Cerpen "TERLERAI"

Selasa, 18 Agustus 2015

Cerpen "TERLERAI"




Minggu, 23.15 WIB

Huffff….

Kutarik nafas ini dalam. Perlahan matapun terpejam. Ini hari ke tiga Aku melumat keindahan jogja, badan ringkihku ini rebah tenggelam bersama seluruh asa yang sudah terurai. Biarlah kenangan jogja menelan semua tentangmu. Pesona Malioboro, Borobudur, Prambanan, Ratu Boko, Parangtritis ahhh……keindahan alam jualah yang membuat bayangmu mengabur. Ya beginilah caraku untuk melupakan semua. Traveling.

***

“ Dinda, apakabar? Mas ingin memberimu kabar gembira….”

Ah kenapa kau memanggilku Dinda? Namaku Adriana Syamsudin. Orang-orang memanggilku Diana. Bukan Dinda. Tapi sudahlah, bagiku panggilan Dinda hanyalah romantisme yang salah tempat.

Ya, tentu masih segar di ingatanku smsmu beberapa waktu yang lalu. Kau bilang kau akan menikah. Aku tersenyum. Turut berbahagia. Barakallah. Akhirnya kau temukan wanita yang paling layak mendampingimu. Aku sejenak hanya bisa memejamkan mata, menggigit bibir. Entah kenapa ada yang terluka. Aku cemburu, kenapa bukan kita?. Beberapa detik setelah membaca smsmu, kuputuskan besoknya untuk ke Jogja. Aku merasa butuh traveling. Setidaknya untuk sekedar lupa tanggal pernikahanmu. Meski mungkin hanya sesaat.

***

Aku masih ingat sekitar tiga bulan yang lalu, saat Mba Retno beserta suaminya datang kerumah. Memintaku untuk bersedia bertemu denganmu malam itu juga di rumahnya. Aku sedikit bergetar, jujur grogi menjalari seluruh tubuhku. Memang terkesan buru-buru. Baru dua hari sebelumnya kita saling bertukar biodata dan kau meminta segera bertemu. Mungkin kau tidak tau ini adalah taarufku yang kedua, diusiaku yang sudah tidak muda lagi. Menjelang empat puluh tahun. Ya, sebentar lagi usiaku kepala empat dan aku masih belum menikah. Oleh karena itu seluruh harapanku tertuang kepadamu.

Takut, cemas, bahagia, berharap, entahlah bermacam perasaan bercampur aduk. Setelah pertemuan itu satu malam suntuk aku tidak bisa tidur. Mataku tidak mau terpejam. Wajahmu terbayang-bayang. Aku bahagia. Kenapa kau terlihat begitu bersahaja. Aku terpesona. Dan berharap kau lah pujangga itu. Namun apa kau tau sesungguhnya Aku cemas? Apa kau tau Aku takut??

***
Sejak kita bertemu malam itulah kau memanggilku Dinda. Ada sebuah rasa menjalari tubuhku. Tapi jujur Aku merasa tidak pantas. Namun Aku tidak berani untuk protes, takut kau akan tersinggung. Dinda terlalu romantis untuk hubungan kita yang belum seberapa itu. Kita masih sedang bertaaruf. Tapi kau terlalu berani menanyakan kabarku, menyapaku. Aku tau ini salah dan tidak pada tempatnya. Dan Aku ternyata lemah untuk sekedar mengingatkanmu. Menikmati dalam ketidaknyamanan, itulah pilihan yang akhirnya kujalani. Dan panggilan Dinda membuat hari-hariku sedikit tidak beres. Bayangan wajahmu hadir dimanapun dan kapanku. Kau benar-benar menggangguku.

Tidak berapa lama setelah itu Aku ingat bahwa ada sesuatu yang harus kau tau tentang Aku. Malam itu kita terlalu asik membahas segalanya, sampai Aku lupa menyampaikan tentang hal ini. Hal yang membuatku takut dan cemas. Kau harus tau. Agar tidak ada yang nantinya merasa dirugikan bila memang kita ditakdirkan bersatu.

“Assalamualaikum Mba Retno. Ada yang ingin saya sampaikan tentang diri saya. Sebelum proses kami dilanjutkan saya harap Mba menyampaikan hal ini ke Mas Raden…..”

Seluruh kecemasanku telah kujelaskan kepada Mba Retno. Tentang kondisi jasmaniku. Sangat penting untuk kau ketahui. Sesuatu yang membuatku khawatir. Aku takut hal ini membuat taaruf kedua ini gagal lagi. Seperti waktu itu, saat Aku berumur 25 tahun. Taarufku gagal karena hal ini. Tapi Aku berharap kau mau menerimaku apa adanya. Toh kondisi itu sudah membaik. Tidak ada yang perlu ditakutkan lagi. Aku lega sudah menyampaikan semua ke Mba Retno. Tapi aku deg-degan. Apakah kau masih akan memanggilku Dinda setelah semua ini kau ketahui. Apakah kita akan bersanding di pelaminan? Ku harap ya….

***

Hampir 15 hari sejak Mba Retno memberitahumu tentang kondisi itu. Kau tidak ada kabar. Dulu kau cukup sering menyapaku. Sudah tidak ada lagi sapaan Dinda beberapa hari terakhir. Aku harus berlapang dada. Ya setidaknya untuk melepaskanmu. Akhirnya kuberanikan menyapamu. Dan Aku terkejut. Kau tidak lagi memanggilku Dinda. Tapi Mba. Aku tidak mau munafik bahwa itu adalah kode. 

Aku tau Aku harus bersiap-siap untuk gagal lagi. Bagaimana mungkin Aku membujuk dan meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja. Meskipun secara medis Aku sudah dinyatakan sehat sejak dua tahun yang lalu. Tentu kamu adalah pria normal seperti kebanyakan lelaki dimuka bumi ini. Siapa sih yang tidak takut menikah dengan perempuan tiga puluh tahunan dengan riwayat kista?? Hanya lelaki hebat. Dan ternyata lelaki hebat itu bukan kamu. Aku terlanjur suka dan harus ikhlas kehilangan. Harapanku terurai ketanah melebur bersama tanah tandus lainnya, menjadi sari pati untuk kesuburan tumbuhan.

***

Semua berakhir. The End.

Kau memilih mundur dan tidak mau menanggung resiko. Terlalu berani menikah denganku. Umur dan riwayat penyakit memberi peluang besar untukku tidak memiliki keturunan. Ahh meskipun optimisme selalu ada didalam jiwaku. Kun Fayakun. Tapi bagaimana mungkin Aku memaksamu untuk optimis juga? Untuk percaya Kun Fayakun juga???.

Dan sms undangan pernikahanmu adalah akhir dari kisah kita. Aku sedih dan kehilangan. Tetapi Aku bahagia dan senang. Kau tidak memutuskan komunikasi kita dan yang paling menggemaskan adalah disms itu kau panggil Aku Dinda. Apa harus ku katakan kepadamu “jangan”??

Aku takut tidak bisa menghibur diri dan melupakan benih-benih harapan yang sempat tumbuh dihatiku. Jangan panggil lagi Aku Dinda. Panggil saja Mba Diana. Itulah sapaan yang paling pantas. Toh Aku memang lebih tua darimu. Jogja dengan segala keindahannya telah meleraikan seluruh asa dan ingatanku tentangmu. Beginilah caraku untuk move on. Jangan protes. Sekali lagi Barakallah….

Batam, 19 Agustus 2015
Maiyade Laila Yane



0 komentar :

Posting Komentar