CERPEN "SRIKANDI 2 "

Jumat, 06 April 2012

CERPEN "SRIKANDI 2 "



SRIKANDI 2

Srikandi, ya menurutku perempuan ini adalah srikandi…..

27 tahun yang silam, seorang perempuan bernama Erni masih berumur 16 tahun. Kembang desa, itulah julukan yang tepat diberikan kepadanya. Wajahnya yang manis, elok laku dan patuh kepada orang tua membuat gadis ini disukai banyak pria. 

Pada suatu waktu, seorang pemuda dari seberang desa meminangnya. Ini adalah pemuda ketiga. Sebelumnya sudah dua pemuda dilewatkan begitu saja, katanya “tidak begitu tertarik”. Tapi lain untuk pemuda yang ketiga ini, sepertinya dia jauh lebih beruntung. Erni diam seribu bahasa ketika ditanya kesediaan untuk menikah dengan sang pemuda, pancaran matanya tidak bisa berdusta bahwa “dia jatuh cinta pada pandangan pertama”. 
“Anak saya diam, berarti dia setuju….” Begitulah jawaban orang tua Erni kepada pemuda yang datang meminangnya.

Sang pemuda sebenarnya tidak terlalu dikenal Erni, meskipun dia berasal dari desa seberang. Si pemuda telah lama merantau, bahkan sejak kecil. Hidup di kota-kota besar menjadikannya tanpak berbeda dengan pemuda-pemuda yang ada didesa. Daya tariknya cukup kuat bagi seorang Erni, dia pemuda yang telah lama tinggal dikota dan berjanji akan membawa Erni ikut bersamanya. Itulah sebenarnya yang membuat Erni mau menerima lamarannya. Ya…..dia ingin ke kota……

Pernikahanpun digelar sederhana, karena memang mereka sama-sama dari keluarga biasa-biasa saja. Impian Erni pun terwujudkan, Erni dibawa ke kota dimana sang pemuda bekerja. Sang pemuda adalah seorang supervisor disebuah pabrik keramik. Kehidupan Erni pun sedikit bergeser dari kurang mampu menjadi berkecukupan. Semua kebutuhan terpenuhi, yang dulunya sulit didapat kini sang suami dengan mudah dapat memberikannya.

Roda pun berputar, tiada disangka bahwa pabrik tempat sang suami gulung tikar dan semua aktifitas dihentikan. Tidak ada pilihan dan suami di PHK. Kehilangan pekerjaan membuatnya frustasi, pemuda tanpa ijazah sepertinya akan mati apabila bertahan hidup dikota tanpa pekerjaan. Ternyata dia tidak memiliki ijazah sd, dia tidak pernah bersekolah. Pekerjaan di pabrik tersebut adalah buah dari kepandainya  mendekatkan diri dan kecerdasan dalam memahami sesuatu tentang pabrik. Mustahil bila bertahan, akhirnya mereka memutuskan untuk segera pulang kekampung. Hidup sebagai petani.

Waktu berjalan, usia pernikahanpun bertambah. Kini mereka telah memiliki seorang putri. Sejak pertama pindah ke kampung, suami istri ini tinggal seadanya disebuah rumah yang tidak layak huni. Kerja serabutan, mendapatkan uang seadanya. Pekerjaan sebagai buruh pabrik tentu berbeda dengan serabutan dikampung. 

Kini Erni menyadari bahwa suaminya tidak mau bekerja sebagai buruh tani, gaya hidup sebelumnya membuat sang suami tidak siap dengan profesi sebagai buruh tani. Cendrung malas dan tidak mau bekerja keras. Memberi nafkah seadanya. Akhirnya Erni ikut andil dalam mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Dengan berbagai cara.

Waktu berlalu lama, kini putrinya telah duduk di bangku SMA. Putrinya tidak lagi sendiri, ada 3 orang bocah laki-laki yang kini menjadi saudaranya. Waktu berubah tetapi tidak untuk kehidupan Erni. Rumah yang ditempatinya dulu, hingga kini masih utuh menjadi tempat tinggalnya. Suaminya yang dulu masih suaminya yang sekarang. Tidak ada yang berobah melainkan jumblah anak yang kian bertambah. Tampak jelas didinding rumahnya itu tertempel tulisan “keluarga kurang mampu”. 

Sang suami kini masih bertahan bekerja serabutan, cukup untuk membeli kebutuhan rokok dan belanja untuk diri sendiri. Bagaimana dengan kebutuhan anak? Itu sudah menjadi tanggung jawab Erni sejak bertahun-tahun yang silam. Bekerja keras sebagai seorang buruh cuci sekaligus menggosok, buruh tani dan lain-lain asalkan menghasilkan uang. Erni terlihat sangat sibuk, melebihi kesibukan wanita karier. Pergi jam 7 pagi dan pulang maghrib. Sesampai dirumah dengan uang yang didapat hari itu Erni akan mencari sekilo beras dan beberapa bahan perlengkapan memasak. Selesai maghrib, beliau akan memasak untuk suami dan anak-anak. Sedikit rehat, bercerita dengan mereka. Lalu apakah aktifitas hari itu akan berakhir disitu? Ternyata tidak.

Malamnya Erni akan menjahit, suara gaduh mesin jahitnya akan terdengar hingga jam 11 malam. Dan esoknya sebelum subuh, ketika semua orang baru terjaga dari tidurnya mesin jahir Erni masih gaduh. Entah sejak kapan dia memulai menjahit lagi. Semua orang bingun kapan Erni tidur. Esoknya jam 7 pagi Erni akan  berangkat untuk menjadi buruh cuci hingga maghrib. Begitulah berhari-hari, bertahun-tahun.
Berat.

Tapi erni adalah perempuan tegar. Dia kuat, tidak hanya kuat dalam mencari nafkah untuk anak-anak dan rumah tangga. Tetapi juga kuat menahan hati yang tidak pernah disiram kebahagiaan. Yang ada adalah tekanan-tekanan batin, jauh dari kasih sayang yang seharus nya didapatkan dalam sebuah pernikahan. Sering menangis, tapi tidak ada air mata. Rumah tangga yang tidak harmonis. Kebahagiaan yang diimpikan tidak kunjung datang. Si suami yang enggan bersusah payah lebih suka marah, marah dan marah. Tidak kunjung menyadari kealfaannya, entah kapan kesadarannya akan hak-hak anaknya akan tumbuh. Sementara Erni tetap dituntut melayani dengan sepenuh hati. Penuh dengan kedustaan.

Hingga akhirnya pada saat umurnya dianggka 39 tahun, Erni merasakan ada yang salah dengan tubuhnya. Dibahagian kepala, pundak dan punggung serta dada serasa bagaikan diolesi cabe. Panas dan perih apabila beliau beraktifitas atau bekerja. Semakin hari-semakin parah hingga akhirnya dia tidak bisa lagi menjadi buruh cuci. Tidak kuat lagi menjahit dan harus berdiam diri dirumah. Jangankan untuk bekerja, berjalan dalam jarak beberapa meter akan membuat penyakitnya kumat. Berobat ke dukun sana ke dukun sini,kemana-mana telah dicoba. Tapi tak kunjung sembuh. 

Berobat ke rumah sakit, jelas tidak akan sanggup untuk membiayainya. 3 tahun berlalu, tidak ada yang memperhatikannya kecuali putrinya yang saat itu telah bekerja. Tidak banyak yang bisa dilakukan putrinya karena mereka terpisah jarak yang jauh dan gaji putrinya pun masih seadanya. Bagaimana dengan suaminya? Jangan ditanya. Masih sibuk dengan diri sendiri, jangankan berupaya untuk mengobati, memberikan support dan sedikit perhatianpun dia tidak memberikannya. Entah kenapa?

Sementara itu dua anak Erni terancam untuk putus sekolah. Sudah tidak ada lagi biaya.

Ditahun ke 4 masa sakit, akhirnya diketahui bahwa penyakit yang dideritanya disebabkan kerja ekstra yang tidak diimbangi dengan istirahat dan makan yang cukup. Sehingga otot menjadi rusak, dan kantong empedunya telah terganggu. Apabila tidak diobati secara serius, maka akan menderita kanker hati.

Lalu Apa yang akan dilakukan? Erni berserah diri kepada Allah atas takdir dirinya. Erni berusaha berobat semampunya, dan berharap Allah akan menjaga anak-anaknya. Anak-anaknya kini telah mandiri. meskipun masih berusia belasan tahun, putra-putra erni telah mampu menghasilkan uang minimal untuk jajan disekolah. Disela-sela kepedihannya, ada terselip rasa bangga.

Semua ini telah ditanggungnya bertahun-tahun dan entah sampai kapan.
Erni adalah srikandi dan masih banyak srikandi-srikandi lainnya yang akan ditulis diepisode mendatang.

0 komentar :

Posting Komentar