Cerpen "TERLERAI"
Minggu, 23.15 WIB
Huffff….
Kutarik nafas ini
dalam. Perlahan matapun terpejam. Ini hari ke tiga Aku melumat keindahan jogja,
badan ringkihku ini rebah tenggelam bersama seluruh asa yang sudah terurai.
Biarlah kenangan jogja menelan semua tentangmu. Pesona Malioboro, Borobudur,
Prambanan, Ratu Boko, Parangtritis ahhh……keindahan alam jualah yang membuat bayangmu mengabur. Ya beginilah caraku untuk melupakan semua. Traveling.
***
“ Dinda, apakabar? Mas
ingin memberimu kabar gembira….”
Ah kenapa kau
memanggilku Dinda? Namaku Adriana Syamsudin. Orang-orang memanggilku Diana.
Bukan Dinda. Tapi sudahlah, bagiku panggilan Dinda hanyalah romantisme yang
salah tempat.
Ya, tentu masih segar
di ingatanku smsmu beberapa waktu yang lalu. Kau bilang kau akan menikah. Aku
tersenyum. Turut berbahagia. Barakallah. Akhirnya kau temukan wanita yang
paling layak mendampingimu. Aku sejenak hanya bisa memejamkan mata, menggigit
bibir. Entah kenapa ada yang terluka. Aku cemburu, kenapa bukan kita?. Beberapa
detik setelah membaca smsmu, kuputuskan besoknya untuk ke Jogja. Aku merasa
butuh traveling. Setidaknya untuk sekedar lupa tanggal pernikahanmu. Meski
mungkin hanya sesaat.
***
Aku masih ingat
sekitar tiga bulan yang lalu, saat Mba Retno beserta suaminya datang kerumah.
Memintaku untuk bersedia bertemu denganmu malam itu juga di rumahnya. Aku
sedikit bergetar, jujur grogi menjalari seluruh tubuhku. Memang terkesan
buru-buru. Baru dua hari sebelumnya kita saling bertukar biodata dan kau
meminta segera bertemu. Mungkin kau tidak tau ini adalah taarufku yang kedua,
diusiaku yang sudah tidak muda lagi. Menjelang empat puluh tahun. Ya, sebentar
lagi usiaku kepala empat dan aku masih belum menikah. Oleh karena itu seluruh
harapanku tertuang kepadamu.
Takut, cemas, bahagia,
berharap, entahlah bermacam perasaan bercampur aduk. Setelah pertemuan itu satu
malam suntuk aku tidak bisa tidur. Mataku tidak mau terpejam. Wajahmu
terbayang-bayang. Aku bahagia. Kenapa kau terlihat begitu bersahaja. Aku
terpesona. Dan berharap kau lah pujangga itu. Namun apa kau tau sesungguhnya
Aku cemas? Apa kau tau Aku takut??
***
Sejak kita bertemu
malam itulah kau memanggilku Dinda. Ada sebuah rasa menjalari tubuhku. Tapi
jujur Aku merasa tidak pantas. Namun Aku tidak berani untuk protes, takut kau
akan tersinggung. Dinda terlalu romantis untuk hubungan kita yang belum
seberapa itu. Kita masih sedang bertaaruf. Tapi kau terlalu berani menanyakan
kabarku, menyapaku. Aku tau ini salah dan tidak pada tempatnya. Dan Aku
ternyata lemah untuk sekedar mengingatkanmu. Menikmati dalam ketidaknyamanan,
itulah pilihan yang akhirnya kujalani. Dan panggilan Dinda membuat hari-hariku
sedikit tidak beres. Bayangan wajahmu hadir dimanapun dan kapanku. Kau
benar-benar menggangguku.
Tidak berapa lama
setelah itu Aku ingat bahwa ada sesuatu yang harus kau tau tentang Aku. Malam
itu kita terlalu asik membahas segalanya, sampai Aku lupa menyampaikan tentang
hal ini. Hal yang membuatku takut dan cemas. Kau harus tau. Agar tidak ada yang
nantinya merasa dirugikan bila memang kita ditakdirkan bersatu.
“Assalamualaikum Mba
Retno. Ada yang ingin saya sampaikan tentang diri saya. Sebelum proses kami
dilanjutkan saya harap Mba menyampaikan hal ini ke Mas Raden…..”
Seluruh kecemasanku
telah kujelaskan kepada Mba Retno. Tentang kondisi jasmaniku. Sangat penting
untuk kau ketahui. Sesuatu yang membuatku khawatir. Aku takut hal ini membuat
taaruf kedua ini gagal lagi. Seperti waktu itu, saat Aku berumur 25 tahun.
Taarufku gagal karena hal ini. Tapi Aku berharap kau mau menerimaku apa adanya.
Toh kondisi itu sudah membaik. Tidak ada yang perlu ditakutkan lagi. Aku lega
sudah menyampaikan semua ke Mba Retno. Tapi aku deg-degan. Apakah kau masih
akan memanggilku Dinda setelah semua ini kau ketahui. Apakah kita akan
bersanding di pelaminan? Ku harap ya….
***
Hampir 15 hari sejak
Mba Retno memberitahumu tentang kondisi itu. Kau tidak ada kabar. Dulu kau
cukup sering menyapaku. Sudah tidak ada lagi sapaan Dinda beberapa hari
terakhir. Aku harus berlapang dada. Ya setidaknya untuk melepaskanmu. Akhirnya
kuberanikan menyapamu. Dan Aku terkejut. Kau tidak lagi memanggilku Dinda. Tapi
Mba. Aku tidak mau munafik bahwa itu adalah kode.
Aku tau Aku harus
bersiap-siap untuk gagal lagi. Bagaimana mungkin Aku membujuk dan meyakinkan
bahwa semua akan baik-baik saja. Meskipun secara medis Aku sudah dinyatakan sehat sejak dua tahun yang lalu. Tentu kamu adalah pria normal seperti
kebanyakan lelaki dimuka bumi ini. Siapa sih yang tidak takut menikah dengan
perempuan tiga puluh tahunan dengan riwayat kista?? Hanya lelaki hebat. Dan
ternyata lelaki hebat itu bukan kamu. Aku terlanjur suka dan harus ikhlas kehilangan.
Harapanku terurai ketanah melebur bersama tanah tandus lainnya, menjadi sari
pati untuk kesuburan tumbuhan.
***
Semua berakhir. The
End.
Kau memilih mundur dan
tidak mau menanggung resiko. Terlalu berani menikah denganku. Umur dan riwayat
penyakit memberi peluang besar untukku tidak memiliki keturunan. Ahh meskipun
optimisme selalu ada didalam jiwaku. Kun Fayakun. Tapi bagaimana mungkin Aku memaksamu untuk
optimis juga? Untuk percaya Kun Fayakun juga???.
Dan sms undangan
pernikahanmu adalah akhir dari kisah kita. Aku sedih dan kehilangan. Tetapi Aku
bahagia dan senang. Kau tidak memutuskan komunikasi kita dan yang paling
menggemaskan adalah disms itu kau panggil Aku Dinda. Apa harus ku katakan
kepadamu “jangan”??
Aku takut tidak bisa
menghibur diri dan melupakan benih-benih harapan yang sempat tumbuh dihatiku. Jangan panggil lagi Aku Dinda.
Panggil saja Mba Diana. Itulah sapaan yang paling pantas. Toh Aku memang lebih tua
darimu. Jogja dengan segala keindahannya telah meleraikan seluruh asa dan
ingatanku tentangmu. Beginilah caraku untuk move on. Jangan protes. Sekali lagi
Barakallah….
Batam, 19 Agustus 2015
Maiyade Laila Yane

0 komentar :
Posting Komentar