April 2015

Senin, 27 April 2015

Cerpen "Bumbu"


Idris termangu. Kembali memandangi kendaraan yang berlalu-lalang di depan rumahnya.

"Sudahlah Mas.....ikhlaskan semua. Jangan dikenang lagi. Kita hanya butuh satu kata yaitu "bangkit"...."

Istri Idris, perempuan dua puluh tahunan itu mencoba mengingatkan suaminya. Sudah hampir satu setengah bulan dari peristiwa yang mengguncang itu Idris rutin bermenung memandang ke arah jalan raya di depan rumah mereka.

"Tidak semudah yang kau ucapkan........"

Idris menarik nafas dalam dan bergerak beranjak pergi. Dengan wajah yang loyo dia pindah ke kamar. 

Istri Idris hanya bisa memandangi punggung suaminya sembari berkaca-kaca, kesedihan nan pekat menjalar kedalam aliran darahnya.

***

Dari kejauhan seorang lelaki memandangi tempat makan yang cukup terkenal di Kota itu. Pengunjung terlihat keluar masuk. Ya, tempat makan itu memang selalu ramai. Semua orang mengakui kelezatan menu special yang disajikan ditempat tersebut. Usaha kuliner yang satu ini sedang naik daun. Dalam kurun waktu dua tahun cabangnya sudah ada di tiga tempat, begitulah gambaran tingginya permintaan warga terhadap makanan yang mereka sajikan. Lezat dan selalu ingin kembali.

Lelaki itu nampak tersenyum sambil berguman "Terimakasih kang Adi...."

Ingatan lelaki itu terlempar ke dua tiga tahun silam.

***
"Kang...ini ayam bakarnya lezat tenan....." pemuda itu nyeletuk.
"Hehe...Alhamdulillah....saya senang kalau kamu bisa menikmati masakan saya.." Kang Adi tersenyum.
"Kang, boleh lah saya dapat bocoran resep ayam bakar ini ya?"

Kang Adi hanya tersenyum.

***

"Kang....apa yang harus saya lakukan untuk mendapatkan resep ayam bakar Kang Adi?" sore itu sang pemuda meminta dengan kesungguhan.

"Resep ini adalah harta yang paling berharga yang saya punya, saya belum berniat untuk memberikannya ke siapapun..." dengan tenang Kang Adi menjelaskan keberatannya.

"Kang, Akang jangan tersinggung ya, ini tidak ada maksud untuk merendahkan. Saya hanya ingin menghargai harta yang Akang punya. Saya bersedia membayar resep ayam bakar ini dengan uang dua juta rupiah......" pemuda itu terus berupaya melobi Kang Adi.

Kang Adi nampak tersenyum dan menggelengkan kepala sambil berlalu.

"Kang...Akang....apa kurang uang yang saya tawarkan? Saya kasih lima juta ya Kaaanggg....." dengan setengah berteriak pemuda itu masih berusaha untuk melobi Kang Adi.

Kang Adi nampak melambaikan tangan. Usaha pemuda itu belum membuahkan hasil.

***

"Kang, nanti makan siang bareng ya......saya mau traktir Akang...."

"O ya...Alhamdulillah, rezeki mah nga boleh ditolak....."  kelakar Kang Adi.

Kang Adi senang. Sejak hari itu selama satu bulan penuh sang pemuda berturut-turut mebelikan makan siang buat Kang Adi. Tak lain tak bukan masih dalam rangka upaya meluluhkan hati Kang Adi supaya mau berbagi resep ayam bakar. Ya, resep ayam bakar. Iyaaa....ayam bakar.

Kang Adi masih bersekukuh untuk tidak mau berbagi resep ayam bakar itu. Memang semua orang mengakui ayam bakar Kang Adi sangat lezat. Lain dari yang lain dan belum ditemukan ayam bakar seenak punya Kang Adi. Sampai akhirnya suatu saat pemuda itu memiliki kesempatan untuk belajar memasak ayam bakar Kang Adi.

"Kamu ingin tau cara memasak ayam bakar itu kan? Ayok besok temani saya. Saya diminta untuk memasak ayam bakar di acara pernikahan putrinya Pak Camat. Semoga kamu bersedia membantu saya. Nanti boleh diperhatikan bagaimana cara saya memasak ayam bakar itu...."

Pemuda itu sangat bahagia akhirnya Kang Adi bermurah hati untuk berbagi dengannya tentang resep ayam bakarnya.

Saat hari H tiba, sang pemuda dengan sangat cermat memperhatikan setiap gerak-gerik Kang Adi. Mencatat dengan seksama bumbu yang dibutuhkan. Kesempatan emas begitu pikirnya.

***

"Kang Adi, coba nasehati saya kira-kira apa yang salah dengan racikan bumbu saya sehingga ayam bakar yang saya masak tidak pernah bisa seperti yang Kang Adi buat...." 

Si pemuda terlihat putus asa. Bagaimana tidak, sejak mencatat rahasia dapur Kang Adi waktu itu dia sudah mencoba sebanyak dua belas kali. Dan belum pernah berhasil. Rasa ayam bakarnya menjadi "aneh". Kang Adi lagi-lagi hanya tersenyum.

"Semua yang kamu lihat waktu itu, itulah cara yang sebenarnya. Tidak ada apapun yang saya sembunyikan lagi. Cobalah terus dan jangan pernah berhenti sebelum kamu berhasil. Itulah nasehat saya...haha..." Kang Adi pun tertawa.

Pemuda itu terdiam.

***

"Ya Allah, ini adalah yang ke 27 kali saya mencoba resep ayam bakar Kang Adi. Saya sudah lelah. Dan hampir putus asa......." pemuda itu bergumam sembari memperhatikan ayam bakar yang sudah siap disantap.

"Bismillah.......emmmm...."

Selang beberapa detik, "Subhanallah...Alhuakbarr....Ya Allah rasanya lebih nikmat dari masakan Kang Adi..." pemuda itu terlonjak kegirangan.

Dia sangat bahagia dengan usahanya hari ini. Diluar dugaan, hari ini dia berhasil. Ayam bakarnya bahkan lebih lezat. Hanya sebentar kebahagiaan itu terluahkan tiba-tiba istrinya memanggil dari ruang tamu.

"Mas, ayo kita harus segera ke rumah sakit. Kang Adi barusan kecelakaan........" Istrinya memanggil pemuda yang sedang mecicipi ayam bakar itu dengan nada panik.

"Innalillah.....Ayo ayo dek cepat kita harus melihat kondisi Kang Adi...."

Mereka bergegas ke Rumah Sakit tempat dimana Kang Adi dirawat tanpa sempat mengganti baju. Setiba disana Kang Adi sedang diberi tindakan. Tangannya patah, kepalanya sobek cukup dalam. Sekitar tiga jam dari pertama kali mereka sampai di rumah sakit barulah Kang Adi bisa dibesuk.

"Resep ayam bakarnya tolong dijaga ya Mas....jangan beritahu siapapun....." 

Ternyata kalimat itu menjadi wasiat terakhir Kang Adi kepada si pemuda sebelum akhirnya kang Adi menghadap Rabbnya. Kang Adi sijuru masak itu meninggal diusia yang masih sangat muda.

***

Ayam bakar Idris. Enak tenan...

Itulah slogan ayam bakar yang terkenal lezat itu. Tetapi kini semua tinggal jejak serta tinggal kenangan. Setelah naik daun usaha Idris diuji dengan musibah. Usaha idris gulung tikar. Idris dikhianati oleh orang-orang kepercayaannya. Seluruh uangnya dilarikan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, sahabatnya sendiri. Kini Idris suka bermenung ria didepan rumahnya. Entah sampai kapan....

"Allah masih sayang sama mu Mas, sehingga diingatkan tentang pertemananmu yang mungkin saja salah. Orang-orang yang tidak amanah ternyata mengelilingimu selama ini, memanfaatkanmu. Iya tooh....Usaha ayam bakar bisa kita mulai lagi dari awal. Resepnya kan ada dikantongmu Mas??" 

Istrinya menghibur Idris dengan sedikit kelakar. Idris tak berkutik masih saja terpaku membisu. Tatapannya kosong. Dia masih belum percaya dengan tiga orang sahabat yang baru saja mengelabui dan menghancurkan semua usahanya. Tiba-tiba air matanya meleleh. "Kang Adi...."

Istrinya sedari tadi sudah berlalu. Idris masih saja terus menatap ke arah jalan raya. Usaha ayam bakarnya seolah menari-nari dipelupuk mata. Baru beberapa bulan yang lalu Idris memperhatikan usahanya itu dari kejauhan sambil berdecak kagum. Sedang kan kini tak ada yang bersisa. Bagaikan tanam-tanaman yang sedang lebat berbuah dilanda musim kemarau yang teramat menyeramkan. Semua buah berguguran ke tanah.

***
Batam, 27 April 2015
By. Maiyade Laila Yane














Jumat, 24 April 2015

PUISI "Selamat Tinggal"


Seakan berdiri disudut kapal.
Melawan arah angin.

Lembaran-lembaran kisah.
Satu persatu direnggut, Angin.
Terbang jauh tertinggal, tak ada yang bersisa.
Selamat tinggal.

Mata terpejam.
Terasa.
Angin lembut membelai wajah.

Saat mata terbuka.
Hamparan birunya lautan.
Penuh harapan.

Senyuman termanis,
Untukmu masa depan.

Batam 27 November 2014
By Maiyade Laila Yane

Puisi "Damai"


Pelukan-Mu damai
Kesakitan dan kegerahanku terhadap hariku
Luluh lantak dalam dekapan-Mu

Ada cahaya,
Disaat buliran itu berjatuhan bersama lirih.
Aku memujiMu

Tau
Kemanapun kaki pergi,
Aku pilih kembali.

Karena dalam pelukanMu itu,
Damai.
Ditemaram cahaya seprtiga malam,
Gelap lelap, Aku terjaga
Penuh puja dan puji cinta.

Batam, 01 Des 2014
By Maiyade Laila Yane

Senin, 06 April 2015

Puisi "KAU"


Beribu langkah ku jalani
Tunas patah tumbuh dan musim pun berganti

Pernah hujan dan rintiknya mengajakku menari
Sejenak saja, lalu kembali lagi rinduku tentangmu
Langit berpelangipun sekejap sendu 

Beribu juta entah apa lagi hitungan detik yang telah ku lewatkan
Menantimu
Seperti anak kunci kehilangan induk
Kumencarimu

Aku lelah berpayah, air mata hampir saja darah
Sekuat tenaga yang ada berupaya ku jaga
Kau tau? Mau saja rasanya ku benamkan diri kedalam tanah
Untuk sesuatu "segumpal darah"

Dan......

Kini benar tinggal lima centi.
Sekali saja KAU ku tatap lebih lama,
Aku mati rasa. 

Batam, 06 April 2015