Karakter Ibu Baru. PANIKAN!

Rabu, 05 April 2017

Karakter Ibu Baru. PANIKAN!


Pengalaman lucu, agak memalukan tapi tanpa penyesalan hihi....

Si kecil, Habib baru saja demam panas. Panasnya turun naik berkisar di angka 38 derjat celcius sampai 40,5 derjat celcius. Ini demamnya yang ketiga kali sejak lahir hingga berusia 10 bulan. Demam terlama, hingga hari ke empat baru agak baikan. Sebagai Ibu baru jelas saya panik dan khawatir. Meski ada neneknya yang biasa membantu menjaga Habib disaat saya berangkat kerja, saya memutuskan untuk mendampingi masa-masa sakitnya Habib. Setia dan memilih untuk cuti selama Habib demam. Lumayan butuh tenaga ekstra mengingat Habib yang selalu ingin digendong. Bahkan tidurpun digendong.

Singkat cerita Habib dihari kelima mulai membaik. Tetapi saya agak khawatir berhubung seluruh tubuh Habib tiba-tiba muncul bintik-bintik halus berwarna merah. Dibagian badan dan wajah. Banyak. 

Berhubung ilmu terbatas saya menjadi khawatir, jangan-jangan ini campak (pada hal suhu tubuhnya sudah mulai normal). Mengingat Habib tidak divaksin satu kalipun. Saya tidak mengungkapkan kekhawatiran saya kepada suami dan neneknya Habib. 

Hingga esok malamnya saat kami tertidur pulas (tepatnya jam 11 malam) tiba-tiba Habib berteriak dan menangis kencang. Saya terkejut (syock) dan langsung menggendong Habib. Tubuhnya agak tegang (bukan kejang) dan Habib terus menangis kencang dengan mata yang masih tertutup. Awalnya saya mencoba santai. Menggendong sambil berjalan diseluruh ruangan rumah. Dari kamar hingga keruang tamu. Habib terus menangis kencang. Saya mulai panik. Melihat saya panik suamipun mulai panik. Nenek Habib yang masih agak tenang.

Nenek Habib mengambil kain kemudian membasahinya dan mengusapkan ke wajah Habib. Habib masih saja menangis kencang dan belum membuka mata. 

"Kayaknya Habib mimpi....." Kata nenek dengan santai.

Aku mulai menangis. Jangan-jangan ini campak. Aku ngotot minta Habib dibawa ke RS, nga mau tau apakah dia sakit atau tidak. Aku melihat bintik-bintik ditubuhnya bertambah merah. Setelah dicek oleh dokter baru saya akan merasa tenang.

Suamipun mengiyakan. Nenek tidak bisa menolak meski ragu untuk dibawa ke RS.

Kami membangunkan tetangga yang memiliki mobil minta tolong untuk diantar ke RS terdekat yang jaraknya tidak begitu jauh dari rumah. Tetangga yang lain ikut bertanya-tanya kami mo kemana?.

Dalam perjalanan ke RS Habib sudah tenang, sudah mau minum susu. Bahkan terlihat sehat-sehat saja dan malah tertarik melihat-lihat ke jendela mobil. Nenek Habib senyum-senyum.

Sesampai di RS kami langsung ke UGD. Suhu tubuh Habib dicek. Normal. Kemudian dokter memeriksa denyut jantung. Saya dengan antusias menceritakan semua kronologis mulai dari demam panas, bintik-bintik merah hingga kejadian malam ini.

Pak dokternya (dokter muda keturunan cina, mirip aktor korea wkwk) tersenyum dan menjelaskan dengan tenang bahwa Habib sehat. Habib bukan campak. Bintik-bintik merah hanyalah efek virus yang menyebabkan Habib demam panas. Tinggal dikasih bedak akan hilang sendiri. Dokter bertanya tentang vaksin. Dengan malu-malu saya menjawab Habib tidak pernah divaksin.

Kesimpulannya anak yang terkena campak suhu badannya terus naik dan pada saat bintik-bintik merah muncul ditubuhnya, suhu badan anak tinggi. Kata dokter anak yang terkena campak akan memerah di belakang telinganya. 

Saya lega, tenang.

Akhirnya kami cuma jalan-jalan ke RS ketemuan sama dokter muda cakep jam 11 malam. Malu sih sama tetangga, kesannya terlalu buru-buru untuk membawa anak ke rumah sakit. Ahh....EGP ajalah...namanya juga orang tua baru. Pasang muka tembok ^___^


0 komentar :

Posting Komentar