabtu kembali datang dan aku harus segera pulang kampung. Rindu.
“Bu, Rara mau minta maaf…..”
“Minta maaf? Untuk apa Nak?” Ibuku terlihat heran.
Ku tunjukkan jariku kepada ibu. Ibuku kaget karena tidak ada lagi cincin 23 karat itu disana.
Ibu melihatku lekat-lekat dalam senyumnya penuh kegetiran.
“Kenapa kau ikut PMDK Nak, kan kamu tau bahwa kamu tidak akan pernah kuliah. Ibu tidak tau bagaimana Abahmu akan marah mendengarkan kamu ingin kuliah. Jangan bebani lagi Abah….dia sudah cukup susah menghidupi kita……” Aku menangis didapur kecil itu.
“Bu, kalau lulus PMDK itu tidak apa-apa kalau tidak jadi diambil. Rara hanya ingin mengobati hati Rara yang sedih. Rara ingin tau bagaimana hasilnya. Apakah Rara mampu bersaing dengan teman-teman atau tidak…”
“Kalau tidak lulus Alhamdulillah, Rara kelak punya cerita bahwa pernah mengajukan PMDK. Dan kalaupun lulus Alhamdulillah ternyata Rara mampu bersaing dengan mereka meskipun tidak diambil Bu…”
“Ohhh…….” Ibu memelukku. Aku merasakan kegetiran hatinya menyelimutiku. Betapa tidak, Aku harus berhenti disini disaat aku memiliki kemampuan untuk maju. Tidak semua orang pintar tapi tidak semua orang pintar bisa untuk terus maju.
“Rara, ada surat dari AMPJ Jogjakarta. Tadi disampaikan Pak pos. Katanya kamu diterima kuliah disana. Kamu dapat beasiswa…….” Abah menyampaikan berapi-api.
Aku mengambil amplop yang ada ditangan Abah. Didalamnya tertera namaku Sdri Rangkuti Majenah. Bahwa aku diterima kuliah disana dengan jalur khusus. Dalam waktu seminggu kedepan aku harus segera daftar ulang ke Jogja. Uang pendaftaran sekitar satu juta.
***
Hari ini pengumuman hasil PMDK. Para siswa berkerumun padat dipapan pengumuman itu. Aku juga tak mau ketinggalan. Beberapa temanku melonjak kegirangan karena namanya tertera disana. Sebagian dari mereka tanpak keluar dengan lesu. Berarti tidak diterima. Kulihat Marni dan Fitri teman satu kos ku keluar dari kerumunan itu dengan wajah tidak bersemangat dan aku tau mereka tidak diterima.
Kerumunan itu mulai sepi, Aku dengan leluasa bisa melihat pengumuman itu.
“Alhamdulillah……..” air mataku menetes. Aku benar benar terharu melihat namaku tercantum jelas dipapan pengumuman itu.
Rangkuti Majenah, D3 Akuntansi .
Sabtu ini Sabtu yang luar biasa. Aku pulang dengan kabar gembira yang tentunya akan menyedihkan. Aku membawa sebuah amplop. Aku tau bahwa aku tidak akan mengambil PMDK ini, tapi aku hanya ingin membuat Ibu dan Abah bangga padaku. Bahwa aku anak yang berprestasi.
“Bah, Rara juga lulus PMDK D3 jurusan akuntans. Daftar ulang tiga minggu lagi. Uangnya dua juta. Tapi Abah tidak usah khawatir karena Rara udah janji untuk tidak mengambilnya. Rara sudah bertekad akan bekerja setamat SMA…” dengan semangat aku meyakinkan Abah malam itu.
Abah kulihat melihat atap rumah. Rumah yang sangat sederhana. Tempat kami tidur, makan, sholat dan berkumpul bersama. Disanalah aku dan tiga orang adikku dibesarkan hingga aku SMA. Rumah itu tidak banyak berubah. Seingatku hanya atapnya yang pernah diganti. Selainnya seolah permanent disana.
“Abah kemaren bincang-bincang di kedai mak Lanih, mereka menyuruh Abah tetap menguliahkanmu. Abah akan konsultasi dulu sama si Af yang bekerja di kantor camat. Abah bingung bagusnya kamu kuliah di AMPJ jogja atau kita ambil D3 itu saja. Allah akan mudahkan jalan kita meski Abah tak punya uang satu sen pun……”
***
“Lihatlah…rumahnya saja seperti itu. Bagaimana mau kuliah…….untuk makan sehari-hari saja masih susah. Memanglah anak-anak sekarang kadang tidak tau diri. Selalu membebani orang tua…..” Aku hanya tersenyum. Mereka terlalu sibuk dengan urusanku.
“Mereka tak punya Tuhan, makanya bicara seperti itu…….mereka tak tahu bahwa Allah Maha Kuasa dan Maha Kaya…” kata Abah.
Kulihat Abah menahan amarah. Kami memang sering diejek tapi setiap ejekan selalu berbeda dengan kenyataannya. Mereka tidak tahu bahwa dengan hidup dalam kekurangan kami menjadi keluarga yang selalu meminta dan bersyukur kepada yang Maha Kaya. Dan mereka tidak pernah merasakan betapa nikmatnya, tidak akan pernah.
***
Allah Aku selalu tersanjung dengan kebesaranMU.
Allah membuktikan kepada Abah bahwa untuk kuliahku abah tidak perlu punya banyak sawah, Abah tidak perlu punya banyak kerbau apalagi sampai menggadaikan BUKIT TENGAH. Satu satunya bukit yang ada dikampung kami.
***
By. Maiyade Laila Yane A.Md
