
Awalnya tidak ingin untuk menulis pengalaman seperti ini. Tapi setelah difikir ulang sepertinya tidak ada salahnya menulis kisah pribadi. Dalam rangka berbagi sekaligus mengabadikan setiap jengkal pengalaman agar tidak hilang dimakan waktu. Semoga bisa diambil pelajaran yah...
Kehamilan 36w
Kondisi kehamilan saya waktu hamil Habib dalam status siaga. Karna di trisemester pertama beresiko keguguran dan trisemester tiga beresiko lahir prematur. Di minggu ke 36 ini saya sudah mulai beberapa kali mengalami mules dengan durasi beberapa menit saja kemudian hilang dan muncul lagi beberapa hari berikutnya. Saya tidak kuat banyak berjalan karena kondisi kepala Habib sudah duluan masuk areal pinggul (lebih cepat dari yang seharusnya) sehingga sering ngilu di bagian atas vagina ketika berjalan. Ditambah dengan PR untuk menambah BB Habib yang masih tergolong kecil.
Kehamilan 38w
Tapi kondisi itu dapat dilalui dan tibalah diminggu ke 38. Minggu yang memang sudah aman untuk melahirkan karna calon bayi sudah cukup umur. Sabtu pagi tgl 21 Mei 2016 saya mencoba jalan pagi ditemani suami. Sedang asik jalan sekitar jam 7 an tiba-tiba perut terasa nyeri, yah rasanya persis seperti nyeri mau haid. Saya coba tahan dulu dan tidak menyampaikan ke suami mana tau cuma sesaat kemudian hilang. Ehh ternyata jam 7.30 mulesnya semakin kenceng dan frekuensi semakin sering. Akhirnya saya sampaikan ke suami dan minta segera pulang ke rumah, prepare untuk ke rumah sakit.
Muntah dan Segera ke RS
Sesampai dirumah tiba-tiba saya muntah. Saya bingung kenapa bisa muntah, padahal selama ini tidak pernah lagi muntah kecuali waktu mabok diawal kehamilan. Saya mengabaikan muntah itu dan fokus kepada rasa nyeri yang saya rasakan. Sekitar jam 9.00 mulesnya sudah intens setiap 5 menit sekali. Kami memutuskan untuk segera berangkat ke rumah sakit yang sudah kami pilih sejak awal kehamilan. Didalam perjalanan lebih kurang 1 jam mules yang saya rasakan semakin hampir tanpa jeda. Saya memperhatikan jam, mulesnya datang sekali 3 menit dan rasa sakitnya mulai meningkat.
Penanganan di RS
Sesampai di RS langsung ke UGD dan suster segera memberikan tindakan. Suster memasangkan sebuah alat dilengan saya (sepertinya rekaman jantung dll) kemudian saya dipasangkan infus dan lanjut check bukaan, ternyata baru bukaan dua. Saya sibukkan diri dengan terus berdoa dan beristighfar memohon pertolongan Allah. Dari Jam 10 pagi sampai siang saya menikmati mules yang semakin bertambah rasa sakitnya.
Agak sakit -- sakit -- sakit sekali -- sakit -- agak sakit -- reda beberapa detik -- agak sakit lagi dan begitulah seterusnya hingga menjelang zuhur. Selama itu saya lebih banyak berbaring. Pernah sekali mencoba jalan tetapi saya muntah untuk yang kedua kalinya.
Bukaan 2 Menuju Bukaan 5
Pada saat rasa sakit yang saya rasakan memuncak, tiba-tiba keluar darah. Saya agak takut. Kenapa darah? Bukankah biasanya air ketuban? Apakah ini aman? Akhirnya kami memanggil suster dan beliau bilang tidak apa-apa, kemudian check bukaan ternyata sudah bukaan 5.
Subhanallah luar biasa sakit semakin sakit, tapi insyaallah masih bisa dilalui asal dinikmati hehe...
Saya menikmati dengan gigit-gigit jilbab ajah.....plus genggam tangan suami (so sweet).
Bukaan 5 Menuju Bukaan 8
Setelah proses bukaan 5 yang diawali dengan keluarnya darah, Subhanallah rasa sakitnya memuncak. Allahuakbar cuma bisa nyebut nama Allah. Tapi tenang saja Allah maha penyayang.
Meski sakitnya terbilang sangat tetapi tidak terus terusan lo...seperti yang saya gambarkan sebelumnya. Ada jeda dan tingkatan sakitnya seperti grafik naik turun dengan teratur.
Agak sakit -- sakit -- sangat sakit -- sakit -- agak sakit -- reda beberapa detik -- agak sakit lagi dan seterusnya. Masih bisa nafas kok...
Alhamdulillah jam 2 saya merasakan sesuatu yang aneh, yaaa rasa pengen banget ngedan. Bawaannnya mau ngedan. Kata orang-orang kayak mau BAB. Suster minta untuk ditahan dulu ngedannya. Check bukaan lagi alhamdulillah sudah bukaan 8. Saya segera dibawa ke ruangan bersalin.
Ruang Bersalin dan Proses Bersalin yang Indah.
Setiba diruang bersalin dibantu oleh dua orang suster saya dibaringkan dan ambil posisi melahirkan. Nga usah digambarkan yaa...
Disini peran pendamping sangat besar. Baik itu Ibu ataupun suami, tergantung siapa yang membuat kita merasa nyaman. Saya memilih ditemani suami. Alhamdulillah punya suami yang suka bercanda. Lewat candaannya dengan suster yang membantu persalinan, saya sedikit terhibur dan tidak ada rasa cemas.
Yang ada waktu itu adalah optimisme dan yakin saya bisa melahirkan dengan baik. Dengan candaan mereka suasana ruangan tidak begitu tegang, sambil mengarahkan saya untuk mengedan ada saja candaan yang dilontarkan membuat saya kadang tertawa sambil ngedan. Kebayang nga. Saya suka.
"Bu, ngedannya biarkan alami yaa....kalau nga berasa mau ngedan jangan ngedan dulu ya Bu....tunggu saat sudah berasa mau ngedan Ibu ngedan yah...mulut Ibu jangan dibuka, lutut tarik ke arah dada dan ngedan nya tidak bersuara...bla bla bla..."
Saya angguk-angguk sambil terus coba ngedan. Dan kenyataannya saya bersuara saat ngedan. Ngedan di tenggorokan. Huaaa intinya saya tidak bisa ngedan. Hingga setengah jam berlalu. Kepala Habib sudah di pintu, kata suami sudah keliatan kepalanya. Ayo ngedan dengan baik. Tapi tetap saya ternyata tidak bisa. Nafas sudah tersenggal-senggal, saya mulai capek. Tenggorokan terasa sakit. Tapi saya tetap semangat.
Beuuhhhh sementara dokter belum nampak batang hidungnya. Ayo Bu, kita ngedan lagi....hadeeehh mereka sambil ngobrol lagi...ckck
Horeee akhirnya beberapa menit kemudian dokter yang ditunggu datang. Datang-datang ambil sarung tangan, bersiap-siap dan langsung ambil gunting. Tanpa aba-aba "Kreekkk......"
Wadowww ternyata ada sesuatu yang sudah digunting dan robek. Ouhh pengguntingan perenium. Sakit? Entah lah saya tidak merasakan sakit...efek bius kali yaa...atau mungkin sudah kebal. Jujur sakit terakhir yang saya rasakan adalah saat bukaan 8 sebelum adanya rasa mau ngedan. Setelah itu boleh dibilang tidak ada yang terlalu sakit hehe...itu saya lo....setiap orang kan mengalami beda-beda yaa....
Dengan aba-aba dokter, kedua suster kemudian dengan sekuat tenaga mendorong perut dari atas, mungkin ada dua kali dorong dan akhirnya Habib lahir dengan selamat tanpa saya harus ngedan yang kuat.
"Waduh Bu...anak Ibu tali pusarnya pendek. Makanya setiap kali Ibu ngedan dia ketarik lagi kedalam...."
Ouhhh ternyata inilah kenapa saya tidak berhasil ngedan dan juga mengalami muntah saat mau melahirkan. Tali pusar Habib pendek.
Bayi mungil itu akhirnya menangis, sesaat diperlihatkan ke wajah saya dan langsung dibawa keruang perawatan bayi.
Sesi Jahit Menjahit
Bayi sudah dibawa keluar, suami saya pun disuruh keluar. Selang oksigen yang terpasang dihidung saya dicabut (entah kapan selang ini dipasang, saya tidak menyadari). Tibalah masa penjahitan atas sesuatu yang tadi digunting. Sambil diajak cerita bu dokter dengan telaten menjahit. Saya merasakan tarikan-tarikan benang jahitan, tapi tidak merasakan sakit.
Dan benangnya habis, suster berlari mengambil benang yang baru.
"Wah, nga cukup satu benang ya dok? sudah berapa jaitan saya dok?"
Dokternya cuma senyam senyum. Nga mau ngasih tau jumblah jaitan. Benang yang habis cukup la untuk menggambarkan seberapa banyak jaitannya hikss.....(saya butuh waktu 2,5 bulan untuk menyembuhkannya).
Dan akhirnya proses menjahit selesai. Berterimakasih kepada dokter yang sudah menemani mulai dari kontrol hingga lahiran. Semua dimudahkan Alhamdulillah. Daaan saya langsung merasa lapar dan minta dibelikan nasi padang wkwk.....
Sabtu, 21 Mei 2016, Jam 14.32 lahirlah anak pertama kami dengan normal. Laki-laki dengan BB 246 dan PB 460 (Mungil tapi Alhamdulillah sehat tidak butuh perawatan apapun). Kami beri nama Habib Abdurrohman ^^
#Menurut Ibu saya agak susah melahirkan
#Menurut saya, saya dimudahkan melahirkan
#Kami beda keyakinan heheheh...