CERPEN "Marina"

Jumat, 06 April 2012

CERPEN "Marina"




marina

“dedek sayaaang…….yang sabar ya…ayah sebentar lagi pulang. ayah bakalan bawa bakso. hmmmm yummy……..”

sambil mengelus elus perutnya yang terlihat mulai membesar, marina  mencoba mengajak calon buah hatinya yang masih berumur dua bulan itu untuk berkomunikasi.

Sekitar tiga stengah bulan yang lalu marina telah resmi menikah dengan Budi. seseorang yang dikenalnya lewat “sms nyasar” beberapa waktu sebelumnya.

“assalamu’alaikum…….ayah pulang…..”

Seorang lelaki muda tampak sumringah berdiri  didepan pintu rumah Marina. Menunggu perempuan cantik, sipenghuni rumah membukakan pintu dan kemudian mencium tangannya sebagai tanda penghormatan. Terlihat jelas ditangan lelaki itu sebuah tentengan, sepertinya itu adalah bakso pesanan Marina. Dalam hitungan detik aura rumah itu benar-benar dipenuhi oleh kebahagiaan. Raut wajah sepasang suami istri muda itu bercahaya. Disekililing mereka bertebaran kelopak bunga melati merah muda, satu satu tampak juga yang berwarna putih. Aroma wangi menyeruak memenuhi ronga hidung. Dan diatas kepala mereka beterbangan balon balon kecil penuh warna. Halusinasi bagi mereka yang sedang senang, layaknya sinetron bukan?  tapi tenang, itu hanya halusinasi…..
@@@

“ceraikan akuuuuu…………..ceraikan aku…..kau dengar itu?????”

“aku tidak akan pernah menceraikanmu. Tidak ada alasan bagiku untuk itu……..” dengan nada tertahan.

“tidak ada alasan? aku tidak tahan dengan pernikahan seperti ini. Aku tidak bisa hidup seperti ini Budi. sungguh aku telah menyesal menikah denganmu. Dengar itu……”

Marina dengan suara yang lantang mengucapkan kata-kata yang sangat kasar. Dan kinipun ia berlalu dengan kaki yang dihentak hentakkan. Seolah dia lupa bahwa ada calon bayi didalam kandungannya yang mungkin kini meneteskan air mata melihat ayah dan bundanya.

Budi mengucapkan istgihfar berkali-kali. Bertasbih menyebut nama Allah. Hari ini, sungguh untuk pertama kalinya dia tidak mengenal sosok Marina. Apakah ini bawaan hamil?? Mengingat kehamilan Marina kini memasuki bulan ketujuh. Mungkinkah hal ini dapat membuat emosinya demikian membludak bagaikan air bah dan tak terbendung lagi? Tapi tetap saja, Budi merasa itu bukanlah Marina…

@

Praaakkkk………

Sebuah panci terjatuh, menimbulkan bunyi yang cukup bising dirumah kecil milik Marina dan Budi. Sebenarnya tidak disengaja, tapi itu memang karena suasana hati yang tidak enak. Marina memasak dengan gerak gerik sekenanya. Panci itu terjatuh ke lantai setelah dihempas hempaskan dengan kasar diatas kompor kecil berapi kuning milik mereka. Didalam panci itu ada onggokan mie goreng ala kadarnya.Tidak ada ketertarikan untuk memakannya, kecuali bagi mereka yang sangat lapar.

“ada apa marina….?” Dari balik bilik terdengar suara Budi, kemudian ia menghampiri Marina.

“ya udah, biar aku yang masak. Kamu istirahat aja ya……” Sambil mengelus perut Marina (dengan nada yang begitu lembut dan penuh kasih sayang).

“sudah selesai baru bilang mau masak?” Wajah Marina begitu ketus, Marina megebaskan tangan suaminya dan dia pun berlalu.

Budi menghela nafas begitu dalam. Ingin semua sikap Marina ini segera berakhir. Budi berangan angan, seandainya marina penuh dengan kelembutan dan kasih sayang….ahhhh…….

Kini rumah mungil mereka yang baru ditempati empat bulan itu semakin terasa sempit dihati Budi. Hari hari yang dilaluinya bersama Marina dirumah itu menjadi begitu kelabu. Kebahagiaan dan keceriaan Marina seolah olah hilang ditelan bumi atau mungkin disapu badai hingga kini seolah semua berlalu tanpa bekas. Yang ada hanyalah aura kemarahan, rasa benci, rasa kecewa. Semua terlontar lewat kata kata kasar Marina diiringi dengan sikap yang sama sekali tidak pantas diberikan kepada seorang suami. Budi tidak mengerti, sama sekali tidak mengerti….

Dibalik sebuah kamar tiga kali tiga meter, beralaskan kasur tanpa dipan marina menangis. Dia sendiri tidak tau mengapa rasa sesalnya telah menikah dengan Budi semakin hari semakin menggunung. Marina benar-benar ingin bercerai. Marina ingin bercerai. Marina merasa tidak ada cara lain baginya untuk bebas selain bercerai. Dia benar-benar merasa tertekan. Apa yang dulu dibayangkannya tidak menjadi nyata. Seorang lelaki yang dikenalnya lewat “sms nyasar” kemudian sms demi sms itu bertumpuk dan menumbuhkan rasa saling suka hingga mereka memutuskan untuk sampai ke jenjang pernikahan. Pernikahan yang hanya dilandaskan oleh harapan-harapan kebahagiaan dan begitu tergesa-gesa.

“ya allah, semua benar-benar diluar dugaanku…….” lirih Marina dalam hati.

@

Sore ini Budi enggan untuk pulang kerumah. Dia galau. Keadaan pahit yang bertubi-tubi serasa begitu beruntun menimpa dirinya. Duduk selunjur di tepi jembatan ini terasa lebih menentramkan. Matanya yang kini agak sayu menerawang jauh kedalam riak sungai dibawah jembatan itu. Aliran fikirannya terbawa jauh mengikuti kemana riak riak air itu mengalir.

“ya allah, 180 derajat telah kau balikkan semuanya. Begitu cepat, jauhkanlah aku dari rasa putus asa dan berikan aku kesabaran beserta keihklasan”

Ingatan budi menari nari bagaikan pendaran asap yang berputar putar diatas kepalanya. Bagaimana empat  bulan yang lalu, ayah Budi, seseorang yang paling bertanggung jawab terhadap Budi dan kakak kakak perempuannya mengutarakan maksud hatinya agar Budi, sebagai anak lelaki satu satunya mau memberikan toko sembako milik mereka beserta rumah hasil usaha itu kepada ke dua kakak perempuannya. Dua orang kakak perempuan Budi kini menjadi janda karena ditinggal suami mereka dalam kecelakaan sekeluarga yang mereka alami beberapa waktu yang lalu. Masing masing memiliki tiga orang anak yang semuanya sedang bersekolah.

Toko itu sebelumnya telah diberikan ayah Budi kepadanya. Budi mengelola dengan baik sehingga menghasilkan sebuah rumah yang boleh dikatakan bagus. Waktu itu kehidupan kakak perempuan Budi berkecukupan, suaminya seorang profesional. Tetapi semua itu kini telah berakhir, dua orang kakak perempuannya telah menjanda. Dengan bekal pendidikan tamatan SMA dan tidak pernah bekerja sebelumnya, tentu sesuatu yang sulit bagi dua orang kakak perempuannya itu untuk mencari penghidupan yang layak sebagaimana sebelumnya. Sebagai saudara laki laki yang bertanggung jawab, Budi menyerahkan kembali usaha dan rumah itu kepada keluarga. Dia adalah lelaki……dan ketika kondisi itu membuatnya membutuhkan sokongan, istrinya Marina kok malah ikutan berobah??? kehilangan kemesraan, kelembutan, dan kasih sayang. Budi patah arang, bingung dan tidak tau meski berbuat apa. Sisi manakah yang harus dibenahi dulu, perekonomian nya kah atau Marina istrinya??? (kemana akan dibawa ijazah SMA ini?? toko?? biarlah toko dan rumah itu kini menjadi milik dua orang kakak perempuan beserta enam orang ponakannya. Toh dia dan Marina masih muda…..perjalanan mereka masih panjang, dan pasti mereka bisa. Bagaimana dengan Marina? Siapkah dia akan perjuangan ini?”)

“marina…..maafkan aku, kondisi ini memaksamu untuk ikut berjuang………aku berharap kamu sabar dan ikhlas. Kasih aku waktu dan kesempatan Marina……” dalam sunyi budi bersuara lirih. Lirih sekali…..

@

“kemana saja kamu? kok baru pulang? enak saja membiarkan aku sendirian dirumah. Lupa ya kalo istri lagi hamil?”

Budi diam saja, takut bila dia tidak mampu berlaku lembut seperti biasanya malam mini. Hatinya sedang galau.

“aku mau ke jakarta…….” Marina mengeluarkan pernyataan yang membuat kerongkongan Budi tersekat.

“apa????”

“ya, aku mau ke Jakarta. Mau cari kerja. Aku tidak bisa lagi bertahan dengan kondisi seperti ini. Tinggal dirumah yang sempit, kasur tanpa dipan, makanan-makanan yang kurang bergizi seperti ini. kalau sekarang saja begini, lalu bagaimana nasib bayi ini nanti…..?” dengan nada tegas Marina menyampaikannya.

“aku lulusan S1, aku pasti bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dan hidup layak…..”

Serasa disambar petir, Budi benar-benar tidak menduga bahwa marina akan mengutarakan hal ini. Tak pernah terbayangkan sebelumnya.

“Marina, kamu kan sedang hamil sayang……bagaimana mungkin kamu akan ke Jakarta?”

“hamil bukanlah suatu halangan bagiku. Kamu lupa ya? disana kan ada kakak perempuanku. Sebulan lagi aku akan melahirkan. Setelah itu aku akan mencari pekerjaan. Sampai sebelum mendapatkan pekerjaan kamu tinggal saja disini dulu hingga aku kabari untuk nyusul ke Jakarta”

“Marina…….”

“aku harap kamu tidak keberatan, ini demi masa depan aku, kamu dan anak kita. Aku tidak menyangka bahwa apa yang kamu janjikan dulu ternyata tidak pernah ada….…”

“Marina…ini semua juga bukan kehendakku. Ini takdir allah. Bagaimana kecelakaan itu harus terjadi dan merenggut nyawa dua orang abang iparku. Sehingga toko yang memang milikku itu harus kuberikan kepada mereka. Mereka kakak perempuanku dan aku adalah lelaki……” sungguh tenggorokan Budi tercekat.

“oh ya???aku tidak melihat sisi kelaki lakianmu…aku tidak melihat usaha-usahamu untuk memperbaiki ekonomi kita……”

“bagaimana mungkin aku tenang untuk memperbaikinya bila setiap hari kau suguhkan kepadaku mukamu yang masam dan hentakan kaki mu yang seolah mampu meruntuhkan rumah ini. Aku butuh support dari mu Marina……..”

“support???” Marina mencibir.

“ya support dari istri yang jelas aku sayangi. Ini baru bulan ke lima kita tinggal disini. Tapi kau berubah seolah menyalahkan aku atas semua kondisi. Aku merasa kau tidak mau menerima keadaan. Dan kau harus ingat bahwa aku hanya lulusan SMA. Butuh perjuangan bagiku untuk mendapatkan pekerjaan yang layak….butuh kesabaran Marina…..”

“ya aku tau itu…aku tau…oleh karena itu menyesal…dan aku akan ke Jakarta. Tau betul bahwa akan sangat sulit sekali bagimu untuk menghidupiku secara layak dengan berbekalkan ijazah SMA bukan????” Marina benar benar tegas dan keras. Tidak ada sedikitpun kegetaran diraut wajahnya. Matanya yang besar seolah mengisyaratkan bahwa dia bukanlah perempuan biasa. Apa yang dia mau akan dia dapatkan.

“dan akupun tidak menemukan apa yang aku cari didiri kamu Marina. Dibalik jilbabmu yang lebar, aku ingin menemukan sosok yang shalihah….sosok sabar, sosok ikhlas, sosok yang lembut dan penuh kasih sayang. tetapi…….”

“dan kamu juga menyesal menikah denganku bukan? aku memang bukan wanita shalihah. Aku tidak mampu bersabar karna aku juga tidak menemukan sesuatu yang aku harapkan darimu…….aku berharap Allah sayang padaku, mengampuni dosaku dan mengeluarkanku dari kehidupan yang sempit  ini”

“bersabarlah Marina, aku membutuhkan bantuanmu. Tetap lah dampingi aku disini…..’

“aku ingin ke Jakarta, kalau kau tidak mengizinkan ceraikan aku sekarang……”
Budi lemas mendengarkan kata-kata Marina. Dia yakin sekali bahwa ini bukanlah Marina yang sebenarnya. Marina istrinya adalah sosok yang shalihah sebagaimana jilbab lebarnya. Hanya saja dia sedang kalut dan juga dalam kondisi hamil. Marina mungkin sangat takut dan cemas akan masa depannya dan masa depan bayinya.. Kecemasan yang memuncak, terang saja karna Marina tidak pernah hidup dalam kondisi kekurangan. Marina tidak siap….apalagi Budi hanyalah lulusan SMA. Semua akan sangat sulit…..

Untuk sementara harapan Budi terhadap Marina diketepiskannya. Harapan akan sosok Marina yang shalihah, yang akan membantunya untuk dekat kepada Allah. Sebagaimana motivasi utamanya dulu untuk menikahi Marina. Dia berharap Marina mampu membimbingnya bersama-sama untuk berislam yang lebih baik…..

@@@

Dua tahun berlalu, Marina kini berada dibandara. Sambil menggendong Surya, putra pertamanya. Dia akan menemui Budi. Setelah sekian lama tidak berjumpa. Marina naik ke sebuah taxi dan kemudian melaju….

“hhhh….rumah ini jauh lebih jelek dari dua tahun yang lalu. Budi...Budi…kamu memang tidak bisa diandalkan……”
Sambil menghela nafas Marina mengetuk pintu rumah yang dulu pernah menjadi tempat tinggalnya.

“assalamualaikum…….”

“waalaikumsalam, sebentar…….”terdengar sahutan seorang lelaki dari dalam rumah.

“Marina….subhanallah…..”

Tampa komando Budi memeluk Marina. Rasa rindu dan rasa bersalah yang telah lama dipendam Budi kini menyatu tumpah dalam pelukan itu. Lama…….hingga semua rasa itu tercerai berai…….

“sayang ini ayah…..” sambil memberikan Surya kepada Budi. Surya sudah bisa berjalan.

“apa kabar kamu Marina, maaf aku dulu tidak bisa menyusul kamu………”

“seperti yang kamu liat, aku baik (dengan nada cuek seperti dulu, Marina tak berobah). Ahh…..tidak mengapa. Aku tidak akan pernah menyalahkan kamu. Karena dari awal aku telah menduga bahwa kamu tidak akan pernah menyusulku. Kamu memang tidak pernah berani dalam menghadapi resiko…..”

“ya…kamu benar……” (tapi bukan karena itu Marina…….karena aku adalah lelaki, aku tidak akan menyusulmu karna itu sama saja kau menginjakku. Yang penting kewajibanku selalu kupenuhi setiap bulan menafkahimu, walau tidak seberapa dari gaji yang kau dapatkan bisik Budi dalam hati)

Sambil mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, tampa basa basi Marina menyerahkan selembar kertas kepada Budi yang masih sibuk menciumi putranya Surya.

“apa ini??” Budi penuh dengan tanda tanya….

“silahkan kamu baca dulu dan setelah itu ditanda tangani……”

“Marina……apakah tidak ada lagi yang bisa kita pertahankan? aku masih memiliki harapan untuk membina rumah tangga islami dengan kamu. Aku akan melupakan dan memaafkan, apapun itu. Aku akan berusaha mencari nafkah yang layak. Kini aku sedang mulai merintis Marina. Aku kira kamu pulang untuk hidup bersama lagi denganku sebagaimana surat yang kukirimkan waktu itu…kita sudah punya toko lagi walau itu belum sebesar yang dulu. Kita punya harapan…..untuk bersama sama membesarkan Surya…..”

Marina lengah seolah tidak mendengarkan apa yang dikatakan Budi. Satu hal yang baru disadari Budi bahwa Marina nya benar-benar telah berobah. Tidak ada lagi jilbab lebar itu……kemana jilbab lebar Marina???

“pekerjaanku di Jakarta sangat sayang untuk aku tinggalkan. Aku telah memiliki posisi yang bagus. Dan kau tentu tau bahwa Surya akan hidup baik dalam asuhanku. Kamu harus percaya itu…….begitu banyak hal yang tidak kudapatkan dalam diri kamu Budi…dan aku takut aku semakin menjadi istri durhaka bila pernikahan ini tetap dilanjutkan…….”

Budi mengantarkan Marina sore itu ke bandara. Surat itu telah ditandatanganinya. Mungkin benar kata Marina, bahwa semuanya harus segera berakhir. Pupus sudah harapannya untuk merajut rumah tangga islami bersama marina. Ahhh…ternyata jilbab lebar itu tidak sepenuhnya menjamin segalanya. Benar sekali bahwa taqwa itu ada dihati, bukan diselembar kain. Toh kini telah terbukti bahwa kain itu begitu cepat melayang entah kemana, hingga tidak tampak lagi menutupi tubuh Marina. Budi dulu benar benar jatuh cinta kepada Marina karena jilbab lebarnya. Marina yang begitu anggun, dan terbayang bahwa bersamanya akan memberikan ketentraman. Budi akan bisa lebih mengenal islam dengan baik melalui Marina. Sms demi sms, telfon demi telfon akhirnya Budi mampu meyakinkan Marina untuk dipersunting menjadi istri. Semua diluar dugaan, namun cita cita Budi tidak akan berobah, Marina tidak mampu merobah tekadnya……Marina biarlah Marina, tapi tekad itu demi Allah. Dan Allah jualah yang bisa merobahnya, bukan Marina……

Marina kini telah menjauh, dalam pangkuannya ada Surya yang sedari tadi selalu menatap ayahnya seolah tidak mau berpisah.

“ya Allah, lindungilah anakku…..” lirih Budi dalam hati. Lirih yang begitu dalam. Hatinya perih mengingat semua realita kehidupan yang kini dirasakannya….serasa dalam alam mimpi…"

@@@

“mas, sini…….”

Tampak seorang perempuan muda yang sedang hamil tua mencoba memanggil lelaki yang berjarak tidak lebih satu meter darinya. Perempuan itu begitu anggun dan mempesona. Pakaiannya yang begitu rapi dihiasi dengan jilbabnya yang lebar dan pancaran wanita solehah begitu kentara dari tutur katanya yang lembut dan penuh penghormatan. Tampak sekali bahwa dia bukanlah wanita kalangan bawah, tapi dari ekonomi mengengah ke atas.

“ya, ada apa um……” lelaki itu sepertinnya memanggil wanita nan anggun itu dengan panggilan ummi. (panggilan terkeren diabad ini…..)

“itu tu…coba abi liat ibu-ibu penjual mainan itu. Kok ummi serasa kenal ya….trus liat ada anak kecil laki-laki disampingnya……kesana yuk….”

Lelaki yang dipanggil abi, menyipitkan mata. Mencoba melihat dengan jelas ibu-ibu yang dimaksud istrinya. Dari mimik wajah lelaki itu tampak jelas bahwa dia tidak mengenal ibu-ibu yang ditunjuk istrinya.

“yuk, kita liat ummi…mana tau dia memang kenalan umi. Soalnya abi ngak tau……”

Langkah langkah kaki mereka memberikan getaran yang maha dahsyat terhadap ibu-ibu dan anak lelakinya itu. Semakin sepasang suami istri itu mendekat, mata ibu-ibu itu semakin membelalak dan memeluk anaknya erat. Bagaikan melihat air bah dengan gelombang yang begitu tinggi akan menimpanya. Nafas ibu-ibu itu tertahan dan air mata tiba-tiba mengalir dipipinya…….

“ibu….kita sepertinya kok kenal ya….” si wanita yang dipanggil ummi menyapa ibu-ibu itu.

“Buu….Bu…Budiiii…….” si ibu-ibu malah memanggil nama lelaki yang dipanggil abi dengan lirih.

Si abi terkejut….

”subhanallahh……Maa…Ma…Marina……,kamu sedang apa disini Marina……inikah Surya…..???”

Lelaki itu tidak mampu menyembunyikan keterkejutannya. Bumi seolah berputar sangat kencang dan serasa tidak ada apapun, sesiapapun disana kecuali dia dan ibu-ibu itu.

Budi baru menyadari bahwa ibu-ibu itu adalah Marina, mantan istrinya dulu. Dan anak kecil itu tentu saja adalah putranya, Surya. Budi dan istrinya benar-benar tidak percaya bahwa mereka akan bertemu Marina disini. Disebuah pasar loak di kota Jakarta. Marina yang telah lama menghilang tanpa kabar. Ingin sekali Budi menyapu air mata perempuan itu dan memeluknya erat, tapi kini dia bukan mahramnya lagi. Dia sudah bukanlah istrinya, tentu saja haram untuk menyentuhnya. Budi merengkuh putranya Surya, menciuminya dan memeluknya erat sekali hingga Surya tampak agak kesulitan bernafas. Budi seolah tidak ingin berpisah lagi dengan putranya itu walau sejengkal. Putra yang sangat dirindukannya setiap hari, bersama rasa bersalahanya. mereka mengajak Marina untuk sama-sama duduk disebuah tempat yang layak, tapi  Marina menolak. Tampak sekali aura malu dipancaran sinar matanya.

“ngak usah, terimakasih…..”

“apa yang terjadi dengan tempat kerjamu Marina” pertanyaan yang sudah ingin dilontarkan sedari tadi oleh budi.

“perusahaan tempat ku bekerja gulung tikar dua tahun setelah kita bercerai, dan aku kehilangan segalanya….”

“maafkan aku Marina…”lirih budi hampir tidak terdengar.

“tidak ada yang perlu dimaafkan Budi, aku lah yang telah melampaui batas. Niatku telah salah ketika menikah denganmu. Aku wanita yang tidak bisa memenuhi harapanmu, jilbabku tidak selebar keimananku sehingga aku tidak bisa qonaah atas rezeki yang diberikan kepadaku . Ambisi-ambisiku terhadap dunia, yang kuharapkan akan kudapatkan darimu telah membutakan mataku. Aku bersyukur telah bercerai denganmu karna sesungguhnya bukan kamu yang tidak layak untukku tapi “akulah yang tidak layak untukmu”. Kini aku akan merangkak memperbaiki diri, memohon ampun kepada Allah atas kekhilafanku dan maafkan aku budi……aku bahagia melihat kau mendapatkan istri sebagaimana yang kau harapkan. semoga kalian sakinah mawadah warahmah…..” (dari kata katanya, tampak sekali bahwa Marina memang seorang wanita yang keras dan kuat, masih tidak ada kegetiran)

Budi menghela nafas, istri yang berada disampingnya nampak tenang dan tersenyum mengelus bahu suaminya agar tetap sabar.

“aku telah memaafkanmu sedari dulu Marina, dan pabila suatu saat Allah mempertemukanmu dengan jodohmu maka ketahuilah Marina bahwa sifat qonaah (menerima apa yang ada dengan ikhlas) adalah pondasi utama yang harus dimiliki wanita shalihah. Dan jangan pernah lagi meminta untuk diceraikan oleh suamimu tanpa alasan yang syar’i. Taukah kamu Marina, bahwa Allah tidak akan pernah mengizikan seorang perempuan yang meminta diceraikan oleh suaminya tanpa alasan syar’i untuk menginjakkan kaki di syurga. Jangan kan memasukinya, menciumnya sekalipun tidak akan Allah izinkan.…tidakkah kamu takut akan hal itu Marina? semoga hidayah Allah menaungimu….dan……” Budi menggantung kalimatnya.

“dan apa Budi? kamu mau meminta Surya kan? bawalah dia bersamamu. Aku percaya bahwa istrimu ini adalah istri yang shalihah dan tidak akan menjadi ibu yang buruk bagi putraku. Bersamamu Surya akan lebih baik……”

Marina dari dulu memang cerdas, dia mampu membaca apa yang diinginkan orang lain. Kecerdasannya juga telah mengantarkannya kepada kesuksesan didunia kerja. Kecerdasan yang membuatnya begitu berani dan keras kepala. Kecerdasan yang membuatnya ingin memiliki segalanya. Kecerdasan yang membuatnya telah meremehkan mantan suaminya “Budi”.

Marina melepas Surya pergi dengan ayahnya, bersama ibu tirinya. Dari kejauhan Marina memandangi punggung mereka. Rasa iri yang begitu besar menyusup kedalam hatinya yang paling dalam. Sesal yang tiada tara. Air matanya sedari tadi meleleh bagaikan es yang mencair. Tiada henti. Bahunya naik turun menahan isak tangis. Ulu hatinya perih, mengingat betapa dia seorang perempuan “bodoh”. Tapi Marina telah mengikhlaskannya.

“ya Rabb terimakasih telah kau pertemukan anakku dengan ayahnya, jagalah ia, jagalah ayahnya beserta keluarganya dan ampuni aku, bimbing aku kembali kedekapanmu ya Rabbi…….”

Batam, 3 januari 2011
22.30

By. Hafshatuz Zikra

0 komentar :

Posting Komentar