Desember 2014

Kamis, 18 Desember 2014

Cerpen "Ada Jingga Dimataku"




Seperti biasanya, siang ini aku bertemu lagi dengan Gadis Kecil penjual ikan itu. Dia selalu melewati halaman rumahku setiap mau pergi maupun pulang sekolah. Gadis Kecil yang menarik. Dia masih kelas tiga SD. Sering kudengar bisik tetangga bahwa Gadis Kecil ini pintar disekolah serta baik perilakunya.

Wajahnya manis, kulitnya gelap dan paling mungil diantara teman-temannya, gadis kecil yang periang. Lewat didepan rumahku dengan seragam merah putih, sepatu ditenteng. Rambutnya agak panjang dikuncir dua, kuncir yang semberaut. Kualihkan pandangan ke kakinya, terlihat kotor penuh debu.

Beginilah Sekolah Dasar di kampungku, sejak dulu murid tidak diizinkan memakai sepatu didalam kelas. Alhasil sepatu cuma dipakai saat berangkat sekolah, setelah masuk kelas hingga pulang kerumah sebagian besar anak tidak lagi memakai sepatunya. Jangan heran kalau akhirnya sepatu mereka tahan lama.

***
“Huuuu…huu..hu..uhh……,hiks…,hiks……..”

“Astaghfirullah……….” Aku tersentak. Nafasku tersenggal. Air mata mengalir dipipiku. Untuk kesekian kalinya memori masa kecilku hadir dalam tidurku. Seperti malam ini, dalam mimpi aku terisak menangis hingga akhirnya terbangun. Mimpi itu sangat dekat, aku teramat merasakannya.

Dalam mimpiku malam ini Aku menangis sambil berlari kencang. Ayah mengejarku seperti mengejar maling. Kaki mungilku berlari dengan lincah menelusuri pematang sawah, sore menjelang malam. Dalam suasana yang hampir gelap seutuhnya dan penuh dengan rasa takut aku berurai air mata. Takut pulang dan tak ingin sama sekali pulang. 

Dingin, takut, sedih dan entah perasaan apa lagi yang kurasa. Hingga akhirnya paman menemukanku masih terisak dibawah pohon kopi di tepian sawah tidak jauh dari rumah. Aku benci Ayah.

Mimpi ini membuatku terpaksa mengingat kembali kisah silam itu.

***

“Dasar anak tak tau diri. Memalukan!!! Benar-benar memalukan…!!!” aku mengintip dari balik tirai jendela rumah.

Dadaku naik turun. Entah sudah berapa kali gadis kecil yang baik hati itu kulihat diperlakukan tidak baik oleh Ayahnya. Awalnya dia dikejar-kejar hingga Ayahnya mendapatkannya. Setelah itu si Ayah mengambil rotan yang memang sengaja disimpan untuk memukul anaknya itu bila melakukan kesalahan. Berkali kali rotan itu dilecutkan ke kaki Si Gadis Kecil. Dia meraung kesakitan, terisak-isak sambil memohon kepada Ayahnya agar tidak dilecut lagi.

“Ampun Yaaah……, ampun Yaaahh. Tak kan ulangi lagi Yaaah……janji Yaaahh….Maaf Yaah…..”

Tetapi si Ayah keasyikan memukulinya hingga Si Gadis Kecil tidak mampu lagi mengeluarkan suara dalam tangisnya. Tidak ada yang membela anak itu. Hatiku pilu. Dadaku naik turun. Ada sesuatu yang kurasakan. Perasaan berkecamuk. Pasti nanti malam aku akan bermimpi lagi. Ingin sekali aku berlari keluar rumah, manarik tangan anak itu dari cengkraman Ayahnya dan membawanya lari kedalam rumahku. Karena Aku merasakannya…….sangat…..

***

Keesokan harinya dan dua hari berikutnya tak kulihat lagi Si Gadis Kecil. Andai dia lewat Aku ingin bertanya ada apa sehingga kemaren itu dipukuli?

Akhirnya kuputuskan main kerumahnya. Didalam rumah yang lebih cocok disebut gubuk itu kudapati hanya ada Gadis Kecil itu. Ayah da Ibunya tidak dirumah.

“Apa kabar dek….?” Tanyaku sambil tersenyum. Gadis Kecil itu hanya membalas dengan senyuman. Dia berbaring diatas gulungan kasur yang sudah sangat tipis berselimutkan kain lusuh. Sesuai dugaanku dia sakit. Aku mengelus kepala anak itu hiba. Ku singkap selumut yang menutupi kakinya.Ada garis-garis biru bekas rotan.

“Aduh sakit kak jangan disentuh……” katanya pada saat aku meraba kakinya.

“Oh maaf sayang….” Kulihat dia meringis tanda kesakitan.

Hari itu kuluangkan waktu untuk menghiburnya. Sambil berbincang-bincang. Ternyata beberapa hari yang lalu itu dia telah membelanjakan uang temannya. Mereka berniat menabung bersama dan Si Gadis Kecil dipercaya menyimpan uang itu.

Tiba-tiba ada perintah dari guru di sekolah agar membeli satu buah buku tulis, pensil, penggaris, penggarut dan penghapus. Si Gadis Kecil telah meminta uang kepada Ibu dan Ayahnya, tetapi mereka tidak punya uang. Kemudian timbullah niat untuk meminjam uang tabungan itu, bukan mengambil. Suatu saat akan diganti.

Malangnya orang tua temannya mengetahui tabungan itu dan melarang anaknya ikut, serta meminta agar uangnya dikembalikan. Karna tidak bisa mengganti, orang tua teman Si Gadis Kecil memaki-makinya dan juga Ayah Ibunya. Makanya Ayahnya naik pitam karena malu, tanpa mau tau kenapa anaknya melakukan hal itu. Langsung dihukum tanpa diadili, disebabkan uang yang tidak seberapa nominalnya itu ia tega memukuli anaknya. 

Setelah lama bercerita, tiba-tiba dia bangkit dari tidurnya dan memelukku. Mengangis tersedu, tubuhnya terguncang. Kurasakan ada resonansi didalam jiwa kami. Entah kenapa aku sangat sedih. Hidup dalam himpitan ekonomi, diabaikan orang yang disayang dan sering mendapat perlakuan kasar dari orang tua. Jelas jiwanya tertekan. Ingin sekali menjadi kakak asuhnya dan hidup bersamaku. Dia yang sekarang adalah potret aku dimasa laluku.

“Ada Jingga dimata kakak…….” Bisikku pelan. Kusadari ternyata Aku menyayangi Gadis Kecil yang bernama Jingga ini.

***

“Ibu…., bunuh saja Vina….., bunuh saja Vina…., bunuuuuhhhhh….” Kalimat itu ku ucapkan berulang.

Peristiwa itu saat usiaku sembilan tahunan. Aku diseret keluar dari rumah Nenek menuju rumahku yang berjarak sekitar 20 meter. Aku ngambek tidak mau sahur, sebagai bentuk protesku karna sejak punya adik baru aku kehilangan kasih sayang dan perhatian. Penampilanku seperti anak tak terawat, acak acakan ke sekolah. Rangkingku turun drastis. Ibu tidak begitu mempedulikanku lagi. Perhatiannya tercurah kepada bayi laki-lakinya yang baru. Aku merasa seperti anak tiri. Aku cemburu, aku muak. Begitu juga Ayah, dia sangat pemarah. Kesalahan kecil dihukum dengan hukuman yang berat. Sampai aku tidak mengerti beda antara benci dan cinta.

Ahh Jingga kenapa kau mengalami yang seperti ini juga, ikut menjadi anak malang sepertiku. Tapi kelak setelah kau dewasa maafkanlah Ayahmu walaupun itu agak sedikit sulit.  Ikhlas dan ikhlaskanlah…….

Seperti aku yang telah memaafkan dan mengikhlaskan Ayah Ibuku. 

***

Batam, 19 Agus 2014

Cerpen "Rumitnya Jodoh"




“Lebaran ini nga usah pulang ya, kalau memang masih belum ada. Setidaknya nama aja dulu cukup………” klik.

Kali ini Ibu kejam sekali. Nelfon dengan kalimat lugas, cepat dan tepat mengenai ulu hatiku. Hiks….

“Kucari kemanaaaaaaaa……, arrrgghhhhh……”

***

“tiktaktiktuktiktaktiktuk………..”

Suara keyboard laptopku masih gaduh, padahal sudah dini hari. Kulihat timer dilaptop, menunjukkan angka 02.13.

“hufffffhhhhhhh……..”

Aku menarik nafas, sangat dalam. Beberapa hari belakangan masih terngiang kalimat Ibu. Aku nga boleh pulang, kecuali bawa satu nama. Aku tau persis tabiat Ibu. Ini serius. Tapi nama siapa yang akan kubawa?
Kulampiaskan kegalauanku hari ini dengan menulis hingga larut malam. Sesuatu yang sangat jarang kulakukan.

Setelah jam 03.24 kuputuskan untuk berwudhu’ dan sholat hajat. Membasahi sajadah dengan air mata, memohon dan meminta kpada Allah agar segera mendapatkan “satu nama” sebagai tiket pulang kampung lebaran tahun ini.

***

“Gimana Neng, udah dapat nama?. Ingat, umurmu hampir 29 tahun. Kamu mau jadi perawan tua. Ibu malu sama tetangga…….”

Kalimat itu kalau dihitung sudah hampir seribu kali diucapakan oleh Ibu kesayanganku ini. Wajar, anak gadis semata wayangnya tak kunjung melenggang ke pelaminan. Khawatir tak sempat menimang cucu.

“Kamu jangan pilah pilih lagi, siapa yang datang langsung saja terima….”

Aku senyum sendiri melihat tingkah Ibu. Kebelet ingin punya menantu, siapapun jadi. Lalu aku yang akan memakai  ini entah bagaimana nasibnya. Malang.

“Bu, yang sabar. Nengsi kan lagi usaha….” Kataku membujuk.

“Usahaaaaaa terus. Jawabanmu basi…..” kata Ibu tak kalah sengitnya.

“Bu, jodoh itu Allah yang atur. Kita bisa apa. Yang penting usaha dan do’a. iya toooh…….” Kataku tak mau kalah.

“Iyaaaaaaa, terserah kamu lah. Ibu capek…..” klik. 

Tanpa salam telfon langsung diputus lagi. Ibu jengkel.

Sebenarnya rasa risauku jauh lebih besar dari kerisauan Ibu terhadapku. Bagaimana tidak, hampir semua teman sebaya sudah punya pasangan. Tidak sedikit diantara mereka sudah memiliki satu dan dua orang anak. Ada rasa malu dan hiba didalam hatiku. Bahkan beberapa waktu belakangan Aku memutuskan untuk tidak intip satupun akun socmed  yang kupunya. Hanya karna tidak mampu membendung rasa cemburu saat melihat foto bayi-bayi mungil itu. Bayi teman-teman sebaya. Atau foto-foto mereka dipelaminan. “Nyesek” kata anak-anak gaul sekarang.

***

Sebenarnya, seumur-umur Aku belum pernah pacaran. Kata Ibu cuma Aku gadis yang takut sama lelaki. Aku mangut-mangut cemberut. Ibu jelas salah, tidak pacaran tentu bukan karena takut sama makhluk yang bernama lelaki. Meski selalu gemetar hebat sa’at berbincang dengan lelaki, panas dingin grogi akut. Tapi bukan berarti Aku takut. Hanya satu alasan bahwa Aku tidak ingin berdosa. Pacaran itu mendekati zina, itu yang ku tau.

“Makanya, dari dulu sudah berbusa mulut Ibu mengatakan kepadamu. Miliki satu saja teman lelaki apa salahnya siiih……, lihat sekarang susah cari jodoh kaaan…??” Ibu kesal sekali padaku.

“Ibu, Nengsih kan sudah bilang. Bukan apa-apa. Nengsih nga mau berdosa masuk neraka. Yaaa…, kalaupun belum ketemu jodoh bukan berarti karena nga pacaran itu Bu…, belum ditakdirkan. Nah itu baru betul…..” kataku membela diri.

“Alah…..” ibu memang selalu kalah bila berdebat denganku soal yang satu ini.

Tetapi Ibu tidak tau bahwa betapa sekarang hatiku berbunga-bunga. Cuaca hatiku sedang cerah dan berpelangi. Seorang teman lama tiba-tiba menghubungiku ingin menjodohkanku dengan temannya.

“Apa??? Ta’aruf??”

Hampir kugigit jari sendiri karena rasa bahagia. Ini pertama kalinya hingga umurku hampir 29 tahun  Aku menerima tawaran ta’aruf. Mungkin ini bisa menjadi tiket pulang kampung pikirku. Sungguh pikiran yang salah.Terlalu.

***

“Neng, gimana udah jadi biodatamu? Email ke saya hari ini juga ya……” begitu bunyi sms dari Ringgo. 

Temanku satu tempat kerja dulu. Dengan tangan bergetar dan tubuh panas dingin kubalas sms Ringgo.

“Iya, ini lagi mau disend biodatanya”

Dadaku berdegup kencang. Aliran darahku berpacu. Ya Tuhan inikah rasanya? Pikirku. Malam itu penyakitku kambuh. Guling-guling nga jelas diatas kasur hingga larut malam. Aku insomnia. Perasaanku sulit untuk ku jelaskan. Yang pasti aku tidak bisa tidur hingga pukul 03.00 dini hari. Setelah tahajud dan berdoa dengan sepenuh hati akhirnya aku terlelap. Paginya terlambat ke kantor. Ah..

***

“Neng, selamat ya…..kamu diterima…..”

“Diterima gimana? Wong aku nga ngelamar kerjaan…..” jawabku enteng.

“Hehe….” Terdengar tawa renyah dibalik sana.

“Biodatamu lulus. Kata temen dia bersedia kenalan lanjut…..”

Tenggorokanku tercekat. Tiba-tiba Aku mual dan rasanya mau muntah. Sungguh berita tak terduga datang. Antara bahagia dan takut serta hampir tidak percaya. Apa benar laki-laki itu jodohku?. Masa iya segampang itu pikirku.

“Jadi gimana selanjutnya?” tanyaku bingung.

“Beberapa hari kedepan saya hubungi Neng lagi ya, untuk jadwal ketemuan. Ntar kalian tanya jawab disana. Saya dan istri akan menemani” Ringgo menjelaskan dengan tenang.

“Baiklah,,,terimakasih yaaa……”

Aku senang sekali. Dengan perasaan harap-harap cemas menanti informasi dari Ringgo. Setiap malam insomnia. Turun berat badan tiga kilo karna selain insomnia juga tidak lagi nafsu makan. Parah.

***
Sudah hampir seminggu, kini Aku sudah kembali bisa tidur nyenyak. Tapi kenapa belum ada kabar dari Ringgo. Sementara lebaran satu setengah bulan lagi. Setidaknya ada kejelasan hingga lebaran tiba, dan aku pulang kampung dengan bahagia.

Karena sudah tidak sabar menanti akhirnya kuberanikan diri untuk bertanya kepada Ringgo tentang kelanjutan perkenalan itu.

“Nggo….apa kabar? Gimana bisnis kita kemaren? Kok belum ada kabar….“

“Emmmm…..ehh…gimana ya menjelaskan ke kamu….” Aku menangkap kebingungan Ringgo.

“Kenapa, nga papa ngomong aja..” desakku.

“Gini, aku nga enak kasih tau Neng. Dua hari yang lalu dia nelfon. Katanya orang tuanya keduluan ngajuin calon. Dia nga bisa nolak tawaran Ibunya. Jadi proses dengan Neng minta dipending dulu. Dia mau liat calon yang dari Ibunya. Kalau tidak cocok baru lanjut dengan Neng….dia merasa cocok kok sama Neng….” Ringgo terdengar sangat hati-hati menjelaskan kepadaku.

“Oooh gitu…..” aku terdiam. Berpikir dalam. Sejenak terdiam.

“Tapi maaf ya Nggo. Neng nga mau dipending. Ya udah cukup sampai disini aja. Neng do’akan semoga calon dari Ibunya memang yang terbaik. Semoga dimudahkan…..”

Suaraku hampir tidak bisa didengar. Ringgo berusaha menghiburku, tapi gagal. Harapanku terlanjur pupus. Remuk redam. Dan baru kali itu aku menangis hebat di toilet kantor, banjir air mata . Kusadari kesedihan yang dalam telah melanda seluruh ruang dihatiku. Aku patah hati, Tuhan.

***

“Neng apa kabar?” kudengar suara Ringgo renyah.

“Kabar baik, Alhamdulillah….” Jawabku dengan riang.

Suasana hatiku sudah tidak berkabut lagi. Setelah peristiwa patah hati yang sangat menyakitkan itu, besoknya aku curahkan seluruhnya perasaan ku kepada Ibu. Dan Ibupun berempati kepadaku, beliau membolehkan Aku pulang kampung meski tak ada nama yang bisa ku bawa. Ternyata empati Ibu cukup menghibur luka dihatiku yang sempat berdarah-darah. Aku kembali bahagia, meski belum lupa.

“Neng…..” Ringgo menahan kalimatnya.

“Ya…..” jawabku dengan nada sedikit penasaran.

“Bersediakah Neng menjadi istri kedua ku??” dengan berani Ringgo menyampaikan maksudnya.

“Apa…!!!!” aku setengah berteriak tidak percaya dengan apa yang dia sampaikan. Bola mataku melotot hampir keluar dari tempatnya. Sejenak kurasakan bumi yang indah ini berhenti berputar.

“Iya, aku memberi kesempatan kepada Neng……” dia masih saja percaya diri.

“Kamu gila ya….., ingat anak istrimu bro….” Aku emosi dan marah sekali. Aliran darahku mengalami tegangan tinggi.Tiba-tiba aku benci kepada temanku itu, entah kenapa merasa dilecehkan.

“Tenang saja, Aku akan bertanggungjawab pada kalian semua. Kita bina rumah tangga seperti Aa Gym itu lo. Istriku sudah mengizinkan……”

Kepalaku pusing. Dari tadi rasanya seperti habis disambar petir. Degup jantungku kencang sekali. Aku teramat marah kepada Ringgo. Tega-teganya dia menyampaikan itu kepadaku. Aku tersinggung. Mentang-mentang usiaku hampir kepala tiga seenaknya dia mau menjadikanku yang kedua. Dia tidak tau bahwa sampai kapanpun aku ingin menjadi yang pertama. Apa dia dan istrinya kasian padaku. Aku tidak mau dikasihani. Oh Tuhan katakan padanya aku tidak bersedia dikasihani.

“Neng….., halloooo, Neng….., pikirkan dengan matang ya…, jangan lupa istikhoroh. Saya dan istri akan menunggu jawabanmu. Neng….., Neng….”

Aku pingsan tak sadarkan diri.

Batam, 21 Agus 2014

Puisi "Sunyi"


Kiri lalu ke kanan.
Kipas berputar putar.
Dingin, merasuk celah pori.

Ruang empat kali tiga.
Alun mengalun, sayup-sayup suara mengaji.
Ahhh sunyi....

Temani hingga pagi,
Ke pagi lagi berkali kali.

Dan kipas berputar putar
Dari pagi hingga ke pagi lagi

Teman teman sudah pergi,
Sunyi...

Batam, 06 Des 2013

Puisi "Jarak"


Tak terhitung lagi berapa meter,
Jika harus memang mengukur jarak.
Tidak ingin tau lagi jumblahnya detik,
Bila itu tentang waktu.

Tapi,
Angin bisikkan bahwa
Detik, meter.
Itu tidak ada.

Katanya pejamkan saja mata.
Hirup lalu rasakan...

uhhhhh....
Tidak pernah ada jarak,
Karena ia ada disini.
Dihati.

Batam, 07 Desember 2013

Puisi "Cinta"


Sering Aku bertanya
Apa itu cinta?

Kenapa begitu sulit bagiku,
Mengejewantahkannya
Dalam kata.

Bahasa demi bahasa,
Sungguh Aku tidak bisa berkata mesra.

Jangan terka,
Seberapa besar cinta yang kupunya.

Cukup mengerti saja.
Bahwa segala yang kulakukan ini
Disebabkan cinta.

Bahkan tak sanggup lagi aku mengeja,
Apa masih ada cinta yang bersisa.
Dariku, teruntuk jiwaku dan segala
Ke Akuan ku.

Batam, 03 September 2014

Cerpen "Tidak Perlu Menggadaikan Bukit Tengah"


Tiba tiba aku ingin bersujud dihadapan Allah sebagai rasa syukurku. Aku tak peduli bahwa aku sedang berada di sebuah jalan setapak antara rumahku dengan rumah nenek. Disitu aku bersimpuh sesaat ketika suara adzan magrib baru saja dikumandangkan. Sinar  jingga telah mulai menghilang berganti dengan kegelapan yang perlahan menyelimuti seluruh kampung….magrib….

“Rara? Ngapain disitu…….”

Aku dikejutkan oleh suara seorang lelaki. Aku kaget dan langsung berdiri. Dengan sedikit malu aku tersenyum pada lelaki itu. Dia adalah tetanggaku yang baru saja pulang mandi dari “luak” sebutan tempat pemandian dikampungku
.
“Eh….Nggak……ini Rara lagi ngambil sesuatu yang jatuh...”
 Kujawab sekenanya dan Akupun berlalu dengan senyum terharu, sedikit sisa air mata dipipiku.

***
“Bah, si Marni katanya mau kuliah……” malam itu kubuka pembicaraan dengan Abah.
“Kulliah??? Kau dengan apa mau kuliah Rara?? dasar anak tak tau diri, apa yang mau kau gadaikan? Bukit tengah ini? Kerbau mana yang mau kau jual? Berapa luas tanah yang kau punya……..”

“Makan aja susah…….”. Abah menggerutu. Tiba-tiba Abah sangat sensitif.

“Memangnya siapa yang minta kuliah Abah? Rara kan cerita si Marni……..” Aku berusaha menjawab dengan suara selembut mungkin agar Abah agak sedikit reda.

Malam itu kami makan malam bersama. Aktifitas yang tidak pernah tertinggal dalam keluarga sederhanaku. Setelah melaksanakan sholat magrib, Aku, Abah, Ibu dan ketiga orang adikku akan segera berkumpul. Aku dan Ibu sibuk menghidangkan makan malam. Semuanya tanpa diperintah karena memang kebiasaan ini telah mengakar dikeluarga kami. 
Momen makan malam adalah momen untuk membicarakan segalanya. Aku dengan semua keinginanku, adik adikku dengan aktifitasnya seharian, Abah dengan keluh kesahnya dan Ibulah yang selalu menjadi pendengar sejati. Ibu jarang berkeluh kesah, beliau hanya berkomentar lalu akan tersenyum. Malam ini abah terlihat pendiam, sepertinya gusar dengan ceritaku tentang Marni. Ibu kulihat tidak senang dengan sikap Abah. Dan mereka berdua tidak dapat kumengerti, khususnya malam itu.

***
Minggu ini minggu yang sibuk di sekolah. Khususnya mereka yang hari ini telah kelas tiga. Kami kini berada disemester dua kelas 3 SMA. Siswa, guru, staf bahkan penjaga sekolah membicarakan tentang kelulusan dan kelanjutan kami setelah SMA.

Bapak kepala sekolah pagi ini memberikan nasehat khusus. Upacara bendera bertemakan PMDK, persiapan kelulusan dan persiapan SPMB. Kepala sekolah memberitahukan bahwa minggu ini sudah ada beberapa Universitas yang akan memberikan kesempatan penerimaan mahasiswa baru lewat jalur khusus yaitu PMDK. PMDK selalu ada setiap tahunnya, tidak sedikit dari siswa SMA ku lulus program ini. Kiri kanan kulihat sebagian besar teman-temanku agak sedikit ribut, mereka  membicarakan tentang beberapa Universitas yang diminatinya. Dan Aku?.

***

“Ra, kamu beneran ngak mau ambil PMDK? Nilaimu kan memenuhi….., Aku insyaAllah ambil, Aku mau jadi guru. Aku mau kuliah di Universitas Pendidikan. Ibuku telah mengizinkan, Abangku yang akan membiayai semuanya”
Marni bercerita dengan begitu bersemangat. Kulihat matanya berbinar-binar penuh harapan. Marni dengan segala impiannya waktu itu. Aku sedikit tidak senang. Aku cemburu.

“Nggak….aku ngak bakalan kuliah Mar. Aku tidak mampu. Lihat sendirilah kehidupan keluargaku. Lulus SMA aja aku Alhamdulillah…..”

Aku berusaha menahan kesedihanku, aku  ingin tetap tersenyum meskipun terlalu pahit.

***
Minggu ini adalah minggu tersibuk buat “mereka”. Sebagian dari mereka diizinkan untuk tidak ke sekolah karena harus mengurus surat keterangan sehat, akte kelahiran dan lain-lain yang menjadi syarat pengajuan PMDK. Mayoritas siswa di kelasku mengurusnya, karena memang kelasku terdiri dari siswa berprestasi sejak kelas satu.

Tidak jauh berbeda di tempat kos pun terlihat sibuk. Beberapa teman ikut PMDK, terutama mereka yang sejurusan denganku. Di kosan ini ada 3 siswa IPA. Aku, Marni dan Fitri. Hanya aku yang tidak sibuk.

“Kamu nggak ikut PMDK Ra?”
“Enggak……”

Dengan wajah yang tidak mengeenakkan aku langsung masuk kamar. Kulihat temanku yang baru saja bertanya kebingungan. Dia bingung tidak tau apa “salahnya” sehingga aku bersikap tidak mengenakkan. Akulah yang salah, karena untuk saat itu Aku sangat benci dengan pertanyaan-pernyataan dan cerita tentang PMDK. Aku benar-benar tidak suka dan mereka yang ada disampingku akan menjadi korban perlakuan dan sikap yang kurang mengenakkan.

***
Alhamdulillah Sabtu telah tiba. Saatnya pulang kampung. Aku rindu Ibu. Sore itu aku menemani Ibu memasak didapur. Kulihat dapurku semakin parah. Dapur yang berukuran tidak lebih dua kali dua meter itu terlihat becek disana sini. Ibu kesulitan. Aku duduk ditangga dapur.

“Bu…..”
“Ya…..” kulihat Ibu agak sedikit kerepotan untuk memasak dengan kondisi dapur yang becek.
“Dapur kita atapnya semakin banyak yang bocor ya….” tanyaku dengan lugu.
“Iya, kayu-kayu jadi ikut basah. Masak nasi aja susah…..”
“Bu, tau nggak…teman-teman Rara minggu ini sibuk semua ngurus PMDK. Itu lho, program khusus buat anak-anak berprestasi yang bisa masuk kuliah tanpa tes. Banyak teman-teman Rara yang ikut. Marni, Fitri. Rara sering ditanya, kenapa tidak ikut. Guru-gurupun heran kenapa Rara tidak ambil kesempatan ini. Rara stress jadinya…..”
“Nggak usah stress nak, bilang saja sama mereka kalau kamu tidak melanjutkan ke tinggkat kuliah. Ibu yakin kamu bisa dapat kerja setamat SMA nanti. Kata ibu Ita, dia nanti bisa bantu carikan kamu kerja. Kuliah butuh uang yang banyak Nak….mau kita cari kemana?”
 Suara ibu lembut dan meyakinkan. Ibu tidak mau bersedih dengan kesedihanku. Sore itu kami tersenyum getir.
“Bu…mana Kakak? Kakak belum pergi kan bu?” tiba-tiba suara adikku yang bungsu memecah pembicaraan kami. Dia selalu mengecek keberadaanku, hanya sekedar ingin tau apakah aku masih dirumah atau sudah kembali ke kos. Dia sangat menyayangiku, adik kecilku.

***

“Alhamdulillah, akhirnya selesai juga Ra... Anak anak kelas kita sebagian besar ambil PMDK lho, Si Nengsih ambil di UNBRAW kedokteran. Si Risa IPB, si Anu………………………………..”
Aku tidak mendengar perkataan Marni dengan jelas. Tidak berminat. Kulihat mereka begitu sumringah, Harapan dan impian mereka akan segera terwujud. Menjadi seorang mahasiswa kemudian bekerja dengan memakai seragam dan yang laki-laki mungkin akan berdasi. Sementara aku, aku ingin jadi tukang jahit saja. Aku ingin belajar menjahit.

***

“Nak, setiap kemauan itu selalu ada jalan. Kita ini adalah manusia yang lemah, segala sesuatu itu ada ditangan Allah. Ketika kita memiliki kemauan, maka disitu Allah akan memberikan jalan. Kita tidak boleh berputus asa terhadap rahmat Allah. Itu sebuah dosa besar. Maka selayaknya kamu coba untuk ikut PMDK, bagaimana nanti itu adalah urusan Allah….”

Kemudian ibu guru biologiku itu menceritakan kisah yang mirip dengan kisahku. Kisah anak-anak kurang mampu yang akhirnya bisa mengenyam pendidikan tinggi. Aku tidak tahu kenapa hari itu Bu Sakinah dengan senang hati menasehatiku. Selesai belajar di laboratorium biologi Aku disuruh untuk tinggal sebentar.

“Ibu sarankan ambillah PMDK dari kampus ini Nak. Ini adalah kesempatanmu yang terakhir. Walaupun hanya D3, tidak apa-apa. Masalah uang, ibu bersedia meminjamkanmu uang. Bayarnya kapan-kapan saja.”

Aku tersenyum. Kesedihan dan optimisme membuat hatiku siang itu galau. Aku memang yakin bahwa Allah selalu membantuku. Dulu bukankah masuk SMP dan SMA juga penuh dengan perjuangan? Tapi buktinya Aku bisa melalui semuanya.

Ku lihat dijari manisku ada sebuah cincin mas 23 karat. Hasil jerih payah Ibu sebagai “buruh cuci”.

***

Aku hari ini senang. Di papan pengumuman sekolah terpampang kesempatan beasiswa untuk melanjutkan kuliah. Bagi yang lulus administrasi maka akan diikutkan dalam tes penjaringan mahasiswa baru. Dibiayai, dikasih uang saku dan transportasi. Bagi yang lulus tes maka universitas yang bersangkutan akan memberikan beasiswa selama satu tahun. Selanjutnya beasiswa akan dipertimbangkan sesuai dengan nilai mahasiswa tersebut selama satu tahun kuliah.

Dengan wajah yang sumringah kusapa temanku Marni siang itu.

“Ikut masukin syarat beasiswa yuk…mana tau kita lulus. Lalu kita bisa kuliah…..” Aku benar-benar senang.

“Yuk, aku juga mau. PMDK ku kan belum tentu lulus juga. Mana tau ini lulus.” begitu jawaban Marni.

Dan kami berdua dengan beberapa teman yang lainnya melengkapi persyaratan beasiswa itu. Tidak banyak yang ikut, karena memang khusus untuk siswa kurang mampu.

***

“Ibu. Maaf……..” lirihku siang itu.

Aku bergegas mengurus surat keterangan sehat ke Puskesmas terdekat. Kemudian menyerahkan uang seratus dua puluh lima ribu rupiah ke Bu Sakinah sebagai syarat pengambilan formulir PMDK yang tinggal dua hari lagi. Aku dan satu lagi temanku, ya hanya dua  orang saja yang berminat mengambil PMDK ini. Mungkin karena D3 dan lagi pula yang lain sudah mengambil di Universitas yang lebih bagus dua minggu yang lalu.

“Wah kamu jadi ngambil ya Ra…kok nggak ambil yang kemaren-kemaren? Kan Universitasnya lebih bagus”

“Mungkin rezekiku ini Mar….oh ya kemaren juga ada beasiswa kuliah di AMPJ yang ada di Jogja kan? Kamu ambil? Aku kemaren juga masukin kesana…” dengan semangat empat lima aku menceritakan kepada Marni.

“Nggak lah….nggak minat…..” Marni menjawab dengan lesu.
Sungguh minggu itu minggu yang sangat menyenangkan.

***

Sabtu kembali datang dan aku harus segera pulang kampung. Rindu.
Sore itu kembali kubantu ibu memasak didapur. Kali ini dapur dua kali dua meter itu tidak lagi becek. Cuaca cukup bersahabat sehingga tidak ada hujan.

“Bu, Rara mau minta maaf…..”

“Minta maaf? Untuk apa Nak?” Ibuku terlihat heran.

Ku tunjukkan jariku kepada ibu. Ibuku kaget karena tidak ada lagi cincin 23 karat itu disana.
“Kemana cincinmu? Hilang dimana nak?” Ibu panik. Aku memeluk ibu dan menangis.
“Cincin itu Rara jual bu……Rara ingin ikut PMDK seperti teman-teman yang lainnya. Rara hanya ingin membuktikan apakah lulus atau tidak…..”

Ibu melihatku lekat-lekat dalam senyumnya penuh kegetiran.

“Kenapa kau ikut PMDK Nak, kan kamu tau bahwa kamu tidak akan pernah kuliah. Ibu tidak tau bagaimana Abahmu akan marah mendengarkan kamu ingin kuliah. Jangan bebani lagi Abah….dia sudah cukup susah menghidupi kita……” Aku menangis didapur kecil itu.

“Bu, kalau lulus PMDK itu tidak apa-apa kalau tidak jadi diambil. Rara hanya ingin mengobati hati Rara yang sedih. Rara ingin tau bagaimana hasilnya. Apakah Rara mampu bersaing dengan teman-teman atau tidak…”

“Kalau tidak lulus Alhamdulillah, Rara kelak punya cerita bahwa pernah mengajukan PMDK. Dan kalaupun lulus Alhamdulillah ternyata Rara mampu bersaing dengan mereka meskipun tidak diambil Bu…”

“Ohhh…….” Ibu memelukku. Aku merasakan kegetiran hatinya menyelimutiku. Betapa tidak, Aku harus berhenti disini disaat aku memiliki kemampuan untuk maju. Tidak semua orang pintar tapi tidak semua orang pintar bisa untuk terus maju.
 ***

“Rara, ada surat dari AMPJ Jogjakarta. Tadi disampaikan Pak pos. Katanya kamu diterima kuliah disana. Kamu dapat beasiswa…….” Abah menyampaikan berapi-api.

Aku mengambil amplop yang ada ditangan Abah. Didalamnya tertera namaku Sdri Rangkuti Majenah. Bahwa aku diterima kuliah disana dengan jalur khusus. Dalam waktu seminggu kedepan aku harus segera daftar ulang ke Jogja. Uang pendaftaran sekitar satu juta.

***

Hari ini pengumuman hasil PMDK. Para siswa berkerumun padat dipapan pengumuman itu. Aku juga tak mau ketinggalan. Beberapa temanku melonjak kegirangan karena namanya tertera disana. Sebagian dari mereka tanpak keluar dengan lesu. Berarti tidak diterima. Kulihat Marni dan Fitri teman satu kos ku keluar dari kerumunan itu dengan wajah tidak bersemangat dan aku tau mereka tidak diterima.

Kerumunan itu mulai sepi, Aku dengan leluasa bisa melihat pengumuman itu.

“Alhamdulillah……..” air mataku menetes. Aku benar benar terharu melihat namaku tercantum jelas dipapan pengumuman itu.

Rangkuti Majenah, D3 Akuntansi .
***

Sabtu ini Sabtu yang luar biasa. Aku pulang dengan kabar gembira yang tentunya akan menyedihkan. Aku membawa sebuah amplop. Aku tau bahwa aku tidak akan mengambil PMDK ini, tapi aku hanya ingin membuat Ibu dan Abah bangga padaku. Bahwa aku anak yang berprestasi.

“Bah, Rara juga lulus PMDK D3 jurusan akuntans. Daftar ulang tiga minggu lagi. Uangnya dua juta. Tapi Abah tidak usah khawatir karena Rara udah janji untuk tidak mengambilnya. Rara sudah bertekad akan bekerja setamat SMA…” dengan semangat aku meyakinkan Abah malam itu.

Abah kulihat melihat atap rumah. Rumah yang sangat sederhana. Tempat kami tidur, makan, sholat dan berkumpul bersama. Disanalah aku dan tiga orang adikku dibesarkan hingga aku SMA. Rumah  itu tidak banyak berubah. Seingatku hanya atapnya yang pernah diganti. Selainnya seolah permanent disana.

“Abah kemaren bincang-bincang di kedai mak Lanih, mereka menyuruh Abah tetap menguliahkanmu. Abah akan konsultasi dulu sama si Af yang bekerja di kantor camat. Abah bingung bagusnya kamu kuliah di AMPJ jogja atau kita ambil D3 itu saja. Allah akan mudahkan jalan kita meski Abah tak punya uang satu sen pun……”
Mata Abah berkaca kaca. Aku dan Ibu pun berkaca-kaca. Dalam keharuan kami sangat bahagia. Dengan satu keyakinan bahwa Allah akan mudahkan urusan kami. Malam itu Abah begitu berbeda. Aku sayang Abah, walaupun pemarah, Abah penyayang. Dia sangat menyayangiku.

***
Rasanya kebahagiaanku bertubi-tubi. Aku merasa mendapatkan durian runtuh. Setelah tau lulus AMPJ kemudian D3 Akuntansi dan ternyata hari ini aku mendapatkan kabar bahwa aku lulus seleksi  tes SPMB gratis.
 ***
Abah, Ibu dan keluarga besarku semakin sayang padaku. Sungguh semuanya diluar dugaan. Aku benar-benar telah membanggakan mereka. Dikampung kini aku menjadi bahan pembicaraan para tetangga. Ada yang mengatakan aku akan ke Jogja dan ada pula yang mengatakan bahwa aku tidak mungkin akan melanjutkan ke Perguruan Tinggi.

“Lihatlah…rumahnya saja seperti itu. Bagaimana mau kuliah…….untuk makan sehari-hari saja masih susah. Memanglah anak-anak sekarang kadang tidak tau diri. Selalu membebani orang tua…..” Aku hanya tersenyum. Mereka terlalu sibuk dengan urusanku.

“Mereka tak punya Tuhan, makanya bicara seperti itu…….mereka tak tahu bahwa Allah Maha Kuasa dan Maha Kaya…” kata Abah.

Kulihat Abah menahan amarah. Kami memang sering diejek tapi setiap ejekan selalu berbeda dengan kenyataannya. Mereka tidak tahu bahwa dengan hidup dalam kekurangan kami menjadi keluarga yang selalu meminta dan bersyukur kepada yang Maha Kaya. Dan mereka tidak pernah merasakan betapa nikmatnya, tidak akan pernah.
***
Dan magrib ini aku bersujud dijalan setapak ini karna bersyukur akan kebesaran Allah. Hari ini telah diputuskan bahwa aku akan kuliah di D3 Akuntansi itu. Abah beserta keluarga besar akan mengupayakan uang pendaftaran sekitar dua juta. Minggu depan aku daftar ulang. Aku sangat bahagia. Cita-citaku sebagai tukang jahit memang tidak terwujud tetapi aku akan bekerja sebagai Accounting tentunya.

***
Segala sesuatu kuasa Allah. Marni yang dulu selalu memanas-manasiku tentang kuliah ternyata tidak diperkenankan untuk itu. Dia sama sekali tidak pernah kuliah. Kini dia telah menikah dan memiliki satu anak dan kabarnya akan nambah satu lagi. Fitri kini kuliah setelah satu tahun terlebih dahulu menganggur. Dan Aku…, Aku masih ingat nasehat Bu Sakinah waktu itu. 
Aku berterima kasih kepada beliau karena telah mengobarkan api semangat kepadaku hingga akhirnya aku nekad menjual cincin hasil jerih payah ibu tanpa izin. Perkuliahanku berjalan lancar. Tiga tahun berlalu dengan begitu cepat. Aku mendapatkan beasiswa sehingga boleh dikatakan Aku kuliah dengan gratis. Ibu dan Abah tidak pernah memikirkan uang semesterku. Semua telah dibayar lewat beasiswa itu hingga Aku wisuda. Begitulah Allah dengan segala rahasianya.

Allah Aku selalu tersanjung dengan kebesaranMU.

Allah membuktikan kepada Abah bahwa untuk kuliahku abah tidak perlu punya banyak sawah, Abah tidak perlu punya banyak kerbau apalagi sampai menggadaikan BUKIT TENGAH. Satu satunya bukit yang ada dikampung kami.

***
By. Maiyade Laila Yane A.Md 
MENGENANG MASA SILAM ITU INDAH, MENAMBAH RASA SYUKUR….SEMOGA DAPAT DIAMBIL HIKMAH YA.