2012

Jumat, 07 Desember 2012

Kamis, 09 Agustus 2012

PUISI "Rindu.."


Tercekat, aku dimakan sepi
Mengalir hangat, membuat garis garis dipipi

Itu waktu, aku masih merah
Kuncir dua rambutku
Itu waktu dan kau masih muda

waktu berjalan, akhirnya sampai disini
Sampai dimana aku sudah sama tinggi
Setinggi mu diangka 25 tahun

Sebenarnya semua pergi,
Kecuali rasa kasih mu

Ibu.....
Aku rindu


Batam, 09 agustus 2012

Senin, 18 Juni 2012

PUISI "Angin"


Lembut...
Angin harapan berhembus dari arah matahari terbit
Sejuk, jauh sampai kerelung-relung
Dalam...

Aishhh.....
Dicubit pipi terasa sakit
Benar, tidak mimpi

Angin harapan, berjuta mimpi
Berasa hampir nyata
Ahhh....masih angin harapan
Dan ku kembali cubit pipi
Ohh...sakit

Batam, 19 Juni 2012

Senin, 09 April 2012

PUISI "Tua"



Tua

Berlipat lipat
Kini kulit dipipimu
Putih-putih
Kini berserakan dikepalamu

Dulu kau gagah
Dulu kau kuat
Dulu kau hebat
Dulu…..semuanya kau bisa

Terperangah, kau telah tua
Perut bumi, tampak lebih dekat

Aku hanya ingin merengkuh
Semampu yang ku bisa
Aku hanya ingin memapah
Sejauh yang ku bisa

Kini….
Aku hanya ingin kau merasakan
Inilah “anakmu” Abah…

Batam, 9 april 2012

PUISI "Tanah Itu"



Tanah itu

Tepian lereng
Miang bambu
Pakis, jambu-jambu

Ahhh…..
Tanah itu terus terus memburuku
Mengajakku pulang

Bergelut di lubang lubang belut
Berpacu dengan ikan “bada”
Menelusuri tiap jengkal pematang
Tanah itu terus memburuku
Mengajakku pulang

Batam, 9 april 2012

Jumat, 06 April 2012

CERPEN "SRIKANDI 3 "



SRIKANDI 3

“Alhamdulillah………..”
Sayu kudengar suara dari sahabatku ratri. Aura kebahagiaannya terasa hangat, sehangat mentari sore waktu itu. Semilir angin pantai menambah dalamnya rasa syukur, warna jingga keemasan sore itu serasa warna yang paling indah.
“Put, makasih ya….kamu adalah sahabat terbaik. Aku ngak tau bagaimana caranya untuk berterima kasih padamu. Atas semua support dan saran darimu teman…”
Waktu itu aku hanya tersenyum, lega.
Ratri adalah sahabatku sejak beberapa bulan yang lalu. Pertemuan-pertemuan yang tidak disengaja, yang akhirnya berbuah persahabatan. Aku dan dia sama. sama-sama senang bicara, tidak butuh waktu yang lama bagi kami untuk saling mengenal. Aku tau dia hingga keluarganya, dan dia tau aku dan keluargaku.
“gimana hari ini, sukses???” begitulah caraku menyapanya setiap hari.
“Alhamdulillah, hari ini aku dapat banyak. Aku ketemu sia anu blab la bla…….” Uraian panjang dan sulit untuk dihentikan.
Kami saling berbagi keluh kesah dan berempati. Aku tau bahwa ratri adalah gadis yang istimewa. Dia gadis pintar, selalu optimis. Kondisi keluarganya yang sederhana mengharuskannya agar bersabar dalam mencapai cita-cita. Keinginannya untuk mengenyam bangku perkuliahan belum terwujudkan hingga kini. 3 tahun yang lalu, ratri menyelesaikan pendidikan di SMA.
“put, pokoknya aku akan kuliah tahun ini. Aku yakin aku bisa….alhamdulillah tabunganku sejak kerja disini sudah cukup untuk biaya kuliah ku nanti. Mohon do’anya ya teman….”
“ok, siiip…aku akan selalu mendoakanmu. Yakinlah bahwa Allah akan memberi apa yang kamu inginkan pada saat yang tepat. Tetaplah optimis, dan tetap semangat dalam bekerja, supaya dapat bonus banyak hahaha…..”
“dasar putri errorrr…….” Katanya sambil mencubitku.
“eh gimana kabar amak? Sehat kan? Trus uni gimana perkembangannya?” tanyaku pada ratri siang itu.
Dengan wajah yang dibuatnya kembali bersemangat dia berkata “ yah….alhamdulillah amak sehat. Walau beberapa hari yang lalu sempat sakit. Uni? Uni sekarang lagi menjalani masa terapi dan pengobatan. Aku benar-benar bersyukur mendapatkan relasi seperti dokter Nanik. Dia baik sekali, memberikan konsultasi terapi gratis ke kakakku…….”
“tapi uni ada perkembangan kan, aku yakin dia pasti akan sembuh” kutatap dia dengan tatapan yang meyakinkan.
beberapa tahun terakhir sejak ratri bekerja, ratri membantu amak dan ayahnya dalam biaya belanja rumah tangga. Amak dan ayah ratri adalah seorang petani biasa, yang berpenghasilan seadanya. Ratri terpaksa memberikan suntikan dana, agar semua berjalan dengan baik. Dan tidak hanya itu, ratri memiliki seorang kakak perempuan yang sedang mengalami penyakit kelainan jiwa. Tanpa tau apa penyebabnya, sang kakak berperilaku tidak normal dan suka melakukan hal-hal diluar dugaan. Keluarga ratri pasrah dengan kondisi sang kakak yang sudah tidak bisa diobati, tapi tidak dengan ratri. Ratri memiliki tekad yang kuat untuk menyembuhkan kakaknya sebagaimana dia bertekad untuk kuliah. Berkat kerja keras dan keinginan yang kuat, akhirnya Allah memperkenalkan ratri dengan seorang dokter berhati mulia. Dokter itulah yang selalu memantau perkembangan kakak ratri dan memberikan saran-saran dalam rangka proses penyembuhan kejiwaannya. Sulit tapi bisa, begitulah prinsip ratri. Meski obat-obat yang disarankan harus ditebus dengan biaya yang mahal. Biasa yang harus ditanggung oleh ratri, sendiri……
“put, besok nginap dirumah ya. Rambutanku udah pada matang dan sepupuku kebetulan mau nikahan. Mau ya, biar ku kenalkan dirimu ke orang-orang rumah”
“hmmmm…gimana ya? Besok ada acara sih….tapi ngak papa lah. Kapan lagi aku ketemu sama keluarga mu. Ya kan??hehee….”
Malam itu akhirnya aku nginap dirumah ratri. Tidak jauh dari apa yang diceritakan bahwa rumah ratri adalah rumah sederhana yang terbuat dari kayu. Ada dua kamar, tapi dihuni oleh dua kepala keluarga. Ratri dengan orang tua dan kakak nya yang sedang sakit, kemudian kakaknya yang telah bersuami dan memiliki beberapa anak juga tinggal dirumah itu. Sehingga selalu rame. Keluarga ratri adalah keluarga sederhana, tanpak dari bagaimana cara orang tua dan kakaknya saling berkomunikasi. Belakangan ratri menceritakan bahwa kondisi keluarga juga kadang membuatnya tertekan, tinggal se atap dengan kakak ipar menjadi tantangan luar biasa yang harus dihadapinya. Ratri pernah mengalami peristiwa tragis, yang sangat memalukan. Dan itu dilakukan oleh kakak iparnya. Tapi apa daya, kisah itu dipendam ratri rapat-rapat demi kebahagiaan rumah tangga kakaknya. Meskipun menyisakan trauma yang tak kunjung terobati hingga kini. Ada ketakutan-ketakutan tertentu yang dirasakan oleh ratri terhadap kakak iparnya itu, tapi semua ditepis dan dikubur dalam-dalam…….
“whuaaa……aku mau makaaaaannnnnn…..!!! maaaakkkkkkk…….”
Kulihat kakak ratri yang sedang sakit berteriak minta makan. Emosi kakaknya sangat labil dan sulit untuk dikendalikan. Kakak ratri jelas tidak malu kepadaku, dan bahkan tak mau tau kalau aku adalah tamunya. Sikapnya seperti anak kecil, tapi usianya sudah 30tahunan. Harus dengan kesabaran tingkat tinggi dan hanya ratri yang mampu mengendalikan emosinya untuk bisa sedikit tenang….benar-benar hanya ratri yang bisa…..
“rat, apa yang kamu rasa??”
“maksudnya??” ratri bertanya kepadaku dengan nada heran.
“aku salut sama kamu, kamu terlalu sabar…….”
Kulirik ke atap rumah ratri yang tanpak sudah semakin tua. Kuhela nafas dalam-dalam. Malam itu aku berada di sebuah kamar, dimana ratri beristirahat setiap malamnya. Kamar 3 kali 4 yang kurasa cukup sesak. Disudutnya ada onggokan padi, kemudian Sebuah lemari yang sudah sangat tua dan kasur tipis seukuran tubuhnya. Gantungan baju dikamar itu membuatku merasa kurang nyaman. Mataku tak bisa terpejamkan, tapi kulihat ratri tertidur pulas. Malam itu Aku benar-benar merasa kalah oleh seorang ratri……..salut….
***
Dan Dipantai sore itu kulihat raut wajah ratri terharu bahagia. Karena dia akan segera menjadi mahasiswa. Tabungannya telah mencukupi. Kulihat matanya berbinar-binar.
***
“hallo ratri, gimana kabar dirimu teman? Berapa IP mu?”
“Alhamdulillah putri, aku sehat. Kamu gimana? Tau ngak, aku dapat IP 3,7…hahaha mantap kan”
“wewww…..mantap, aku salut sama kamu. Semoga ntar cum laude ya. Rat, gimana kabar keluarga disana? Ngak terasa udah dua tahun kita ngak ketemu ya……”
“iya, aku kangen sama kamu. Uni Alhamdulillah sudah jauh berobah. Pengobatannya tinggal dikit lagi, amak ayah sehat Alhamdulillah. Berkat doa kamu juga…….”
Subhanallah, aku selalu rindu dengan ratri. Ketegaran dan kerja kerasnya membuatku selalu termotivasi. Jarang kutemukan gadis seperti ratri. Baru satu…ya baru ratri.
Gadis kuat yang memiliki semangat tinggi. Tidak mudah putus asa dan pekerja keras. Satu hal lagi, ratri adalah gadis yang sholehah.
“sukses ya ratri………..” lirihku buat ratri, sang srikandi.

CERPEN "SRIKANDI 2 "



SRIKANDI 2

Srikandi, ya menurutku perempuan ini adalah srikandi…..

27 tahun yang silam, seorang perempuan bernama Erni masih berumur 16 tahun. Kembang desa, itulah julukan yang tepat diberikan kepadanya. Wajahnya yang manis, elok laku dan patuh kepada orang tua membuat gadis ini disukai banyak pria. 

Pada suatu waktu, seorang pemuda dari seberang desa meminangnya. Ini adalah pemuda ketiga. Sebelumnya sudah dua pemuda dilewatkan begitu saja, katanya “tidak begitu tertarik”. Tapi lain untuk pemuda yang ketiga ini, sepertinya dia jauh lebih beruntung. Erni diam seribu bahasa ketika ditanya kesediaan untuk menikah dengan sang pemuda, pancaran matanya tidak bisa berdusta bahwa “dia jatuh cinta pada pandangan pertama”. 
“Anak saya diam, berarti dia setuju….” Begitulah jawaban orang tua Erni kepada pemuda yang datang meminangnya.

Sang pemuda sebenarnya tidak terlalu dikenal Erni, meskipun dia berasal dari desa seberang. Si pemuda telah lama merantau, bahkan sejak kecil. Hidup di kota-kota besar menjadikannya tanpak berbeda dengan pemuda-pemuda yang ada didesa. Daya tariknya cukup kuat bagi seorang Erni, dia pemuda yang telah lama tinggal dikota dan berjanji akan membawa Erni ikut bersamanya. Itulah sebenarnya yang membuat Erni mau menerima lamarannya. Ya…..dia ingin ke kota……

Pernikahanpun digelar sederhana, karena memang mereka sama-sama dari keluarga biasa-biasa saja. Impian Erni pun terwujudkan, Erni dibawa ke kota dimana sang pemuda bekerja. Sang pemuda adalah seorang supervisor disebuah pabrik keramik. Kehidupan Erni pun sedikit bergeser dari kurang mampu menjadi berkecukupan. Semua kebutuhan terpenuhi, yang dulunya sulit didapat kini sang suami dengan mudah dapat memberikannya.

Roda pun berputar, tiada disangka bahwa pabrik tempat sang suami gulung tikar dan semua aktifitas dihentikan. Tidak ada pilihan dan suami di PHK. Kehilangan pekerjaan membuatnya frustasi, pemuda tanpa ijazah sepertinya akan mati apabila bertahan hidup dikota tanpa pekerjaan. Ternyata dia tidak memiliki ijazah sd, dia tidak pernah bersekolah. Pekerjaan di pabrik tersebut adalah buah dari kepandainya  mendekatkan diri dan kecerdasan dalam memahami sesuatu tentang pabrik. Mustahil bila bertahan, akhirnya mereka memutuskan untuk segera pulang kekampung. Hidup sebagai petani.

Waktu berjalan, usia pernikahanpun bertambah. Kini mereka telah memiliki seorang putri. Sejak pertama pindah ke kampung, suami istri ini tinggal seadanya disebuah rumah yang tidak layak huni. Kerja serabutan, mendapatkan uang seadanya. Pekerjaan sebagai buruh pabrik tentu berbeda dengan serabutan dikampung. 

Kini Erni menyadari bahwa suaminya tidak mau bekerja sebagai buruh tani, gaya hidup sebelumnya membuat sang suami tidak siap dengan profesi sebagai buruh tani. Cendrung malas dan tidak mau bekerja keras. Memberi nafkah seadanya. Akhirnya Erni ikut andil dalam mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Dengan berbagai cara.

Waktu berlalu lama, kini putrinya telah duduk di bangku SMA. Putrinya tidak lagi sendiri, ada 3 orang bocah laki-laki yang kini menjadi saudaranya. Waktu berubah tetapi tidak untuk kehidupan Erni. Rumah yang ditempatinya dulu, hingga kini masih utuh menjadi tempat tinggalnya. Suaminya yang dulu masih suaminya yang sekarang. Tidak ada yang berobah melainkan jumblah anak yang kian bertambah. Tampak jelas didinding rumahnya itu tertempel tulisan “keluarga kurang mampu”. 

Sang suami kini masih bertahan bekerja serabutan, cukup untuk membeli kebutuhan rokok dan belanja untuk diri sendiri. Bagaimana dengan kebutuhan anak? Itu sudah menjadi tanggung jawab Erni sejak bertahun-tahun yang silam. Bekerja keras sebagai seorang buruh cuci sekaligus menggosok, buruh tani dan lain-lain asalkan menghasilkan uang. Erni terlihat sangat sibuk, melebihi kesibukan wanita karier. Pergi jam 7 pagi dan pulang maghrib. Sesampai dirumah dengan uang yang didapat hari itu Erni akan mencari sekilo beras dan beberapa bahan perlengkapan memasak. Selesai maghrib, beliau akan memasak untuk suami dan anak-anak. Sedikit rehat, bercerita dengan mereka. Lalu apakah aktifitas hari itu akan berakhir disitu? Ternyata tidak.

Malamnya Erni akan menjahit, suara gaduh mesin jahitnya akan terdengar hingga jam 11 malam. Dan esoknya sebelum subuh, ketika semua orang baru terjaga dari tidurnya mesin jahir Erni masih gaduh. Entah sejak kapan dia memulai menjahit lagi. Semua orang bingun kapan Erni tidur. Esoknya jam 7 pagi Erni akan  berangkat untuk menjadi buruh cuci hingga maghrib. Begitulah berhari-hari, bertahun-tahun.
Berat.

Tapi erni adalah perempuan tegar. Dia kuat, tidak hanya kuat dalam mencari nafkah untuk anak-anak dan rumah tangga. Tetapi juga kuat menahan hati yang tidak pernah disiram kebahagiaan. Yang ada adalah tekanan-tekanan batin, jauh dari kasih sayang yang seharus nya didapatkan dalam sebuah pernikahan. Sering menangis, tapi tidak ada air mata. Rumah tangga yang tidak harmonis. Kebahagiaan yang diimpikan tidak kunjung datang. Si suami yang enggan bersusah payah lebih suka marah, marah dan marah. Tidak kunjung menyadari kealfaannya, entah kapan kesadarannya akan hak-hak anaknya akan tumbuh. Sementara Erni tetap dituntut melayani dengan sepenuh hati. Penuh dengan kedustaan.

Hingga akhirnya pada saat umurnya dianggka 39 tahun, Erni merasakan ada yang salah dengan tubuhnya. Dibahagian kepala, pundak dan punggung serta dada serasa bagaikan diolesi cabe. Panas dan perih apabila beliau beraktifitas atau bekerja. Semakin hari-semakin parah hingga akhirnya dia tidak bisa lagi menjadi buruh cuci. Tidak kuat lagi menjahit dan harus berdiam diri dirumah. Jangankan untuk bekerja, berjalan dalam jarak beberapa meter akan membuat penyakitnya kumat. Berobat ke dukun sana ke dukun sini,kemana-mana telah dicoba. Tapi tak kunjung sembuh. 

Berobat ke rumah sakit, jelas tidak akan sanggup untuk membiayainya. 3 tahun berlalu, tidak ada yang memperhatikannya kecuali putrinya yang saat itu telah bekerja. Tidak banyak yang bisa dilakukan putrinya karena mereka terpisah jarak yang jauh dan gaji putrinya pun masih seadanya. Bagaimana dengan suaminya? Jangan ditanya. Masih sibuk dengan diri sendiri, jangankan berupaya untuk mengobati, memberikan support dan sedikit perhatianpun dia tidak memberikannya. Entah kenapa?

Sementara itu dua anak Erni terancam untuk putus sekolah. Sudah tidak ada lagi biaya.

Ditahun ke 4 masa sakit, akhirnya diketahui bahwa penyakit yang dideritanya disebabkan kerja ekstra yang tidak diimbangi dengan istirahat dan makan yang cukup. Sehingga otot menjadi rusak, dan kantong empedunya telah terganggu. Apabila tidak diobati secara serius, maka akan menderita kanker hati.

Lalu Apa yang akan dilakukan? Erni berserah diri kepada Allah atas takdir dirinya. Erni berusaha berobat semampunya, dan berharap Allah akan menjaga anak-anaknya. Anak-anaknya kini telah mandiri. meskipun masih berusia belasan tahun, putra-putra erni telah mampu menghasilkan uang minimal untuk jajan disekolah. Disela-sela kepedihannya, ada terselip rasa bangga.

Semua ini telah ditanggungnya bertahun-tahun dan entah sampai kapan.
Erni adalah srikandi dan masih banyak srikandi-srikandi lainnya yang akan ditulis diepisode mendatang.

CERPEN "SRIKANDI 1 "



SRIKANDI 1

Sebut saja namanya uni eni, dia wanita 40 an. Badannya sedikit subur dan hari-harinya dilalui dengan tertawa. Katanya padaku waktu pertama kali bertemu “Hari disiko senin taruih se nyo ne…^_^”. Subhanallah, bagiku senin adalah hari yang berat, hari yang akan membawaku dengan segudang aktifitas. Aku butuh semangat dengan hari “senin”. Dan uni eni, hari harinya selalu senin, tidak ada hari yang dilalui tanpa semangat.

Dikemudian hari, baru kutau ternyata dia adalah seorang janda dengan satu putra. Konon kabarnya,putranya baru tau siapa ayahnya setelah masuk SD. Sebuah realita pahit yang tlah bertahun-tahun disimpan rapat-rapat. Uni eni hidup dengan satu orang putra dan ibunya yang sudah mulai menginjak usia senja. Sehari-hari aktifitasnya adalah berjualan sarapan pagi, jualan “lontong”. Baru satu hari berkenalan, aku langsung terpingkal-pingkal dibuatnya. Uni eni sanguinis banget, wajahnya yang selalu ceria, selera humornya yang tinggi seolah olah ada kepuasan tersendiri disaat dia mampu membuat kami tertawa. Sepintas kulihat hidupnya begitu damai, tak ada satu goresan tekanan pun diwajahnya. Setiap orang yang lewat selalu disapa, meskipun tidak begitu dikenalnya. Siapapun yang ada didekatnya akan minikmati candaan candaan yang benar-benar menghibur.
“uni, aku  beli lontong gulai ya…..”
“okeh deh…pake telor? Pake bakwan? Enak lho..mak nyus….”
Begitulah gaya bahasa uni eni.
“berapa uni??”
“enam juta saja…”
Dan orang yang bertransaksi dengannyapun akan langsung tersenyum, geli…..

Dia adalah srikandi, menurutku tentunya. Mau tau kenapa?
Uni eni seorang single parent yang sebenarnya memiliki kisah hidup yang pahit. Berawal dari pernikahannya yang kurang disetujui oleh ibu mertua. Ibu mertuanya ingin sang suami menikah dengan wanita pilihannya. Tapi apa hendak dikata, malaikat cinta memilih uni eni sebagai pemilik hatinya hingga akhirnya mereka nekat menikah. Mereka sama-sama perantau, hidup dikota yang materialistis dan hampir menjadi kota metropolis. Diawal pernikahan, sebagaimana biasa smeua begitu indah. Bunga bunga cinta mekar dan hatipun begitu bahagia. Hingga akhirnya diketahui bahwa uni eni hamil, semua pada awalnya masih biasa saja. pada saat hamil tua, tiba-tiba hampir setiap malam hingga menjelang pagi dia harus menyaksikan suami tercinta kesurupan. Berteriak-teriak sambil manjat-manjat dinding memanggil manggil nama ibunya dan minta untuk pulang kampung. Kondisi itu berulang-ulang hingga beberapa hari, kata mereka suaminya diguna-guna. Telah diupayakan untuk berobat tapi malah makin parah, bahkan suami mulai tidak mengenal istri dan keluarganya. Hingga suatu hari ibu mertua uni eni datang menjemput anaknya, membawanya segera pulang kampung denga alasan berobat dan setelah sembuh berjanji untuk kembali pulang. Tapi tidak disangka, hanya selang beberapa waktu setelah kepulangan suaminya ke kampung uni eni menerima sepucuk surat yang tidak lain adalah surat cerai dari suaminya. Pilu, tanpa alasan dan sulit untuk dimengerti. Sejak itu, suami tidak bisa lagi dihubungi. Keluarga suaminya berupaya menutup diri, hingga akhirnya uni eni melahirkan seorang putra. Disaat yang masih terasa pahit, terdengar kabar bahwa suami telah menikah kembali dengan perempuan pilihan ibunya. Teriris-iris bak sembilu, diasami dan alangkah perihnya…….

Namun apakah uni eni kemudian berputus asa? Sepertinya tidak. Dia menghadapi dengan senyuman. Bahkan hampir tak terlihat penderitaan sedikitpun diwajahnya. Karakternya yang sanguinis mampu menyembunyikan segalanya. Dengan profesi penjual lontong, uni eni mampu menyekolahkan putranya disekolah swasta yg cukup terkenal dikota itu. Kemudian membiayai ibunya yang sudah mulai semakin tua, bahkan kini dia memiliki rumah sendiri. Secara logika dan hitungan matematis tentu semua itu mustahil. Tapi apakah bagi Allah itu musatahil??? Ternyata tidak, dengan hati yang lapang dan penuh keikhlasan uni eni menjalani semuanya. Hidup tidak dijadikannya beban, tetapi sesuatu yang harus dinikmati. selalu tersenyum, wajah yang selalu ceria. Menghibur siapa saja yang didekatnya. Siapa saja yang hidup serumah dengannya pasti akan mengalami kenaikan berat badan, kenapa? Karena hari-hari selalu tertawa. Dunia ini begitu indah…….

Tapi, beberapa waktu yang lalu uni eni tiba-tiba mengeluarkan darah segar dari hidungnya. Darah itu begitu banyak. Setelah di opname, ternyata pembuluh darahnya dibagian hidung pecah. Untung masih dihidung, tidak dibagian otak atau kepala. Tidak bisa dipungkiri bahwa ini adalah bukti bahwa hidup yang dilaluinya berat. Jauh direlung hatinya ada rasa pahit yang susah untuk dihilangkan. Tapi adakah yang tau??? Tidak ada, yang kami tau adalah dia seorang yang tegar. Seorang wanita kuat yang selalu tersenyum, seorang wanita single parent yang selalu disenangi banyak orang. Dialah salah satu srikandi yang kutemukan, dan banyak lagi srikandi2 lainnya yang akan kuceritakan dilain waktu.
Uni eni mengajarkan bahwa takdir itu adalah sesuatu yang harus dinikmati, disyukuri bagaimanapun adanya. Toh bukankah Allah selalu memberikan kebutuhannya walau sudah tidak bisa dimatematika kan lagi???? Allah sesungguhnya tidak pernah menzoliminya, karena beginilah cara Allah mencintainya. ^_^

CERPEN "Marina"




marina

“dedek sayaaang…….yang sabar ya…ayah sebentar lagi pulang. ayah bakalan bawa bakso. hmmmm yummy……..”

sambil mengelus elus perutnya yang terlihat mulai membesar, marina  mencoba mengajak calon buah hatinya yang masih berumur dua bulan itu untuk berkomunikasi.

Sekitar tiga stengah bulan yang lalu marina telah resmi menikah dengan Budi. seseorang yang dikenalnya lewat “sms nyasar” beberapa waktu sebelumnya.

“assalamu’alaikum…….ayah pulang…..”

Seorang lelaki muda tampak sumringah berdiri  didepan pintu rumah Marina. Menunggu perempuan cantik, sipenghuni rumah membukakan pintu dan kemudian mencium tangannya sebagai tanda penghormatan. Terlihat jelas ditangan lelaki itu sebuah tentengan, sepertinya itu adalah bakso pesanan Marina. Dalam hitungan detik aura rumah itu benar-benar dipenuhi oleh kebahagiaan. Raut wajah sepasang suami istri muda itu bercahaya. Disekililing mereka bertebaran kelopak bunga melati merah muda, satu satu tampak juga yang berwarna putih. Aroma wangi menyeruak memenuhi ronga hidung. Dan diatas kepala mereka beterbangan balon balon kecil penuh warna. Halusinasi bagi mereka yang sedang senang, layaknya sinetron bukan?  tapi tenang, itu hanya halusinasi…..
@@@

“ceraikan akuuuuu…………..ceraikan aku…..kau dengar itu?????”

“aku tidak akan pernah menceraikanmu. Tidak ada alasan bagiku untuk itu……..” dengan nada tertahan.

“tidak ada alasan? aku tidak tahan dengan pernikahan seperti ini. Aku tidak bisa hidup seperti ini Budi. sungguh aku telah menyesal menikah denganmu. Dengar itu……”

Marina dengan suara yang lantang mengucapkan kata-kata yang sangat kasar. Dan kinipun ia berlalu dengan kaki yang dihentak hentakkan. Seolah dia lupa bahwa ada calon bayi didalam kandungannya yang mungkin kini meneteskan air mata melihat ayah dan bundanya.

Budi mengucapkan istgihfar berkali-kali. Bertasbih menyebut nama Allah. Hari ini, sungguh untuk pertama kalinya dia tidak mengenal sosok Marina. Apakah ini bawaan hamil?? Mengingat kehamilan Marina kini memasuki bulan ketujuh. Mungkinkah hal ini dapat membuat emosinya demikian membludak bagaikan air bah dan tak terbendung lagi? Tapi tetap saja, Budi merasa itu bukanlah Marina…

@

Praaakkkk………

Sebuah panci terjatuh, menimbulkan bunyi yang cukup bising dirumah kecil milik Marina dan Budi. Sebenarnya tidak disengaja, tapi itu memang karena suasana hati yang tidak enak. Marina memasak dengan gerak gerik sekenanya. Panci itu terjatuh ke lantai setelah dihempas hempaskan dengan kasar diatas kompor kecil berapi kuning milik mereka. Didalam panci itu ada onggokan mie goreng ala kadarnya.Tidak ada ketertarikan untuk memakannya, kecuali bagi mereka yang sangat lapar.

“ada apa marina….?” Dari balik bilik terdengar suara Budi, kemudian ia menghampiri Marina.

“ya udah, biar aku yang masak. Kamu istirahat aja ya……” Sambil mengelus perut Marina (dengan nada yang begitu lembut dan penuh kasih sayang).

“sudah selesai baru bilang mau masak?” Wajah Marina begitu ketus, Marina megebaskan tangan suaminya dan dia pun berlalu.

Budi menghela nafas begitu dalam. Ingin semua sikap Marina ini segera berakhir. Budi berangan angan, seandainya marina penuh dengan kelembutan dan kasih sayang….ahhhh…….

Kini rumah mungil mereka yang baru ditempati empat bulan itu semakin terasa sempit dihati Budi. Hari hari yang dilaluinya bersama Marina dirumah itu menjadi begitu kelabu. Kebahagiaan dan keceriaan Marina seolah olah hilang ditelan bumi atau mungkin disapu badai hingga kini seolah semua berlalu tanpa bekas. Yang ada hanyalah aura kemarahan, rasa benci, rasa kecewa. Semua terlontar lewat kata kata kasar Marina diiringi dengan sikap yang sama sekali tidak pantas diberikan kepada seorang suami. Budi tidak mengerti, sama sekali tidak mengerti….

Dibalik sebuah kamar tiga kali tiga meter, beralaskan kasur tanpa dipan marina menangis. Dia sendiri tidak tau mengapa rasa sesalnya telah menikah dengan Budi semakin hari semakin menggunung. Marina benar-benar ingin bercerai. Marina ingin bercerai. Marina merasa tidak ada cara lain baginya untuk bebas selain bercerai. Dia benar-benar merasa tertekan. Apa yang dulu dibayangkannya tidak menjadi nyata. Seorang lelaki yang dikenalnya lewat “sms nyasar” kemudian sms demi sms itu bertumpuk dan menumbuhkan rasa saling suka hingga mereka memutuskan untuk sampai ke jenjang pernikahan. Pernikahan yang hanya dilandaskan oleh harapan-harapan kebahagiaan dan begitu tergesa-gesa.

“ya allah, semua benar-benar diluar dugaanku…….” lirih Marina dalam hati.

@

Sore ini Budi enggan untuk pulang kerumah. Dia galau. Keadaan pahit yang bertubi-tubi serasa begitu beruntun menimpa dirinya. Duduk selunjur di tepi jembatan ini terasa lebih menentramkan. Matanya yang kini agak sayu menerawang jauh kedalam riak sungai dibawah jembatan itu. Aliran fikirannya terbawa jauh mengikuti kemana riak riak air itu mengalir.

“ya allah, 180 derajat telah kau balikkan semuanya. Begitu cepat, jauhkanlah aku dari rasa putus asa dan berikan aku kesabaran beserta keihklasan”

Ingatan budi menari nari bagaikan pendaran asap yang berputar putar diatas kepalanya. Bagaimana empat  bulan yang lalu, ayah Budi, seseorang yang paling bertanggung jawab terhadap Budi dan kakak kakak perempuannya mengutarakan maksud hatinya agar Budi, sebagai anak lelaki satu satunya mau memberikan toko sembako milik mereka beserta rumah hasil usaha itu kepada ke dua kakak perempuannya. Dua orang kakak perempuan Budi kini menjadi janda karena ditinggal suami mereka dalam kecelakaan sekeluarga yang mereka alami beberapa waktu yang lalu. Masing masing memiliki tiga orang anak yang semuanya sedang bersekolah.

Toko itu sebelumnya telah diberikan ayah Budi kepadanya. Budi mengelola dengan baik sehingga menghasilkan sebuah rumah yang boleh dikatakan bagus. Waktu itu kehidupan kakak perempuan Budi berkecukupan, suaminya seorang profesional. Tetapi semua itu kini telah berakhir, dua orang kakak perempuannya telah menjanda. Dengan bekal pendidikan tamatan SMA dan tidak pernah bekerja sebelumnya, tentu sesuatu yang sulit bagi dua orang kakak perempuannya itu untuk mencari penghidupan yang layak sebagaimana sebelumnya. Sebagai saudara laki laki yang bertanggung jawab, Budi menyerahkan kembali usaha dan rumah itu kepada keluarga. Dia adalah lelaki……dan ketika kondisi itu membuatnya membutuhkan sokongan, istrinya Marina kok malah ikutan berobah??? kehilangan kemesraan, kelembutan, dan kasih sayang. Budi patah arang, bingung dan tidak tau meski berbuat apa. Sisi manakah yang harus dibenahi dulu, perekonomian nya kah atau Marina istrinya??? (kemana akan dibawa ijazah SMA ini?? toko?? biarlah toko dan rumah itu kini menjadi milik dua orang kakak perempuan beserta enam orang ponakannya. Toh dia dan Marina masih muda…..perjalanan mereka masih panjang, dan pasti mereka bisa. Bagaimana dengan Marina? Siapkah dia akan perjuangan ini?”)

“marina…..maafkan aku, kondisi ini memaksamu untuk ikut berjuang………aku berharap kamu sabar dan ikhlas. Kasih aku waktu dan kesempatan Marina……” dalam sunyi budi bersuara lirih. Lirih sekali…..

@

“kemana saja kamu? kok baru pulang? enak saja membiarkan aku sendirian dirumah. Lupa ya kalo istri lagi hamil?”

Budi diam saja, takut bila dia tidak mampu berlaku lembut seperti biasanya malam mini. Hatinya sedang galau.

“aku mau ke jakarta…….” Marina mengeluarkan pernyataan yang membuat kerongkongan Budi tersekat.

“apa????”

“ya, aku mau ke Jakarta. Mau cari kerja. Aku tidak bisa lagi bertahan dengan kondisi seperti ini. Tinggal dirumah yang sempit, kasur tanpa dipan, makanan-makanan yang kurang bergizi seperti ini. kalau sekarang saja begini, lalu bagaimana nasib bayi ini nanti…..?” dengan nada tegas Marina menyampaikannya.

“aku lulusan S1, aku pasti bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dan hidup layak…..”

Serasa disambar petir, Budi benar-benar tidak menduga bahwa marina akan mengutarakan hal ini. Tak pernah terbayangkan sebelumnya.

“Marina, kamu kan sedang hamil sayang……bagaimana mungkin kamu akan ke Jakarta?”

“hamil bukanlah suatu halangan bagiku. Kamu lupa ya? disana kan ada kakak perempuanku. Sebulan lagi aku akan melahirkan. Setelah itu aku akan mencari pekerjaan. Sampai sebelum mendapatkan pekerjaan kamu tinggal saja disini dulu hingga aku kabari untuk nyusul ke Jakarta”

“Marina…….”

“aku harap kamu tidak keberatan, ini demi masa depan aku, kamu dan anak kita. Aku tidak menyangka bahwa apa yang kamu janjikan dulu ternyata tidak pernah ada….…”

“Marina…ini semua juga bukan kehendakku. Ini takdir allah. Bagaimana kecelakaan itu harus terjadi dan merenggut nyawa dua orang abang iparku. Sehingga toko yang memang milikku itu harus kuberikan kepada mereka. Mereka kakak perempuanku dan aku adalah lelaki……” sungguh tenggorokan Budi tercekat.

“oh ya???aku tidak melihat sisi kelaki lakianmu…aku tidak melihat usaha-usahamu untuk memperbaiki ekonomi kita……”

“bagaimana mungkin aku tenang untuk memperbaikinya bila setiap hari kau suguhkan kepadaku mukamu yang masam dan hentakan kaki mu yang seolah mampu meruntuhkan rumah ini. Aku butuh support dari mu Marina……..”

“support???” Marina mencibir.

“ya support dari istri yang jelas aku sayangi. Ini baru bulan ke lima kita tinggal disini. Tapi kau berubah seolah menyalahkan aku atas semua kondisi. Aku merasa kau tidak mau menerima keadaan. Dan kau harus ingat bahwa aku hanya lulusan SMA. Butuh perjuangan bagiku untuk mendapatkan pekerjaan yang layak….butuh kesabaran Marina…..”

“ya aku tau itu…aku tau…oleh karena itu menyesal…dan aku akan ke Jakarta. Tau betul bahwa akan sangat sulit sekali bagimu untuk menghidupiku secara layak dengan berbekalkan ijazah SMA bukan????” Marina benar benar tegas dan keras. Tidak ada sedikitpun kegetaran diraut wajahnya. Matanya yang besar seolah mengisyaratkan bahwa dia bukanlah perempuan biasa. Apa yang dia mau akan dia dapatkan.

“dan akupun tidak menemukan apa yang aku cari didiri kamu Marina. Dibalik jilbabmu yang lebar, aku ingin menemukan sosok yang shalihah….sosok sabar, sosok ikhlas, sosok yang lembut dan penuh kasih sayang. tetapi…….”

“dan kamu juga menyesal menikah denganku bukan? aku memang bukan wanita shalihah. Aku tidak mampu bersabar karna aku juga tidak menemukan sesuatu yang aku harapkan darimu…….aku berharap Allah sayang padaku, mengampuni dosaku dan mengeluarkanku dari kehidupan yang sempit  ini”

“bersabarlah Marina, aku membutuhkan bantuanmu. Tetap lah dampingi aku disini…..’

“aku ingin ke Jakarta, kalau kau tidak mengizinkan ceraikan aku sekarang……”
Budi lemas mendengarkan kata-kata Marina. Dia yakin sekali bahwa ini bukanlah Marina yang sebenarnya. Marina istrinya adalah sosok yang shalihah sebagaimana jilbab lebarnya. Hanya saja dia sedang kalut dan juga dalam kondisi hamil. Marina mungkin sangat takut dan cemas akan masa depannya dan masa depan bayinya.. Kecemasan yang memuncak, terang saja karna Marina tidak pernah hidup dalam kondisi kekurangan. Marina tidak siap….apalagi Budi hanyalah lulusan SMA. Semua akan sangat sulit…..

Untuk sementara harapan Budi terhadap Marina diketepiskannya. Harapan akan sosok Marina yang shalihah, yang akan membantunya untuk dekat kepada Allah. Sebagaimana motivasi utamanya dulu untuk menikahi Marina. Dia berharap Marina mampu membimbingnya bersama-sama untuk berislam yang lebih baik…..

@@@

Dua tahun berlalu, Marina kini berada dibandara. Sambil menggendong Surya, putra pertamanya. Dia akan menemui Budi. Setelah sekian lama tidak berjumpa. Marina naik ke sebuah taxi dan kemudian melaju….

“hhhh….rumah ini jauh lebih jelek dari dua tahun yang lalu. Budi...Budi…kamu memang tidak bisa diandalkan……”
Sambil menghela nafas Marina mengetuk pintu rumah yang dulu pernah menjadi tempat tinggalnya.

“assalamualaikum…….”

“waalaikumsalam, sebentar…….”terdengar sahutan seorang lelaki dari dalam rumah.

“Marina….subhanallah…..”

Tampa komando Budi memeluk Marina. Rasa rindu dan rasa bersalah yang telah lama dipendam Budi kini menyatu tumpah dalam pelukan itu. Lama…….hingga semua rasa itu tercerai berai…….

“sayang ini ayah…..” sambil memberikan Surya kepada Budi. Surya sudah bisa berjalan.

“apa kabar kamu Marina, maaf aku dulu tidak bisa menyusul kamu………”

“seperti yang kamu liat, aku baik (dengan nada cuek seperti dulu, Marina tak berobah). Ahh…..tidak mengapa. Aku tidak akan pernah menyalahkan kamu. Karena dari awal aku telah menduga bahwa kamu tidak akan pernah menyusulku. Kamu memang tidak pernah berani dalam menghadapi resiko…..”

“ya…kamu benar……” (tapi bukan karena itu Marina…….karena aku adalah lelaki, aku tidak akan menyusulmu karna itu sama saja kau menginjakku. Yang penting kewajibanku selalu kupenuhi setiap bulan menafkahimu, walau tidak seberapa dari gaji yang kau dapatkan bisik Budi dalam hati)

Sambil mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, tampa basa basi Marina menyerahkan selembar kertas kepada Budi yang masih sibuk menciumi putranya Surya.

“apa ini??” Budi penuh dengan tanda tanya….

“silahkan kamu baca dulu dan setelah itu ditanda tangani……”

“Marina……apakah tidak ada lagi yang bisa kita pertahankan? aku masih memiliki harapan untuk membina rumah tangga islami dengan kamu. Aku akan melupakan dan memaafkan, apapun itu. Aku akan berusaha mencari nafkah yang layak. Kini aku sedang mulai merintis Marina. Aku kira kamu pulang untuk hidup bersama lagi denganku sebagaimana surat yang kukirimkan waktu itu…kita sudah punya toko lagi walau itu belum sebesar yang dulu. Kita punya harapan…..untuk bersama sama membesarkan Surya…..”

Marina lengah seolah tidak mendengarkan apa yang dikatakan Budi. Satu hal yang baru disadari Budi bahwa Marina nya benar-benar telah berobah. Tidak ada lagi jilbab lebar itu……kemana jilbab lebar Marina???

“pekerjaanku di Jakarta sangat sayang untuk aku tinggalkan. Aku telah memiliki posisi yang bagus. Dan kau tentu tau bahwa Surya akan hidup baik dalam asuhanku. Kamu harus percaya itu…….begitu banyak hal yang tidak kudapatkan dalam diri kamu Budi…dan aku takut aku semakin menjadi istri durhaka bila pernikahan ini tetap dilanjutkan…….”

Budi mengantarkan Marina sore itu ke bandara. Surat itu telah ditandatanganinya. Mungkin benar kata Marina, bahwa semuanya harus segera berakhir. Pupus sudah harapannya untuk merajut rumah tangga islami bersama marina. Ahhh…ternyata jilbab lebar itu tidak sepenuhnya menjamin segalanya. Benar sekali bahwa taqwa itu ada dihati, bukan diselembar kain. Toh kini telah terbukti bahwa kain itu begitu cepat melayang entah kemana, hingga tidak tampak lagi menutupi tubuh Marina. Budi dulu benar benar jatuh cinta kepada Marina karena jilbab lebarnya. Marina yang begitu anggun, dan terbayang bahwa bersamanya akan memberikan ketentraman. Budi akan bisa lebih mengenal islam dengan baik melalui Marina. Sms demi sms, telfon demi telfon akhirnya Budi mampu meyakinkan Marina untuk dipersunting menjadi istri. Semua diluar dugaan, namun cita cita Budi tidak akan berobah, Marina tidak mampu merobah tekadnya……Marina biarlah Marina, tapi tekad itu demi Allah. Dan Allah jualah yang bisa merobahnya, bukan Marina……

Marina kini telah menjauh, dalam pangkuannya ada Surya yang sedari tadi selalu menatap ayahnya seolah tidak mau berpisah.

“ya Allah, lindungilah anakku…..” lirih Budi dalam hati. Lirih yang begitu dalam. Hatinya perih mengingat semua realita kehidupan yang kini dirasakannya….serasa dalam alam mimpi…"

@@@

“mas, sini…….”

Tampak seorang perempuan muda yang sedang hamil tua mencoba memanggil lelaki yang berjarak tidak lebih satu meter darinya. Perempuan itu begitu anggun dan mempesona. Pakaiannya yang begitu rapi dihiasi dengan jilbabnya yang lebar dan pancaran wanita solehah begitu kentara dari tutur katanya yang lembut dan penuh penghormatan. Tampak sekali bahwa dia bukanlah wanita kalangan bawah, tapi dari ekonomi mengengah ke atas.

“ya, ada apa um……” lelaki itu sepertinnya memanggil wanita nan anggun itu dengan panggilan ummi. (panggilan terkeren diabad ini…..)

“itu tu…coba abi liat ibu-ibu penjual mainan itu. Kok ummi serasa kenal ya….trus liat ada anak kecil laki-laki disampingnya……kesana yuk….”

Lelaki yang dipanggil abi, menyipitkan mata. Mencoba melihat dengan jelas ibu-ibu yang dimaksud istrinya. Dari mimik wajah lelaki itu tampak jelas bahwa dia tidak mengenal ibu-ibu yang ditunjuk istrinya.

“yuk, kita liat ummi…mana tau dia memang kenalan umi. Soalnya abi ngak tau……”

Langkah langkah kaki mereka memberikan getaran yang maha dahsyat terhadap ibu-ibu dan anak lelakinya itu. Semakin sepasang suami istri itu mendekat, mata ibu-ibu itu semakin membelalak dan memeluk anaknya erat. Bagaikan melihat air bah dengan gelombang yang begitu tinggi akan menimpanya. Nafas ibu-ibu itu tertahan dan air mata tiba-tiba mengalir dipipinya…….

“ibu….kita sepertinya kok kenal ya….” si wanita yang dipanggil ummi menyapa ibu-ibu itu.

“Buu….Bu…Budiiii…….” si ibu-ibu malah memanggil nama lelaki yang dipanggil abi dengan lirih.

Si abi terkejut….

”subhanallahh……Maa…Ma…Marina……,kamu sedang apa disini Marina……inikah Surya…..???”

Lelaki itu tidak mampu menyembunyikan keterkejutannya. Bumi seolah berputar sangat kencang dan serasa tidak ada apapun, sesiapapun disana kecuali dia dan ibu-ibu itu.

Budi baru menyadari bahwa ibu-ibu itu adalah Marina, mantan istrinya dulu. Dan anak kecil itu tentu saja adalah putranya, Surya. Budi dan istrinya benar-benar tidak percaya bahwa mereka akan bertemu Marina disini. Disebuah pasar loak di kota Jakarta. Marina yang telah lama menghilang tanpa kabar. Ingin sekali Budi menyapu air mata perempuan itu dan memeluknya erat, tapi kini dia bukan mahramnya lagi. Dia sudah bukanlah istrinya, tentu saja haram untuk menyentuhnya. Budi merengkuh putranya Surya, menciuminya dan memeluknya erat sekali hingga Surya tampak agak kesulitan bernafas. Budi seolah tidak ingin berpisah lagi dengan putranya itu walau sejengkal. Putra yang sangat dirindukannya setiap hari, bersama rasa bersalahanya. mereka mengajak Marina untuk sama-sama duduk disebuah tempat yang layak, tapi  Marina menolak. Tampak sekali aura malu dipancaran sinar matanya.

“ngak usah, terimakasih…..”

“apa yang terjadi dengan tempat kerjamu Marina” pertanyaan yang sudah ingin dilontarkan sedari tadi oleh budi.

“perusahaan tempat ku bekerja gulung tikar dua tahun setelah kita bercerai, dan aku kehilangan segalanya….”

“maafkan aku Marina…”lirih budi hampir tidak terdengar.

“tidak ada yang perlu dimaafkan Budi, aku lah yang telah melampaui batas. Niatku telah salah ketika menikah denganmu. Aku wanita yang tidak bisa memenuhi harapanmu, jilbabku tidak selebar keimananku sehingga aku tidak bisa qonaah atas rezeki yang diberikan kepadaku . Ambisi-ambisiku terhadap dunia, yang kuharapkan akan kudapatkan darimu telah membutakan mataku. Aku bersyukur telah bercerai denganmu karna sesungguhnya bukan kamu yang tidak layak untukku tapi “akulah yang tidak layak untukmu”. Kini aku akan merangkak memperbaiki diri, memohon ampun kepada Allah atas kekhilafanku dan maafkan aku budi……aku bahagia melihat kau mendapatkan istri sebagaimana yang kau harapkan. semoga kalian sakinah mawadah warahmah…..” (dari kata katanya, tampak sekali bahwa Marina memang seorang wanita yang keras dan kuat, masih tidak ada kegetiran)

Budi menghela nafas, istri yang berada disampingnya nampak tenang dan tersenyum mengelus bahu suaminya agar tetap sabar.

“aku telah memaafkanmu sedari dulu Marina, dan pabila suatu saat Allah mempertemukanmu dengan jodohmu maka ketahuilah Marina bahwa sifat qonaah (menerima apa yang ada dengan ikhlas) adalah pondasi utama yang harus dimiliki wanita shalihah. Dan jangan pernah lagi meminta untuk diceraikan oleh suamimu tanpa alasan yang syar’i. Taukah kamu Marina, bahwa Allah tidak akan pernah mengizikan seorang perempuan yang meminta diceraikan oleh suaminya tanpa alasan syar’i untuk menginjakkan kaki di syurga. Jangan kan memasukinya, menciumnya sekalipun tidak akan Allah izinkan.…tidakkah kamu takut akan hal itu Marina? semoga hidayah Allah menaungimu….dan……” Budi menggantung kalimatnya.

“dan apa Budi? kamu mau meminta Surya kan? bawalah dia bersamamu. Aku percaya bahwa istrimu ini adalah istri yang shalihah dan tidak akan menjadi ibu yang buruk bagi putraku. Bersamamu Surya akan lebih baik……”

Marina dari dulu memang cerdas, dia mampu membaca apa yang diinginkan orang lain. Kecerdasannya juga telah mengantarkannya kepada kesuksesan didunia kerja. Kecerdasan yang membuatnya begitu berani dan keras kepala. Kecerdasan yang membuatnya ingin memiliki segalanya. Kecerdasan yang membuatnya telah meremehkan mantan suaminya “Budi”.

Marina melepas Surya pergi dengan ayahnya, bersama ibu tirinya. Dari kejauhan Marina memandangi punggung mereka. Rasa iri yang begitu besar menyusup kedalam hatinya yang paling dalam. Sesal yang tiada tara. Air matanya sedari tadi meleleh bagaikan es yang mencair. Tiada henti. Bahunya naik turun menahan isak tangis. Ulu hatinya perih, mengingat betapa dia seorang perempuan “bodoh”. Tapi Marina telah mengikhlaskannya.

“ya Rabb terimakasih telah kau pertemukan anakku dengan ayahnya, jagalah ia, jagalah ayahnya beserta keluarganya dan ampuni aku, bimbing aku kembali kedekapanmu ya Rabbi…….”

Batam, 3 januari 2011
22.30

By. Hafshatuz Zikra