Ibu

Tampilkan postingan dengan label Ibu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ibu. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 April 2017

Daya Tarik KIRANA_nya mba @retnohening


Tiba-tiba saya antusias sekali ingin memiliki buku Happy Little Soul karangan mba @retnohening.

Sebuah buku yang sepertinya menceritakan seorang ibuk_nya KIRANA, temen main_nya KIRANA, Si bocah kecil yang masih 3 tahunan tetapi mampu memiliki follower IG @retnohening per hari ini mencapai 689K.

Saya menebak isi bukunya ini menceritakan bagaimana cara sang Ibuk sehari-hari menemani kembang tumbuh KIRANA dengan cara yang menurut saya sangat kreatif & edukatif sehingga KIRANA tumbuh menjadi balita cerdas, polos dan sangat menarik.

Saya sudah menjadi follower IG nya hampir satu tahun belakangan. Persis saat menunggu kelahiran Habib.

Saya tertarik dengan KIRANA. Video demi video saya ikuti, tak jarang saya cekikikan sendiri melihat tingkahnya KIRANA. Mimik wajahnya yang benar-benar menggemaskan. Pernyataan-pernyataan polos namun cerdas.

Dan senyumnya itu lho....Maasyaallah...

Beberapa kelucuan yang masih saya ingat karna saya gemes dengan jawabannya. Kira-kira seperti dibawah ini.

Disebuah video Ibuk nanya "Kirana, boong itu yang kayak mana sii....."

Kirana jawab "Ayah, Ayah kentut ya? Ayah bilang iya, sorry....itu nga bohong... "

"Ayah, Ayah kentut ya? Ayah bilang engga...itu bohong...."

Tambah lucu lagi dengan mimik wajahnya yang entahlah menggemaskan sekali.

Atau divideo lainnya Ibuk bertanya "Kirana, Kirana klo sudah besar mo ngapain?"

Dengan sangat antusias Kirana menjawab "Kalau sudah besar Kirana mau ambil tissue di atas kulkas....."

Lihatlah betapa polosnya jawaban Kirana.

Atau video lain memperlihatkan kegembiraan Kirana saat diajarkan bermain games maghnet yang menggunakan penggaris dan sobekan-sobekan kertas.

Itu looo kita dulu SD baru tau yang begituan. Sebuah penggaris digosok-gosokkan ke rambut kemudian di dekatkan ke arah sobekan-sobekan kertas. Dan kertas akan bergerak karna daya tarik maghnet.

Saya melihat mba @retnohening seorang Ibu yang cerdas dan kreatif dalam mendampingi tumbuh kembang anaknya. Stimulasi yang diberikan ke Kirana edukatif semua.

Banyak anak-anak sekarang yang pintar bicara alias bijak tapi terlalu cepat dewasa. Berbeda dengan Kirana. Dia tumbuh cerdas, kreatif dan sangat polos sebagaimana mestinya anak-anak.

Dan akhir maret via IG saya mendapat informasi tentang penerbitan buku Happy Little Soul oleh Gagas Media. Beberapa toko buku ditunjuk untuk partner pembukaan PO dari tgl 1-10 April.

Tanggal 1 April langsung saya hubungi no kontak toko buku yang melayani PO buku Happy Little Soul. Slowrespon. Malam baru dibalas. Eh eeehh katanya maaf quota sudah habis, intinya saya sudah nga kebagian PO. Padahal masih tanggal 1 April loo(Hiks). Kebayang kan antusiasme para follower Kirana.

Akhirnya bersabar menunggu di toko buku. Beberapa toko buku di Jawa kabarnya sudah ada, tapi Batam kayaknya belum (Belum cek). Tapi ternyata Saya nga sabar sebab di IG berseliweran pada pamer buku itu. 

Akhirnya iseng searching via shopee. Dan horeeee dapat dengan harga nga jauh beda sama PO trus gratis ongkir lagi. Kebetulan shopee lagi promo gratis ongkir min belanja 70rb. Padahal biasanya minimal belanja 120rb. Alhamdulillah rezeki anak sholehah yang sabar wkwk. 

Yeay sekarang lagi nunggu buku ceritanya . Penasaran banget sama isinya. Trik-trik parenting ala mba @retnohening yang nantinya bisa dicontoh ^_^

Ya nga papa lah. Yang penting ketemu sm bukunya hehe...

Kamis, 13 April 2017

Kerapihan Rumah Dan Balita.


Setiap orang memiliki fitrah mencintai keindahan dan kerapihan. Terutama wanita. Begitu juga dengan saya. Rumah rapi salah satunya.

Tetapi sejak memiliki bayi yang telah tumbuh menjadi batita, memiliki rumah yang selalu rapi sepanjang hari sudah ternomer duakan dalam deretan impian saya.

Si kecil hari demi hari semakin aktif dan semakin ingin tau. Mulai saat bisa merangkak, segalanya di obok-obok. Kain-kain yang dilipat. Barang-barang dilemari. Yang paling favorit baginya adalah rak piring mini (satu-satunya rak piring yang kami punya hehe).

Saya ingin memberikan kebebasan kepada anak saya dalam tumbuh & berkembang. Sehingga jarang sekali saya memberikan larangan kecuali jika itu berbahaya. Memakan segala sesuatu misalnya.

Saya hanya memastikan disetiap sudut rumah tidak ada yang membahayakan. Seperti aliran listrik (semua colokan dan charger diamankan). Atau benda-benda tajam, apapun yang terbuat dari kaca maupun yang mengandung racun dijauhkan dari jangkauan sikecil. 

Selebihnya boleh diobok-obok. Walaupun dengan konsekuensi rumah tidak akan bisa rapi disepanjang hari kecuali saya punya cadangan energi yang banyak untuk tiap sebentar merapikan segalanya.

Yups rumah akan rapi hanya saat si kecil bobo dan beberapa menit sebelum ayahnya pulang hihi. Itupun supaya tidak ada komentar "rumah kenapa berantakan?". Kadang sebagian laki-laki sering lupa klo punya anak balita.

Bukan lagi sesuatu yang aneh saat wadah, sendok nasi atau apapun (yang pasti terbuat dari bahan plastik) tergeletak tidak pada tempatnya. Di kasur, di lemari tv bahkan di teras rumah.

Yang pasti, saya selalu berusaha untuk tidak mengabaikan kebersihan, terutama lantai. Jangan sampai ada sampah, sekecil apapun dilantai. Karna sikecil biasanya memungut apa saja lalu reflek memasukkannya ke mulut. Ini yang kadang membuat saya histeris saat kecolongan.

Punya balita bagi sebagian orang mungkin agak melelahkan. Tapi alangkah rugi nya jika moment ini tidak dinikmati. Toh semua nanti akan berlalu dan kelak disaat rumah kita selalu rapi & anak-anak semakin besar, kita akan merindukan rumah berantakan itu kembali. Rumah yang tak obahnya seerti kapal pecah...

Yukkk ibu-ibu semangat...
Untulk selalu menjadi Ibu bahagia.


Rabu, 05 April 2017

Karakter Ibu Baru. PANIKAN!


Pengalaman lucu, agak memalukan tapi tanpa penyesalan hihi....

Si kecil, Habib baru saja demam panas. Panasnya turun naik berkisar di angka 38 derjat celcius sampai 40,5 derjat celcius. Ini demamnya yang ketiga kali sejak lahir hingga berusia 10 bulan. Demam terlama, hingga hari ke empat baru agak baikan. Sebagai Ibu baru jelas saya panik dan khawatir. Meski ada neneknya yang biasa membantu menjaga Habib disaat saya berangkat kerja, saya memutuskan untuk mendampingi masa-masa sakitnya Habib. Setia dan memilih untuk cuti selama Habib demam. Lumayan butuh tenaga ekstra mengingat Habib yang selalu ingin digendong. Bahkan tidurpun digendong.

Singkat cerita Habib dihari kelima mulai membaik. Tetapi saya agak khawatir berhubung seluruh tubuh Habib tiba-tiba muncul bintik-bintik halus berwarna merah. Dibagian badan dan wajah. Banyak. 

Berhubung ilmu terbatas saya menjadi khawatir, jangan-jangan ini campak (pada hal suhu tubuhnya sudah mulai normal). Mengingat Habib tidak divaksin satu kalipun. Saya tidak mengungkapkan kekhawatiran saya kepada suami dan neneknya Habib. 

Hingga esok malamnya saat kami tertidur pulas (tepatnya jam 11 malam) tiba-tiba Habib berteriak dan menangis kencang. Saya terkejut (syock) dan langsung menggendong Habib. Tubuhnya agak tegang (bukan kejang) dan Habib terus menangis kencang dengan mata yang masih tertutup. Awalnya saya mencoba santai. Menggendong sambil berjalan diseluruh ruangan rumah. Dari kamar hingga keruang tamu. Habib terus menangis kencang. Saya mulai panik. Melihat saya panik suamipun mulai panik. Nenek Habib yang masih agak tenang.

Nenek Habib mengambil kain kemudian membasahinya dan mengusapkan ke wajah Habib. Habib masih saja menangis kencang dan belum membuka mata. 

"Kayaknya Habib mimpi....." Kata nenek dengan santai.

Aku mulai menangis. Jangan-jangan ini campak. Aku ngotot minta Habib dibawa ke RS, nga mau tau apakah dia sakit atau tidak. Aku melihat bintik-bintik ditubuhnya bertambah merah. Setelah dicek oleh dokter baru saya akan merasa tenang.

Suamipun mengiyakan. Nenek tidak bisa menolak meski ragu untuk dibawa ke RS.

Kami membangunkan tetangga yang memiliki mobil minta tolong untuk diantar ke RS terdekat yang jaraknya tidak begitu jauh dari rumah. Tetangga yang lain ikut bertanya-tanya kami mo kemana?.

Dalam perjalanan ke RS Habib sudah tenang, sudah mau minum susu. Bahkan terlihat sehat-sehat saja dan malah tertarik melihat-lihat ke jendela mobil. Nenek Habib senyum-senyum.

Sesampai di RS kami langsung ke UGD. Suhu tubuh Habib dicek. Normal. Kemudian dokter memeriksa denyut jantung. Saya dengan antusias menceritakan semua kronologis mulai dari demam panas, bintik-bintik merah hingga kejadian malam ini.

Pak dokternya (dokter muda keturunan cina, mirip aktor korea wkwk) tersenyum dan menjelaskan dengan tenang bahwa Habib sehat. Habib bukan campak. Bintik-bintik merah hanyalah efek virus yang menyebabkan Habib demam panas. Tinggal dikasih bedak akan hilang sendiri. Dokter bertanya tentang vaksin. Dengan malu-malu saya menjawab Habib tidak pernah divaksin.

Kesimpulannya anak yang terkena campak suhu badannya terus naik dan pada saat bintik-bintik merah muncul ditubuhnya, suhu badan anak tinggi. Kata dokter anak yang terkena campak akan memerah di belakang telinganya. 

Saya lega, tenang.

Akhirnya kami cuma jalan-jalan ke RS ketemuan sama dokter muda cakep jam 11 malam. Malu sih sama tetangga, kesannya terlalu buru-buru untuk membawa anak ke rumah sakit. Ahh....EGP ajalah...namanya juga orang tua baru. Pasang muka tembok ^___^


Kamis, 30 Maret 2017

Welcome Trisemester Dua


Hari ini kehamilan kedua saya sudah berumur 12 minggu 2 hari. Baru saja sukses melalui Trisemester pertama dengan tidak begitu banyak tantangan. Dibanding kehamilan pertama, yang kedua ini jauh lebih ringan.

Tiga bulan sudah dilalui dengan bahagia. Yah memang tidak bebas dari morning sick, tapi setidaknya kali ini masih memiliki selera untuk makan. Tidak begitu alergi dengan bau-bau. Serta frekuensi muntah yang tidak sesering kehamilan pertama. Bersyukur kali ini tanpa keluhan yang berarti.

Di USG terakhir alhamdulillah janin tumbuh dengan sehat. Meski sebenarnya agak khawatir berhubung jarak kehamilan saya yang cukup dekat. Anak pertama saya baru berusia 8bln saat saya positif hamil ke dua.

Berat tidak. Cemas iya.

Beberapa referensi membeberkan tentang resiko kehamilan berjarak dekat. Ya, menurut dokter setidaknya jarak antara kelahiran anak dengan dengan anak berikutnya minimal 18 bulan. Lha saya? Jika semua berjalan lancar jarak mereka lebih kurang 16 bulan 😆

seperti uraian pada gambar diatas. Dr Agung Zentyo Wibowo menjelaskan bahwa banyak resiko bagi wanita yang jarak kehamilannya dibawah satu tahun (Saya 8 bulan hiks) diantaranya adalah:
1. Resiko lahir prematur
2. Berat badan bayi rendah
3. Berat bayi kecil dari usia gestasinya
4. Masalah pada plasenta
5. Resiko anak autis
6. Dst lihat digambar

Resikonya banyak bukan 😑

Tapi insyaallah saya optimis dan percaya dengan kemurahan Allah. All is well.. 

Sejauh ini semua baik-baik saja dan semoga dimudahkan hingga lahiran. Amiin

Senin, 20 Maret 2017

Perkembangan Bayi 10 Bulan


21 Maret 2017, tepat 10 bulan yang lalu Habib lahir ke dunia. 

Bayi merah kini sudah menjelma menjadi bocah kecil yang agresif. Nga pernah diam kecuali saat tidur. Bola matanya selalu bergerak kesana-kemari. Memperhatikan apa saja. Tangannya menjangkau apapun yang ada di sekitarnya untuk diobok-obok. 

Rumah berserakan, ya tentu saja.

Habib menjadikan semuanya mainan. Mulai dari baju-baju yang dilipat, cangkir-cangkir plastik, sendok nasi plastik, tissue, bantal, buku, kotak-kotak dll. Kami mencoba memberikannya mainan, tapi realitanya alat dapur lebih menyenangkan buat Habib.


Aktif merangkak kemana-mana, merambat hingga ke jendela. Membuang barang-barang keluar rumah lewat jendela. Manjatin kipas angin, lemari tv, dan juga manjatin emak sama bapaknya.

Lihai pungut memungut yang kecil-kecil, diambil lalu dimakan. Upss...

Apapun yang dimakan orang lain dia juga mau. Selalu maksa untuk dikasih. Menyukai segala macam buah, kerupuk, roti. Untuk kerupuk dan roti nga usah disuapin, Habib sudah lihai makan sendiri.

Sangat tertarik dengan suara azan.Saat ada suara azan di tv, Habib hampir selalu mendengar dan melihat ke arah tv dengan seksama. Duduk diam sampai azan selesai. Kadang diiringi dengan gumaman "Uh...uhh..uh...". Kami sering tertawa melihat tingkahnya.

Paling hobi gangguin emak sama bapaknya sholat. Sajadah di gulung-gulung atau manjatin kami yang lagi sholat. Atau yang paling sering adalah melewati celah diantara dua kaki bapaknya saat takbiratul ihram. Semacam melewati terowongan gitu kali yaa...

Dan yang tidak kalah menarik adalah saat waktu tidur Habib tiba. Habis isya. Klo mau tidur tinggal matikan semua lampu, kasih sebotol susu. Susu habis ntar guling-guling dulu beberapa saat. Guling kanan guling kiri seluas kasur. Hingga akhirnya tertidur dengan sendirinya. Tidak jarang saya tertipu, ternyata Habib sudah mimpi yang indah.

"Rabbi Habli Minasshaalihiin....."

Minggu, 19 Maret 2017

Demam Panas


Nga biasa-biasanya yang jagain Habib nelfon. Feeling langsung nga enak.

Ups Habib demam panas. Suhu badannya 38° C. Saya agak gemetar, ini demam pertamanya. Diusia 8 bulan. Langsung kabari Bapaknya. Sama, kami sama-sama panik karna anak kakak ipar kami biasanya sudah kejang jika panasnya mencapai 38° C.

Ya, akhirnya kami berdua memutuskan izin dari tempat kerja dan segera jemput Habib dan membawanya pulang.

Setiba dirumah kami cek suhu tubuh Habib naik menjadi 39,4 °C. Saya sudah mulai panik dan membeli obat yang mengandung parachetamol atas petunjuk dokter.

Agak rewel & maunya digendong. Bibirnya memerah, mata berair dan sesekali Habib mengeluarkan lidahnya. Setelah diminumkan obat malah suhu badan menjadi naik ke angka 39,9°C.

Bersyukur Habib masih mau menyusu. Kami memberinya susu sesering mungkin, melucuti pakaiannya hingga yang tersisa singlet saja. Kemudian mengusap-usap badannya dengan kain basah.

Dari siang hingga isya panasnya naik turun. Lagi-lagi bersyukur karna Habib tidak menangis asal digendong. Sesekali mengerang saat suhu badannya sangat tinggi.

Pengalaman yang cukup menegangkan, saya sendiri sempat menangis karna panik plus kasihan. Keceriaannya hilang seketika, mengerang-erang karena panas tinggi.

Alhamdulillah jam 10 malamnya Habib tertidur dan perlahan hingga pagi suhu badannya terus turun. Bersyukur sekali karena Habib tidak kejang, tidak muntah dan tidak ngajak kami bergadang :).

Rabu, 15 Maret 2017

Rahasia Bayi Anteng


Setiap orang tua ingin memiliki bayi yang anteng alias tidak mudah rewel dan tidak gemar menangis. Saya memiliki bayi berusia 10 bulan. Sejak lahir hingga kini Alhamdulillah tidak pernah merepotkan alias rewel. Berkat pertolongan Allah anak saya menjadi bayi yang anteng.

Ada beberapa hal rutin yang selalu saya lakukan kepada bayi saya. Saya berfikir, kemungkinan hal inilah yang membuatnya anteng. 

Dan saya ingin berbagi, mana tau ada yang ingin mencoba dan mendapatkan manfaat yang sama. Meskipun belum tentu hal-hal berikut ini yang membuat anak menjadi tidak mudah rewel, setidaknya Ibu-ibu bisa mendapatkan manfaat positif darinya.

1. Pijat bayi
Sejak lahir saya rutin memberikan pijatan kepada bayi saya. Biasanya sebelum mandi pagi dan petang. Saya membaca panduan pijat bayi melalui bantuan mbah google (silahkan Ibu coba juga). Dengan memakai minyak zaitun (baby oil) saya memberikan pijatan lembut mulai dari areal diatas alis lanjut ke daerah bawah mata. Kemudian tangan dan telapak kaki. Lanjut areal disepanjang tulang punggung. Ditambah dengan menggerak-gerakkan kaki dan tangannya dengan lembut. Setiap hari. Apa manfaat pijat bayi? Silahkan telusuri mbah google, akan banyak sekali artikel yang menjelaskan tentang manfaat pijat bayi.

2. Bernyanyi
Apapun aktifitas yang saya lakukan untuk bayi saya, saya selalu sambil bernyanyi. Tentunya dengan lirik-lirik yang bernuansa ceria (anak-anak). Kebetulan saya selalu menggunakan lirik asma-asma Allah seperti subhanallah,walhamdulillah dst. Bernyanyi dengan wajah yang ceria. Baik itu pas memandikan bayi, memakaikan bajunya termasuk saat memijat.

3. Sering memberikan sentuhan
Saya selalu memberikan sentuhan-sentuhan kepada bayi saya. Baik itu mengusap areal jidatnya, kepalanya, pipinya, punggung dan kaki. Sentuhan-sentuhan lembut sesering mungkin.

4. Memberikan senyum saat bayi bangun
Setiap kali saya mendapati bayi saya terbangun, saya selalu menyapanya dengan hangat dan penuh senyum. Dan dengan mengucapkan salam (Assalamuala'ikum).

5. Doa perlindungan pagi dan petang.
Dan ini yang paling penting yang seharusnya saya letakkan di nomor urut satu. Saya sangat yakin sesuai pemahaman agama islam yang saya yakini bahwa bayi saya anteng berkat bantuan Allah. Saya rutin mendo'akannya setiap hari. Jika saya tidak sempat, Bapaknya yang mendo'akannya.

Do'anya sebagai berikut, silahkan dihafalkan bagi Ibu yang mungkin ingin mencoba.

A'udzubikalimaa tillaahittaammati minsyarrimaa khalaq (Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluknya).

Dibaca sebanyak 3 kali kemudian ditiupkan ke ubun-ubun anak dan keseluruh tubuhnya.


Lima hal diatas rutin setiap hari saya lakukan kepada bayi saya. Semoga pengalaman saya ini bisa menginspirasi, bermanfaat dan tidak ada salahnya mencoba.

Semangat ASI Ekslusif


Yeayy, ini adalah anak pertama.

Pertama kali merasakan menjadi Ibu, merencanakan yang terbaik untuk anak dan kemudian mencoba menjalankan apa yang direncakan sebaik mungkin. Sejak awal kehamilan sudah bertekad bahwa anak pertama ini harus ASI Ekslusif. Harus. Titik.

Tentunya setelah sekian banyak referensi yang dibaca tentang keutamaan memberi ASI Ekslusif minimal 6 bulan pertama beserta hambatan dan rintangan yang biasanya akan ditemui.

Kemudian sang bayi itu lahir. Sihiyyy saat nya MENCOBA.

Melahirkan di RS yang tidak langsung memberikan bayi kepada orang tua pasca melahirkan.

Memilih sedini mungkin tempat melahirkan yang tepat adalah sesuatu yang baik. Mencari informasi yang lengkap untuk memastikan bahwa tempat yang kita tentukan sudah yang terbaik. Beberapa hal yang menurut saya mungkin perlu menjadi pertimbangan adalah:

1. Harus memiliki peralatan dan pelayanan yang lengkap terkait proses persalinan sehingga jika calon Ibu membutuhkan tindakan medis tambahan tidak perlu dirujuk (rujukan ke tempat lain akan membutuhkan waktu dan penanganan menjadi lebih lama sehingga beresiko untuk keselamatan Ibu dan Anak).

2. Memiliki tenaga medis yang diketahui handal dalam hal persalinan. Berpengalaman dan terkenal ramah klo perlu :)

3. Memberikan dukungan untuk pemberian ASI Ekslusif terhadap bayi, dimana pasca melahirkan bayi boleh langsung diberikan kepada Ibu untuk segera mendapatkan ASI.

4. Memilik tarif harga persalinan yang terjangkau.

Empat hal diatas menurut saya perlu untuk menjadi pertimbangan.

Sayang, saya sendiri tidak bisa mewujudkan empat hal diatas secara sempurna. Terkait dengan biaya kesehatan saya yang ditanggung oleh perusahaan tempat saya bekerja, saya dengan terpaksa harus melahirkan di RS yang tidak bersedia memberikan bayi langsung kepada Ibunya pasca melahirkan. Saya baru bertemu bayi saya keesokan harinya pas mau pulang kerumah (sedih). Dan bayi saya sudah diberikan susu formula oleh pihak RS (sedih lagi).

Merawat puting sejak masa kehamilan.

Selanjutnya terutama bagi Ibu yang sedang hamil anak pertama, merawat puting sejak dini sangat berguna. Agar pasca melahirkan puting bisa langsung siap digunakan. Tidak mudah lecet (nyeri saat menyusui) dan mudah di enyot bayi sehingga bayi tidak perlu mengalami bingung puting.

Lagi-lagi saya gagal dalam hal merawat puting. Sepertinya saya kurang telaten saat masa kehamilan sehingga pasca melahirkan puting saya tidak muncul (sedih). Sehingga bayi saya mengalami bingung puting hingga berusia 21 hari.

Saya mencari solusi lain agar bayi saya tetap mendapatkan ASI meski dia belum bisa menyusu, yaitu dengan cara pumping. Proses pumping ini membantu puting saya akhirnya muncul sehingga di usia 21 hari bayi saya berhasil menyusu dengan baik.

Menurut pemaparan AIMI (Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia) Kepri bahwa meskipun Si Ibu tidak memiliki puting yang memadai, sebenarnya itu bukan halangan untuk anak mendapatkan ASI karena Bayi menyusu bukan pada puting tapi pada payudara (mulai dari daerah aerola bagian payudara sekitar puting yang berwarna cokelat). Nah saya baru tahu ini lo....realitanya anak saya tidak pandai menyusu karena tidak ada puting.

Dukungan keluarga besar, terutama suami.

Untuk mencapai target ASI Eklusif bagi bayi, kita para Ibu membutuhkan dukungan yang optimal dari keluarga terutama suami. Apalagi jika kondisi tertentu yang membuat Ibu mengalami kendala dalam menyusui bayinya. Sebaiknya dikomunikasikan dengan baik agar keluarga seperti Ibu, Ayah dan suami tidak mudah tergoda memberikan susu formula saat bayi mengalami kendala dalam hal mendapatkan ASI.

Terkadang rasa kasihan dari mereka membuat kita gagal dalam menggapai cita-cita. Contohnya saya. Saya tidak berdaya (hanya bisa nangis) disaat hampir semua orang menyuruh untuk segera memberikan susu formula kepada bayi saya yang memang sudah dua hari masih belum bisa menyusu (bingung puting). Meskipun saya pumping, ASI yang saya berikan dianggap kurang. Padahal di hari pertama kelahiran bayi, ASI kita memang tidak akan banyak karna kebutuhan bayi belum banyak. Lambung bayi hanya seukuran jempol yang hanya butuh ASI beberapa ml saja.

Akhirnya bayi saya mengkonsumsi ASI plus formula. Berkat rasa sedih Ayah, Nenek dan Kakeknya.

Bagi Ibu pekerja, jangan malas untuk mengupayakan ASI_Perah

Ibu yang bekerja harus telaten, memompa ASI sesering mungkin dan banyak mengkonsumsi air putih dan makanan kaya gizi. Sehingga meskipun bekerja, ASI tetap melimpah. Bayi kenyang anda senang. Teori menyatakan bahwa semakin sering ASI diperah semakin ASI melimpah. Dan kita perlu mempelajari lebih lanjut tentang cara yang benar dalam memerah ASI, cara penyimpanannya supaya terhindar dari bakteri (steril) dan cara penggunaan yang tepat untuk bayi.

Saya adalah Ibu yang gagal memberikan ASI Ekslusif kepada anak pertama saya. Antara cita dan realita yang tidak sejalan. Sayalah yang belum berusaha dengan maksimal.

Sedih iya, tetapi tetap optimis untuk anak berikutnya. Semua kendala yang dihadapi dijadikan pelajaran dan semoga tidak terulang.

Semangat, semoga para Ibu dimudahkan dalam memberikan ASI Ekslusif minimal 6 bulan pertama.

Selasa, 14 Maret 2017

Pengalaman Melahirkan Anak Pertama Dengan Normal


Awalnya tidak ingin untuk menulis pengalaman seperti ini. Tapi setelah difikir ulang sepertinya tidak ada salahnya menulis kisah pribadi. Dalam rangka berbagi sekaligus mengabadikan setiap jengkal pengalaman agar tidak hilang dimakan waktu.  Semoga bisa diambil pelajaran yah...

Kehamilan 36w
Kondisi kehamilan saya waktu hamil Habib dalam status siaga. Karna di trisemester pertama beresiko keguguran dan trisemester tiga beresiko lahir prematur. Di minggu ke 36 ini saya sudah mulai beberapa kali mengalami mules dengan durasi beberapa menit saja kemudian hilang dan muncul lagi beberapa hari berikutnya. Saya tidak kuat banyak berjalan karena kondisi kepala Habib sudah duluan masuk areal pinggul (lebih cepat dari yang seharusnya) sehingga sering ngilu di bagian atas vagina ketika berjalan. Ditambah dengan PR untuk menambah BB Habib yang masih tergolong kecil.

Kehamilan 38w

Tapi kondisi itu dapat dilalui dan tibalah diminggu ke 38. Minggu yang memang sudah aman untuk melahirkan karna calon bayi sudah cukup umur. Sabtu pagi tgl 21 Mei 2016 saya mencoba jalan pagi ditemani suami. Sedang asik jalan sekitar jam 7 an tiba-tiba perut terasa nyeri, yah rasanya persis seperti nyeri mau haid. Saya coba tahan dulu dan tidak menyampaikan ke suami mana tau cuma sesaat kemudian hilang. Ehh ternyata jam 7.30 mulesnya semakin kenceng dan frekuensi semakin sering. Akhirnya saya sampaikan ke suami dan minta segera pulang ke rumah, prepare untuk ke rumah sakit.

Muntah dan Segera ke RS

Sesampai dirumah tiba-tiba saya muntah. Saya bingung kenapa bisa muntah, padahal selama ini tidak pernah lagi muntah kecuali waktu mabok diawal kehamilan. Saya mengabaikan muntah itu dan fokus kepada rasa nyeri yang saya rasakan. Sekitar jam 9.00 mulesnya sudah intens setiap 5 menit sekali. Kami memutuskan untuk segera berangkat ke rumah sakit yang sudah kami pilih sejak awal kehamilan. Didalam perjalanan lebih kurang 1 jam mules yang saya rasakan semakin hampir tanpa jeda. Saya memperhatikan jam, mulesnya datang sekali 3 menit dan rasa sakitnya mulai meningkat.

Penanganan di RS

Sesampai di RS langsung ke UGD dan suster segera memberikan tindakan. Suster memasangkan sebuah alat dilengan saya (sepertinya rekaman jantung dll) kemudian saya dipasangkan infus dan lanjut check bukaan, ternyata baru bukaan dua. Saya sibukkan diri dengan terus berdoa dan beristighfar memohon pertolongan Allah. Dari Jam 10 pagi sampai siang saya menikmati mules yang semakin bertambah rasa sakitnya.

Agak sakit -- sakit -- sakit sekali -- sakit -- agak sakit -- reda beberapa detik -- agak sakit lagi dan begitulah seterusnya hingga menjelang zuhur. Selama itu saya lebih banyak berbaring. Pernah sekali mencoba jalan tetapi saya muntah untuk yang kedua kalinya.

Bukaan 2 Menuju Bukaan 5

Pada saat rasa sakit yang saya rasakan memuncak, tiba-tiba keluar darah. Saya agak takut. Kenapa darah? Bukankah biasanya air ketuban? Apakah ini aman? Akhirnya kami memanggil suster dan beliau bilang tidak apa-apa, kemudian check bukaan ternyata sudah bukaan 5.

Subhanallah luar biasa sakit semakin sakit, tapi insyaallah masih bisa dilalui asal dinikmati hehe...

Saya menikmati dengan gigit-gigit jilbab ajah.....plus genggam tangan suami (so sweet).

Bukaan 5 Menuju Bukaan 8

Setelah proses bukaan 5 yang diawali dengan keluarnya darah, Subhanallah rasa sakitnya memuncak. Allahuakbar cuma bisa nyebut nama Allah. Tapi tenang saja Allah maha penyayang.

Meski sakitnya terbilang sangat tetapi tidak terus terusan lo...seperti yang saya gambarkan sebelumnya. Ada jeda dan tingkatan sakitnya seperti grafik naik turun dengan teratur.

Agak sakit -- sakit -- sangat sakit -- sakit -- agak sakit -- reda beberapa detik -- agak sakit lagi dan seterusnya. Masih bisa nafas kok...

Alhamdulillah jam 2 saya merasakan sesuatu yang aneh, yaaa rasa pengen banget ngedan. Bawaannnya mau ngedan. Kata orang-orang kayak mau BAB. Suster minta untuk ditahan dulu ngedannya. Check bukaan lagi alhamdulillah sudah bukaan 8. Saya segera dibawa ke ruangan bersalin.

Ruang Bersalin dan Proses Bersalin yang Indah.

Setiba diruang bersalin dibantu oleh dua orang suster saya dibaringkan dan ambil posisi melahirkan. Nga usah digambarkan yaa...

Disini peran pendamping sangat besar. Baik itu Ibu ataupun suami, tergantung siapa yang membuat kita merasa nyaman. Saya memilih ditemani suami. Alhamdulillah punya suami yang suka bercanda. Lewat candaannya dengan suster yang membantu persalinan, saya sedikit terhibur dan tidak ada rasa cemas.

Yang ada waktu itu adalah optimisme dan yakin saya bisa melahirkan dengan baik. Dengan candaan mereka suasana ruangan tidak begitu tegang, sambil mengarahkan saya untuk mengedan ada saja candaan yang dilontarkan membuat saya kadang tertawa sambil ngedan. Kebayang nga. Saya suka.

"Bu, ngedannya biarkan alami yaa....kalau nga berasa mau ngedan jangan ngedan dulu ya Bu....tunggu saat sudah berasa mau ngedan Ibu ngedan yah...mulut Ibu jangan dibuka, lutut tarik ke arah dada dan ngedan nya tidak bersuara...bla bla bla..."

Saya angguk-angguk sambil terus coba ngedan. Dan kenyataannya saya bersuara saat ngedan. Ngedan di tenggorokan. Huaaa intinya saya tidak bisa ngedan. Hingga setengah jam berlalu. Kepala Habib sudah di pintu, kata suami sudah keliatan kepalanya. Ayo ngedan dengan baik. Tapi tetap saya ternyata tidak bisa. Nafas sudah tersenggal-senggal, saya mulai capek. Tenggorokan terasa sakit. Tapi saya tetap semangat.

Beuuhhhh sementara dokter belum nampak batang hidungnya. Ayo Bu, kita ngedan lagi....hadeeehh mereka sambil ngobrol lagi...ckck

Horeee akhirnya beberapa menit kemudian dokter yang ditunggu datang. Datang-datang ambil sarung tangan, bersiap-siap dan langsung ambil gunting. Tanpa aba-aba "Kreekkk......"

Wadowww ternyata ada sesuatu yang sudah digunting dan robek. Ouhh pengguntingan perenium. Sakit? Entah lah saya tidak merasakan sakit...efek bius kali yaa...atau mungkin sudah kebal. Jujur sakit terakhir yang saya rasakan adalah saat bukaan 8 sebelum adanya rasa mau ngedan. Setelah itu boleh dibilang tidak ada yang terlalu sakit hehe...itu saya lo....setiap orang kan mengalami beda-beda yaa....

Dengan aba-aba dokter, kedua suster kemudian dengan sekuat tenaga mendorong perut dari atas, mungkin ada dua kali dorong dan akhirnya Habib lahir dengan selamat tanpa saya harus ngedan yang kuat.

"Waduh Bu...anak Ibu tali pusarnya pendek. Makanya setiap kali Ibu ngedan dia ketarik lagi kedalam...."

Ouhhh ternyata inilah kenapa saya tidak berhasil ngedan dan juga mengalami muntah saat mau melahirkan. Tali pusar Habib pendek.

Bayi mungil itu akhirnya menangis, sesaat diperlihatkan ke wajah saya dan langsung dibawa keruang perawatan bayi.

Sesi Jahit Menjahit

Bayi sudah dibawa keluar, suami saya pun disuruh keluar. Selang oksigen yang terpasang dihidung saya dicabut (entah kapan selang ini dipasang, saya tidak menyadari). Tibalah masa penjahitan atas sesuatu yang tadi digunting. Sambil diajak cerita bu dokter dengan telaten menjahit. Saya merasakan tarikan-tarikan benang jahitan, tapi tidak merasakan sakit.

Dan benangnya habis, suster berlari mengambil benang yang baru.

"Wah, nga cukup satu benang ya dok? sudah berapa jaitan saya dok?"

Dokternya cuma senyam senyum. Nga mau ngasih tau jumblah jaitan. Benang yang habis cukup la untuk menggambarkan seberapa banyak jaitannya hikss.....(saya butuh waktu 2,5 bulan untuk menyembuhkannya).

Dan akhirnya proses menjahit selesai. Berterimakasih kepada dokter yang sudah menemani mulai dari kontrol hingga lahiran. Semua dimudahkan Alhamdulillah. Daaan saya langsung merasa lapar dan minta dibelikan nasi padang wkwk..... 

Sabtu, 21 Mei 2016, Jam 14.32 lahirlah anak pertama kami dengan normal. Laki-laki dengan BB 246 dan PB 460 (Mungil tapi Alhamdulillah sehat tidak butuh perawatan apapun). Kami beri nama Habib Abdurrohman ^^

#Menurut Ibu saya agak susah melahirkan
#Menurut saya, saya dimudahkan melahirkan
#Kami beda keyakinan heheheh...

Senin, 13 Maret 2017

Hamil itu Siaga


Kehadiran Habib menjadi karunia yang tak ternilai dalam keluarga kecil kami. Sebenarnya sudah telat menceritakan hal ini mengingat usia Habib kini sudah menginjak 10 bulan, tapi demi sebuah kenangan tak apa la ya kan.....hehe

Selama masa kehamilan Habib, hampir setiap bulannya kami merasa cemas. Entah memang kondisi yang harus dicemaskan atau mungkin karena kami adalah calon orang tua baru yang minim pengalaman.

Diusia kehamilan 5 minggu saya mengalami flek hampir sepuluh hari. Pada saat check up dokter menyarankan untuk bedrest dulu sampai flek nya berhenti karna ada indikasi rahim lemah yang rentan dengan keguguran. Sejak itu bulan demi bulan kami sangat berhati-hati. Selain bekerja tidak ada aktifitas yang saya kerjakan. Semua pekerjaan rumah tangga stop dan menjadi tanggungjawab suami. Mungkin agak lebay tapi itulah yang terjadi saat itu. Selama tri semester pertama suami menjadi suami siaga teladan yang ternyata mampu mengcover semua. Sepertinya beliau punya bakat dalam hal kerumah tanggaan...

Kecemasan kembali datang di tri semester 2 akhir. Perut saya sering tegang, keras dan rasanya mau meletus (lebay.com). Habib pun tidak banyak bergerak jika perut saya tegang. Setelah konsul ternyata terjadi kontraksi dini yang seharusnya belum terjadi diusia kehamilan ini. Dokterpun memberikan lampu kuning, awas jika ibu tidak banyak istirahat bayi ini bisa lahir PREMATUR. Lagi dan kehadiran saya ditempat kerja diwarnai dengan cuti, izin, sakit. 

Di trisemester tiga saya tidak boleh banyak berjalan. Tidak banyak aktifitas. Dikondisi ini saya dituntut untuk banyak sabar dalam mendengarkan saran-saran orang sekitar.

"usia kehamilan segini kamu harus banyak jalan lho....supaya bisa lahiran normal. Banyak-banyak gerak, jangan malas bla...bla....".

Saya cuma balas senyum manis tapi agak pait hehe...
Tidak mungkin kan kondisi kehamilan harus share ke semua orang? Kita yang sedang menjalani kehamilan yang paling mengerti kondisi kehamilan kita :)

Akhirnya hingga usia kandungan 7 bulan bisa dilewati dengan status aman, meski hari-hari harus mengkonsumsi obat pengurang kontraksi. Obat mungil sebiji padi yang kalau diminum kepala akan pusing dan dada berdebar.

Yups akhirnya masuk ke bulan 8. Masih banyak istirahat, tidak banyak jalan dan tetap konsumsi obat. Kontraksi dini mulai berkurang tetapi setiap jalan 3 M vagina terasa ngilu. Ouh ternyata Habib sudah tidak sabar ingin keluar. Kepalanya sudah masuk ke area pinggul. Kata dokter ini terlalu cepat. Lagi, jangan banyak gerak dan aktifitas plus konsumsi obat agar Habib tidak lahir prematur.

Diusia kehamilan 36 minggu saya sudah mulai merasa sesekali mules. Tapi mungkin dalam seminggu cuma datang dua kali. Suatu hari di usia kehamilan 36 minggu itu saya mengalami "basah". Saat rukuk dan sujud sholat ada cairan yang keluar. Saya check berwarna bening dan tidak berbau. Langsung googling. Oh NO! Apakah ini yang bernama air ketuban? Bukankah belum waktunya? Panik.

Saya bingung karna bertepatan degan hari minggu. Tidak ada dokter kandungan yang punya jadwal praktek dihari minggu. Alhasil kami ke bidan. Buat memastikan cairan apakah yang sedang keluar ini? Akhirnya konsul dan check up. Bidan meraba-raba perut saya untuk mengukur usia kehamilan. Dan dia bilang bayi saya sudah siap lahir karna dilihat dari perut saya usia kehamilan sudah 39 minggu? Whatttt??? tidak mungkin kata saya dalam hati. Haid yang teratur tidak mungkin salah hitung. Ditambah lagi cek dalam dan bilang klo kemungkinan yang keluar memang ketuban.

Saya tidak puas dan esoknya, senin kami ke dokter kandungan tempat saya biasa kontrol. Alhamdulillah usia kehamilan memang 36 minggu jalan 37 minggu. Dan cairan itu bukan ketuban, tapi keputihan. Hanya saja BB  Habib masih kurang dan harus ditambah. Kemudian air ketuban sebelah kiri mulai berkurang. Sedikit lega meski ada PR buat nambah BB Habib.

Dan sepuluh hari kemudian ketemu dokter itu lagi, bukan untuk kontrol tetapi untuk lahiran Habib Abdurrohman. Bagaimana proses lahiran, sesi lain akan kami bagi pengalamannya.

Hamil memang tidak mudah, yang penting iklas dan selalu positif thingking. Rutin kontrol kehamilan dan ikuti petunjuk dokter dengan baik. Banyak-banyak membaca agar punya ilmu tentang kondisi kehamilan. Pokoknya sejak dalam kandungan berikan yang terbaik.


Selasa, 04 Agustus 2015

Puisi "Sedingin Gerimis"


Aku tau persis.
Perasaanmu sedingin gerimis.
Bahkan mungkin perih.

Yang namanya gerimis tidak pernah lama.
Akan kutunggu. Kubiarkan.
Hingga gerimismu reda.

Kau harus tau,
Sedari kemarin.
Aku disini termangu.
Kadang dada sesak kadang tidak.
Masih bisakah aku memilih untuk tidak tau apapun?.