CERPEN "SRIKANDI 3 "
SRIKANDI 3
“Alhamdulillah………..”
Sayu
kudengar suara dari sahabatku ratri. Aura kebahagiaannya terasa hangat,
sehangat mentari sore waktu itu. Semilir angin pantai menambah dalamnya rasa
syukur, warna jingga keemasan sore itu serasa warna yang paling indah.
“Put,
makasih ya….kamu adalah sahabat terbaik. Aku ngak tau bagaimana caranya untuk
berterima kasih padamu. Atas semua support dan saran darimu teman…”
Waktu
itu aku hanya tersenyum, lega.
Ratri
adalah sahabatku sejak beberapa bulan yang lalu. Pertemuan-pertemuan yang tidak
disengaja, yang akhirnya berbuah persahabatan. Aku dan dia sama. sama-sama
senang bicara, tidak butuh waktu yang lama bagi kami untuk saling mengenal. Aku
tau dia hingga keluarganya, dan dia tau aku dan keluargaku.
“gimana
hari ini, sukses???” begitulah caraku menyapanya setiap hari.
“Alhamdulillah,
hari ini aku dapat banyak. Aku ketemu sia anu blab la bla…….” Uraian panjang
dan sulit untuk dihentikan.
Kami
saling berbagi keluh kesah dan berempati. Aku tau bahwa ratri adalah gadis yang
istimewa. Dia gadis pintar, selalu optimis. Kondisi keluarganya yang sederhana
mengharuskannya agar bersabar dalam mencapai cita-cita. Keinginannya untuk
mengenyam bangku perkuliahan belum terwujudkan hingga kini. 3 tahun yang lalu,
ratri menyelesaikan pendidikan di SMA.
“put,
pokoknya aku akan kuliah tahun ini. Aku yakin aku bisa….alhamdulillah
tabunganku sejak kerja disini sudah cukup untuk biaya kuliah ku nanti. Mohon
do’anya ya teman….”
“ok,
siiip…aku akan selalu mendoakanmu. Yakinlah bahwa Allah akan memberi apa yang
kamu inginkan pada saat yang tepat. Tetaplah optimis, dan tetap semangat dalam
bekerja, supaya dapat bonus banyak hahaha…..”
“dasar
putri errorrr…….” Katanya sambil mencubitku.
“eh
gimana kabar amak? Sehat kan? Trus uni gimana perkembangannya?” tanyaku pada
ratri siang itu.
Dengan
wajah yang dibuatnya kembali bersemangat dia berkata “ yah….alhamdulillah amak
sehat. Walau beberapa hari yang lalu sempat sakit. Uni? Uni sekarang lagi
menjalani masa terapi dan pengobatan. Aku benar-benar bersyukur mendapatkan
relasi seperti dokter Nanik. Dia baik sekali, memberikan konsultasi terapi
gratis ke kakakku…….”
“tapi
uni ada perkembangan kan, aku yakin dia pasti akan sembuh” kutatap dia dengan
tatapan yang meyakinkan.
beberapa
tahun terakhir sejak ratri bekerja, ratri membantu amak dan ayahnya dalam biaya
belanja rumah tangga. Amak dan ayah ratri adalah seorang petani biasa, yang
berpenghasilan seadanya. Ratri terpaksa memberikan suntikan dana, agar semua
berjalan dengan baik. Dan tidak hanya itu, ratri memiliki seorang kakak perempuan
yang sedang mengalami penyakit kelainan jiwa. Tanpa tau apa penyebabnya, sang
kakak berperilaku tidak normal dan suka melakukan hal-hal diluar dugaan.
Keluarga ratri pasrah dengan kondisi sang kakak yang sudah tidak bisa diobati, tapi
tidak dengan ratri. Ratri memiliki tekad yang kuat untuk menyembuhkan kakaknya
sebagaimana dia bertekad untuk kuliah. Berkat kerja keras dan keinginan yang
kuat, akhirnya Allah memperkenalkan ratri dengan seorang dokter berhati mulia.
Dokter itulah yang selalu memantau perkembangan kakak ratri dan memberikan
saran-saran dalam rangka proses penyembuhan kejiwaannya. Sulit tapi bisa,
begitulah prinsip ratri. Meski obat-obat yang disarankan harus ditebus dengan
biaya yang mahal. Biasa yang harus ditanggung oleh ratri, sendiri……
“put,
besok nginap dirumah ya. Rambutanku udah pada matang dan sepupuku kebetulan mau
nikahan. Mau ya, biar ku kenalkan dirimu ke orang-orang rumah”
“hmmmm…gimana
ya? Besok ada acara sih….tapi ngak papa lah. Kapan lagi aku ketemu sama
keluarga mu. Ya kan??hehee….”
Malam
itu akhirnya aku nginap dirumah ratri. Tidak jauh dari apa yang diceritakan
bahwa rumah ratri adalah rumah sederhana yang terbuat dari kayu. Ada dua kamar,
tapi dihuni oleh dua kepala keluarga. Ratri dengan orang tua dan kakak nya yang
sedang sakit, kemudian kakaknya yang telah bersuami dan memiliki beberapa anak
juga tinggal dirumah itu. Sehingga selalu rame. Keluarga ratri adalah keluarga
sederhana, tanpak dari bagaimana cara orang tua dan kakaknya saling berkomunikasi.
Belakangan ratri menceritakan bahwa kondisi keluarga juga kadang membuatnya
tertekan, tinggal se atap dengan kakak ipar menjadi tantangan luar biasa yang
harus dihadapinya. Ratri pernah mengalami peristiwa tragis, yang sangat
memalukan. Dan itu dilakukan oleh kakak iparnya. Tapi apa daya, kisah itu
dipendam ratri rapat-rapat demi kebahagiaan rumah tangga kakaknya. Meskipun
menyisakan trauma yang tak kunjung terobati hingga kini. Ada
ketakutan-ketakutan tertentu yang dirasakan oleh ratri terhadap kakak iparnya
itu, tapi semua ditepis dan dikubur dalam-dalam…….
“whuaaa……aku
mau makaaaaannnnnn…..!!! maaaakkkkkkk…….”
Kulihat
kakak ratri yang sedang sakit berteriak minta makan. Emosi kakaknya sangat
labil dan sulit untuk dikendalikan. Kakak ratri jelas tidak malu kepadaku, dan
bahkan tak mau tau kalau aku adalah tamunya. Sikapnya seperti anak kecil, tapi
usianya sudah 30tahunan. Harus dengan kesabaran tingkat tinggi dan hanya ratri
yang mampu mengendalikan emosinya untuk bisa sedikit tenang….benar-benar hanya ratri
yang bisa…..
“rat,
apa yang kamu rasa??”
“maksudnya??”
ratri bertanya kepadaku dengan nada heran.
“aku
salut sama kamu, kamu terlalu sabar…….”
Kulirik
ke atap rumah ratri yang tanpak sudah semakin tua. Kuhela nafas dalam-dalam. Malam
itu aku berada di sebuah kamar, dimana ratri beristirahat setiap malamnya.
Kamar 3 kali 4 yang kurasa cukup sesak. Disudutnya ada onggokan padi, kemudian
Sebuah lemari yang sudah sangat tua dan kasur tipis seukuran tubuhnya.
Gantungan baju dikamar itu membuatku merasa kurang nyaman. Mataku tak bisa
terpejamkan, tapi kulihat ratri tertidur pulas. Malam itu Aku benar-benar
merasa kalah oleh seorang ratri……..salut….
***
Dan
Dipantai sore itu kulihat raut wajah ratri terharu bahagia. Karena dia akan
segera menjadi mahasiswa. Tabungannya telah mencukupi. Kulihat matanya
berbinar-binar.
***
“hallo
ratri, gimana kabar dirimu teman? Berapa IP mu?”
“Alhamdulillah
putri, aku sehat. Kamu gimana? Tau ngak, aku dapat IP 3,7…hahaha mantap kan”
“wewww…..mantap,
aku salut sama kamu. Semoga ntar cum laude ya. Rat, gimana kabar keluarga
disana? Ngak terasa udah dua tahun kita ngak ketemu ya……”
“iya,
aku kangen sama kamu. Uni Alhamdulillah sudah jauh berobah. Pengobatannya
tinggal dikit lagi, amak ayah sehat Alhamdulillah. Berkat doa kamu juga…….”
Subhanallah,
aku selalu rindu dengan ratri. Ketegaran dan kerja kerasnya membuatku selalu
termotivasi. Jarang kutemukan gadis seperti ratri. Baru satu…ya baru ratri.
Gadis
kuat yang memiliki semangat tinggi. Tidak mudah putus asa dan pekerja keras.
Satu hal lagi, ratri adalah gadis yang sholehah.
“sukses
ya ratri………..” lirihku buat ratri, sang srikandi.

0 komentar :
Posting Komentar