Puisi

Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 29 Oktober 2015

Puisi "Malam"


Ribuan rintik hujan menyerbu bumi.
Berpacu dengan kegelapan malam.
Gemuruh sahut menyahut.
Seperti akan mengunyah ngunyah bumi.
Kilat berlarian.
Memasuki setiap celah.
Dan Ini dini hari.

Ahh aku takut pada malam.
Dia bisa saja tau tentang hatiku.
Yang terkoyak koyak.
Habis dicabik-cabik sunyi.

Aku sepi?
Siapa peduli.

Hanya malam ikut sunyi.
Seperti tak tau saja tentang jiwaku tersedu, sepi.

Peluklah Aku malam.
Hibur Aku sedikit saja.
Biarkan Aku terlelap didalam pangkuanmu.

Senin, 26 Oktober 2015

Puisi "Naak...."


Kemarin tgl 24 Okt 2015 kita berjumpa.
Mata Ummi dan Abati berkaca-kaca.
Melihat keberadaanmu dilayar screning (usg).
Kata dokter engkau sehat, ada dan hidup.
Pertama kali kami melihat detak jantungmu.
Ya, meski rupamu masih berupa gumpalan.
Namun bagi Ummi dan Abati engkau sudah ada dalam keluarga kecil kita.

Naak...
Tumbuhlah.
Tumbuhlah dengan baik
Ambil semua yang engkau butuhkan, ini tubuh Ummi untukmu.

Naak...
Engkau anugerah.
Engkau amanah yang penuh berkah.

Naak...
Ummi dan Abati akan berikan yang terbaik.
Semoga kami diberi kekuatan oleh Rabb kita.
Menjadi orang tua yang amanah untukmu.
Ummi dan Abati wajib mengenalkanmu kepada Rabb kita.
Membuatmu kelak cinta kepada Rasul kita beserta para sahabatnya.
Membuatmu bangga kepada agama kita.
Dan menjadi pembelanya dimanapun engkau berada.

Naak...
Tumbuhlah dengan baik.
Umurmu masih 7 minggu.
Ummi dan Abati akan bersabar hingga genap 40 minggu.
Menunggu hadirmu di dunia ini.


Naak...
Andai engkau kelak perempuan.
Nama indah telah menunggumu.
Rumaisha Hukma Shabiyya.
Semoga engkau bisa meneladani sahabiyah Rumaisha ibundanya Anas Bin Malik.

Naak..
Namun bila ternyata engkau seorang lelaki.
Nama hebat telah menunggumu.
Habib Abdurrahman.
Berharap engkau kelak bisa meneladani Habib an Najr dalam mendakwahkan agama kita.

Selamat tumbuh anakku.
Tumbuhlah dengan sempurna.

Selasa, 20 Oktober 2015

Puisi "dipertemukan"


Saat memilih hijrah.
Ku berjanji menjaga diri hingga halal.

Saat memilih hijrah.
Engkaupun berjanji menahan diri hingga halal.

Aku dimana engkaupun entah dimana.

Lalu waktu mempertemukan kita.
Bertaaruf dengan satu niat menuju ikatan halal.

Aku berdoa, engkau pun berdoa.

Allah mudahkan segalanya, tanda barokah.

Ijab qabul terucap sudah.

Lalu Kitapun sama-sama belajar.
Sama-sama meminta kepadaNya.
Menuju mahligai sakinah mawaddah warahmah.

Dan Barokah dariNya.
Aku cinta engkaupun cinta.
Sayang yang tak terbilang.
Kasih yang tak terbendung.

Sungguh Barokah yang tiada tara.
Karena Kini kita sama-sama berikhtiar menjaga amanahNya.
Menuju pembentukan generasi Rabbani.
Salah satu tujuan dipertemukannya kita.

Jumat, 18 September 2015

Selasa, 04 Agustus 2015

Puisi "Sedingin Gerimis"


Aku tau persis.
Perasaanmu sedingin gerimis.
Bahkan mungkin perih.

Yang namanya gerimis tidak pernah lama.
Akan kutunggu. Kubiarkan.
Hingga gerimismu reda.

Kau harus tau,
Sedari kemarin.
Aku disini termangu.
Kadang dada sesak kadang tidak.
Masih bisakah aku memilih untuk tidak tau apapun?.

Senin, 03 Agustus 2015

Puisi "Sesal"


Memang ada rasa sesal.
Andai saja Aku tau begini cara menemukanmu.

Dipenghujung senja harapanku.
Kau datang.
Setelah sebelumnya.
Aku menghabiskan usia,
Menerka-nerka siapa saja yang menurut akalku "mungkin".

Berharap, kecewa, berharap lagi, kecewa lagi.
Berkali-kali.
Jatuh bangun.
Gagal, gagal dan gagal lagi.

Kau tau?
Aku seperti balita kehilangan mainan.

Kumencarimu kemana saja aku mampu.
Bertanya kepada siapa saja yang ku temui.

Andai bisa diulang.
Aku hanya akan duduk manis menunggumu diberanda rumahku.
Melalui hari-hari sambil menikmati secangkir kopi atau teh.

Ahhh ada-ada saja.
Aku jadi ingin tertawa.
Tentu saja itu tidak  mungkin.
Jika begitu, manalah nikmat bersua denganmu  ^_^

Batam, 04 Agus 2015

Puisi "Tinggalkanlah Saja"


Jika memang sedang menanti.
Tinggalkan sajalah harapan.
Supaya utuh kau rasa nikmatnya kejutan.

Akan bergetar-getar jiwamu.
Terharu.
Menggenang-genang air matamu.
Terharu.
Nafas sedikit berpacu.
Naik turun dadamu, waktu itu kau terharu.

Ahhh....sudahlah...
Jujur saja tak pandai.
Bila harus ku uraikan rasa nikmat itu padamu.

Sekali lagi ku katakan,
Tinggalkan sajalah harapan.
Jika memang sedang menanti.
Akan utuh kau rasa nikmatnya.

Batam, 03 Agustus 2015

Senin, 15 Juni 2015

Puisi "Apa itu Cinta"


Cinta...

Apa yang kau tau tentang Cinta?
Apakah asmara yang selalu bergelora
Atau rindu yang tiap detik menyapa?
Atau sikap manja mesra
Atau sentuhan lembut nan menggoda
Apakah bagimu itu yang disebut Cinta??

Ahhh....
semua yang kau kira Cinta itu fana lagi sementara.

Mendekatlah...
Akan kubisikkan kepadamu tentang apa itu Cinta.

Khawatir bila ia jauh dariNYA, itu Cinta.
Takut bila ia membuang waktunya sia-sia, itu Cinta.
Risih bila ia tidak menjaga pandangannya, itu Cinta.
Kesal bila sholatnya tidak dijaga, itu Cinta.

Benarlah apa kata Anis Matta.
Tidak lah disebut Cinta bila dua insan tidak saling memberi dan saling menumbuhkan.
Bergandengan tangan saling membantu menuju keridhoan Rabb nya.

Itulah Cinta.
Saling mencintai karena mengharapkan CintaNYA.

Batam, 15 Juni 2015
Special 4 u
Love You Coz Allah

Jumat, 24 April 2015

PUISI "Selamat Tinggal"


Seakan berdiri disudut kapal.
Melawan arah angin.

Lembaran-lembaran kisah.
Satu persatu direnggut, Angin.
Terbang jauh tertinggal, tak ada yang bersisa.
Selamat tinggal.

Mata terpejam.
Terasa.
Angin lembut membelai wajah.

Saat mata terbuka.
Hamparan birunya lautan.
Penuh harapan.

Senyuman termanis,
Untukmu masa depan.

Batam 27 November 2014
By Maiyade Laila Yane

Puisi "Damai"


Pelukan-Mu damai
Kesakitan dan kegerahanku terhadap hariku
Luluh lantak dalam dekapan-Mu

Ada cahaya,
Disaat buliran itu berjatuhan bersama lirih.
Aku memujiMu

Tau
Kemanapun kaki pergi,
Aku pilih kembali.

Karena dalam pelukanMu itu,
Damai.
Ditemaram cahaya seprtiga malam,
Gelap lelap, Aku terjaga
Penuh puja dan puji cinta.

Batam, 01 Des 2014
By Maiyade Laila Yane

Senin, 06 April 2015

Puisi "KAU"


Beribu langkah ku jalani
Tunas patah tumbuh dan musim pun berganti

Pernah hujan dan rintiknya mengajakku menari
Sejenak saja, lalu kembali lagi rinduku tentangmu
Langit berpelangipun sekejap sendu 

Beribu juta entah apa lagi hitungan detik yang telah ku lewatkan
Menantimu
Seperti anak kunci kehilangan induk
Kumencarimu

Aku lelah berpayah, air mata hampir saja darah
Sekuat tenaga yang ada berupaya ku jaga
Kau tau? Mau saja rasanya ku benamkan diri kedalam tanah
Untuk sesuatu "segumpal darah"

Dan......

Kini benar tinggal lima centi.
Sekali saja KAU ku tatap lebih lama,
Aku mati rasa. 

Batam, 06 April 2015

Kamis, 18 Desember 2014

Puisi "Sunyi"


Kiri lalu ke kanan.
Kipas berputar putar.
Dingin, merasuk celah pori.

Ruang empat kali tiga.
Alun mengalun, sayup-sayup suara mengaji.
Ahhh sunyi....

Temani hingga pagi,
Ke pagi lagi berkali kali.

Dan kipas berputar putar
Dari pagi hingga ke pagi lagi

Teman teman sudah pergi,
Sunyi...

Batam, 06 Des 2013

Puisi "Jarak"


Tak terhitung lagi berapa meter,
Jika harus memang mengukur jarak.
Tidak ingin tau lagi jumblahnya detik,
Bila itu tentang waktu.

Tapi,
Angin bisikkan bahwa
Detik, meter.
Itu tidak ada.

Katanya pejamkan saja mata.
Hirup lalu rasakan...

uhhhhh....
Tidak pernah ada jarak,
Karena ia ada disini.
Dihati.

Batam, 07 Desember 2013

Puisi "Cinta"


Sering Aku bertanya
Apa itu cinta?

Kenapa begitu sulit bagiku,
Mengejewantahkannya
Dalam kata.

Bahasa demi bahasa,
Sungguh Aku tidak bisa berkata mesra.

Jangan terka,
Seberapa besar cinta yang kupunya.

Cukup mengerti saja.
Bahwa segala yang kulakukan ini
Disebabkan cinta.

Bahkan tak sanggup lagi aku mengeja,
Apa masih ada cinta yang bersisa.
Dariku, teruntuk jiwaku dan segala
Ke Akuan ku.

Batam, 03 September 2014

Puisi "Luka Palestina Adalah Luka Kita"


Masih adakah di antara kita yang belum tau tentangnya?
Sebuah negeri bernama Palestina?
Bila ya....terlalu!!

Masihkah hati kita di tempatnya?
Bisa-bisanya kita belum mengenalnya
Dialah negri yang terluka.

Semua orang telah memberitahu kita.
Lihat di layar kaca
Betapa merah darah-darah mereka, darah rakyat Palestina
Jiwa-jiwa mereka terluka demi sebuah kehormatan agama.
Kehormatan Al-Aqsha, di Palestina negeri para ambiya
Negeri mulia yang hendak direbut paksa
Oleh mereka, Israel laknatullah yang terhina
Apakah kita rela?

Ingat!!
Persengketaan ini bukanlah milik mereka semata
Tetapi milik kita semua,
Milik kita, para pemilih islam sebagai jalan hidup yang mulia

Darah mereka rakyat Palestina adalah darah kita
Luka dan derita mereka adalah luka dan derita kita
Kitalah yang sedang terluka, kita seluruh umat islam yang mulia.
Karna kehormatan Al-Aqsha adalah kehormatan agama kita.

Batam, 22 Juli 2014

Jumat, 07 Desember 2012

Kamis, 09 Agustus 2012

PUISI "Rindu.."


Tercekat, aku dimakan sepi
Mengalir hangat, membuat garis garis dipipi

Itu waktu, aku masih merah
Kuncir dua rambutku
Itu waktu dan kau masih muda

waktu berjalan, akhirnya sampai disini
Sampai dimana aku sudah sama tinggi
Setinggi mu diangka 25 tahun

Sebenarnya semua pergi,
Kecuali rasa kasih mu

Ibu.....
Aku rindu


Batam, 09 agustus 2012

Senin, 18 Juni 2012

PUISI "Angin"


Lembut...
Angin harapan berhembus dari arah matahari terbit
Sejuk, jauh sampai kerelung-relung
Dalam...

Aishhh.....
Dicubit pipi terasa sakit
Benar, tidak mimpi

Angin harapan, berjuta mimpi
Berasa hampir nyata
Ahhh....masih angin harapan
Dan ku kembali cubit pipi
Ohh...sakit

Batam, 19 Juni 2012

Senin, 09 April 2012

PUISI "Tua"



Tua

Berlipat lipat
Kini kulit dipipimu
Putih-putih
Kini berserakan dikepalamu

Dulu kau gagah
Dulu kau kuat
Dulu kau hebat
Dulu…..semuanya kau bisa

Terperangah, kau telah tua
Perut bumi, tampak lebih dekat

Aku hanya ingin merengkuh
Semampu yang ku bisa
Aku hanya ingin memapah
Sejauh yang ku bisa

Kini….
Aku hanya ingin kau merasakan
Inilah “anakmu” Abah…

Batam, 9 april 2012

PUISI "Tanah Itu"



Tanah itu

Tepian lereng
Miang bambu
Pakis, jambu-jambu

Ahhh…..
Tanah itu terus terus memburuku
Mengajakku pulang

Bergelut di lubang lubang belut
Berpacu dengan ikan “bada”
Menelusuri tiap jengkal pematang
Tanah itu terus memburuku
Mengajakku pulang

Batam, 9 april 2012