marina
“dedek sayaaang…….yang sabar
ya…ayah sebentar lagi pulang. ayah bakalan bawa bakso. hmmmm yummy……..”
sambil mengelus elus perutnya
yang terlihat mulai membesar, marina mencoba mengajak calon buah hatinya
yang masih berumur dua bulan itu untuk berkomunikasi.
Sekitar tiga stengah bulan yang lalu marina
telah resmi menikah dengan Budi. seseorang yang dikenalnya lewat “sms
nyasar” beberapa waktu sebelumnya.
“assalamu’alaikum…….ayah
pulang…..”
Seorang lelaki muda tampak sumringah
berdiri didepan pintu rumah Marina. Menunggu perempuan cantik, sipenghuni rumah membukakan pintu dan kemudian
mencium tangannya sebagai tanda penghormatan. Terlihat jelas ditangan lelaki itu sebuah tentengan, sepertinya itu adalah bakso pesanan Marina. Dalam hitungan detik aura rumah itu benar-benar dipenuhi oleh kebahagiaan. Raut
wajah sepasang suami istri muda itu bercahaya. Disekililing mereka bertebaran
kelopak bunga melati merah muda, satu satu tampak juga yang berwarna putih. Aroma wangi menyeruak memenuhi ronga hidung. Dan diatas kepala mereka
beterbangan balon balon kecil penuh warna. Halusinasi bagi mereka yang sedang
senang, layaknya sinetron bukan? tapi
tenang, itu hanya halusinasi…..
@@@
“ceraikan akuuuuu…………..ceraikan
aku…..kau dengar itu?????”
“aku tidak akan pernah
menceraikanmu. Tidak ada alasan bagiku untuk itu……..” dengan nada
tertahan.
“tidak ada alasan? aku tidak
tahan dengan pernikahan seperti ini. Aku tidak bisa hidup seperti ini Budi.
sungguh aku telah menyesal menikah denganmu. Dengar itu……”
Marina dengan suara yang lantang
mengucapkan kata-kata yang sangat kasar. Dan kinipun ia berlalu dengan kaki
yang dihentak hentakkan. Seolah dia lupa bahwa ada calon bayi didalam
kandungannya yang mungkin kini meneteskan air mata melihat ayah dan bundanya.
Budi mengucapkan istgihfar
berkali-kali. Bertasbih menyebut nama Allah. Hari ini, sungguh untuk pertama
kalinya dia tidak mengenal sosok Marina. Apakah ini bawaan hamil?? Mengingat
kehamilan Marina kini memasuki bulan ketujuh. Mungkinkah hal ini dapat membuat
emosinya demikian membludak bagaikan air bah dan tak terbendung lagi? Tapi
tetap saja, Budi merasa itu bukanlah Marina…
@
Praaakkkk………
Sebuah panci terjatuh,
menimbulkan bunyi yang cukup bising dirumah kecil milik Marina dan Budi. Sebenarnya tidak disengaja, tapi itu memang karena suasana hati yang tidak
enak. Marina memasak dengan gerak gerik sekenanya. Panci itu terjatuh ke lantai
setelah dihempas hempaskan dengan kasar diatas kompor kecil berapi kuning milik
mereka. Didalam panci itu ada onggokan mie goreng ala kadarnya.Tidak ada ketertarikan untuk memakannya, kecuali bagi mereka yang sangat lapar.
“ada apa marina….?” Dari balik
bilik terdengar suara Budi, kemudian ia menghampiri Marina.
“ya udah, biar aku
yang masak. Kamu istirahat aja ya……” Sambil mengelus perut Marina (dengan nada
yang begitu lembut dan penuh kasih sayang).
“sudah selesai baru bilang mau
masak?” Wajah Marina begitu ketus, Marina megebaskan tangan suaminya dan dia pun berlalu.
Budi menghela nafas begitu dalam. Ingin semua sikap Marina ini segera berakhir. Budi berangan angan, seandainya
marina penuh dengan kelembutan dan kasih sayang….ahhhh…….
Kini rumah mungil mereka yang
baru ditempati empat bulan itu semakin terasa sempit dihati Budi. Hari hari yang dilaluinya bersama Marina dirumah itu menjadi begitu kelabu. Kebahagiaan dan keceriaan Marina seolah olah hilang ditelan bumi atau mungkin
disapu badai hingga kini seolah semua berlalu tanpa bekas. Yang ada hanyalah
aura kemarahan, rasa benci, rasa kecewa. Semua terlontar lewat kata kata kasar Marina diiringi dengan sikap yang sama sekali tidak pantas diberikan kepada
seorang suami. Budi tidak mengerti, sama sekali tidak mengerti….
Dibalik sebuah kamar tiga kali
tiga meter, beralaskan kasur tanpa dipan marina menangis. Dia sendiri tidak tau mengapa rasa sesalnya telah menikah dengan Budi semakin hari semakin
menggunung. Marina benar-benar ingin bercerai. Marina ingin bercerai. Marina
merasa tidak ada cara lain baginya untuk bebas selain bercerai. Dia benar-benar
merasa tertekan. Apa yang dulu dibayangkannya tidak menjadi nyata. Seorang
lelaki yang dikenalnya lewat “sms nyasar” kemudian sms demi sms itu bertumpuk
dan menumbuhkan rasa saling suka hingga mereka memutuskan untuk sampai ke
jenjang pernikahan. Pernikahan yang hanya dilandaskan oleh harapan-harapan
kebahagiaan dan begitu tergesa-gesa.
“ya allah, semua benar-benar
diluar dugaanku…….” lirih Marina dalam hati.
@
Sore ini Budi enggan untuk pulang
kerumah. Dia galau. Keadaan pahit yang bertubi-tubi serasa begitu
beruntun menimpa dirinya. Duduk selunjur di tepi jembatan ini terasa lebih
menentramkan. Matanya yang kini agak sayu menerawang jauh kedalam riak sungai
dibawah jembatan itu. Aliran fikirannya terbawa jauh mengikuti kemana riak riak
air itu mengalir.
“ya allah, 180 derajat telah kau
balikkan semuanya. Begitu cepat, jauhkanlah aku dari rasa putus asa dan berikan
aku kesabaran beserta keihklasan”
Ingatan budi menari nari bagaikan
pendaran asap yang berputar putar diatas kepalanya. Bagaimana empat bulan yang lalu, ayah Budi, seseorang yang
paling bertanggung jawab terhadap Budi dan kakak kakak perempuannya
mengutarakan maksud hatinya agar Budi, sebagai anak lelaki satu satunya mau
memberikan toko sembako milik mereka beserta rumah hasil usaha itu kepada ke
dua kakak perempuannya. Dua orang kakak perempuan Budi kini menjadi janda
karena ditinggal suami mereka dalam kecelakaan sekeluarga yang mereka alami
beberapa waktu yang lalu. Masing masing memiliki tiga orang anak yang semuanya
sedang bersekolah.
Toko itu sebelumnya telah
diberikan ayah Budi kepadanya. Budi mengelola dengan baik sehingga menghasilkan
sebuah rumah yang boleh dikatakan bagus. Waktu itu kehidupan kakak perempuan Budi berkecukupan, suaminya seorang profesional. Tetapi semua itu kini telah
berakhir, dua orang kakak perempuannya telah menjanda. Dengan bekal pendidikan
tamatan SMA dan tidak pernah bekerja sebelumnya, tentu sesuatu yang sulit bagi
dua orang kakak perempuannya itu untuk mencari penghidupan yang layak
sebagaimana sebelumnya. Sebagai saudara laki laki yang bertanggung jawab, Budi
menyerahkan kembali usaha dan rumah itu kepada keluarga. Dia adalah lelaki……dan
ketika kondisi itu membuatnya membutuhkan sokongan, istrinya Marina kok malah
ikutan berobah??? kehilangan kemesraan, kelembutan, dan kasih sayang. Budi
patah arang, bingung dan tidak tau meski berbuat apa. Sisi manakah yang harus
dibenahi dulu, perekonomian nya kah atau Marina istrinya??? (kemana akan dibawa
ijazah SMA ini?? toko?? biarlah toko dan rumah itu kini menjadi milik dua orang
kakak perempuan beserta enam orang ponakannya. Toh dia dan Marina masih
muda…..perjalanan mereka masih panjang, dan pasti mereka bisa. Bagaimana dengan Marina? Siapkah dia akan perjuangan ini?”)
“marina…..maafkan aku, kondisi
ini memaksamu untuk ikut berjuang………aku berharap kamu sabar dan ikhlas. Kasih
aku waktu dan kesempatan Marina……” dalam sunyi budi bersuara lirih. Lirih
sekali…..
@
“kemana saja kamu? kok baru
pulang? enak saja membiarkan aku sendirian dirumah. Lupa ya kalo istri lagi
hamil?”
Budi diam saja, takut bila dia
tidak mampu berlaku lembut seperti biasanya malam mini. Hatinya sedang galau.
“aku mau ke jakarta…….” Marina
mengeluarkan pernyataan yang membuat kerongkongan Budi tersekat.
“apa????”
“ya, aku mau ke Jakarta. Mau cari
kerja. Aku tidak bisa lagi bertahan dengan kondisi seperti ini. Tinggal dirumah
yang sempit, kasur tanpa dipan, makanan-makanan yang kurang bergizi seperti
ini. kalau sekarang saja begini, lalu bagaimana nasib bayi ini nanti…..?”
dengan nada tegas Marina menyampaikannya.
“aku lulusan S1, aku pasti bisa
mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dan hidup layak…..”
Serasa disambar petir, Budi benar-benar tidak menduga
bahwa marina akan mengutarakan hal ini. Tak pernah terbayangkan sebelumnya.
“Marina, kamu kan sedang hamil
sayang……bagaimana mungkin kamu akan ke Jakarta?”
“hamil bukanlah suatu halangan
bagiku. Kamu lupa ya? disana kan ada kakak perempuanku. Sebulan lagi aku akan
melahirkan. Setelah itu aku akan mencari pekerjaan. Sampai sebelum mendapatkan
pekerjaan kamu tinggal saja disini dulu hingga aku kabari untuk nyusul ke Jakarta”
“Marina…….”
“aku harap kamu tidak keberatan,
ini demi masa depan aku, kamu dan anak kita. Aku tidak menyangka bahwa apa yang
kamu janjikan dulu ternyata tidak pernah ada….…”
“Marina…ini semua juga bukan
kehendakku. Ini takdir allah. Bagaimana kecelakaan itu harus terjadi dan
merenggut nyawa dua orang abang iparku. Sehingga toko yang memang milikku itu
harus kuberikan kepada mereka. Mereka kakak perempuanku dan aku adalah
lelaki……” sungguh tenggorokan Budi tercekat.
“oh ya???aku tidak melihat sisi
kelaki lakianmu…aku tidak melihat usaha-usahamu untuk memperbaiki ekonomi
kita……”
“bagaimana mungkin aku tenang
untuk memperbaikinya bila setiap hari kau suguhkan kepadaku mukamu yang masam
dan hentakan kaki mu yang seolah mampu meruntuhkan rumah ini. Aku butuh support
dari mu Marina……..”
“support???” Marina mencibir.
“ya support dari istri yang jelas
aku sayangi. Ini baru bulan ke lima kita tinggal disini. Tapi kau berubah
seolah menyalahkan aku atas semua kondisi. Aku merasa kau tidak mau menerima
keadaan. Dan kau harus ingat bahwa aku hanya lulusan SMA. Butuh perjuangan
bagiku untuk mendapatkan pekerjaan yang layak….butuh kesabaran Marina…..”
“ya aku tau itu…aku tau…oleh
karena itu menyesal…dan aku akan ke Jakarta. Tau betul bahwa akan sangat sulit
sekali bagimu untuk menghidupiku secara layak dengan berbekalkan ijazah SMA
bukan????” Marina benar benar tegas dan keras. Tidak ada sedikitpun kegetaran
diraut wajahnya. Matanya yang besar seolah mengisyaratkan bahwa dia bukanlah
perempuan biasa. Apa yang dia mau akan dia dapatkan.
“dan akupun tidak menemukan apa
yang aku cari didiri kamu Marina. Dibalik jilbabmu yang lebar, aku ingin
menemukan sosok yang shalihah….sosok sabar, sosok ikhlas, sosok yang lembut dan
penuh kasih sayang. tetapi…….”
“dan kamu juga menyesal menikah
denganku bukan? aku memang bukan wanita shalihah. Aku tidak mampu bersabar
karna aku juga tidak menemukan sesuatu yang aku harapkan darimu…….aku berharap Allah sayang padaku, mengampuni dosaku dan mengeluarkanku dari kehidupan yang
sempit ini”
“bersabarlah Marina, aku
membutuhkan bantuanmu. Tetap lah dampingi aku disini…..’
“aku ingin ke Jakarta, kalau kau
tidak mengizinkan ceraikan aku sekarang……”
Budi lemas mendengarkan kata-kata Marina. Dia yakin sekali bahwa ini bukanlah Marina yang sebenarnya. Marina istrinya adalah sosok yang shalihah sebagaimana
jilbab lebarnya. Hanya saja dia sedang kalut dan juga dalam kondisi hamil. Marina mungkin sangat takut dan cemas akan masa depannya dan masa depan
bayinya.. Kecemasan yang memuncak, terang saja karna Marina tidak pernah hidup
dalam kondisi kekurangan. Marina tidak siap….apalagi Budi hanyalah lulusan SMA. Semua akan sangat sulit…..
Untuk sementara harapan Budi
terhadap Marina diketepiskannya. Harapan akan sosok Marina yang shalihah, yang
akan membantunya untuk dekat kepada Allah. Sebagaimana motivasi utamanya dulu
untuk menikahi Marina. Dia berharap Marina mampu membimbingnya bersama-sama
untuk berislam yang lebih baik…..
@@@
Dua tahun berlalu, Marina kini
berada dibandara. Sambil menggendong Surya, putra pertamanya. Dia akan menemui Budi. Setelah sekian lama tidak berjumpa. Marina naik ke sebuah taxi dan kemudian
melaju….
“hhhh….rumah ini jauh lebih jelek
dari dua tahun yang lalu. Budi...Budi…kamu memang tidak bisa diandalkan……”
Sambil menghela nafas Marina mengetuk pintu rumah yang dulu pernah menjadi
tempat tinggalnya.
“assalamualaikum…….”
“waalaikumsalam, sebentar…….”terdengar
sahutan seorang lelaki dari dalam rumah.
“Marina….subhanallah…..”
Tampa komando Budi memeluk Marina. Rasa rindu dan rasa bersalah yang telah lama dipendam Budi kini menyatu
tumpah dalam pelukan itu. Lama…….hingga semua rasa itu tercerai berai…….
“sayang ini ayah…..” sambil
memberikan Surya kepada Budi. Surya sudah bisa berjalan.
“apa kabar kamu Marina, maaf aku
dulu tidak bisa menyusul kamu………”
“seperti yang kamu liat, aku baik
(dengan nada cuek seperti dulu, Marina tak berobah). Ahh…..tidak mengapa. Aku
tidak akan pernah menyalahkan kamu. Karena dari awal aku telah menduga bahwa
kamu tidak akan pernah menyusulku. Kamu memang tidak pernah berani dalam
menghadapi resiko…..”
“ya…kamu benar……” (tapi bukan
karena itu Marina…….karena aku adalah lelaki, aku tidak akan menyusulmu karna
itu sama saja kau menginjakku. Yang penting kewajibanku selalu kupenuhi setiap
bulan menafkahimu, walau tidak seberapa dari gaji yang kau dapatkan bisik Budi
dalam hati)
Sambil mengeluarkan sesuatu dari
dalam tasnya, tampa basa basi Marina menyerahkan selembar kertas kepada Budi
yang masih sibuk menciumi putranya Surya.
“apa ini??” Budi penuh dengan
tanda tanya….
“silahkan kamu baca dulu dan
setelah itu ditanda tangani……”
“Marina……apakah tidak ada lagi
yang bisa kita pertahankan? aku masih memiliki harapan untuk membina rumah
tangga islami dengan kamu. Aku akan melupakan dan memaafkan, apapun itu. Aku
akan berusaha mencari nafkah yang layak. Kini aku sedang mulai merintis Marina. Aku kira kamu pulang untuk hidup bersama lagi denganku sebagaimana surat yang
kukirimkan waktu itu…kita sudah punya toko lagi walau itu belum sebesar yang
dulu. Kita punya harapan…..untuk bersama sama membesarkan Surya…..”
Marina lengah seolah tidak
mendengarkan apa yang dikatakan Budi. Satu hal yang baru disadari Budi bahwa Marina nya benar-benar telah berobah. Tidak ada lagi jilbab lebar itu……kemana
jilbab lebar Marina???
“pekerjaanku di Jakarta sangat
sayang untuk aku tinggalkan. Aku telah memiliki posisi yang bagus. Dan kau
tentu tau bahwa Surya akan hidup baik dalam asuhanku. Kamu harus percaya
itu…….begitu banyak hal yang tidak kudapatkan dalam diri kamu Budi…dan aku
takut aku semakin menjadi istri durhaka bila pernikahan ini tetap
dilanjutkan…….”
Budi mengantarkan Marina sore itu
ke bandara. Surat itu telah ditandatanganinya. Mungkin benar kata Marina, bahwa
semuanya harus segera berakhir. Pupus sudah harapannya untuk merajut rumah
tangga islami bersama marina. Ahhh…ternyata jilbab lebar itu tidak sepenuhnya
menjamin segalanya. Benar sekali bahwa taqwa itu ada dihati, bukan diselembar
kain. Toh kini telah terbukti bahwa kain itu begitu cepat melayang entah
kemana, hingga tidak tampak lagi menutupi tubuh Marina. Budi dulu benar benar
jatuh cinta kepada Marina karena jilbab lebarnya. Marina yang begitu anggun,
dan terbayang bahwa bersamanya akan memberikan ketentraman. Budi akan bisa
lebih mengenal islam dengan baik melalui Marina. Sms demi sms, telfon demi
telfon akhirnya Budi mampu meyakinkan Marina untuk dipersunting menjadi istri. Semua diluar dugaan, namun cita cita Budi tidak akan berobah, Marina tidak
mampu merobah tekadnya……Marina biarlah Marina, tapi tekad itu demi Allah. Dan Allah jualah yang bisa merobahnya, bukan Marina……
Marina kini telah menjauh, dalam
pangkuannya ada Surya yang sedari tadi selalu menatap ayahnya seolah tidak mau
berpisah.
“ya Allah, lindungilah anakku…..”
lirih Budi dalam hati. Lirih yang begitu dalam. Hatinya perih mengingat semua
realita kehidupan yang kini dirasakannya….serasa dalam alam mimpi…"
@@@
“mas, sini…….”
Tampak seorang perempuan muda
yang sedang hamil tua mencoba memanggil lelaki yang berjarak tidak lebih satu
meter darinya. Perempuan itu begitu anggun dan mempesona. Pakaiannya yang
begitu rapi dihiasi dengan jilbabnya yang lebar dan pancaran wanita solehah
begitu kentara dari tutur katanya yang lembut dan penuh penghormatan. Tampak
sekali bahwa dia bukanlah wanita kalangan bawah, tapi dari ekonomi mengengah ke
atas.
“ya, ada apa um……” lelaki itu
sepertinnya memanggil wanita nan anggun itu dengan panggilan ummi. (panggilan
terkeren diabad ini…..)
“itu tu…coba abi liat ibu-ibu
penjual mainan itu. Kok ummi serasa kenal ya….trus liat ada anak kecil
laki-laki disampingnya……kesana yuk….”
Lelaki yang dipanggil abi,
menyipitkan mata. Mencoba melihat dengan jelas ibu-ibu yang dimaksud istrinya. Dari mimik wajah lelaki itu tampak jelas bahwa dia tidak mengenal ibu-ibu yang
ditunjuk istrinya.
“yuk, kita liat ummi…mana tau dia
memang kenalan umi. Soalnya abi ngak tau……”
Langkah langkah kaki mereka
memberikan getaran yang maha dahsyat terhadap ibu-ibu dan anak lelakinya itu. Semakin sepasang suami istri itu mendekat, mata ibu-ibu itu semakin membelalak
dan memeluk anaknya erat. Bagaikan melihat air bah dengan gelombang yang begitu
tinggi akan menimpanya. Nafas ibu-ibu itu tertahan dan air mata tiba-tiba
mengalir dipipinya…….
“ibu….kita sepertinya kok kenal
ya….” si wanita yang dipanggil ummi menyapa ibu-ibu itu.
“Buu….Bu…Budiiii…….” si ibu-ibu
malah memanggil nama lelaki yang dipanggil abi dengan lirih.
Si abi
terkejut….
”subhanallahh……Maa…Ma…Marina……,kamu sedang apa disini Marina……inikah Surya…..???”
Lelaki itu tidak mampu menyembunyikan keterkejutannya. Bumi seolah
berputar sangat kencang dan serasa tidak ada apapun, sesiapapun disana kecuali
dia dan ibu-ibu itu.
Budi baru menyadari bahwa ibu-ibu
itu adalah Marina, mantan istrinya dulu. Dan anak kecil itu tentu saja adalah
putranya, Surya. Budi dan istrinya benar-benar tidak percaya bahwa mereka akan
bertemu Marina disini. Disebuah pasar loak di kota Jakarta. Marina yang telah
lama menghilang tanpa kabar. Ingin sekali Budi menyapu air mata perempuan itu
dan memeluknya erat, tapi kini dia bukan mahramnya lagi. Dia sudah bukanlah
istrinya, tentu saja haram untuk menyentuhnya. Budi merengkuh putranya Surya,
menciuminya dan memeluknya erat sekali hingga Surya tampak agak kesulitan
bernafas. Budi seolah tidak ingin berpisah lagi dengan putranya itu walau
sejengkal. Putra yang sangat dirindukannya setiap hari, bersama rasa
bersalahanya. mereka mengajak Marina untuk sama-sama duduk disebuah tempat yang
layak, tapi Marina menolak. Tampak
sekali aura malu dipancaran sinar matanya.
“ngak usah, terimakasih…..”
“apa yang terjadi dengan tempat
kerjamu Marina” pertanyaan yang sudah ingin dilontarkan sedari tadi oleh budi.
“perusahaan tempat ku bekerja
gulung tikar dua tahun setelah kita bercerai, dan aku kehilangan segalanya….”
“maafkan aku Marina…”lirih budi
hampir tidak terdengar.
“tidak ada yang perlu dimaafkan Budi, aku lah yang telah melampaui batas. Niatku telah salah ketika menikah
denganmu. Aku wanita yang tidak bisa memenuhi harapanmu, jilbabku tidak selebar
keimananku sehingga aku tidak bisa qonaah atas rezeki yang diberikan kepadaku . Ambisi-ambisiku terhadap dunia, yang kuharapkan akan kudapatkan darimu
telah membutakan mataku. Aku bersyukur telah bercerai denganmu karna
sesungguhnya bukan kamu yang tidak layak untukku tapi “akulah yang tidak layak
untukmu”. Kini aku akan merangkak memperbaiki diri, memohon ampun kepada Allah
atas kekhilafanku dan maafkan aku budi……aku bahagia melihat kau mendapatkan istri
sebagaimana yang kau harapkan. semoga kalian sakinah mawadah warahmah…..” (dari
kata katanya, tampak sekali bahwa Marina memang seorang wanita yang keras dan
kuat, masih tidak ada kegetiran)
Budi menghela nafas, istri yang
berada disampingnya nampak tenang dan tersenyum mengelus bahu suaminya agar
tetap sabar.
“aku telah memaafkanmu sedari
dulu Marina, dan pabila suatu saat Allah mempertemukanmu dengan jodohmu maka
ketahuilah Marina bahwa sifat qonaah (menerima apa yang ada dengan ikhlas)
adalah pondasi utama yang harus dimiliki wanita shalihah. Dan jangan pernah
lagi meminta untuk diceraikan oleh suamimu tanpa alasan yang syar’i. Taukah
kamu Marina, bahwa Allah tidak akan pernah mengizikan seorang perempuan yang
meminta diceraikan oleh suaminya tanpa alasan syar’i untuk menginjakkan kaki di syurga. Jangan
kan memasukinya, menciumnya sekalipun tidak akan Allah izinkan.…tidakkah kamu
takut akan hal itu Marina? semoga hidayah Allah menaungimu….dan……” Budi
menggantung kalimatnya.
“dan apa Budi? kamu mau meminta Surya kan? bawalah dia bersamamu. Aku percaya bahwa istrimu ini adalah istri
yang shalihah dan tidak akan menjadi ibu yang buruk bagi putraku. Bersamamu Surya akan lebih baik……”
Marina dari dulu memang cerdas,
dia mampu membaca apa yang diinginkan orang lain. Kecerdasannya juga telah
mengantarkannya kepada kesuksesan didunia kerja. Kecerdasan yang membuatnya
begitu berani dan keras kepala. Kecerdasan yang membuatnya ingin memiliki
segalanya. Kecerdasan yang membuatnya telah meremehkan mantan suaminya “Budi”.
Marina melepas Surya pergi dengan
ayahnya, bersama ibu tirinya. Dari kejauhan Marina memandangi punggung mereka. Rasa iri yang begitu besar menyusup kedalam hatinya yang paling dalam. Sesal
yang tiada tara. Air matanya sedari tadi meleleh bagaikan es yang mencair. Tiada henti. Bahunya naik turun menahan isak tangis. Ulu hatinya perih,
mengingat betapa dia seorang perempuan “bodoh”. Tapi Marina telah
mengikhlaskannya.
“ya Rabb terimakasih telah kau pertemukan anakku dengan
ayahnya, jagalah ia, jagalah ayahnya beserta keluarganya dan ampuni aku,
bimbing aku kembali kedekapanmu ya Rabbi…….”
Batam, 3 januari 2011
22.30
By. Hafshatuz Zikra