Juni 2017

Kamis, 29 Juni 2017

Cerita Sholat Ied Bawa Bayi



Taqobbalallahu minna wa minkum...Selamat Hari Raya Idul Fitri 1438H

Hari raya adalah hari berbahagia. Semua wajah dianjurkan ceria. Pagi hari dihari raya kita dianjurkan untuk mandi, memakai pakaian terbaik, makan, lalu berangkat menuju tempat sholat ied sembari mengucapkan takbir, tahmid, tasbih memuji keagungan Allah.

Beramai-ramai keluar dari rumah untuk melakukan sholat ied, mendengarkan khutbah, kemudian dengan gembira saling mengucapkan tahniah taqobbalallahu minna wa minkum....

Hari raya masa untuk kita bersilaturrahmi, saling mengunjungi, menghidangkan berbagai macam makanan istimewa.

Hari raya masa kita berkumpul sanak saudara. Yang jauh pulang kampung. Kalaupun tidak pulang, wajib silaturrahmi via telfon. 

Pernak pernik mudik beserta agenda mengunjungi tempat-tempat wisata ada dimasa lebaran.

Yeee lebaran kali ini alhamdulillah tidak pulang kampung. Tetap bahagia insyaallah.

Moment terindah adalah saat pertama kali hadir sholat ied bersama bayi 13 bln.

Dari awal sudah suudzon sama Habib. Melihat betapa aktifnya dia, Saya bersiap-siap untuk sekedar meramaikan aja alias tidak ikut sholat. Takut ntar Habib lari kemana-mana.

Tapi subhanallah diluar dugaan. Rupanya nyampe tempat sholat Habib anteng-anteng wae sibuk merhatiin orang-orang yang rame dan cantik-cantik hehe...

Berbekal sepotong biskuit ditangannya akhirnya Saya coba ikut sholat. Disaat rakaat kedua tiba-tiba Habib bangkit dan berjalan ke sajadah ibu-ibu disebelah. Habib mengambil tas beliau dan kebetulan tidak diresleting.

Alhasil tas berhasil diobok-obok, HP dikeluarkan dan di banting-banting (klo HP emaknya nga masalah, ini mah HP orang lai n). Sambil nyengir hingga sholat usai.

Jelas Saya tidak khusyu'. Soalnya masih ada satu rakaat lagi. Sholat sambil tarik nafas, mata kode-kode Habib. Saya agak tegang takut HP nya rusak.

Innalillah....untuk pertamakalinya begini. Habis sholat buru-buru minta maaf sama si Ibu. Alhamdulillah dimaafkan.

Belum lagi moment sebelumnya saat Habib tiba-tiba berdiri jalan pelan menuju sepotong biskuit kotor diatas tanah yang sedikit basah. Biskuit kotor itu diambil dan Saya tau akan dimakan. Sayapun reflek bergerak dan mengambil biskuit kotor yang hendak dimakan. 

Entahlah, sholat ied Saya antara ada dan tiada hehe....


Kamis, 22 Juni 2017

Rezeki Tak Terduga.


Dibanyak kesempatan, Saya menyaksikan topik yang paling banyak dibicarakan disela-sela jam luang di tempat kerja adalah tentang bagaimana memiliki inventaris (harta) seperti rumah, mobil dan motor.

Yang dibicarakan adalah tentang type apa, berapa harga, berapa DP (uang muka), jangka waktu berapa lama, persentase bunga berapa, cicilan perbulan berapa. 

Sementara saya hanya menjadi tukang kuping di sudut ruangan yang sepi dikeramaian (halah).

Memang pembelian inventaris sejenis rumah, mobil & motor sebagian besar rakyat indonesia baru bisa mendapatkannya dengan cara kredit melalui fasilitas bank-bank yang ada. 

Pun yang mampu memiliki secara cash tetap memilih menggunakan fasilitas kredit dan uangnya dipakai untuk urusan yang lain.

Lalu apa menariknya membicarakan kredit? Lha memangnya siapa yang mau ngomongin transaksi kredit hehe....

Saya memang tidak akan membicarakan tentang transaksi kredit via fasilitas bank, apalagi tatacara plus keuntungannya (karna setau saya cuma ada ruginya hihi).

Atau membicarakan soal kredit berbunga yang menurut syariat islam adalah riba juga nga bakalan saya bahas detail karna bukan kapasitas Saya (meski saya meyakini hal ini).

Tetapi ditulisan ini Saya cuma mau berbagi pengalaman hidup, tapi sayang pendahuluannya kepanjangan. Maklum belum lihai nulis hehe.

Sejak menikah, saya dan suami punya misi untuk membangun rumah tangga tanpa riba (doakan yah misi ini lancar jaya hingga maut menjemput kami berdua). Mau beli apa saja diusahakan cash (sesuatu yang jelas akan berat sekali).

Mungkin akan ada suatu saat via kredit tapi tanpa bunga (kredit berbunga menurut syariat islam adalah riba). Murni transaksi kredit, harga sekian akan dicicil sekian kali. Nga ada denda jika terlambat bayar cicilan dan aturan lainnya yang tidak melanggar syariat.

Ada nga ya? Insyaallah nanti bakalan ada. Optimis.

Lalu? lalu ya gitu deh. Selama menikah mungkin akan menjadi kontraktor sejati hihi (meski slip gaji klo dikasih ke bank kayaknya bakalan lolos ambil rumah kredit).

Ya namanya juga pilihan, meski orang ngeliatnya pahit nga papa asal Allah suka dan yang penting kita yang menjalaninya happy.

Atau motor klo belum ada ya disewa. Atau lain-lain selagi bisa pinjem, pinjem aja dulu. Intinya mah siap sedia hidup apa adanya. No gengsi.

Ternyata masyaAllah indahnya hidup tanpa hutang (baru ngerasain). Klo telat gajian cuma perlu mikirin gimana cara beli susu anak. 

Nga perlu pusing mikirin cicilan ini itu yang telat bayar bakalan kena denda. Gaji dengan angka sekian itu Alhamdulillah berasa banyak. Jika ada sisa, semangat untuk ditabung.

Ntar giliran yang lain bicara renovasi rumah, kita mah tetap menjadi pendengar setia hehe.

Inilah pilihan. Pilihan karena sebuah keyakinan berharap barokah dan keridhoan Allah SWT dalam hidup yang sementara dan fana ini.

Belajar untuk bertaqwa (masih dan akan selalu belajar). Mencoba untuk qona'ah. Mensyukuri apa yang ada yang penting Allah ridho.

Dan janji Allah akan selamanya benar. Bahwa Allah akan berikan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka bagi hambanya yang bertaqwa. Yang dengan senang hati menjalankan perintahNya dan dengan sabar meninggalkan larangannya. 

Silahkan untuk lebih detail bisa baca artikel berikut https://almanhaj.or.id/990-t-a-q-w-a.html


Yakinlah, kemudahan demi kemudahan benar-benar Allah berikan jika taqwa memang menjadi pilihan. Dan yang pasti dada terasa lapang (pokoknya lebih lapang dari lapangan bola hehe). 

Hidup tenang. Dan saat Allah memberikan kita rezeki yang tidak disangka-sangka itu, rasa syukurnya luar biasa. Dahsyat.

Bahagia sekali ketika mendapati ada teman memilih jalan yang sama. Sebagian sudah terlanjur basah dan berniat untuk segera melunasi hutang-hutangnya (bahkan ada yang sudah melunasinya).

Saya yakin itu semua pasti sabgat berat,bukan sesuatu yang mudah. Tapi jika semua karena Allah maka akan ringan. Kemudahan itu pasti Allah datangkan bersama kesungguhan. 

Dan terakhir, semoga tulisan curhat-curhatan ini bermanfaat. Hidup adalah pilihan. Selamat memilih.








Jumat, 16 Juni 2017

Bayi sang Kaset Kosong


Sejak Habib genap satu tahun 21 Mei yang lalu, Saya agak sering tercenung. Amanah Allah yang luar biasa ini adalah kaset kosong yang harus kami (orang tuanya) isi.

Mengisi dan kelak akan mempertanggungjawabkan setiap isi yang kami berikan dihadapan Allah Sang empunya titipan.

Ya, Habib adalah kaset kosong. Sekali tergores langsung direkam. Dengan sangat cepat tanpa filter sama sekali. Ya, tanpa filter.

Ada banyak anak diluar sana yang membuat orang terkagum-kagum dengan talent yang diperlihatkannya. Kadang diyoutube kita temukan masih balita sudah lihai dancer atau melakuan kecerdasan lainnya.

Dan ada juga yg masih dibawah 5 thn sudah punya banyak hafalan Al-quran.

Bayi ataupun balita adalah kaset kosong yang sangat mudah merekam. Sekali diajarkan langsung lengket. Bahkan yang tidak sengaja kita ajarkanpun bisa langsung direkam (kebiasaan kita sehari-hari misalnya).

Apalagi sesuatu yang diberikan itu dilatih terus menerus secara berulang. Tidak tertutup kemungkinan lihai. Lihai mengahafal al-quran, lihai bernyanyi, lihai menari dan lain sebagainya.


Nah, inilah yang membuat Saya tercenung. Apa saja yang sudah kami goreskan di memori Habib satu tahun belakangan. Adakah yang baik-baik. Bisakah kelak kami pertanggungjawabkan dihadapan Allah Sang Pemilik?.

"Habib sudah sholat?" saya coba memancing. Ternyata responnya luar biasa, Habib menunjuk sajadah, kode minta diambilkan. 

Lalu saya bantu bentangkan dan perlahan dengan jalan yang masih belum kokoh Habib berdiri diatas sajadah kemudian Habib melakukan gerakan naik turun (jongkok lalu berdiri) sambil tertawa. Masyaallah.

Untuk pertamakalinya Habib menyaksikan Saya menggosok gigi. Tanpa disangka besoknya saat Saya mandikan, Habib melihat sikat gigi dan memintanya. Lalu saya berikan dan masyaallah langsung dibawa kemulut. Beliau gosok gigi rupanya. Padahal sengaja belum saya ajarkan mengingat giginya masih dua biji.

Dan banyak lagi hal lain yang kadang memang tidak Saya ajarkan dengan sengaja tapi Habib langsung meniru. 

Saya menjadi takut, takut tidak memperlihatkan hal-hal yang baik dihadapannya. Dan Saya semakin sadar bahwa mulai detik ini juga Saya harus selalu berhati-hati dalam bersikap dihadapannya. Saya harus selalu sadar bahwa Habib sedang merekam segalanya.

Rabu, 14 Juni 2017

Lebaran & Kue


Ooww lebaran sebentar lagi. Ini waktu tersibuknya emak-emak. Mulai dari persiapan baju lebaran satu keluarga, aksesoris rumah (terutama ruang tamu), menu utama lebaran dan kue-kue cemilan yang akan menghiasi meja-meja tamu mereka.


Kali ini pengen curhat soal makanan & kue lebaran. Saat masih single mah cuek aja soal kue lebaran. Tiba-tiba udah ada aja karna Ibuk yang nyiapin 😀.

Kue lebarannya dimasak sendiri, jarang ada yang dibeli jadi. 

Nah, dua tahun terakhir persisnya sejak berumah tangga Saya harus sibuk mengurus yang satu ini, mau nga mau.

Memutuskan apa menu utama saat lebaran. Saya harus memikirkan toples mau diisi kue apa?.

Disaat seperti ini saya merasa sangat menyesal dan kesal sama diri sendiri. Kenapa Saya tidak bisa memasak?. Apalagi dalam hal memasak kue.

Dua tahun menikah Saya masih belum PeDe dengan masakan sendiri. Kata suami rasanya berubah-ubah (emang power ranger) hihi....

Jadi, dengan sangat terpaksa semua harus saya beli jadi hikss. Menu yang disuguhin yang praktis aja.

Disaat kondisi seperti ini biaya lebaran berasa mahal (untung ada THR 😆). Klo mau kue dengan rasa yang memuaskan harus siap merogoh kantong lebih banyak. Harganya aduhai (terpaksa beli serba sedikit hihi).

Alangkah lebih hemat kalau bisa masak kue lebaran sendiri. Meski agak sibuk tapi disitu sensasi lebarannya.

Disaat emak-emak sibuk memasak kue, satu keluarga merasakan aura lebaran. Dan dari segi rasa biasanya juga lebih enak karna bahan pasti dipilih yang terbaik soalnya untuk konsumsi pribadi (tidak jarang kue yang dibeli kurang cocok dilidah).

So, bagi perempuan punya keahlian itu penting (terutama keahlian tetek bengek rumah tangga). Inilah PeEr besar saya 😊