Cerpen "Aku Ingin Emak Masuk Syurga"
Kulihat emak terisak ditepi ranjang di kamarnya, Aku tak tahu apa gerangan yang membuatnya menangis sore ini. Kubiarkan dan Aku berlalu masuk ke kamarku, tentunya sambil berpikir "apa yang terjadi dengan emak?".
"Kan sudah kusuruh bertahun-tahun yang lalu, tapi kau tak pernah mau mendengarkan...!!! Lalu sekarang kemana akan kucari uang sebanyak itu......"
Sambil duduk dan meremas-remas kepalanya, kulihat Ayah sangat marah malam itu. Dibawah pencahayaan remang ruang tamu rumah kami, wajahnya terlihat menakutkan. Emosinya memuncak. Wajahnya memerah padam. Aku tergugu dibalik pintu kamarku, tak sadar telah kugigit jemariku.
***
Emak terisak lagi, badannya yang kian hari semakin kurus begitu menyedihkan. Aku semakin bingung, entah apa yang sedang terjadi beberapa hari belakangan. Emak dan Bapak nampak sedih.
Dengan langkah yang diseret kudekati mereka. Pandanganku penuh tanda tanya. Semakin mendekati Emak, semakin kuat aura sedih menelusuk jauh kerelung hatiku. Buliran air mata satu persatu jatuh membasahi pipi. Aku menangis.
"Maaakkk.......napa?"
"Ratri sayang Emak kan?"
Aku gadis kecil 14 tahun, namaku Ratri Kesuma. Aku sudah tak bersekolah. Entah kenapa semua orang sulit berbicara padaku, mungkin karna kata-kata yang keluar dari mulutku selalu terbata-bata. Sejak kecil Aku mengalami hambatan dalam berkomunikasi. Aku tidak bisu tapi perkataanku sulit dimengerti oleh orang lain. Hanya Emak dan Bapak yang tau apa yang Aku katakan.
***
Hari ini tante Murni datang kerumah. Dia membawakan martabak manis kesukaan Emak. Tante Murni datang dengan suaminya dan kedua anaknya. Dia adalah satu-satunya saudara Emak. Orang tua mereka sudah lama meninggal.
"Ratri...kesini nak...duduk sini dekat tante..."
"Ratri....doakan Ibu ya nak. Semoga sehat dan masuk syurga......."
"Mang Mak napa nte?" Sulit sekali menyampaikan apa yang ingin kutanyakan. Pada hal begitu banyak pertanyaan dibenakku. Aku heran melihat kondisi disekelilingku, semua sedih. Kenapa?.
"Emak esok kerumah sakit mau operasi. Do'akan semoga Emak lekas sehat ya.....". Senyum tante cukup melegakanku dan membuatku sedikit tenang. Aku hanya bisa mengangguk-angguk.
"Nte....sss urga ndahh kan? imana yar Mak sssuk na nte?" Pertanyaan nyeleneh yang terpaksa ku keluarkan.
Tante Murni tersenyum.
Aku bengong.
"Anak perempuan yang sholehah itu menutup auratnya, memakai jilbab lebar seperti tante Murni......" dengan tersenyum tante Murni memperlihatkan jilbabnya.
"Anak perempuan yang sholehah itu menjaga sholat lima waktu, rajin membaca Qur'an dan berbakti kepada kedua orang tuanya. Anak yang sholehah selalu mendoakan orang tuanya......"
Aku mengangguk tanda mengerti. Paman, Emak dan Bapak tersenyum mendengar percakapan kami.
Besoknya pagi-pagi sekali Aku segera disuruh mandi sama Bapak, disuruh pake baju yang rapi. Katanya hari ini kami akan kerumah sakit, juga dengan tante Murni satu-satunya keluarga yang kami punya. Aku memakai baju terbaikku. Aku ingat kata tante Murni semalam, bahwa aku harus mendoakan Emak supaya sehat.
Seharian kami dirumah sakit. Tante, Bapak dan Paman sangat cemas. Tentunya mencemaskan Emak. Kata tante Emak akan dioperasi dibagian dadanya. Aku tidak begitu mengerti. Wajah mereka semua terlihat kusut dan mata agak cekung, begitu lelah.
Ini adalah hari keenam sepulang dari rumah sakit. Emak telah selesai dioperasi. Emak tiba-tiba memanggilku untuk kekamarnya. Dikamar itu kami hanya berdua. Bapak ada urusan keluar, tante Murni dari tadi pagi pulang sebentar kerumahnya dan nanti malam balik lagi kesini. Sepulang dari rumah sakit Aku jarang bicara sama Emak. Aku sangat sedih melihat Emak terbaring tak berdaya. Aku sayang Emak. Kupeluk emak dan ku cium pipinya.
"Sayang....Emak juga sayang sama kamu. Sayaaang....sekali......" Emak menyeka air matanya yang terus mengalir sejak tadi.
"Ratri anak Mak satu-satunya, jaga diri baik-baik ya sayang. Baik-baik sama Bapak, baik-baik sama tante Murni.....Mak senang sekarang Ratri sudah bisa mandiri. Ratri sudah semakin pintar.........."
Kupeluk Emak, Aku menangis tersedu dan Emak pun terisak-isak. Entah apa yang membuat kami begitu bersedih.
"Ratri sayang.......yuk pulang yuk........."
"Maakk...Tri ulang ya........"
"Mmakk...angan angis ya....Tri sslalu doain Mmakk....ya Allah....sssukkan Mmak ke urga ya Allah....."
Rasanya tak ingin ku berajak dari tempat itu. Aku ingin temani Emak.
***
Kini umurku sudah 23 tahun. Aku tumbuh menjadi gadis yang dewasa. Sejak kepergian Emak, Aku terus dimotivasi tante Murni untuk lebih mandiri dan juga sholehah. Kini Aku sudah tidak terlalu terbata-bata lagi dalam berbicara. Tante Murni melatihku setiap hari agar sering berbicara. Dulu waktu Emak pergi, Aku hanya bisa mencuci piring dan menyapu. Tapi kini Aku sudah pintar memasak. Aku selalu bantu tante Murni di warung nasinya.
"Tante....makasih ya atas semua"
Pada akhirnya kanker itu menggerogoti semua hingga ke paru-paru dan harus dioperasi. Operasi itu sukses tapi nyawa Emak tetap melayang beberapa hari setelahnya. Aku tau Tuhan sayang sama Emak, Bapak dan Aku. Emak meninggalkanku disaat Aku sudah mulai mandiri.
"Tante...jilbabku cocokkan sama bajunya..."
"Hmmmm...cocok sekali sayang. Kamu terlihat cantik Ratri........" lagi-lagi kulihat senyum tante Murni yang begitu meyakinkan.
Kepergian Emak merobahku 180 derajat. Aku benar-benar ingin Emak masuk syurga. Kata tante Emak akan masuk syurga dengan memiliki anak perempuan yang sholehah dan aku ingin Emak masuk syurga. Kini aku memakai jilbab lebar seperti halnya tante Murni, Aku sudah mulai bisa mengaji. Habis maghrib kami selalu tilawah bersama. Tante mengajarkan banyak hal, Aku selalu mengikuti pengajian satu kali dalam seminggu. Hampir setiap malam disepertiga malam didalam tahajudku Aku selalu berdoa.
"Ya Allah, lindungilah Emak. Terimalah segala amal ibadahnya didunia, jauhkan Emak dari siksa kubur dan masukkan lah ia ke Jannahmu. Pertemukan kelak Emak denganku ya Rabb..."
Aku yakin Emak disana senang melihat perkembanganku yang sudah sangat jauh. Kesabaran tante begitu berarti. Bapak juga semakin sayang padaku. Kini Bapak memberiku adek kecil berusia dua tahun. Bapak sudah menikah lagi 3 tahun setelah kepergian Emak. Aku mengizinkannya karena Aku ingin Bapak juga bahagia.
"Emak........anakmu kini sudah dewasa. Anakmu ingin menjadi anak perempuan yang shalehah. Anakmu ingin engkau masuk syurga Emak.....kita ketemu disanan nanti ya........" lirihku dalam hati. Air mataku mengalir melihat foto Emak. Tante memelukku, ternyata sedari tadi dia memperhatikanku.
"Yuk kita ke kondangan........"
Batam, 22 Juni 2011

