CERPEN "SRIKANDI 1 "
SRIKANDI 1
Sebut
saja namanya uni eni, dia wanita 40 an. Badannya sedikit subur dan hari-harinya
dilalui dengan tertawa. Katanya padaku waktu pertama kali bertemu “Hari disiko
senin taruih se nyo ne…^_^”. Subhanallah, bagiku senin adalah hari yang berat,
hari yang akan membawaku dengan segudang aktifitas. Aku butuh semangat dengan
hari “senin”. Dan uni eni, hari harinya selalu senin, tidak ada hari yang
dilalui tanpa semangat.
Dikemudian
hari, baru kutau ternyata dia adalah seorang janda dengan satu putra. Konon kabarnya,putranya
baru tau siapa ayahnya setelah masuk SD. Sebuah realita pahit yang tlah
bertahun-tahun disimpan rapat-rapat. Uni eni hidup dengan satu orang putra dan
ibunya yang sudah mulai menginjak usia senja. Sehari-hari aktifitasnya adalah
berjualan sarapan pagi, jualan “lontong”. Baru satu hari berkenalan, aku
langsung terpingkal-pingkal dibuatnya. Uni eni sanguinis banget, wajahnya yang
selalu ceria, selera humornya yang tinggi seolah olah ada kepuasan tersendiri
disaat dia mampu membuat kami tertawa. Sepintas kulihat hidupnya begitu damai,
tak ada satu goresan tekanan pun diwajahnya. Setiap orang yang lewat selalu
disapa, meskipun tidak begitu dikenalnya. Siapapun yang ada didekatnya akan
minikmati candaan candaan yang benar-benar menghibur.
“uni,
aku beli lontong gulai ya…..”
“okeh
deh…pake telor? Pake bakwan? Enak lho..mak nyus….”
Begitulah
gaya bahasa uni eni.
“berapa
uni??”
“enam
juta saja…”
Dan
orang yang bertransaksi dengannyapun akan langsung tersenyum, geli…..
Dia
adalah srikandi, menurutku tentunya. Mau tau kenapa?
Uni
eni seorang single parent yang sebenarnya memiliki kisah hidup yang pahit.
Berawal dari pernikahannya yang kurang disetujui oleh ibu mertua. Ibu mertuanya
ingin sang suami menikah dengan wanita pilihannya. Tapi apa hendak dikata,
malaikat cinta memilih uni eni sebagai pemilik hatinya hingga akhirnya mereka
nekat menikah. Mereka sama-sama perantau, hidup dikota yang materialistis dan
hampir menjadi kota metropolis. Diawal pernikahan, sebagaimana biasa smeua
begitu indah. Bunga bunga cinta mekar dan hatipun begitu bahagia. Hingga
akhirnya diketahui bahwa uni eni hamil, semua pada awalnya masih biasa saja. pada
saat hamil tua, tiba-tiba hampir setiap malam hingga menjelang pagi dia harus
menyaksikan suami tercinta kesurupan. Berteriak-teriak sambil manjat-manjat
dinding memanggil manggil nama ibunya dan minta untuk pulang kampung. Kondisi
itu berulang-ulang hingga beberapa hari, kata mereka suaminya diguna-guna.
Telah diupayakan untuk berobat tapi malah makin parah, bahkan suami mulai tidak
mengenal istri dan keluarganya. Hingga suatu hari ibu mertua uni eni datang
menjemput anaknya, membawanya segera pulang kampung denga alasan berobat dan
setelah sembuh berjanji untuk kembali pulang. Tapi tidak disangka, hanya selang
beberapa waktu setelah kepulangan suaminya ke kampung uni eni menerima sepucuk
surat yang tidak lain adalah surat cerai dari suaminya. Pilu, tanpa alasan dan
sulit untuk dimengerti. Sejak itu, suami tidak bisa lagi dihubungi. Keluarga
suaminya berupaya menutup diri, hingga akhirnya uni eni melahirkan seorang
putra. Disaat yang masih terasa pahit, terdengar kabar bahwa suami telah
menikah kembali dengan perempuan pilihan ibunya. Teriris-iris bak sembilu,
diasami dan alangkah perihnya…….
Namun
apakah uni eni kemudian berputus asa? Sepertinya tidak. Dia menghadapi dengan
senyuman. Bahkan hampir tak terlihat penderitaan sedikitpun diwajahnya.
Karakternya yang sanguinis mampu menyembunyikan segalanya. Dengan profesi
penjual lontong, uni eni mampu menyekolahkan putranya disekolah swasta yg cukup
terkenal dikota itu. Kemudian membiayai ibunya yang sudah mulai semakin tua,
bahkan kini dia memiliki rumah sendiri. Secara logika dan hitungan matematis
tentu semua itu mustahil. Tapi apakah bagi Allah itu musatahil??? Ternyata tidak,
dengan hati yang lapang dan penuh keikhlasan uni eni menjalani semuanya. Hidup
tidak dijadikannya beban, tetapi sesuatu yang harus dinikmati. selalu
tersenyum, wajah yang selalu ceria. Menghibur siapa saja yang didekatnya. Siapa
saja yang hidup serumah dengannya pasti akan mengalami kenaikan berat badan,
kenapa? Karena hari-hari selalu tertawa. Dunia ini begitu indah…….
Tapi,
beberapa waktu yang lalu uni eni tiba-tiba mengeluarkan darah segar dari
hidungnya. Darah itu begitu banyak. Setelah di opname, ternyata pembuluh
darahnya dibagian hidung pecah. Untung masih dihidung, tidak dibagian otak atau
kepala. Tidak bisa dipungkiri bahwa ini adalah bukti bahwa hidup yang
dilaluinya berat. Jauh direlung hatinya ada rasa pahit yang susah untuk
dihilangkan. Tapi adakah yang tau??? Tidak ada, yang kami tau adalah dia
seorang yang tegar. Seorang wanita kuat yang selalu tersenyum, seorang wanita
single parent yang selalu disenangi banyak orang. Dialah salah satu srikandi
yang kutemukan, dan banyak lagi srikandi2 lainnya yang akan kuceritakan dilain
waktu.
Uni
eni mengajarkan bahwa takdir itu adalah sesuatu yang harus dinikmati, disyukuri
bagaimanapun adanya. Toh bukankah Allah selalu memberikan kebutuhannya walau
sudah tidak bisa dimatematika kan lagi???? Allah sesungguhnya tidak pernah
menzoliminya, karena beginilah cara Allah mencintainya. ^_^

0 komentar :
Posting Komentar