2015

Kamis, 29 Oktober 2015

Puisi "Malam"


Ribuan rintik hujan menyerbu bumi.
Berpacu dengan kegelapan malam.
Gemuruh sahut menyahut.
Seperti akan mengunyah ngunyah bumi.
Kilat berlarian.
Memasuki setiap celah.
Dan Ini dini hari.

Ahh aku takut pada malam.
Dia bisa saja tau tentang hatiku.
Yang terkoyak koyak.
Habis dicabik-cabik sunyi.

Aku sepi?
Siapa peduli.

Hanya malam ikut sunyi.
Seperti tak tau saja tentang jiwaku tersedu, sepi.

Peluklah Aku malam.
Hibur Aku sedikit saja.
Biarkan Aku terlelap didalam pangkuanmu.

Senin, 26 Oktober 2015

Puisi "Naak...."


Kemarin tgl 24 Okt 2015 kita berjumpa.
Mata Ummi dan Abati berkaca-kaca.
Melihat keberadaanmu dilayar screning (usg).
Kata dokter engkau sehat, ada dan hidup.
Pertama kali kami melihat detak jantungmu.
Ya, meski rupamu masih berupa gumpalan.
Namun bagi Ummi dan Abati engkau sudah ada dalam keluarga kecil kita.

Naak...
Tumbuhlah.
Tumbuhlah dengan baik
Ambil semua yang engkau butuhkan, ini tubuh Ummi untukmu.

Naak...
Engkau anugerah.
Engkau amanah yang penuh berkah.

Naak...
Ummi dan Abati akan berikan yang terbaik.
Semoga kami diberi kekuatan oleh Rabb kita.
Menjadi orang tua yang amanah untukmu.
Ummi dan Abati wajib mengenalkanmu kepada Rabb kita.
Membuatmu kelak cinta kepada Rasul kita beserta para sahabatnya.
Membuatmu bangga kepada agama kita.
Dan menjadi pembelanya dimanapun engkau berada.

Naak...
Tumbuhlah dengan baik.
Umurmu masih 7 minggu.
Ummi dan Abati akan bersabar hingga genap 40 minggu.
Menunggu hadirmu di dunia ini.


Naak...
Andai engkau kelak perempuan.
Nama indah telah menunggumu.
Rumaisha Hukma Shabiyya.
Semoga engkau bisa meneladani sahabiyah Rumaisha ibundanya Anas Bin Malik.

Naak..
Namun bila ternyata engkau seorang lelaki.
Nama hebat telah menunggumu.
Habib Abdurrahman.
Berharap engkau kelak bisa meneladani Habib an Najr dalam mendakwahkan agama kita.

Selamat tumbuh anakku.
Tumbuhlah dengan sempurna.

Selasa, 20 Oktober 2015

Puisi "dipertemukan"


Saat memilih hijrah.
Ku berjanji menjaga diri hingga halal.

Saat memilih hijrah.
Engkaupun berjanji menahan diri hingga halal.

Aku dimana engkaupun entah dimana.

Lalu waktu mempertemukan kita.
Bertaaruf dengan satu niat menuju ikatan halal.

Aku berdoa, engkau pun berdoa.

Allah mudahkan segalanya, tanda barokah.

Ijab qabul terucap sudah.

Lalu Kitapun sama-sama belajar.
Sama-sama meminta kepadaNya.
Menuju mahligai sakinah mawaddah warahmah.

Dan Barokah dariNya.
Aku cinta engkaupun cinta.
Sayang yang tak terbilang.
Kasih yang tak terbendung.

Sungguh Barokah yang tiada tara.
Karena Kini kita sama-sama berikhtiar menjaga amanahNya.
Menuju pembentukan generasi Rabbani.
Salah satu tujuan dipertemukannya kita.

Jumat, 18 September 2015

Selasa, 18 Agustus 2015

Cerpen "TERLERAI"




Minggu, 23.15 WIB

Huffff….

Kutarik nafas ini dalam. Perlahan matapun terpejam. Ini hari ke tiga Aku melumat keindahan jogja, badan ringkihku ini rebah tenggelam bersama seluruh asa yang sudah terurai. Biarlah kenangan jogja menelan semua tentangmu. Pesona Malioboro, Borobudur, Prambanan, Ratu Boko, Parangtritis ahhh……keindahan alam jualah yang membuat bayangmu mengabur. Ya beginilah caraku untuk melupakan semua. Traveling.

***

“ Dinda, apakabar? Mas ingin memberimu kabar gembira….”

Ah kenapa kau memanggilku Dinda? Namaku Adriana Syamsudin. Orang-orang memanggilku Diana. Bukan Dinda. Tapi sudahlah, bagiku panggilan Dinda hanyalah romantisme yang salah tempat.

Ya, tentu masih segar di ingatanku smsmu beberapa waktu yang lalu. Kau bilang kau akan menikah. Aku tersenyum. Turut berbahagia. Barakallah. Akhirnya kau temukan wanita yang paling layak mendampingimu. Aku sejenak hanya bisa memejamkan mata, menggigit bibir. Entah kenapa ada yang terluka. Aku cemburu, kenapa bukan kita?. Beberapa detik setelah membaca smsmu, kuputuskan besoknya untuk ke Jogja. Aku merasa butuh traveling. Setidaknya untuk sekedar lupa tanggal pernikahanmu. Meski mungkin hanya sesaat.

***

Aku masih ingat sekitar tiga bulan yang lalu, saat Mba Retno beserta suaminya datang kerumah. Memintaku untuk bersedia bertemu denganmu malam itu juga di rumahnya. Aku sedikit bergetar, jujur grogi menjalari seluruh tubuhku. Memang terkesan buru-buru. Baru dua hari sebelumnya kita saling bertukar biodata dan kau meminta segera bertemu. Mungkin kau tidak tau ini adalah taarufku yang kedua, diusiaku yang sudah tidak muda lagi. Menjelang empat puluh tahun. Ya, sebentar lagi usiaku kepala empat dan aku masih belum menikah. Oleh karena itu seluruh harapanku tertuang kepadamu.

Takut, cemas, bahagia, berharap, entahlah bermacam perasaan bercampur aduk. Setelah pertemuan itu satu malam suntuk aku tidak bisa tidur. Mataku tidak mau terpejam. Wajahmu terbayang-bayang. Aku bahagia. Kenapa kau terlihat begitu bersahaja. Aku terpesona. Dan berharap kau lah pujangga itu. Namun apa kau tau sesungguhnya Aku cemas? Apa kau tau Aku takut??

***
Sejak kita bertemu malam itulah kau memanggilku Dinda. Ada sebuah rasa menjalari tubuhku. Tapi jujur Aku merasa tidak pantas. Namun Aku tidak berani untuk protes, takut kau akan tersinggung. Dinda terlalu romantis untuk hubungan kita yang belum seberapa itu. Kita masih sedang bertaaruf. Tapi kau terlalu berani menanyakan kabarku, menyapaku. Aku tau ini salah dan tidak pada tempatnya. Dan Aku ternyata lemah untuk sekedar mengingatkanmu. Menikmati dalam ketidaknyamanan, itulah pilihan yang akhirnya kujalani. Dan panggilan Dinda membuat hari-hariku sedikit tidak beres. Bayangan wajahmu hadir dimanapun dan kapanku. Kau benar-benar menggangguku.

Tidak berapa lama setelah itu Aku ingat bahwa ada sesuatu yang harus kau tau tentang Aku. Malam itu kita terlalu asik membahas segalanya, sampai Aku lupa menyampaikan tentang hal ini. Hal yang membuatku takut dan cemas. Kau harus tau. Agar tidak ada yang nantinya merasa dirugikan bila memang kita ditakdirkan bersatu.

“Assalamualaikum Mba Retno. Ada yang ingin saya sampaikan tentang diri saya. Sebelum proses kami dilanjutkan saya harap Mba menyampaikan hal ini ke Mas Raden…..”

Seluruh kecemasanku telah kujelaskan kepada Mba Retno. Tentang kondisi jasmaniku. Sangat penting untuk kau ketahui. Sesuatu yang membuatku khawatir. Aku takut hal ini membuat taaruf kedua ini gagal lagi. Seperti waktu itu, saat Aku berumur 25 tahun. Taarufku gagal karena hal ini. Tapi Aku berharap kau mau menerimaku apa adanya. Toh kondisi itu sudah membaik. Tidak ada yang perlu ditakutkan lagi. Aku lega sudah menyampaikan semua ke Mba Retno. Tapi aku deg-degan. Apakah kau masih akan memanggilku Dinda setelah semua ini kau ketahui. Apakah kita akan bersanding di pelaminan? Ku harap ya….

***

Hampir 15 hari sejak Mba Retno memberitahumu tentang kondisi itu. Kau tidak ada kabar. Dulu kau cukup sering menyapaku. Sudah tidak ada lagi sapaan Dinda beberapa hari terakhir. Aku harus berlapang dada. Ya setidaknya untuk melepaskanmu. Akhirnya kuberanikan menyapamu. Dan Aku terkejut. Kau tidak lagi memanggilku Dinda. Tapi Mba. Aku tidak mau munafik bahwa itu adalah kode. 

Aku tau Aku harus bersiap-siap untuk gagal lagi. Bagaimana mungkin Aku membujuk dan meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja. Meskipun secara medis Aku sudah dinyatakan sehat sejak dua tahun yang lalu. Tentu kamu adalah pria normal seperti kebanyakan lelaki dimuka bumi ini. Siapa sih yang tidak takut menikah dengan perempuan tiga puluh tahunan dengan riwayat kista?? Hanya lelaki hebat. Dan ternyata lelaki hebat itu bukan kamu. Aku terlanjur suka dan harus ikhlas kehilangan. Harapanku terurai ketanah melebur bersama tanah tandus lainnya, menjadi sari pati untuk kesuburan tumbuhan.

***

Semua berakhir. The End.

Kau memilih mundur dan tidak mau menanggung resiko. Terlalu berani menikah denganku. Umur dan riwayat penyakit memberi peluang besar untukku tidak memiliki keturunan. Ahh meskipun optimisme selalu ada didalam jiwaku. Kun Fayakun. Tapi bagaimana mungkin Aku memaksamu untuk optimis juga? Untuk percaya Kun Fayakun juga???.

Dan sms undangan pernikahanmu adalah akhir dari kisah kita. Aku sedih dan kehilangan. Tetapi Aku bahagia dan senang. Kau tidak memutuskan komunikasi kita dan yang paling menggemaskan adalah disms itu kau panggil Aku Dinda. Apa harus ku katakan kepadamu “jangan”??

Aku takut tidak bisa menghibur diri dan melupakan benih-benih harapan yang sempat tumbuh dihatiku. Jangan panggil lagi Aku Dinda. Panggil saja Mba Diana. Itulah sapaan yang paling pantas. Toh Aku memang lebih tua darimu. Jogja dengan segala keindahannya telah meleraikan seluruh asa dan ingatanku tentangmu. Beginilah caraku untuk move on. Jangan protes. Sekali lagi Barakallah….

Batam, 19 Agustus 2015
Maiyade Laila Yane



Selasa, 04 Agustus 2015

Puisi "Sedingin Gerimis"


Aku tau persis.
Perasaanmu sedingin gerimis.
Bahkan mungkin perih.

Yang namanya gerimis tidak pernah lama.
Akan kutunggu. Kubiarkan.
Hingga gerimismu reda.

Kau harus tau,
Sedari kemarin.
Aku disini termangu.
Kadang dada sesak kadang tidak.
Masih bisakah aku memilih untuk tidak tau apapun?.

Senin, 03 Agustus 2015

Puisi "Sesal"


Memang ada rasa sesal.
Andai saja Aku tau begini cara menemukanmu.

Dipenghujung senja harapanku.
Kau datang.
Setelah sebelumnya.
Aku menghabiskan usia,
Menerka-nerka siapa saja yang menurut akalku "mungkin".

Berharap, kecewa, berharap lagi, kecewa lagi.
Berkali-kali.
Jatuh bangun.
Gagal, gagal dan gagal lagi.

Kau tau?
Aku seperti balita kehilangan mainan.

Kumencarimu kemana saja aku mampu.
Bertanya kepada siapa saja yang ku temui.

Andai bisa diulang.
Aku hanya akan duduk manis menunggumu diberanda rumahku.
Melalui hari-hari sambil menikmati secangkir kopi atau teh.

Ahhh ada-ada saja.
Aku jadi ingin tertawa.
Tentu saja itu tidak  mungkin.
Jika begitu, manalah nikmat bersua denganmu  ^_^

Batam, 04 Agus 2015

Puisi "Tinggalkanlah Saja"


Jika memang sedang menanti.
Tinggalkan sajalah harapan.
Supaya utuh kau rasa nikmatnya kejutan.

Akan bergetar-getar jiwamu.
Terharu.
Menggenang-genang air matamu.
Terharu.
Nafas sedikit berpacu.
Naik turun dadamu, waktu itu kau terharu.

Ahhh....sudahlah...
Jujur saja tak pandai.
Bila harus ku uraikan rasa nikmat itu padamu.

Sekali lagi ku katakan,
Tinggalkan sajalah harapan.
Jika memang sedang menanti.
Akan utuh kau rasa nikmatnya.

Batam, 03 Agustus 2015

Senin, 15 Juni 2015

Puisi "Apa itu Cinta"


Cinta...

Apa yang kau tau tentang Cinta?
Apakah asmara yang selalu bergelora
Atau rindu yang tiap detik menyapa?
Atau sikap manja mesra
Atau sentuhan lembut nan menggoda
Apakah bagimu itu yang disebut Cinta??

Ahhh....
semua yang kau kira Cinta itu fana lagi sementara.

Mendekatlah...
Akan kubisikkan kepadamu tentang apa itu Cinta.

Khawatir bila ia jauh dariNYA, itu Cinta.
Takut bila ia membuang waktunya sia-sia, itu Cinta.
Risih bila ia tidak menjaga pandangannya, itu Cinta.
Kesal bila sholatnya tidak dijaga, itu Cinta.

Benarlah apa kata Anis Matta.
Tidak lah disebut Cinta bila dua insan tidak saling memberi dan saling menumbuhkan.
Bergandengan tangan saling membantu menuju keridhoan Rabb nya.

Itulah Cinta.
Saling mencintai karena mengharapkan CintaNYA.

Batam, 15 Juni 2015
Special 4 u
Love You Coz Allah

Senin, 27 April 2015

Cerpen "Bumbu"


Idris termangu. Kembali memandangi kendaraan yang berlalu-lalang di depan rumahnya.

"Sudahlah Mas.....ikhlaskan semua. Jangan dikenang lagi. Kita hanya butuh satu kata yaitu "bangkit"...."

Istri Idris, perempuan dua puluh tahunan itu mencoba mengingatkan suaminya. Sudah hampir satu setengah bulan dari peristiwa yang mengguncang itu Idris rutin bermenung memandang ke arah jalan raya di depan rumah mereka.

"Tidak semudah yang kau ucapkan........"

Idris menarik nafas dalam dan bergerak beranjak pergi. Dengan wajah yang loyo dia pindah ke kamar. 

Istri Idris hanya bisa memandangi punggung suaminya sembari berkaca-kaca, kesedihan nan pekat menjalar kedalam aliran darahnya.

***

Dari kejauhan seorang lelaki memandangi tempat makan yang cukup terkenal di Kota itu. Pengunjung terlihat keluar masuk. Ya, tempat makan itu memang selalu ramai. Semua orang mengakui kelezatan menu special yang disajikan ditempat tersebut. Usaha kuliner yang satu ini sedang naik daun. Dalam kurun waktu dua tahun cabangnya sudah ada di tiga tempat, begitulah gambaran tingginya permintaan warga terhadap makanan yang mereka sajikan. Lezat dan selalu ingin kembali.

Lelaki itu nampak tersenyum sambil berguman "Terimakasih kang Adi...."

Ingatan lelaki itu terlempar ke dua tiga tahun silam.

***
"Kang...ini ayam bakarnya lezat tenan....." pemuda itu nyeletuk.
"Hehe...Alhamdulillah....saya senang kalau kamu bisa menikmati masakan saya.." Kang Adi tersenyum.
"Kang, boleh lah saya dapat bocoran resep ayam bakar ini ya?"

Kang Adi hanya tersenyum.

***

"Kang....apa yang harus saya lakukan untuk mendapatkan resep ayam bakar Kang Adi?" sore itu sang pemuda meminta dengan kesungguhan.

"Resep ini adalah harta yang paling berharga yang saya punya, saya belum berniat untuk memberikannya ke siapapun..." dengan tenang Kang Adi menjelaskan keberatannya.

"Kang, Akang jangan tersinggung ya, ini tidak ada maksud untuk merendahkan. Saya hanya ingin menghargai harta yang Akang punya. Saya bersedia membayar resep ayam bakar ini dengan uang dua juta rupiah......" pemuda itu terus berupaya melobi Kang Adi.

Kang Adi nampak tersenyum dan menggelengkan kepala sambil berlalu.

"Kang...Akang....apa kurang uang yang saya tawarkan? Saya kasih lima juta ya Kaaanggg....." dengan setengah berteriak pemuda itu masih berusaha untuk melobi Kang Adi.

Kang Adi nampak melambaikan tangan. Usaha pemuda itu belum membuahkan hasil.

***

"Kang, nanti makan siang bareng ya......saya mau traktir Akang...."

"O ya...Alhamdulillah, rezeki mah nga boleh ditolak....."  kelakar Kang Adi.

Kang Adi senang. Sejak hari itu selama satu bulan penuh sang pemuda berturut-turut mebelikan makan siang buat Kang Adi. Tak lain tak bukan masih dalam rangka upaya meluluhkan hati Kang Adi supaya mau berbagi resep ayam bakar. Ya, resep ayam bakar. Iyaaa....ayam bakar.

Kang Adi masih bersekukuh untuk tidak mau berbagi resep ayam bakar itu. Memang semua orang mengakui ayam bakar Kang Adi sangat lezat. Lain dari yang lain dan belum ditemukan ayam bakar seenak punya Kang Adi. Sampai akhirnya suatu saat pemuda itu memiliki kesempatan untuk belajar memasak ayam bakar Kang Adi.

"Kamu ingin tau cara memasak ayam bakar itu kan? Ayok besok temani saya. Saya diminta untuk memasak ayam bakar di acara pernikahan putrinya Pak Camat. Semoga kamu bersedia membantu saya. Nanti boleh diperhatikan bagaimana cara saya memasak ayam bakar itu...."

Pemuda itu sangat bahagia akhirnya Kang Adi bermurah hati untuk berbagi dengannya tentang resep ayam bakarnya.

Saat hari H tiba, sang pemuda dengan sangat cermat memperhatikan setiap gerak-gerik Kang Adi. Mencatat dengan seksama bumbu yang dibutuhkan. Kesempatan emas begitu pikirnya.

***

"Kang Adi, coba nasehati saya kira-kira apa yang salah dengan racikan bumbu saya sehingga ayam bakar yang saya masak tidak pernah bisa seperti yang Kang Adi buat...." 

Si pemuda terlihat putus asa. Bagaimana tidak, sejak mencatat rahasia dapur Kang Adi waktu itu dia sudah mencoba sebanyak dua belas kali. Dan belum pernah berhasil. Rasa ayam bakarnya menjadi "aneh". Kang Adi lagi-lagi hanya tersenyum.

"Semua yang kamu lihat waktu itu, itulah cara yang sebenarnya. Tidak ada apapun yang saya sembunyikan lagi. Cobalah terus dan jangan pernah berhenti sebelum kamu berhasil. Itulah nasehat saya...haha..." Kang Adi pun tertawa.

Pemuda itu terdiam.

***

"Ya Allah, ini adalah yang ke 27 kali saya mencoba resep ayam bakar Kang Adi. Saya sudah lelah. Dan hampir putus asa......." pemuda itu bergumam sembari memperhatikan ayam bakar yang sudah siap disantap.

"Bismillah.......emmmm...."

Selang beberapa detik, "Subhanallah...Alhuakbarr....Ya Allah rasanya lebih nikmat dari masakan Kang Adi..." pemuda itu terlonjak kegirangan.

Dia sangat bahagia dengan usahanya hari ini. Diluar dugaan, hari ini dia berhasil. Ayam bakarnya bahkan lebih lezat. Hanya sebentar kebahagiaan itu terluahkan tiba-tiba istrinya memanggil dari ruang tamu.

"Mas, ayo kita harus segera ke rumah sakit. Kang Adi barusan kecelakaan........" Istrinya memanggil pemuda yang sedang mecicipi ayam bakar itu dengan nada panik.

"Innalillah.....Ayo ayo dek cepat kita harus melihat kondisi Kang Adi...."

Mereka bergegas ke Rumah Sakit tempat dimana Kang Adi dirawat tanpa sempat mengganti baju. Setiba disana Kang Adi sedang diberi tindakan. Tangannya patah, kepalanya sobek cukup dalam. Sekitar tiga jam dari pertama kali mereka sampai di rumah sakit barulah Kang Adi bisa dibesuk.

"Resep ayam bakarnya tolong dijaga ya Mas....jangan beritahu siapapun....." 

Ternyata kalimat itu menjadi wasiat terakhir Kang Adi kepada si pemuda sebelum akhirnya kang Adi menghadap Rabbnya. Kang Adi sijuru masak itu meninggal diusia yang masih sangat muda.

***

Ayam bakar Idris. Enak tenan...

Itulah slogan ayam bakar yang terkenal lezat itu. Tetapi kini semua tinggal jejak serta tinggal kenangan. Setelah naik daun usaha Idris diuji dengan musibah. Usaha idris gulung tikar. Idris dikhianati oleh orang-orang kepercayaannya. Seluruh uangnya dilarikan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, sahabatnya sendiri. Kini Idris suka bermenung ria didepan rumahnya. Entah sampai kapan....

"Allah masih sayang sama mu Mas, sehingga diingatkan tentang pertemananmu yang mungkin saja salah. Orang-orang yang tidak amanah ternyata mengelilingimu selama ini, memanfaatkanmu. Iya tooh....Usaha ayam bakar bisa kita mulai lagi dari awal. Resepnya kan ada dikantongmu Mas??" 

Istrinya menghibur Idris dengan sedikit kelakar. Idris tak berkutik masih saja terpaku membisu. Tatapannya kosong. Dia masih belum percaya dengan tiga orang sahabat yang baru saja mengelabui dan menghancurkan semua usahanya. Tiba-tiba air matanya meleleh. "Kang Adi...."

Istrinya sedari tadi sudah berlalu. Idris masih saja terus menatap ke arah jalan raya. Usaha ayam bakarnya seolah menari-nari dipelupuk mata. Baru beberapa bulan yang lalu Idris memperhatikan usahanya itu dari kejauhan sambil berdecak kagum. Sedang kan kini tak ada yang bersisa. Bagaikan tanam-tanaman yang sedang lebat berbuah dilanda musim kemarau yang teramat menyeramkan. Semua buah berguguran ke tanah.

***
Batam, 27 April 2015
By. Maiyade Laila Yane














Jumat, 24 April 2015

PUISI "Selamat Tinggal"


Seakan berdiri disudut kapal.
Melawan arah angin.

Lembaran-lembaran kisah.
Satu persatu direnggut, Angin.
Terbang jauh tertinggal, tak ada yang bersisa.
Selamat tinggal.

Mata terpejam.
Terasa.
Angin lembut membelai wajah.

Saat mata terbuka.
Hamparan birunya lautan.
Penuh harapan.

Senyuman termanis,
Untukmu masa depan.

Batam 27 November 2014
By Maiyade Laila Yane

Puisi "Damai"


Pelukan-Mu damai
Kesakitan dan kegerahanku terhadap hariku
Luluh lantak dalam dekapan-Mu

Ada cahaya,
Disaat buliran itu berjatuhan bersama lirih.
Aku memujiMu

Tau
Kemanapun kaki pergi,
Aku pilih kembali.

Karena dalam pelukanMu itu,
Damai.
Ditemaram cahaya seprtiga malam,
Gelap lelap, Aku terjaga
Penuh puja dan puji cinta.

Batam, 01 Des 2014
By Maiyade Laila Yane

Senin, 06 April 2015

Puisi "KAU"


Beribu langkah ku jalani
Tunas patah tumbuh dan musim pun berganti

Pernah hujan dan rintiknya mengajakku menari
Sejenak saja, lalu kembali lagi rinduku tentangmu
Langit berpelangipun sekejap sendu 

Beribu juta entah apa lagi hitungan detik yang telah ku lewatkan
Menantimu
Seperti anak kunci kehilangan induk
Kumencarimu

Aku lelah berpayah, air mata hampir saja darah
Sekuat tenaga yang ada berupaya ku jaga
Kau tau? Mau saja rasanya ku benamkan diri kedalam tanah
Untuk sesuatu "segumpal darah"

Dan......

Kini benar tinggal lima centi.
Sekali saja KAU ku tatap lebih lama,
Aku mati rasa. 

Batam, 06 April 2015