Minggu, 13 Agustus 2017

Terbantu



Alhamdulillah kehamilan kedua memasuki usia 32 minggu. Ternyata Saya cukup deg-degan untuk yang kedua ini. Mungkin karna sudah tau apa yang akan dihadapi, bakalan sesakit apa, jadinya agak grogi.

Dianak pertama mah optimis banget. Nga takut, ya iyalah wong belum pernah ngalamin hehe...

Sepanjang kehamilan alhamdulillah sehat, jauh lebih ringan. Berkat pertolongan Allah semua berasa mudah. Meskipun beberapa waktu terakhir sering mengakami kaki kram dimalam hari. Tapi nga papa. Semuanya nikmat meski tengah malam teriak-teriak kesakitan hihi.

Dan Habib, usianya masih 1 tahun 3 bulan. Sepanjang usia itu pula Habib tidak pernah merepotkan Saya. Tak henti-hentinya bersyukur melihat Habib yang anteng, ceria dan tumbuh cerdas.

Sejak usia pas 1 tahun Habib sudah bisa jalan. Jadi sekarang jalannya jauh lebih lancar. Saya yang hamil besar tidak khawatir kalau ngajak Habib main. Sebab tidak perlu terlalu lama digendong.

Hamil makin tua makin berat, terutama dimalam hari. Dan Habib sangat membantu. Beberapa waktu terakhir Habib tidak pernah lagi nyusu dimalam hari kecuali sebelum tidur. Habib tidur pulas sampai subuh. Saya sangat terbantu, tidak harus repot membuatkannya susu. 

Habib memang sudah banyak makan nasi. Mungkin ini yang membuatnya tidak minta susu dimalam hari. Soal makanan, Saya sengaja tidak memberi pantangan apapun kepada Habib.

Alhamdulillah Habib suka makan. Apapun yang kami makan, Habib ikut makan. Tetap dalam porsinya dia. Yang penting homemade. 

Dan juga buah, Saya sengaja membiasakan Habib memakan segala macam buah agar konsumsi vitaminnya cukup sehingga daya tahan tubuhnya kuat. 

Diusia 1 tahun 3 bulan, Habib terlihat cerdas. Sesekali Habib sudah mengerti membuang sampah ditong sampah (kadang yang bukan sampah pun dibuang). Kemarin saat bermain dihalaman rumah. Tiba-tiba Habib membuang kresek ke selokan. 

"Habib, buang sampahnya disini nak...." kata saya sambil menunjuk tong sampah.

Eh nga disangka Habib masuk ke selokan (dangkal n kering) lalu mengambil kresek itu dan memasukkannya ke dalam tong sampah di halaman rumah. Masyaallah...

Semoga Habib bantu ummi tidak hanya saat hamil yah....tapi juga nanti setelah punya adek. Semoga selalu tumbuh sholih, cerdas dan mandiri. 





Jumat, 11 Agustus 2017

Dagang di Medsos, Ups


Zaman memang sudah lama berubah. Diera digital begini, butuh apa tinggal geser jempol selesai. Yang dibutuhkan nanti datang sendiri kerumah. Enak.

Banyak pegiat bisnis memanfaatkan kecanggihan zaman. Bisnis On-line. Promo dimedsos, ada yang tertarik, tanya-tanya, order, transfer, barang datang kerumah.

Kadang modal nol. Penghasilan lumayan bisa buat nambah-nambah uang pulsa hihi.

Nah, saya termasuk yang tertarik bisnis on-line. Latar belakangnya suka jualan, dah gitu aja. 

Ngeliat temen-temen gelar dagangan awakpun gatel nak gelar lapak. Padahal kadang untungnya cuma dapat capeknya aja alias tipis. Tapi yang namanya suka tetap aja senang.

Berbagai medsos dimanfaatkan. Mulai dari IG, BBM, FB.

Hmm nah khusus untuk promo via FB jujur kadang setengah hati. Rasanya mengganggu kenyamanan teman-teman di FB alias nyemak. Jarang banget nge-tag, malahan nga pernah. 

Entah kenapa hari ini promosi dan nge-tag teman yang sebelumnya sudah ditimbang-timbang nga bakalan komplein. Beliau di-tag karena tulus ngasih rekomendasi sebab barang yang saya tawarkan dijamin sangat memuaskan.

Ternyata ada yang KOMPLEIN dikolom komentar. Nyesss...yang ditakuti terjadi. Ada yang terganggu dengan niat saya.

Saya langsung minta maaf dan delete-tag nama beliau. Menyesal dan merasa bersalah.

Sayang, beliau menegur tidak via INBOX wkwk (pelajaran buat saya tentang adab menegur saudara).

Saya pribadi sengaja mengatur setingan FB agar siapapun yang tag tentang apapun tidak langsung muncul nyampah diwall.

Hanya sampai dinotification dan alhamdulillah tidak mengganggu saya. Saya bebas memilih apa yang ingin dan tidak ingin saya tampilkan. 

Dan buanyak yang tag dagangan. Salah satu ikhtiar teman-teman dalam menjemput rezekinya yang kadang mungkin melanggar adab. Tapi saya maklum. Ditag, dijoin kegrup, diBC dan lain-lain. Banyak cara bijak yang bisa dilakukan jika tidak suka. Yang penting saling mendoakan semoga rezeki lancar heheh...

Hari inipun ditegur saya sangat maklum. Pembelajaran heheh...



Rabu, 26 Juli 2017

ke-YAKIN-an


Saya sering bertanya kepada suami "Apakah uda takut....".

Alhamdulillah jawabnya "Tidak, saya sudah terbiasa hidup susah..."

Hihi saya senyum-senyum, agak gimana gitu. Jawabannya ambigu. Antara meyakinkan dengan tersinggung 😂

Percakapan diatas tentang ke-yakin-an akan rezeki. Banyak yang menyayangkan sebuah keputusan yang akan kami ambil (padahal masih akan....).

Melepaskan yang pasti dan bergantung pada ketidakpastian demi anak hiwhiw.

"yakin mo resign? kan udah permanen..."
"suamimu kan masih kontrak....bla bla..."

Yakin bahwa Allah sang maha pemberi rezeki. Selagi nyawa masih dikandung badan rezeki akan hadir menghampiri setiap jengkal ikhtiar yang telah diusahakan.

Sebagaimana kisah cicak-cicak didinding, datang seekor nyamuk langsung ditangkap. Nyamuk yang begitu lincah bisa ditangkap oleh cicak. Lewat takdir ia DIDATANGKAN.

Dan anak adalah harta paling berharga. Adakah yang lebih berharga dari anak?. Demi anak. Demi anak. Demi anak agar bisa dibersamai Ibunya sepanjang waktu.

Selamat beraktifitas 😊


Kamis, 06 Juli 2017

Pemuda Gagal


Saya penggemar instagram. Suka buka IG sekedar liat-liat foto yang kebanyakan didominasi foto dagangan orang hahah... 

Sebagiannya ada juga akun inspirasi. Beberapa waktu yang lalu akun @nikahasik memposting sebuah gambar tentang pemuda yang menyayat nadinya sendiri.

Foto itu dilengkapi dengan caption menggunakan bahasa remaja alay lengkap dengan penulisan ala anak alay. Pemuda patah hati (waduh).

Saya teringat beberapa tahun yang lalu, dua orang pemuda (wajah cukup cakep) dikampung saya memilih mengakhiri hidupnya karna patah hati ditinggal pacar. Mereka gantung diri. Na'udzubillah min dzalik.

Pemuda kurang piknik menurut saya. Kata orang piknik bukan berarti harus jalan-jalan ya. Kurang piknik maksud saya kurang dekat sama penciptaNya. Nga kenal sama Tuhannya, bahkan sama dirinya sendiri.

Memang kalau dilihat dari kedua pemuda dikampung saya itu memiliki latar belakang keluarga yang brokenhome. Kurang kasih sayang & perhatian (sepertinya). Rumah tangga orang tua yang berantakan sehingga tidak mendapatkan didikan yang layak.

Sehingga terbentuk jiwa yang rapuh. Jiwa miskin yang tidak kenal dengan Rabbnya. Saat ada yang memberikan cinta & kasih sayang (pacar red.) seolah itulah cinta satu-satunya didunia ini. Takut kehilangan.

Dan syaithan bebas mengobrak-abrik jiwa pemuda yang kosong seperti ini. Jiwa kesepian yang jauh dari Allah. Lemah, rapuh dan lahirlah pemuda-pemuda alay bin lebay. Pemuda yang jangankan ngomongin masa depan dan negara, ngomongin dirinya sendiri aja nga mudeng.

Padahal pemuda itu agen of change. Yang bakalan jadi pemimpin dimasa depan. Lah gimana mo jadi pemimpin klo masih muda udah mengakhiri hidupnya ckck...

Berawal dari tanggungjawab didalam rumah tangga. Menjaga dan membimbing anak-anak agar tumbuh menjadi pemuda yang berkualitas. Pemuda harapan bangsa yang berjiwa kuat jauh dari sifat alay.

Pemuda yang mengenal dirinya, mengenal tuhannya. Tau tujuan hidup, tau bagaimana hidup. Pemuda sukses bukan pemuda gagal.

Tiba-tiba sebagai istri & ibu Saya ingat anak-anak saya. Apa yang saya berikan akan menjadi nutrisi pertumbuhan jiwanya. Tidak ada tempat berlindung dan memohon pertolongan selain kepada Allah.

Dan (kita) siapa saja yang saat ini berstatus remaja atau pemuda, yukk open mind. Buka fikiran. Banyak-banyak belajar terutama belajar agama. Baca buku-buku yang memberikan nilai positif. Selektiflah dalam bergaul dan bersahabat.

Andaipun takdir memberikan kita keluarga yang tidak harmonis, pun bukan tidak bisa bangkit dan memiliki hidup yang lebih baik. Tidak akan ada yang merubah kehidupan suatu kaum kecuali mereka sendiri yang merubahnya (kata Allah). Jadi kudu usaha.

Agar kita tidak menjadi pemuda alay, pemuda gagal. Allah nga tanggung-tanggung loo memberikan reward bagi pemuda yang sholeh diusia muda.

Pemuda yang menghabiskan waktu mudanya untuk beribadah kepada Allah akan Allah masukkan ke dalam syurga tanpa hisab (semoga nga salah).

Nah loh...mantap kan 😋

Duhhh urut dada liat gambarnya.




Kamis, 29 Juni 2017

Cerita Sholat Ied Bawa Bayi



Taqobbalallahu minna wa minkum...Selamat Hari Raya Idul Fitri 1438H

Hari raya adalah hari berbahagia. Semua wajah dianjurkan ceria. Pagi hari dihari raya kita dianjurkan untuk mandi, memakai pakaian terbaik, makan, lalu berangkat menuju tempat sholat ied sembari mengucapkan takbir, tahmid, tasbih memuji keagungan Allah.

Beramai-ramai keluar dari rumah untuk melakukan sholat ied, mendengarkan khutbah, kemudian dengan gembira saling mengucapkan tahniah taqobbalallahu minna wa minkum....

Hari raya masa untuk kita bersilaturrahmi, saling mengunjungi, menghidangkan berbagai macam makanan istimewa.

Hari raya masa kita berkumpul sanak saudara. Yang jauh pulang kampung. Kalaupun tidak pulang, wajib silaturrahmi via telfon. 

Pernak pernik mudik beserta agenda mengunjungi tempat-tempat wisata ada dimasa lebaran.

Yeee lebaran kali ini alhamdulillah tidak pulang kampung. Tetap bahagia insyaallah.

Moment terindah adalah saat pertama kali hadir sholat ied bersama bayi 13 bln.

Dari awal sudah suudzon sama Habib. Melihat betapa aktifnya dia, Saya bersiap-siap untuk sekedar meramaikan aja alias tidak ikut sholat. Takut ntar Habib lari kemana-mana.

Tapi subhanallah diluar dugaan. Rupanya nyampe tempat sholat Habib anteng-anteng wae sibuk merhatiin orang-orang yang rame dan cantik-cantik hehe...

Berbekal sepotong biskuit ditangannya akhirnya Saya coba ikut sholat. Disaat rakaat kedua tiba-tiba Habib bangkit dan berjalan ke sajadah ibu-ibu disebelah. Habib mengambil tas beliau dan kebetulan tidak diresleting.

Alhasil tas berhasil diobok-obok, HP dikeluarkan dan di banting-banting (klo HP emaknya nga masalah, ini mah HP orang lai n). Sambil nyengir hingga sholat usai.

Jelas Saya tidak khusyu'. Soalnya masih ada satu rakaat lagi. Sholat sambil tarik nafas, mata kode-kode Habib. Saya agak tegang takut HP nya rusak.

Innalillah....untuk pertamakalinya begini. Habis sholat buru-buru minta maaf sama si Ibu. Alhamdulillah dimaafkan.

Belum lagi moment sebelumnya saat Habib tiba-tiba berdiri jalan pelan menuju sepotong biskuit kotor diatas tanah yang sedikit basah. Biskuit kotor itu diambil dan Saya tau akan dimakan. Sayapun reflek bergerak dan mengambil biskuit kotor yang hendak dimakan. 

Entahlah, sholat ied Saya antara ada dan tiada hehe....


Kamis, 22 Juni 2017

Rezeki Tak Terduga.


Dibanyak kesempatan, Saya menyaksikan topik yang paling banyak dibicarakan disela-sela jam luang di tempat kerja adalah tentang bagaimana memiliki inventaris (harta) seperti rumah, mobil dan motor.

Yang dibicarakan adalah tentang type apa, berapa harga, berapa DP (uang muka), jangka waktu berapa lama, persentase bunga berapa, cicilan perbulan berapa. 

Sementara saya hanya menjadi tukang kuping di sudut ruangan yang sepi dikeramaian (halah).

Memang pembelian inventaris sejenis rumah, mobil & motor sebagian besar rakyat indonesia baru bisa mendapatkannya dengan cara kredit melalui fasilitas bank-bank yang ada. 

Pun yang mampu memiliki secara cash tetap memilih menggunakan fasilitas kredit dan uangnya dipakai untuk urusan yang lain.

Lalu apa menariknya membicarakan kredit? Lha memangnya siapa yang mau ngomongin transaksi kredit hehe....

Saya memang tidak akan membicarakan tentang transaksi kredit via fasilitas bank, apalagi tatacara plus keuntungannya (karna setau saya cuma ada ruginya hihi).

Atau membicarakan soal kredit berbunga yang menurut syariat islam adalah riba juga nga bakalan saya bahas detail karna bukan kapasitas Saya (meski saya meyakini hal ini).

Tetapi ditulisan ini Saya cuma mau berbagi pengalaman hidup, tapi sayang pendahuluannya kepanjangan. Maklum belum lihai nulis hehe.

Sejak menikah, saya dan suami punya misi untuk membangun rumah tangga tanpa riba (doakan yah misi ini lancar jaya hingga maut menjemput kami berdua). Mau beli apa saja diusahakan cash (sesuatu yang jelas akan berat sekali).

Mungkin akan ada suatu saat via kredit tapi tanpa bunga (kredit berbunga menurut syariat islam adalah riba). Murni transaksi kredit, harga sekian akan dicicil sekian kali. Nga ada denda jika terlambat bayar cicilan dan aturan lainnya yang tidak melanggar syariat.

Ada nga ya? Insyaallah nanti bakalan ada. Optimis.

Lalu? lalu ya gitu deh. Selama menikah mungkin akan menjadi kontraktor sejati hihi (meski slip gaji klo dikasih ke bank kayaknya bakalan lolos ambil rumah kredit).

Ya namanya juga pilihan, meski orang ngeliatnya pahit nga papa asal Allah suka dan yang penting kita yang menjalaninya happy.

Atau motor klo belum ada ya disewa. Atau lain-lain selagi bisa pinjem, pinjem aja dulu. Intinya mah siap sedia hidup apa adanya. No gengsi.

Ternyata masyaAllah indahnya hidup tanpa hutang (baru ngerasain). Klo telat gajian cuma perlu mikirin gimana cara beli susu anak. 

Nga perlu pusing mikirin cicilan ini itu yang telat bayar bakalan kena denda. Gaji dengan angka sekian itu Alhamdulillah berasa banyak. Jika ada sisa, semangat untuk ditabung.

Ntar giliran yang lain bicara renovasi rumah, kita mah tetap menjadi pendengar setia hehe.

Inilah pilihan. Pilihan karena sebuah keyakinan berharap barokah dan keridhoan Allah SWT dalam hidup yang sementara dan fana ini.

Belajar untuk bertaqwa (masih dan akan selalu belajar). Mencoba untuk qona'ah. Mensyukuri apa yang ada yang penting Allah ridho.

Dan janji Allah akan selamanya benar. Bahwa Allah akan berikan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka bagi hambanya yang bertaqwa. Yang dengan senang hati menjalankan perintahNya dan dengan sabar meninggalkan larangannya. 

Silahkan untuk lebih detail bisa baca artikel berikut https://almanhaj.or.id/990-t-a-q-w-a.html


Yakinlah, kemudahan demi kemudahan benar-benar Allah berikan jika taqwa memang menjadi pilihan. Dan yang pasti dada terasa lapang (pokoknya lebih lapang dari lapangan bola hehe). 

Hidup tenang. Dan saat Allah memberikan kita rezeki yang tidak disangka-sangka itu, rasa syukurnya luar biasa. Dahsyat.

Bahagia sekali ketika mendapati ada teman memilih jalan yang sama. Sebagian sudah terlanjur basah dan berniat untuk segera melunasi hutang-hutangnya (bahkan ada yang sudah melunasinya).

Saya yakin itu semua pasti sabgat berat,bukan sesuatu yang mudah. Tapi jika semua karena Allah maka akan ringan. Kemudahan itu pasti Allah datangkan bersama kesungguhan. 

Dan terakhir, semoga tulisan curhat-curhatan ini bermanfaat. Hidup adalah pilihan. Selamat memilih.








Jumat, 16 Juni 2017

Bayi sang Kaset Kosong


Sejak Habib genap satu tahun 21 Mei yang lalu, Saya agak sering tercenung. Amanah Allah yang luar biasa ini adalah kaset kosong yang harus kami (orang tuanya) isi.

Mengisi dan kelak akan mempertanggungjawabkan setiap isi yang kami berikan dihadapan Allah Sang empunya titipan.

Ya, Habib adalah kaset kosong. Sekali tergores langsung direkam. Dengan sangat cepat tanpa filter sama sekali. Ya, tanpa filter.

Ada banyak anak diluar sana yang membuat orang terkagum-kagum dengan talent yang diperlihatkannya. Kadang diyoutube kita temukan masih balita sudah lihai dancer atau melakuan kecerdasan lainnya.

Dan ada juga yg masih dibawah 5 thn sudah punya banyak hafalan Al-quran.

Bayi ataupun balita adalah kaset kosong yang sangat mudah merekam. Sekali diajarkan langsung lengket. Bahkan yang tidak sengaja kita ajarkanpun bisa langsung direkam (kebiasaan kita sehari-hari misalnya).

Apalagi sesuatu yang diberikan itu dilatih terus menerus secara berulang. Tidak tertutup kemungkinan lihai. Lihai mengahafal al-quran, lihai bernyanyi, lihai menari dan lain sebagainya.


Nah, inilah yang membuat Saya tercenung. Apa saja yang sudah kami goreskan di memori Habib satu tahun belakangan. Adakah yang baik-baik. Bisakah kelak kami pertanggungjawabkan dihadapan Allah Sang Pemilik?.

"Habib sudah sholat?" saya coba memancing. Ternyata responnya luar biasa, Habib menunjuk sajadah, kode minta diambilkan. 

Lalu saya bantu bentangkan dan perlahan dengan jalan yang masih belum kokoh Habib berdiri diatas sajadah kemudian Habib melakukan gerakan naik turun (jongkok lalu berdiri) sambil tertawa. Masyaallah.

Untuk pertamakalinya Habib menyaksikan Saya menggosok gigi. Tanpa disangka besoknya saat Saya mandikan, Habib melihat sikat gigi dan memintanya. Lalu saya berikan dan masyaallah langsung dibawa kemulut. Beliau gosok gigi rupanya. Padahal sengaja belum saya ajarkan mengingat giginya masih dua biji.

Dan banyak lagi hal lain yang kadang memang tidak Saya ajarkan dengan sengaja tapi Habib langsung meniru. 

Saya menjadi takut, takut tidak memperlihatkan hal-hal yang baik dihadapannya. Dan Saya semakin sadar bahwa mulai detik ini juga Saya harus selalu berhati-hati dalam bersikap dihadapannya. Saya harus selalu sadar bahwa Habib sedang merekam segalanya.

Rabu, 14 Juni 2017

Lebaran & Kue


Ooww lebaran sebentar lagi. Ini waktu tersibuknya emak-emak. Mulai dari persiapan baju lebaran satu keluarga, aksesoris rumah (terutama ruang tamu), menu utama lebaran dan kue-kue cemilan yang akan menghiasi meja-meja tamu mereka.


Kali ini pengen curhat soal makanan & kue lebaran. Saat masih single mah cuek aja soal kue lebaran. Tiba-tiba udah ada aja karna Ibuk yang nyiapin 😀.

Kue lebarannya dimasak sendiri, jarang ada yang dibeli jadi. 

Nah, dua tahun terakhir persisnya sejak berumah tangga Saya harus sibuk mengurus yang satu ini, mau nga mau.

Memutuskan apa menu utama saat lebaran. Saya harus memikirkan toples mau diisi kue apa?.

Disaat seperti ini saya merasa sangat menyesal dan kesal sama diri sendiri. Kenapa Saya tidak bisa memasak?. Apalagi dalam hal memasak kue.

Dua tahun menikah Saya masih belum PeDe dengan masakan sendiri. Kata suami rasanya berubah-ubah (emang power ranger) hihi....

Jadi, dengan sangat terpaksa semua harus saya beli jadi hikss. Menu yang disuguhin yang praktis aja.

Disaat kondisi seperti ini biaya lebaran berasa mahal (untung ada THR 😆). Klo mau kue dengan rasa yang memuaskan harus siap merogoh kantong lebih banyak. Harganya aduhai (terpaksa beli serba sedikit hihi).

Alangkah lebih hemat kalau bisa masak kue lebaran sendiri. Meski agak sibuk tapi disitu sensasi lebarannya.

Disaat emak-emak sibuk memasak kue, satu keluarga merasakan aura lebaran. Dan dari segi rasa biasanya juga lebih enak karna bahan pasti dipilih yang terbaik soalnya untuk konsumsi pribadi (tidak jarang kue yang dibeli kurang cocok dilidah).

So, bagi perempuan punya keahlian itu penting (terutama keahlian tetek bengek rumah tangga). Inilah PeEr besar saya 😊




Minggu, 28 Mei 2017

Puasa Saat Hamil Trisemester 2


Alhamdulillah, Ramadhan kali ini sedang hamil 20 minggu. Trisemester 2, fase ternyaman sepanjang kehamilan. Sejauh ini belum ada keluhan sehingga memutuskan akan berpuasa full jika Allah mengizinkan.

Semangat puasa kali ini sebenarnya lebih kepada melepas rindu, karena taun lalu dalam keadaan nifas hehe, nga dapat berpuasa sama sekali.

Dan ini sudah hari ketiga berpuasa. Alhamdulillah kuat walaupun dihari pertama sempat agak pusing. Tapi masih dalam taraf belum mengkhawatirkan.

Untuk berjaga-jaga agar tidak lemas pada saat puasa (mengingat Saya lagi hamil), Saya selama tiga hari ini bersantap sahur ditemani segelas air rendaman kurma yang diblender.

Rendaman air kurma ini infused water kesukaan Rasulullah yang dikenal dengan nabidz.

7 butir kurma yang telah dibuang bijinya di rendam ke dalam dua gelas air yang disimpan dalam wadah tertutup dan dibiarkan selama min 8 jam. Boleh ditarok di dalam kulkas atau suhu ruangan. Setelah 8 jam diblender dan diminum deh. Hmmm segerr.. 

Diresep lain mereka tambahkan susu UHT. Saya belum coba karna direferesi lain disebutkan bahwa secara thibbun nabawi nabidz tidak baik dicampur susu.

Menurut beberapa sumber berikut khasiat air nabidz.

1. Sebagai pemulih tenaga.
2. Menetralisir kolesterol jahat di dalam tubuh.
3. Sumber zat besi.
4. Menjaga jantung dan tekanan darah.

Mungkin yang lagi hamil sama kayak Saya bisa juga mencoba ^_^


Nikmatnya Trisemester 2


Alhamdulillah, usia dedenya Habib sudah 20 minggu. Subhanallah gerakannya sudah mulai sering (pagi & malam) dan bisa dirasakan dengan rabaan. 

Ini hamil kedua. Jarak kehamilan cukup dekat. Tapi subhanallah menyenangkan. Allah beri banyak kemudahan (beda waktu hamil Habib dulu hiks..). 

Terutama di Trisemester dua ini nyaris tanpa keluhan :). Kecuali encok yang sejak gadis aja sudah encok hehe.

Makan apa aja sekarang enak euy...Nga ada lagi mual & muntah. Alergi bau-bauan sudah lama menghilang. Tidur nyenyak dan dede anteng didalam. Bepergianpun nyaman. Inilah istimewanya trisemster dua, masa ternyaman selama kehamilan.

Dua minggu lalu habis checkup, dokter bilang dede tumbuh dengan sehat. BBnya sudah 300gr.Dan yeayyyy dede insyaallah laki-laki. Kata dokter udah keliatan tunasnya hihi.....

Hmmmm kami memang berharap laki-laki, supaya keliatan seperti anak kembar dengan Habib. Hihiu....

Jauh hari sebelum dede ada, nama insyaallah sudah standby, saking semangatnya punya anak banyak. Jadilah koleksi nama hehe...

#namanya rahasia dulu yah....



Jumat, 26 Mei 2017

Happy Little Soul



Alhamdulillah, setelah berjuang mendapatkan bukunya segera setelah launching (berkat nga sabar) akhirnya selesai dibaca dalam waktu dua hari. 

Dengan syarat tidak dibaca dirumah (klo dirumah mesti adu kekuatan sama Habib yang selalu ngotot mo megang buku apa aja yang sedang dibaca umminya hihu...). 

Baca pas nunggu bus jemputan, baca pas istirahat, baca pas lagi nga ada kerjaan (kerjaan lagi nga ada yang urgent. red) hihi....*korupsi waktu 

Kesimpulan pertama dari Saya pribadi bahwa Mba @retnohening Ibuknya_Kirana, teman main Kirana adalah Ibu yang huebattt....

Beberapa hal berikut yang sudah beliau lakukan dan layak untuk para Ibu tiru ^_^

1. Ibu yang senantiasa belajar untuk sabar dalam menghadapi anak. Baik menghadapinya saat bermasalah (rewel.red) ataupun sabar dalam hal melatih tumbuh kembangnya. 

Terus berusaha menata hati untuk selalu bersikap baik & positif didepan anak. Tidak mudah marah karna hal-hal kecil. Berusaha untuk ikhlas dan mengingat bahwa perjuangan sebagai seorang Ibu adalah Ibadah. Ibu yang mengembalikan segala sesuatu kepada Rabbnya. Ibu yang banyak mengingat Allah kemudian menjadikan istighfar sebagai senjata penenang dikala sabar mulai menghilang.

2. Ibu yang menanamkan nilai-nilai kebaikan sejak anaknya masih bayi. Membiasakan untuk berdo'a disetiap mengawali kegiatan. Sebagai muslim beliau memperlihatkan dan mengajarkan kegiatan ibadah rutin seperti sholat dan tilawah. 

Mengajarkan tentang empati, bagaimana berbagi, memberi dan memaafkan. Mengajarkan tentang etika yang diawali dengan membiasakan menggunakan kata please, sorry dan thangkyu.

3. Smart mom. Beliau Ibu yang kreatif. Memberikan stimulasi untuk perkembangan Kirana melalui mainan edukatif. 

Jika membeli mainan, beliau menyeleksi kemanan dan manfaat yang akan diberikan dari mainan tersebut. Tidak lupa juga menyeleksi sesuai harga jangan sampai over budget hehe...Beberapa jenis mainan beliau buat sendiri (saya sudah coba eksekusi satu). 

Sejak masih merah Kirana beliau ajak ngobrol, bernyanyi, bercerita dan membacakan buku. Hingga usia tiga tahun Kirana dekat dengan buku.

Hal lain yang juga menarik, mba @retnohening sengaja melibatkan anaknya dalam hal pekerjaan rumah tangga. Seperti menjaga kebersihan dan masak memasak. Dengan catatan memperhatikan keamanan, jangan sampai terjadi kecelakaan.

Kirana juga belajar dari video-video edukatif tentunya dibawah pengawasan mba @retnohening. Ingat ya dibawah pengawasan dan juga selektif.

4. Ibu yang menyadari bahwa dirinya bukanlah Ibu sempurna yang ketika melakukan kesalahan mencoba untuk memaafkan diri sendiri dan berusaha memperbaiki kesalahannya.

Belajar & terus belajar. Meski baperan yang penting moveon. Tidak menuntut anak sempurna.

Mba @retnohening juga pernah merasakan stress dalam menghadapi anaknya (katanya sampai menjambak-jambak diri sendiri didepan Kirana). Tapi akhirnya beliau sadar itu tidak seharusnya beliau lakukan.

5. Ibu yang mendedikasikan waktu dan fikirannya untuk membantu perkembangan anaknya. Memikirkan nilai apa yang ingin ditanamkan, pelajaran apa yang ingin diberikan, mainan apa dan sebagainya secara serius.

6. Ibu yang rendah hati. Diawal buku ini saya sudah merasakan kerendahan hati mba @retnohening. Beliau tidak sedikitpun membanggakan diri atas apa yang dilakukan. Malah selalu merasa jauh dari sempurna. Padahal beliau Ibu yang luar biasa (ini bagi saya pribadi lo ya).

So, mari kita para Ibu mengambil pelajaran dari seorang mba @retnohening, Ibuknya Kirana, temen main Kirana. Happy mom, jadilah Ibu yang bahagia agar anak-anak bahagia dan tumbuh dengan baik.

Semoga bermanfaat, jangan pernah sungkan dalam mencontoh hal-hal baik yang pernah dilakukan orang lain.

Bagi saya nga papa baperan melihat perkembangan anak orang lain asal bapernyafasatabiqul khairat ^_^