Cerpen "Tidak Perlu Menggadaikan Bukit Tengah"
Tiba tiba aku ingin bersujud dihadapan Allah sebagai rasa syukurku.
Aku tak peduli bahwa aku sedang berada di sebuah jalan setapak antara
rumahku dengan rumah nenek. Disitu aku bersimpuh sesaat ketika suara
adzan magrib baru saja dikumandangkan. Sinar jingga telah mulai
menghilang berganti dengan kegelapan yang perlahan menyelimuti seluruh
kampung….magrib….
“Rara? Ngapain disitu…….”
Aku dikejutkan oleh suara seorang lelaki. Aku kaget dan langsung berdiri. Dengan sedikit malu aku tersenyum pada lelaki itu. Dia adalah tetanggaku yang baru saja pulang mandi dari “luak” sebutan tempat pemandian dikampungku
“Rara? Ngapain disitu…….”
Aku dikejutkan oleh suara seorang lelaki. Aku kaget dan langsung berdiri. Dengan sedikit malu aku tersenyum pada lelaki itu. Dia adalah tetanggaku yang baru saja pulang mandi dari “luak” sebutan tempat pemandian dikampungku
.
“Eh….Nggak……ini Rara lagi ngambil sesuatu yang jatuh...”
“Eh….Nggak……ini Rara lagi ngambil sesuatu yang jatuh...”
Kujawab sekenanya dan Akupun berlalu dengan senyum terharu, sedikit sisa air mata dipipiku.
***
“Bah, si Marni katanya mau kuliah……” malam itu kubuka pembicaraan dengan Abah.
“Kulliah??? Kau dengan apa mau kuliah Rara?? dasar anak tak tau diri,
apa yang mau kau gadaikan? Bukit tengah ini? Kerbau mana yang mau kau
jual? Berapa luas tanah yang kau punya……..”
“Makan aja susah…….”. Abah menggerutu. Tiba-tiba Abah sangat sensitif.
“Memangnya siapa yang minta kuliah Abah? Rara kan cerita si Marni……..” Aku berusaha menjawab dengan suara selembut mungkin agar Abah agak sedikit reda.
Malam itu kami makan malam bersama. Aktifitas yang tidak pernah tertinggal dalam keluarga sederhanaku. Setelah melaksanakan sholat magrib, Aku, Abah, Ibu dan ketiga orang adikku akan segera berkumpul. Aku dan Ibu sibuk menghidangkan makan malam. Semuanya tanpa diperintah karena memang kebiasaan ini telah mengakar dikeluarga kami.
Momen makan malam adalah
momen untuk membicarakan segalanya. Aku dengan semua keinginanku, adik
adikku dengan aktifitasnya seharian, Abah dengan keluh kesahnya dan Ibulah yang selalu menjadi pendengar sejati. Ibu jarang berkeluh kesah,
beliau hanya berkomentar lalu akan tersenyum. Malam ini abah terlihat
pendiam, sepertinya gusar dengan ceritaku tentang Marni. Ibu kulihat
tidak senang dengan sikap Abah. Dan mereka berdua tidak dapat
kumengerti, khususnya malam itu.
***
Minggu ini minggu yang sibuk di sekolah. Khususnya mereka yang hari ini
telah kelas tiga. Kami kini berada disemester dua kelas 3 SMA. Siswa,
guru, staf bahkan penjaga sekolah membicarakan tentang kelulusan dan
kelanjutan kami setelah SMA.
Bapak kepala sekolah pagi ini memberikan nasehat khusus. Upacara bendera bertemakan PMDK, persiapan kelulusan dan persiapan SPMB. Kepala sekolah memberitahukan bahwa minggu ini sudah ada beberapa Universitas yang akan memberikan kesempatan penerimaan mahasiswa baru lewat jalur khusus yaitu PMDK. PMDK selalu ada setiap tahunnya, tidak sedikit dari siswa SMA ku lulus program ini. Kiri kanan kulihat sebagian besar teman-temanku agak sedikit ribut, mereka membicarakan tentang beberapa Universitas yang diminatinya. Dan Aku?.
***
Bapak kepala sekolah pagi ini memberikan nasehat khusus. Upacara bendera bertemakan PMDK, persiapan kelulusan dan persiapan SPMB. Kepala sekolah memberitahukan bahwa minggu ini sudah ada beberapa Universitas yang akan memberikan kesempatan penerimaan mahasiswa baru lewat jalur khusus yaitu PMDK. PMDK selalu ada setiap tahunnya, tidak sedikit dari siswa SMA ku lulus program ini. Kiri kanan kulihat sebagian besar teman-temanku agak sedikit ribut, mereka membicarakan tentang beberapa Universitas yang diminatinya. Dan Aku?.
***
“Ra, kamu beneran ngak mau ambil PMDK? Nilaimu kan memenuhi….., Aku insyaAllah ambil, Aku mau jadi guru. Aku mau kuliah di Universitas Pendidikan. Ibuku telah mengizinkan, Abangku yang akan membiayai semuanya”
Marni bercerita dengan begitu bersemangat. Kulihat matanya berbinar-binar
penuh harapan. Marni dengan segala impiannya waktu itu. Aku sedikit
tidak senang. Aku cemburu.
“Nggak….aku ngak bakalan kuliah Mar. Aku tidak mampu. Lihat sendirilah kehidupan keluargaku. Lulus SMA aja aku Alhamdulillah…..”
Aku berusaha menahan kesedihanku, aku ingin tetap tersenyum meskipun terlalu pahit.
***
Minggu ini adalah minggu tersibuk buat “mereka”. Sebagian dari mereka
diizinkan untuk tidak ke sekolah karena harus mengurus surat keterangan
sehat, akte kelahiran dan lain-lain yang menjadi syarat pengajuan PMDK.
Mayoritas siswa di kelasku mengurusnya, karena memang kelasku terdiri
dari siswa berprestasi sejak kelas satu.
Tidak jauh berbeda di tempat kos pun terlihat sibuk. Beberapa teman ikut PMDK, terutama mereka yang sejurusan denganku. Di kosan ini ada 3 siswa IPA. Aku, Marni dan Fitri. Hanya aku yang tidak sibuk.
“Kamu nggak ikut PMDK Ra?”
“Enggak……”
Dengan wajah yang tidak mengeenakkan aku langsung masuk kamar. Kulihat temanku yang baru saja bertanya kebingungan. Dia bingung tidak tau apa “salahnya” sehingga aku bersikap tidak mengenakkan. Akulah yang salah, karena untuk saat itu Aku sangat benci dengan pertanyaan-pernyataan dan cerita tentang PMDK. Aku benar-benar tidak suka dan mereka yang ada disampingku akan menjadi korban perlakuan dan sikap yang kurang mengenakkan.
***
Alhamdulillah Sabtu telah tiba. Saatnya pulang kampung. Aku rindu Ibu.
Sore itu aku menemani Ibu memasak didapur. Kulihat dapurku semakin
parah. Dapur yang berukuran tidak lebih dua kali dua meter itu terlihat
becek disana sini. Ibu kesulitan. Aku duduk ditangga dapur.
“Bu…..”
“Bu…..”
“Ya…..” kulihat Ibu agak sedikit kerepotan untuk memasak dengan kondisi dapur yang becek.
“Dapur kita atapnya semakin banyak yang bocor ya….” tanyaku dengan lugu.
“Iya, kayu-kayu jadi ikut basah. Masak nasi aja susah…..”
“Bu, tau nggak…teman-teman Rara minggu ini sibuk semua ngurus PMDK. Itu
lho, program khusus buat anak-anak berprestasi yang bisa masuk kuliah
tanpa tes. Banyak teman-teman Rara yang ikut. Marni, Fitri. Rara sering
ditanya, kenapa tidak ikut. Guru-gurupun heran kenapa Rara tidak ambil
kesempatan ini. Rara stress jadinya…..”
“Nggak usah stress nak, bilang saja sama mereka kalau kamu tidak
melanjutkan ke tinggkat kuliah. Ibu yakin kamu bisa dapat kerja setamat
SMA nanti. Kata ibu Ita, dia nanti bisa bantu carikan kamu kerja.
Kuliah butuh uang yang banyak Nak….mau kita cari kemana?”
Suara ibu lembut dan meyakinkan. Ibu tidak mau bersedih dengan kesedihanku. Sore itu kami tersenyum getir.
“Bu…mana Kakak? Kakak belum pergi kan bu?” tiba-tiba suara adikku yang bungsu
memecah pembicaraan kami. Dia selalu mengecek keberadaanku, hanya
sekedar ingin tau apakah aku masih dirumah atau sudah kembali ke kos.
Dia sangat menyayangiku, adik kecilku.
***
***
“Alhamdulillah, akhirnya selesai juga Ra... Anak anak kelas kita sebagian besar ambil PMDK lho, Si Nengsih ambil di UNBRAW kedokteran. Si Risa IPB, si Anu………………………………..”
Aku tidak mendengar perkataan Marni dengan jelas. Tidak berminat.
Kulihat mereka begitu sumringah, Harapan dan impian mereka akan segera
terwujud. Menjadi seorang mahasiswa kemudian bekerja dengan memakai
seragam dan yang laki-laki mungkin akan berdasi. Sementara aku, aku
ingin jadi tukang jahit saja. Aku ingin belajar menjahit.
***
***
“Nak, setiap kemauan itu selalu ada jalan. Kita ini adalah manusia yang lemah, segala sesuatu itu ada ditangan Allah. Ketika kita memiliki kemauan, maka disitu Allah akan memberikan jalan. Kita tidak boleh berputus asa terhadap rahmat Allah. Itu sebuah dosa besar. Maka selayaknya kamu coba untuk ikut PMDK, bagaimana nanti itu adalah urusan Allah….”
Kemudian ibu guru biologiku itu menceritakan kisah yang mirip dengan kisahku. Kisah anak-anak kurang mampu yang akhirnya bisa mengenyam pendidikan tinggi. Aku tidak tahu kenapa hari itu Bu Sakinah dengan senang hati menasehatiku. Selesai belajar di laboratorium biologi Aku disuruh untuk tinggal sebentar.
“Ibu sarankan ambillah PMDK dari kampus ini Nak. Ini adalah kesempatanmu yang terakhir. Walaupun hanya D3, tidak apa-apa. Masalah uang, ibu bersedia meminjamkanmu uang. Bayarnya kapan-kapan saja.”
Aku tersenyum. Kesedihan dan optimisme membuat hatiku siang itu galau. Aku memang yakin bahwa Allah selalu membantuku. Dulu bukankah masuk SMP dan SMA juga penuh dengan perjuangan? Tapi buktinya Aku bisa melalui semuanya.
Ku lihat dijari manisku ada sebuah cincin mas 23 karat. Hasil jerih payah Ibu sebagai “buruh cuci”.
***
Aku hari ini senang. Di papan pengumuman sekolah terpampang kesempatan beasiswa untuk melanjutkan kuliah. Bagi yang lulus administrasi maka akan diikutkan dalam tes penjaringan mahasiswa baru. Dibiayai, dikasih uang saku dan transportasi. Bagi yang lulus tes maka universitas yang bersangkutan akan memberikan beasiswa selama satu tahun. Selanjutnya beasiswa akan dipertimbangkan sesuai dengan nilai mahasiswa tersebut selama satu tahun kuliah.
Dengan wajah yang sumringah kusapa temanku Marni siang itu.
“Ikut masukin syarat beasiswa yuk…mana tau kita lulus. Lalu kita bisa kuliah…..” Aku benar-benar senang.
“Yuk, aku juga mau. PMDK ku kan belum tentu lulus juga. Mana tau ini lulus.” begitu jawaban Marni.
Dan kami berdua dengan beberapa teman yang lainnya melengkapi persyaratan beasiswa itu. Tidak banyak yang ikut, karena memang khusus untuk siswa kurang mampu.
***
“Ibu. Maaf……..” lirihku siang itu.
Aku bergegas mengurus surat keterangan sehat ke Puskesmas terdekat. Kemudian menyerahkan uang seratus dua puluh lima ribu rupiah ke Bu Sakinah sebagai syarat pengambilan formulir PMDK yang tinggal dua hari lagi. Aku dan satu lagi temanku, ya hanya dua orang saja yang berminat mengambil PMDK ini. Mungkin karena D3 dan lagi pula yang lain sudah mengambil di Universitas yang lebih bagus dua minggu yang lalu.
“Wah kamu jadi ngambil ya Ra…kok nggak ambil yang kemaren-kemaren? Kan Universitasnya lebih bagus”
“Mungkin rezekiku ini Mar….oh ya kemaren juga ada beasiswa kuliah di AMPJ yang ada di Jogja kan? Kamu ambil? Aku kemaren juga masukin kesana…” dengan semangat empat lima aku menceritakan kepada Marni.
“Nggak lah….nggak minat…..” Marni menjawab dengan lesu.
Sungguh minggu itu minggu yang sangat menyenangkan.
***
***
Sabtu kembali datang dan aku harus segera pulang kampung. Rindu.
Sore itu kembali kubantu ibu memasak didapur. Kali ini dapur dua kali
dua meter itu tidak lagi becek. Cuaca cukup bersahabat
sehingga tidak ada hujan.
“Bu, Rara mau minta maaf…..”
“Bu, Rara mau minta maaf…..”
“Minta maaf? Untuk apa Nak?” Ibuku terlihat heran.
Ku tunjukkan jariku kepada ibu. Ibuku kaget karena tidak ada lagi cincin 23 karat itu disana.
“Kemana cincinmu? Hilang dimana nak?” Ibu panik. Aku memeluk ibu dan menangis.
“Cincin itu Rara jual bu……Rara ingin ikut PMDK seperti teman-teman yang
lainnya. Rara hanya ingin membuktikan apakah lulus atau tidak…..”
Ibu melihatku lekat-lekat dalam senyumnya penuh kegetiran.
Ibu melihatku lekat-lekat dalam senyumnya penuh kegetiran.
“Kenapa kau ikut PMDK Nak, kan kamu tau bahwa kamu tidak akan pernah kuliah. Ibu tidak tau bagaimana Abahmu akan marah mendengarkan kamu ingin kuliah. Jangan bebani lagi Abah….dia sudah cukup susah menghidupi kita……” Aku menangis didapur kecil itu.
“Bu, kalau lulus PMDK itu tidak apa-apa kalau tidak jadi diambil. Rara hanya ingin mengobati hati Rara yang sedih. Rara ingin tau bagaimana hasilnya. Apakah Rara mampu bersaing dengan teman-teman atau tidak…”
“Kalau tidak lulus Alhamdulillah, Rara kelak punya cerita bahwa pernah mengajukan PMDK. Dan kalaupun lulus Alhamdulillah ternyata Rara mampu bersaing dengan mereka meskipun tidak diambil Bu…”
“Ohhh…….” Ibu memelukku. Aku merasakan kegetiran hatinya menyelimutiku. Betapa tidak, Aku harus berhenti disini disaat aku memiliki kemampuan untuk maju. Tidak semua orang pintar tapi tidak semua orang pintar bisa untuk terus maju.
***
“Rara, ada surat dari AMPJ Jogjakarta. Tadi disampaikan Pak pos. Katanya kamu diterima kuliah disana. Kamu dapat beasiswa…….” Abah menyampaikan berapi-api.
“Rara, ada surat dari AMPJ Jogjakarta. Tadi disampaikan Pak pos. Katanya kamu diterima kuliah disana. Kamu dapat beasiswa…….” Abah menyampaikan berapi-api.
Aku mengambil amplop yang ada ditangan Abah. Didalamnya tertera namaku Sdri Rangkuti Majenah. Bahwa aku diterima kuliah disana dengan jalur khusus. Dalam waktu seminggu kedepan aku harus segera daftar ulang ke Jogja. Uang pendaftaran sekitar satu juta.
***
Hari ini pengumuman hasil PMDK. Para siswa berkerumun padat dipapan pengumuman itu. Aku juga tak mau ketinggalan. Beberapa temanku melonjak kegirangan karena namanya tertera disana. Sebagian dari mereka tanpak keluar dengan lesu. Berarti tidak diterima. Kulihat Marni dan Fitri teman satu kos ku keluar dari kerumunan itu dengan wajah tidak bersemangat dan aku tau mereka tidak diterima.
Kerumunan itu mulai sepi, Aku dengan leluasa bisa melihat pengumuman itu.
“Alhamdulillah……..” air mataku menetes. Aku benar benar terharu melihat namaku tercantum jelas dipapan pengumuman itu.
Rangkuti Majenah, D3 Akuntansi .
***
Sabtu ini Sabtu yang luar biasa. Aku pulang dengan kabar gembira yang tentunya akan menyedihkan. Aku membawa sebuah amplop. Aku tau bahwa aku tidak akan mengambil PMDK ini, tapi aku hanya ingin membuat Ibu dan Abah bangga padaku. Bahwa aku anak yang berprestasi.
“Bah, Rara juga lulus PMDK D3 jurusan akuntans. Daftar ulang tiga minggu lagi. Uangnya dua juta. Tapi Abah tidak usah khawatir karena Rara udah janji untuk tidak mengambilnya. Rara sudah bertekad akan bekerja setamat SMA…” dengan semangat aku meyakinkan Abah malam itu.
Abah kulihat melihat atap rumah. Rumah yang sangat sederhana. Tempat kami tidur, makan, sholat dan berkumpul bersama. Disanalah aku dan tiga orang adikku dibesarkan hingga aku SMA. Rumah itu tidak banyak berubah. Seingatku hanya atapnya yang pernah diganti. Selainnya seolah permanent disana.
“Abah kemaren bincang-bincang di kedai mak Lanih, mereka menyuruh Abah tetap menguliahkanmu. Abah akan konsultasi dulu sama si Af yang bekerja di kantor camat. Abah bingung bagusnya kamu kuliah di AMPJ jogja atau kita ambil D3 itu saja. Allah akan mudahkan jalan kita meski Abah tak punya uang satu sen pun……”
Sabtu ini Sabtu yang luar biasa. Aku pulang dengan kabar gembira yang tentunya akan menyedihkan. Aku membawa sebuah amplop. Aku tau bahwa aku tidak akan mengambil PMDK ini, tapi aku hanya ingin membuat Ibu dan Abah bangga padaku. Bahwa aku anak yang berprestasi.
“Bah, Rara juga lulus PMDK D3 jurusan akuntans. Daftar ulang tiga minggu lagi. Uangnya dua juta. Tapi Abah tidak usah khawatir karena Rara udah janji untuk tidak mengambilnya. Rara sudah bertekad akan bekerja setamat SMA…” dengan semangat aku meyakinkan Abah malam itu.
Abah kulihat melihat atap rumah. Rumah yang sangat sederhana. Tempat kami tidur, makan, sholat dan berkumpul bersama. Disanalah aku dan tiga orang adikku dibesarkan hingga aku SMA. Rumah itu tidak banyak berubah. Seingatku hanya atapnya yang pernah diganti. Selainnya seolah permanent disana.
“Abah kemaren bincang-bincang di kedai mak Lanih, mereka menyuruh Abah tetap menguliahkanmu. Abah akan konsultasi dulu sama si Af yang bekerja di kantor camat. Abah bingung bagusnya kamu kuliah di AMPJ jogja atau kita ambil D3 itu saja. Allah akan mudahkan jalan kita meski Abah tak punya uang satu sen pun……”
Mata Abah berkaca kaca. Aku dan Ibu pun berkaca-kaca. Dalam
keharuan kami sangat bahagia. Dengan satu keyakinan bahwa Allah akan
mudahkan urusan kami. Malam itu Abah begitu berbeda. Aku sayang Abah,
walaupun pemarah, Abah penyayang. Dia sangat menyayangiku.
***
Rasanya kebahagiaanku bertubi-tubi. Aku merasa mendapatkan durian
runtuh. Setelah tau lulus AMPJ kemudian D3 Akuntansi dan ternyata
hari ini aku mendapatkan kabar bahwa aku lulus seleksi tes SPMB
gratis.
***
Abah, Ibu dan keluarga besarku semakin sayang padaku. Sungguh semuanya
diluar dugaan. Aku benar-benar telah membanggakan mereka. Dikampung kini aku menjadi bahan pembicaraan para tetangga. Ada
yang mengatakan aku akan ke Jogja dan ada pula yang mengatakan bahwa
aku tidak mungkin akan melanjutkan ke Perguruan Tinggi.
“Lihatlah…rumahnya saja seperti itu. Bagaimana mau kuliah…….untuk makan sehari-hari saja masih susah. Memanglah anak-anak sekarang kadang tidak tau diri. Selalu membebani orang tua…..” Aku hanya tersenyum. Mereka terlalu sibuk dengan urusanku.
“Lihatlah…rumahnya saja seperti itu. Bagaimana mau kuliah…….untuk makan sehari-hari saja masih susah. Memanglah anak-anak sekarang kadang tidak tau diri. Selalu membebani orang tua…..” Aku hanya tersenyum. Mereka terlalu sibuk dengan urusanku.
“Mereka tak punya Tuhan, makanya bicara seperti itu…….mereka tak tahu bahwa Allah Maha Kuasa dan Maha Kaya…” kata Abah.
Kulihat Abah menahan amarah. Kami memang sering diejek tapi setiap ejekan selalu berbeda dengan kenyataannya. Mereka tidak tahu bahwa dengan hidup dalam kekurangan kami menjadi keluarga yang selalu meminta dan bersyukur kepada yang Maha Kaya. Dan mereka tidak pernah merasakan betapa nikmatnya, tidak akan pernah.
***
Dan magrib ini aku bersujud dijalan setapak ini karna bersyukur akan
kebesaran Allah. Hari ini telah diputuskan bahwa aku akan kuliah di D3 Akuntansi itu. Abah beserta keluarga besar akan mengupayakan uang
pendaftaran sekitar dua juta. Minggu depan aku daftar ulang.
Aku sangat bahagia. Cita-citaku sebagai tukang jahit memang tidak
terwujud tetapi aku akan bekerja sebagai Accounting tentunya.
***
Segala sesuatu kuasa Allah. Marni yang dulu selalu memanas-manasiku
tentang kuliah ternyata tidak diperkenankan untuk itu. Dia sama sekali
tidak pernah kuliah. Kini dia telah menikah dan memiliki satu anak dan
kabarnya akan nambah satu lagi. Fitri kini kuliah setelah satu tahun
terlebih dahulu menganggur. Dan Aku…, Aku masih ingat nasehat Bu Sakinah
waktu itu.
Aku berterima kasih kepada beliau karena telah mengobarkan
api semangat kepadaku hingga akhirnya aku nekad menjual cincin hasil
jerih payah ibu tanpa izin. Perkuliahanku berjalan lancar. Tiga tahun
berlalu dengan begitu cepat. Aku mendapatkan beasiswa sehingga
boleh dikatakan Aku kuliah dengan gratis. Ibu dan Abah tidak pernah
memikirkan uang semesterku. Semua telah dibayar lewat beasiswa itu hingga Aku wisuda. Begitulah Allah dengan segala rahasianya.
Allah Aku selalu tersanjung dengan kebesaranMU.
Allah membuktikan kepada Abah bahwa untuk kuliahku abah tidak perlu punya banyak sawah, Abah tidak perlu punya banyak kerbau apalagi sampai menggadaikan BUKIT TENGAH. Satu satunya bukit yang ada dikampung kami.
Allah Aku selalu tersanjung dengan kebesaranMU.
Allah membuktikan kepada Abah bahwa untuk kuliahku abah tidak perlu punya banyak sawah, Abah tidak perlu punya banyak kerbau apalagi sampai menggadaikan BUKIT TENGAH. Satu satunya bukit yang ada dikampung kami.
***
By. Maiyade Laila Yane A.Md
MENGENANG MASA SILAM ITU INDAH, MENAMBAH RASA SYUKUR….SEMOGA DAPAT DIAMBIL HIKMAH YA.

0 komentar :
Posting Komentar