Semangat ASI Ekslusif
Yeayy, ini adalah anak pertama.
Pertama kali merasakan menjadi Ibu, merencanakan yang terbaik untuk anak dan kemudian mencoba menjalankan apa yang direncakan sebaik mungkin. Sejak awal kehamilan sudah bertekad bahwa anak pertama ini harus ASI Ekslusif. Harus. Titik.
Tentunya setelah sekian banyak referensi yang dibaca tentang keutamaan memberi ASI Ekslusif minimal 6 bulan pertama beserta hambatan dan rintangan yang biasanya akan ditemui.
Kemudian sang bayi itu lahir. Sihiyyy saat nya MENCOBA.
Melahirkan di RS yang tidak langsung memberikan bayi kepada orang tua pasca melahirkan.
Memilih sedini mungkin tempat melahirkan yang tepat adalah sesuatu yang baik. Mencari informasi yang lengkap untuk memastikan bahwa tempat yang kita tentukan sudah yang terbaik. Beberapa hal yang menurut saya mungkin perlu menjadi pertimbangan adalah:
1. Harus memiliki peralatan dan pelayanan yang lengkap terkait proses persalinan sehingga jika calon Ibu membutuhkan tindakan medis tambahan tidak perlu dirujuk (rujukan ke tempat lain akan membutuhkan waktu dan penanganan menjadi lebih lama sehingga beresiko untuk keselamatan Ibu dan Anak).
2. Memiliki tenaga medis yang diketahui handal dalam hal persalinan. Berpengalaman dan terkenal ramah klo perlu :)
3. Memberikan dukungan untuk pemberian ASI Ekslusif terhadap bayi, dimana pasca melahirkan bayi boleh langsung diberikan kepada Ibu untuk segera mendapatkan ASI.
4. Memilik tarif harga persalinan yang terjangkau.
Empat hal diatas menurut saya perlu untuk menjadi pertimbangan.
Sayang, saya sendiri tidak bisa mewujudkan empat hal diatas secara sempurna. Terkait dengan biaya kesehatan saya yang ditanggung oleh perusahaan tempat saya bekerja, saya dengan terpaksa harus melahirkan di RS yang tidak bersedia memberikan bayi langsung kepada Ibunya pasca melahirkan. Saya baru bertemu bayi saya keesokan harinya pas mau pulang kerumah (sedih). Dan bayi saya sudah diberikan susu formula oleh pihak RS (sedih lagi).
Merawat puting sejak masa kehamilan.
Selanjutnya terutama bagi Ibu yang sedang hamil anak pertama, merawat puting sejak dini sangat berguna. Agar pasca melahirkan puting bisa langsung siap digunakan. Tidak mudah lecet (nyeri saat menyusui) dan mudah di enyot bayi sehingga bayi tidak perlu mengalami bingung puting.
Lagi-lagi saya gagal dalam hal merawat puting. Sepertinya saya kurang telaten saat masa kehamilan sehingga pasca melahirkan puting saya tidak muncul (sedih). Sehingga bayi saya mengalami bingung puting hingga berusia 21 hari.
Saya mencari solusi lain agar bayi saya tetap mendapatkan ASI meski dia belum bisa menyusu, yaitu dengan cara pumping. Proses pumping ini membantu puting saya akhirnya muncul sehingga di usia 21 hari bayi saya berhasil menyusu dengan baik.
Menurut pemaparan AIMI (Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia) Kepri bahwa meskipun Si Ibu tidak memiliki puting yang memadai, sebenarnya itu bukan halangan untuk anak mendapatkan ASI karena Bayi menyusu bukan pada puting tapi pada payudara (mulai dari daerah aerola bagian payudara sekitar puting yang berwarna cokelat). Nah saya baru tahu ini lo....realitanya anak saya tidak pandai menyusu karena tidak ada puting.
Dukungan keluarga besar, terutama suami.
Untuk mencapai target ASI Eklusif bagi bayi, kita para Ibu membutuhkan dukungan yang optimal dari keluarga terutama suami. Apalagi jika kondisi tertentu yang membuat Ibu mengalami kendala dalam menyusui bayinya. Sebaiknya dikomunikasikan dengan baik agar keluarga seperti Ibu, Ayah dan suami tidak mudah tergoda memberikan susu formula saat bayi mengalami kendala dalam hal mendapatkan ASI.
Terkadang rasa kasihan dari mereka membuat kita gagal dalam menggapai cita-cita. Contohnya saya. Saya tidak berdaya (hanya bisa nangis) disaat hampir semua orang menyuruh untuk segera memberikan susu formula kepada bayi saya yang memang sudah dua hari masih belum bisa menyusu (bingung puting). Meskipun saya pumping, ASI yang saya berikan dianggap kurang. Padahal di hari pertama kelahiran bayi, ASI kita memang tidak akan banyak karna kebutuhan bayi belum banyak. Lambung bayi hanya seukuran jempol yang hanya butuh ASI beberapa ml saja.
Akhirnya bayi saya mengkonsumsi ASI plus formula. Berkat rasa sedih Ayah, Nenek dan Kakeknya.
Bagi Ibu pekerja, jangan malas untuk mengupayakan ASI_Perah
Ibu yang bekerja harus telaten, memompa ASI sesering mungkin dan banyak mengkonsumsi air putih dan makanan kaya gizi. Sehingga meskipun bekerja, ASI tetap melimpah. Bayi kenyang anda senang. Teori menyatakan bahwa semakin sering ASI diperah semakin ASI melimpah. Dan kita perlu mempelajari lebih lanjut tentang cara yang benar dalam memerah ASI, cara penyimpanannya supaya terhindar dari bakteri (steril) dan cara penggunaan yang tepat untuk bayi.
Saya adalah Ibu yang gagal memberikan ASI Ekslusif kepada anak pertama saya. Antara cita dan realita yang tidak sejalan. Sayalah yang belum berusaha dengan maksimal.
Sedih iya, tetapi tetap optimis untuk anak berikutnya. Semua kendala yang dihadapi dijadikan pelajaran dan semoga tidak terulang.
Semangat, semoga para Ibu dimudahkan dalam memberikan ASI Ekslusif minimal 6 bulan pertama.


0 komentar :
Posting Komentar