CERPEN "SRIKANDI 1 "

Jumat, 06 April 2012

CERPEN "SRIKANDI 1 "



SRIKANDI 1

Sebut saja namanya uni eni, dia wanita 40 an. Badannya sedikit subur dan hari-harinya dilalui dengan tertawa. Katanya padaku waktu pertama kali bertemu “Hari disiko senin taruih se nyo ne…^_^”. Subhanallah, bagiku senin adalah hari yang berat, hari yang akan membawaku dengan segudang aktifitas. Aku butuh semangat dengan hari “senin”. Dan uni eni, hari harinya selalu senin, tidak ada hari yang dilalui tanpa semangat.

Dikemudian hari, baru kutau ternyata dia adalah seorang janda dengan satu putra. Konon kabarnya,putranya baru tau siapa ayahnya setelah masuk SD. Sebuah realita pahit yang tlah bertahun-tahun disimpan rapat-rapat. Uni eni hidup dengan satu orang putra dan ibunya yang sudah mulai menginjak usia senja. Sehari-hari aktifitasnya adalah berjualan sarapan pagi, jualan “lontong”. Baru satu hari berkenalan, aku langsung terpingkal-pingkal dibuatnya. Uni eni sanguinis banget, wajahnya yang selalu ceria, selera humornya yang tinggi seolah olah ada kepuasan tersendiri disaat dia mampu membuat kami tertawa. Sepintas kulihat hidupnya begitu damai, tak ada satu goresan tekanan pun diwajahnya. Setiap orang yang lewat selalu disapa, meskipun tidak begitu dikenalnya. Siapapun yang ada didekatnya akan minikmati candaan candaan yang benar-benar menghibur.
“uni, aku  beli lontong gulai ya…..”
“okeh deh…pake telor? Pake bakwan? Enak lho..mak nyus….”
Begitulah gaya bahasa uni eni.
“berapa uni??”
“enam juta saja…”
Dan orang yang bertransaksi dengannyapun akan langsung tersenyum, geli…..

Dia adalah srikandi, menurutku tentunya. Mau tau kenapa?
Uni eni seorang single parent yang sebenarnya memiliki kisah hidup yang pahit. Berawal dari pernikahannya yang kurang disetujui oleh ibu mertua. Ibu mertuanya ingin sang suami menikah dengan wanita pilihannya. Tapi apa hendak dikata, malaikat cinta memilih uni eni sebagai pemilik hatinya hingga akhirnya mereka nekat menikah. Mereka sama-sama perantau, hidup dikota yang materialistis dan hampir menjadi kota metropolis. Diawal pernikahan, sebagaimana biasa smeua begitu indah. Bunga bunga cinta mekar dan hatipun begitu bahagia. Hingga akhirnya diketahui bahwa uni eni hamil, semua pada awalnya masih biasa saja. pada saat hamil tua, tiba-tiba hampir setiap malam hingga menjelang pagi dia harus menyaksikan suami tercinta kesurupan. Berteriak-teriak sambil manjat-manjat dinding memanggil manggil nama ibunya dan minta untuk pulang kampung. Kondisi itu berulang-ulang hingga beberapa hari, kata mereka suaminya diguna-guna. Telah diupayakan untuk berobat tapi malah makin parah, bahkan suami mulai tidak mengenal istri dan keluarganya. Hingga suatu hari ibu mertua uni eni datang menjemput anaknya, membawanya segera pulang kampung denga alasan berobat dan setelah sembuh berjanji untuk kembali pulang. Tapi tidak disangka, hanya selang beberapa waktu setelah kepulangan suaminya ke kampung uni eni menerima sepucuk surat yang tidak lain adalah surat cerai dari suaminya. Pilu, tanpa alasan dan sulit untuk dimengerti. Sejak itu, suami tidak bisa lagi dihubungi. Keluarga suaminya berupaya menutup diri, hingga akhirnya uni eni melahirkan seorang putra. Disaat yang masih terasa pahit, terdengar kabar bahwa suami telah menikah kembali dengan perempuan pilihan ibunya. Teriris-iris bak sembilu, diasami dan alangkah perihnya…….

Namun apakah uni eni kemudian berputus asa? Sepertinya tidak. Dia menghadapi dengan senyuman. Bahkan hampir tak terlihat penderitaan sedikitpun diwajahnya. Karakternya yang sanguinis mampu menyembunyikan segalanya. Dengan profesi penjual lontong, uni eni mampu menyekolahkan putranya disekolah swasta yg cukup terkenal dikota itu. Kemudian membiayai ibunya yang sudah mulai semakin tua, bahkan kini dia memiliki rumah sendiri. Secara logika dan hitungan matematis tentu semua itu mustahil. Tapi apakah bagi Allah itu musatahil??? Ternyata tidak, dengan hati yang lapang dan penuh keikhlasan uni eni menjalani semuanya. Hidup tidak dijadikannya beban, tetapi sesuatu yang harus dinikmati. selalu tersenyum, wajah yang selalu ceria. Menghibur siapa saja yang didekatnya. Siapa saja yang hidup serumah dengannya pasti akan mengalami kenaikan berat badan, kenapa? Karena hari-hari selalu tertawa. Dunia ini begitu indah…….

Tapi, beberapa waktu yang lalu uni eni tiba-tiba mengeluarkan darah segar dari hidungnya. Darah itu begitu banyak. Setelah di opname, ternyata pembuluh darahnya dibagian hidung pecah. Untung masih dihidung, tidak dibagian otak atau kepala. Tidak bisa dipungkiri bahwa ini adalah bukti bahwa hidup yang dilaluinya berat. Jauh direlung hatinya ada rasa pahit yang susah untuk dihilangkan. Tapi adakah yang tau??? Tidak ada, yang kami tau adalah dia seorang yang tegar. Seorang wanita kuat yang selalu tersenyum, seorang wanita single parent yang selalu disenangi banyak orang. Dialah salah satu srikandi yang kutemukan, dan banyak lagi srikandi2 lainnya yang akan kuceritakan dilain waktu.
Uni eni mengajarkan bahwa takdir itu adalah sesuatu yang harus dinikmati, disyukuri bagaimanapun adanya. Toh bukankah Allah selalu memberikan kebutuhannya walau sudah tidak bisa dimatematika kan lagi???? Allah sesungguhnya tidak pernah menzoliminya, karena beginilah cara Allah mencintainya. ^_^

0 komentar :

Posting Komentar