Cerpen "Ada Jingga Dimataku"
Seperti biasanya, siang ini aku
bertemu lagi dengan Gadis Kecil penjual ikan itu. Dia selalu melewati halaman
rumahku setiap mau pergi maupun pulang sekolah. Gadis Kecil yang menarik. Dia
masih kelas tiga SD. Sering kudengar bisik tetangga bahwa Gadis Kecil ini
pintar disekolah serta baik perilakunya.
Wajahnya manis, kulitnya gelap
dan paling mungil diantara teman-temannya, gadis kecil yang periang. Lewat didepan
rumahku dengan seragam merah putih, sepatu ditenteng. Rambutnya agak panjang
dikuncir dua, kuncir yang semberaut. Kualihkan pandangan ke kakinya, terlihat
kotor penuh debu.
Beginilah Sekolah Dasar di
kampungku, sejak dulu murid tidak diizinkan memakai sepatu didalam kelas.
Alhasil sepatu cuma dipakai saat berangkat sekolah, setelah masuk kelas hingga
pulang kerumah sebagian besar anak tidak lagi memakai sepatunya. Jangan heran
kalau akhirnya sepatu mereka tahan lama.
***
“Huuuu…huu..hu..uhh……,hiks…,hiks……..”
“Astaghfirullah……….” Aku
tersentak. Nafasku tersenggal. Air mata mengalir dipipiku. Untuk kesekian
kalinya memori masa kecilku hadir dalam tidurku. Seperti malam ini, dalam mimpi
aku terisak menangis hingga akhirnya terbangun. Mimpi itu sangat dekat, aku
teramat merasakannya.
Dalam mimpiku malam ini Aku
menangis sambil berlari kencang. Ayah mengejarku seperti mengejar maling. Kaki
mungilku berlari dengan lincah menelusuri pematang sawah, sore menjelang malam.
Dalam suasana yang hampir gelap seutuhnya dan penuh dengan rasa takut aku
berurai air mata. Takut pulang dan tak ingin sama sekali pulang.
Dingin, takut,
sedih dan entah perasaan apa lagi yang kurasa. Hingga akhirnya paman
menemukanku masih terisak dibawah pohon kopi di tepian sawah tidak jauh dari
rumah. Aku benci Ayah.
Mimpi ini membuatku terpaksa mengingat
kembali kisah silam itu.
***
“Dasar anak tak tau diri.
Memalukan!!! Benar-benar memalukan…!!!” aku mengintip dari balik tirai jendela
rumah.
Dadaku naik turun. Entah sudah
berapa kali gadis kecil yang baik hati itu kulihat diperlakukan tidak baik oleh
Ayahnya. Awalnya dia dikejar-kejar hingga Ayahnya mendapatkannya. Setelah itu
si Ayah mengambil rotan yang memang sengaja disimpan untuk memukul anaknya itu
bila melakukan kesalahan. Berkali kali rotan itu dilecutkan ke kaki Si Gadis
Kecil. Dia meraung kesakitan, terisak-isak sambil memohon kepada Ayahnya agar
tidak dilecut lagi.
“Ampun Yaaah……, ampun Yaaahh. Tak
kan ulangi lagi Yaaah……janji Yaaahh….Maaf Yaah…..”
Tetapi si Ayah keasyikan
memukulinya hingga Si Gadis Kecil tidak mampu lagi mengeluarkan suara dalam
tangisnya. Tidak ada yang membela anak itu.
Hatiku pilu. Dadaku naik turun. Ada sesuatu yang kurasakan. Perasaan
berkecamuk. Pasti nanti malam aku akan bermimpi lagi. Ingin sekali aku berlari keluar
rumah, manarik tangan anak itu dari cengkraman Ayahnya dan membawanya lari
kedalam rumahku. Karena Aku merasakannya…….sangat…..
***
Keesokan harinya dan dua hari
berikutnya tak kulihat lagi Si Gadis Kecil. Andai dia lewat Aku ingin bertanya
ada apa sehingga kemaren itu dipukuli?
Akhirnya kuputuskan main
kerumahnya. Didalam rumah yang lebih cocok disebut gubuk itu kudapati hanya ada
Gadis Kecil itu. Ayah da Ibunya tidak dirumah.
“Apa kabar dek….?” Tanyaku sambil
tersenyum. Gadis Kecil itu hanya membalas dengan senyuman. Dia berbaring diatas
gulungan kasur yang sudah sangat tipis berselimutkan kain lusuh. Sesuai
dugaanku dia sakit. Aku mengelus kepala anak itu hiba. Ku singkap selumut yang
menutupi kakinya.Ada garis-garis biru bekas rotan.
“Aduh sakit kak jangan
disentuh……” katanya pada saat aku meraba kakinya.
“Oh maaf sayang….” Kulihat dia
meringis tanda kesakitan.
Hari itu kuluangkan waktu untuk
menghiburnya. Sambil berbincang-bincang. Ternyata beberapa hari yang lalu itu
dia telah membelanjakan uang temannya. Mereka berniat menabung bersama dan Si
Gadis Kecil dipercaya menyimpan uang itu.
Tiba-tiba ada perintah dari guru di
sekolah agar membeli satu buah buku tulis, pensil, penggaris, penggarut dan
penghapus. Si Gadis Kecil telah meminta uang kepada Ibu dan Ayahnya, tetapi
mereka tidak punya uang. Kemudian timbullah niat untuk meminjam uang tabungan
itu, bukan mengambil. Suatu saat akan diganti.
Malangnya orang tua temannya
mengetahui tabungan itu dan melarang anaknya ikut, serta meminta agar uangnya
dikembalikan. Karna tidak bisa mengganti, orang tua teman Si Gadis Kecil memaki-makinya
dan juga Ayah Ibunya. Makanya Ayahnya naik pitam karena malu, tanpa mau tau
kenapa anaknya melakukan hal itu. Langsung dihukum tanpa diadili, disebabkan
uang yang tidak seberapa nominalnya itu ia tega memukuli anaknya.
Setelah lama bercerita, tiba-tiba
dia bangkit dari tidurnya dan memelukku. Mengangis tersedu, tubuhnya
terguncang. Kurasakan ada resonansi didalam jiwa kami. Entah kenapa aku sangat
sedih. Hidup dalam himpitan ekonomi, diabaikan orang yang disayang dan sering
mendapat perlakuan kasar dari orang tua. Jelas jiwanya tertekan. Ingin sekali
menjadi kakak asuhnya dan hidup bersamaku. Dia yang sekarang adalah potret aku
dimasa laluku.
“Ada Jingga dimata kakak…….” Bisikku
pelan. Kusadari ternyata Aku menyayangi Gadis Kecil yang bernama Jingga ini.
***
“Ibu…., bunuh saja Vina….., bunuh
saja Vina…., bunuuuuhhhhh….” Kalimat itu ku ucapkan berulang.
Peristiwa itu saat usiaku
sembilan tahunan. Aku diseret keluar dari rumah Nenek menuju rumahku yang
berjarak sekitar 20 meter. Aku ngambek tidak mau sahur, sebagai bentuk protesku
karna sejak punya adik baru aku kehilangan kasih sayang dan perhatian.
Penampilanku seperti anak tak terawat, acak acakan ke sekolah. Rangkingku turun
drastis. Ibu tidak begitu mempedulikanku lagi. Perhatiannya tercurah kepada
bayi laki-lakinya yang baru. Aku merasa seperti anak tiri. Aku cemburu, aku
muak. Begitu juga Ayah, dia sangat pemarah. Kesalahan kecil dihukum dengan
hukuman yang berat. Sampai aku tidak mengerti beda antara benci dan cinta.
Ahh Jingga kenapa kau mengalami
yang seperti ini juga, ikut menjadi anak malang sepertiku. Tapi kelak setelah
kau dewasa maafkanlah Ayahmu walaupun itu agak sedikit sulit. Ikhlas dan ikhlaskanlah…….
Seperti aku yang telah memaafkan
dan mengikhlaskan Ayah Ibuku.
***
Batam, 19 Agus 2014

0 komentar :
Posting Komentar