Bayi sang Kaset Kosong
Sejak Habib genap satu tahun 21 Mei yang lalu, Saya agak sering tercenung. Amanah Allah yang luar biasa ini adalah kaset kosong yang harus kami (orang tuanya) isi.
Mengisi dan kelak akan mempertanggungjawabkan setiap isi yang kami berikan dihadapan Allah Sang empunya titipan.
Ya, Habib adalah kaset kosong. Sekali tergores langsung direkam. Dengan sangat cepat tanpa filter sama sekali. Ya, tanpa filter.
Ada banyak anak diluar sana yang membuat orang terkagum-kagum dengan talent yang diperlihatkannya. Kadang diyoutube kita temukan masih balita sudah lihai dancer atau melakuan kecerdasan lainnya.
Dan ada juga yg masih dibawah 5 thn sudah punya banyak hafalan Al-quran.
Bayi ataupun balita adalah kaset kosong yang sangat mudah merekam. Sekali diajarkan langsung lengket. Bahkan yang tidak sengaja kita ajarkanpun bisa langsung direkam (kebiasaan kita sehari-hari misalnya).
Apalagi sesuatu yang diberikan itu dilatih terus menerus secara berulang. Tidak tertutup kemungkinan lihai. Lihai mengahafal al-quran, lihai bernyanyi, lihai menari dan lain sebagainya.
Nah, inilah yang membuat Saya tercenung. Apa saja yang sudah kami goreskan di memori Habib satu tahun belakangan. Adakah yang baik-baik. Bisakah kelak kami pertanggungjawabkan dihadapan Allah Sang Pemilik?.
"Habib sudah sholat?" saya coba memancing. Ternyata responnya luar biasa, Habib menunjuk sajadah, kode minta diambilkan.
Lalu saya bantu bentangkan dan perlahan dengan jalan yang masih belum kokoh Habib berdiri diatas sajadah kemudian Habib melakukan gerakan naik turun (jongkok lalu berdiri) sambil tertawa. Masyaallah.
Untuk pertamakalinya Habib menyaksikan Saya menggosok gigi. Tanpa disangka besoknya saat Saya mandikan, Habib melihat sikat gigi dan memintanya. Lalu saya berikan dan masyaallah langsung dibawa kemulut. Beliau gosok gigi rupanya. Padahal sengaja belum saya ajarkan mengingat giginya masih dua biji.
Dan banyak lagi hal lain yang kadang memang tidak Saya ajarkan dengan sengaja tapi Habib langsung meniru.
Saya menjadi takut, takut tidak memperlihatkan hal-hal yang baik dihadapannya. Dan Saya semakin sadar bahwa mulai detik ini juga Saya harus selalu berhati-hati dalam bersikap dihadapannya. Saya harus selalu sadar bahwa Habib sedang merekam segalanya.


0 komentar :
Posting Komentar