Kamis, 18 Desember 2014

Cerpen "Aku Ingin Emak Masuk Syurga"


Hiks....hiks......

Kulihat emak terisak ditepi ranjang di kamarnya, Aku tak tahu apa gerangan yang membuatnya menangis sore ini. Kubiarkan dan Aku berlalu masuk ke kamarku, tentunya sambil berpikir "apa yang terjadi dengan emak?".

"Kan sudah kusuruh bertahun-tahun yang lalu, tapi kau tak pernah mau mendengarkan...!!! Lalu sekarang kemana akan kucari uang sebanyak itu......"

Sambil duduk dan meremas-remas kepalanya, kulihat Ayah sangat marah malam itu. Dibawah pencahayaan remang ruang tamu rumah kami, wajahnya terlihat menakutkan. Emosinya memuncak. Wajahnya memerah padam. Aku tergugu dibalik pintu kamarku, tak sadar telah kugigit jemariku.

***

Emak  terisak lagi, badannya yang kian hari semakin kurus begitu menyedihkan. Aku semakin bingung, entah apa yang sedang terjadi beberapa hari belakangan. Emak dan Bapak nampak sedih.

Dengan langkah yang diseret kudekati mereka. Pandanganku penuh tanda tanya. Semakin mendekati Emak, semakin kuat aura sedih menelusuk jauh kerelung hatiku. Buliran air mata satu persatu jatuh membasahi pipi. Aku menangis.

"Maaakkk.......napa?" 

Hanya itu kata yang keluar dari mulutku. Emak menatapku dengan pandangan sayu dan kembali menunduk. Isaknya semakin menjadi-jadi setelah melihatku. Aku tak mengerti. Kemudian Ayah berlalu tanpa sepatah kata pun. Emak kemudian merangkulku begitu kuat.

"Ratri sayang Emak kan?

Perlahan Emak bersuara. Aku mengangguk.

Aku gadis kecil 14 tahun, namaku Ratri Kesuma. Aku sudah tak bersekolah. Entah kenapa semua orang sulit berbicara padaku, mungkin karna kata-kata yang keluar dari mulutku selalu terbata-bata. Sejak kecil Aku mengalami hambatan dalam berkomunikasi. Aku tidak bisu tapi perkataanku sulit dimengerti oleh orang lain. Hanya Emak dan Bapak yang tau apa yang Aku katakan. 

Sejak setahun yang lalu Aku syock dan tidak mau sekolah lagi. Semua teman selalu mengolok-olok dan memandangku rendah. Mereka sering menirukan gaya bicaraku. Ejekan mereka begitu menyakitkan. Aku juga sulit untuk memahami pelajaran sekolah. Walau sudah belajar keras tetap saja aku tidak mengerti. Hingga diumurku yang sudah 14 tahun Aku masih duduk dikelas lima SD. Ya, Aku sering tinggal kelas. Tapi Aku tau bahwa Aku sangat menyayangi Emak, sayang Bapak.

***
Satu tahun terakhir, Aku tak tau kenapa Emak terlihat begitu kurus dan pucat. Sepertinya Emak tidak sehat. Emak jarang sekali bercerita padaku. Hingga akhirnya kemaren secara tidak sengaja kulihat Emak dikamar. Dari jauh kulihat Emak berbaring sambil memoleskan sesuatu kearah dadanya. Aku tidak berani mendekat kearah kamar Emak.

Hari ini tante Murni datang kerumah. Dia membawakan martabak manis kesukaan Emak. Tante Murni datang dengan suaminya dan kedua anaknya. Dia adalah satu-satunya saudara Emak. Orang tua mereka sudah lama meninggal.

"Ratri...kesini nak...duduk sini dekat tante..."

Aku heran kenapa semua orang sedih. Begitu juga dengan tante Murni. Tante Murni cukup membuatku tentram, jilbanya lebar dan wajahnya menyenangkan.

"Ratri....doakan Ibu ya nak. Semoga sehat dan masuk syurga......." 

Tante mengelus rambutku perlahan. Emak dan Bapak tersenyum.

"Mang Mak napa nte?" Sulit sekali menyampaikan apa yang ingin kutanyakan. Pada hal begitu banyak pertanyaan dibenakku. Aku heran melihat kondisi disekelilingku, semua sedih. Kenapa?.

"Emak esok kerumah sakit mau operasi. Do'akan semoga Emak lekas sehat ya.....". Senyum tante cukup melegakanku dan membuatku sedikit tenang. Aku hanya bisa mengangguk-angguk.

"Nte....sss urga ndahh kan? imana yar Mak sssuk na nte?" Pertanyaan nyeleneh yang terpaksa ku keluarkan.

Tante Murni tersenyum. 

"Emak bisa masuk syurga jika memiliki anak perempuan yang sholehah. Ratri jadilah anak yang sholehah ya. Dan doa-doa Ratri buat Emak akan diterima Allah, nah doakan agar Emak masuk syurga...."

Aku bengong. 

"Nte...nak holeh....ntu........" 

Aku tak bisa melanjutkan pertanyaan. Susah. Ternyata tante murni mengetahui maksudku bahwa aku ingin tau anak yang sholehah itu seperti apa.

"Anak perempuan yang sholehah itu menutup auratnya, memakai jilbab lebar seperti tante Murni......" dengan tersenyum tante Murni memperlihatkan jilbabnya.

"Anak perempuan yang sholehah itu menjaga sholat lima waktu, rajin membaca Qur'an dan berbakti kepada kedua orang tuanya. Anak yang sholehah selalu mendoakan orang tuanya......"

Aku mengangguk tanda mengerti. Paman, Emak dan Bapak tersenyum mendengar percakapan kami.

***

Besoknya pagi-pagi sekali Aku segera disuruh mandi sama Bapak, disuruh pake baju yang rapi. Katanya hari ini kami akan kerumah sakit, juga dengan tante Murni satu-satunya keluarga yang kami punya. Aku memakai baju terbaikku. Aku ingat kata tante Murni semalam, bahwa aku harus mendoakan Emak supaya sehat. 

Hari ini Emak operasi. Emak kulihat keluar dari kamar rawat, semakin pucat dan lebih kurus.

Seharian kami dirumah sakit. Tante, Bapak dan Paman sangat cemas. Tentunya mencemaskan Emak. Kata tante Emak akan dioperasi dibagian dadanya. Aku tidak begitu mengerti. Wajah mereka semua terlihat kusut dan mata agak cekung, begitu lelah.

***

Ini adalah hari keenam sepulang dari rumah sakit. Emak telah selesai dioperasi. Emak tiba-tiba memanggilku untuk kekamarnya. Dikamar itu kami hanya berdua. Bapak ada urusan keluar, tante Murni dari tadi pagi pulang sebentar kerumahnya dan nanti malam balik lagi kesini. Sepulang dari rumah sakit Aku jarang bicara sama Emak. Aku sangat sedih melihat Emak terbaring tak berdaya. Aku sayang Emak. Kupeluk emak dan ku cium pipinya. 

"Makkk.....Tri yang Mmakk......Tri doa ya, Makk ssuk urga....." 

Terbata-bata kusampaikan kalimat itu. Entah kenapa akhir-akhir ini Aku selalu menangis bila didekat Emak. Kesedihan mendalam yang kurasakan bila ada didekatnya.

"Sayang....Emak juga sayang sama kamu. Sayaaang....sekali......" Emak menyeka air matanya yang terus mengalir sejak tadi.

"Ratri anak Mak satu-satunya, jaga diri baik-baik ya sayang. Baik-baik sama Bapak, baik-baik sama tante Murni.....Mak senang sekarang Ratri sudah bisa mandiri. Ratri sudah semakin pintar.........." 

Suara mak terdengar begitu pelan. Aku tau Emak senang melihat perkembanganku. Beberapa bulan terakhir aku tidak terlalu merepotkan Emak lagi. Aku sudah pandai mandi dan pake baju sendiri, begitu juga makan sendiri. Bahkan aku sudah bisa bantu Emak cuci piring dan menyapu rumah. Emak senang.

Kupeluk Emak, Aku menangis tersedu dan Emak pun terisak-isak. Entah apa yang membuat kami begitu bersedih.

***

"Ratri sayang.......yuk pulang yuk........." 

Kurasakan dekapan tante Murni begitu hangat. Bapak sudah melangkah duluan. Langkah Bapak begitu berat. Aku tau bapak merasa kehilangan yang sama dan mungkin melebihi rasa kehilanganku.

"Maakk...Tri ulang ya........" 

Air mataku selalu saja mengalir. Ku usap gundukan tanah kuning itu. Aku tau bahwa Emak tak kan pernah kembali menemui kami. Menemui Aku, Bapak dan tante Murni. Aku tau bahwa Emak telah pergi dan Emak akan masuk syurga. Aku akan mendoakannya, Aku akan menjadi anak sholehah itu.

"Mmakk...angan angis ya....Tri sslalu doain Mmakk....ya Allah....sssukkan Mmak ke urga ya Allah....."

Rasanya tak ingin ku berajak dari tempat itu. Aku ingin temani Emak.

***

Kini umurku sudah 23 tahun. Aku tumbuh menjadi gadis yang dewasa. Sejak kepergian Emak, Aku terus dimotivasi tante Murni untuk lebih mandiri dan juga sholehah. Kini Aku sudah tidak terlalu terbata-bata lagi dalam berbicara. Tante Murni melatihku setiap hari agar sering berbicara. Dulu waktu Emak pergi, Aku hanya bisa mencuci piring dan menyapu. Tapi kini Aku sudah pintar memasak. Aku selalu bantu tante Murni di warung nasinya.

"Tante....makasih ya atas semua" 

Malam itu kupeluk tante Murni. Aku sangat menyayanginya. Sejak kepergian Emak beliaulah Emak ku yang kedua. Kini baru kumengerti apa yang membuat nyawa Emak melayang. Emak dulu mengidap kanker payudara stadium empat. Kemarahan Bapak waktu itu karena Emak tidak mau berobat kedokter, padahal sudah lama Bapak menyuruhnya. Emak khawatir pengobatannya akan banyak menghabiskan biaya. Emak memilih obat tradisional saja, mengingat pendapatan Bapak yang juga seadanya.

Pada akhirnya kanker itu menggerogoti semua hingga ke paru-paru dan harus dioperasi. Operasi itu sukses tapi nyawa Emak tetap melayang beberapa hari setelahnya. Aku tau Tuhan sayang sama Emak, Bapak dan Aku. Emak meninggalkanku disaat Aku sudah mulai mandiri.

"Tante...jilbabku cocokkan sama bajunya..." 
Aku berdiri dekat tante Murni. Kami ingin ke kondangan warga kampung.

"Hmmmm...cocok sekali sayang. Kamu terlihat cantik Ratri........" lagi-lagi kulihat senyum tante Murni yang begitu meyakinkan.

Kepergian Emak merobahku 180 derajat. Aku benar-benar ingin Emak masuk syurga. Kata tante Emak akan masuk syurga dengan memiliki anak perempuan yang sholehah dan aku ingin Emak masuk syurga. Kini aku memakai jilbab lebar seperti halnya tante Murni, Aku sudah mulai bisa mengaji. Habis maghrib kami selalu tilawah bersama. Tante mengajarkan banyak hal, Aku selalu mengikuti pengajian satu kali dalam seminggu. Hampir setiap malam disepertiga malam didalam tahajudku Aku selalu berdoa.

"Ya Allah, lindungilah Emak. Terimalah segala amal ibadahnya didunia, jauhkan Emak dari siksa kubur dan masukkan lah ia ke Jannahmu. Pertemukan kelak Emak denganku ya Rabb..."

Aku yakin Emak disana senang melihat perkembanganku yang sudah sangat jauh. Kesabaran tante begitu berarti. Bapak juga semakin sayang padaku. Kini Bapak memberiku adek kecil berusia dua tahun. Bapak sudah menikah lagi 3 tahun setelah kepergian Emak. Aku mengizinkannya karena Aku ingin Bapak juga bahagia.

"Emak........anakmu kini sudah dewasa. Anakmu ingin menjadi anak perempuan yang shalehah. Anakmu ingin engkau masuk syurga Emak.....kita ketemu disanan nanti ya........" lirihku dalam hati. Air mataku mengalir melihat foto Emak. Tante memelukku, ternyata sedari tadi dia memperhatikanku.

"Yuk kita ke kondangan........"



Batam, 22 Juni 2011

Puisi "Luka Palestina Adalah Luka Kita"


Masih adakah di antara kita yang belum tau tentangnya?
Sebuah negeri bernama Palestina?
Bila ya....terlalu!!

Masihkah hati kita di tempatnya?
Bisa-bisanya kita belum mengenalnya
Dialah negri yang terluka.

Semua orang telah memberitahu kita.
Lihat di layar kaca
Betapa merah darah-darah mereka, darah rakyat Palestina
Jiwa-jiwa mereka terluka demi sebuah kehormatan agama.
Kehormatan Al-Aqsha, di Palestina negeri para ambiya
Negeri mulia yang hendak direbut paksa
Oleh mereka, Israel laknatullah yang terhina
Apakah kita rela?

Ingat!!
Persengketaan ini bukanlah milik mereka semata
Tetapi milik kita semua,
Milik kita, para pemilih islam sebagai jalan hidup yang mulia

Darah mereka rakyat Palestina adalah darah kita
Luka dan derita mereka adalah luka dan derita kita
Kitalah yang sedang terluka, kita seluruh umat islam yang mulia.
Karna kehormatan Al-Aqsha adalah kehormatan agama kita.

Batam, 22 Juli 2014

Cerpen "Zakat, Ayam dan Lebaran"


Sore ini kuperhatikan wajah Ibu, kuyu bagaikan bunga layu. 

Bagaimana tidak, menjelang detik-detik menuju lebaran kami masih belum ada satupun persediaan dapur. Waktu tinggal tiga hari lagi. 

Para tetangga sejak seminggu bahkan dua minggu yang lalu sudah memasak bermacam-macam kue lebaran. Aroma kue mereka wangi sekali masuk ke celah dinding rumah sekitarnya. Termasuk rumahku.

Rumahku hanya berukuran empat kali tiga meter. Lebih tepatnya gubuk. Di dalam gubuk itulah semua rutinitas keluarga kami dilakukan. 

Tidur, makan dan bercengkerama. Gubuk tempat Aku, Ibu, Ayah serta tiga orang adikku berteduh setiap hari. Gubuk itu sudah ada sejak awal Ayah dan Ibu menikah. 

Hingga kini usiaku sudah 17 tahun lebih, gubuk itu masih bertahan. Tidak banyak berubah. Seingatku hanya dua kali gubuk itu direnovasi. Dinding yang awalnya dari anyaman bambu ditukar dengan papan. Kemudian atapnya yang terbuat dari daun limbio ditukar dengan seng bekas pakai. 

Dulu, hampir setiap hari sebelum tidur siang aku menghitung jumlah lubang, lubang bekas tancapan paku yang ada di atap gubuk itu.

Di sudut gubuk kami, kulihat Ayah tertidur. Sudah sejak tadi, dan sekarang menjelang adzan Ashar Ayah masih tidur. Aku tidak tahu kenapa Ayah bisa tidur begitu pulas. 

Padahal belum ada apapun persiapan lebaran yang kami punya. Ibu, Aku dan adik-adikku sepertinya tidak boleh berharap banyak. Bisa jadi tahun ini kami tidak ikut berlebaran seperti yang lainnya.

***

Adzan magrib berkumandang. Kami sekeluarga berkumpul untuk berbuka puasa, menikmati apa yang ada di hadapan kami seadanya. 

Sebenarnya untuk berbuka hari ini kami tidak punya apa-apa untuk dimasak. Untungnya ada saudara Ayah yang datang membawa ta’jil dilengkapi dengan nasi dan lauk. Porsi yang mereka bawakan pas untuk kami berenam.

“Emmm…., enak…..” celetuk adikku. 

Semua sangat menikmati hidangan malam itu. Alhamdulillah.

Setelah berbuka, Ayah langsung pergi. Kami tidak tahu persis ke mana beliau pergi. Aku terutama Ibu hanya berharap Ayah pergi untuk kembali dengan membawa belanjaan berupa tepung, gula, kelapa, cabe, daging dan lain-lainnya yang dibutuhkan untuk persiapan lebaran nanti.

“Bu, kami tak beli baju lebaran ya…….” 

Adikku yang paling kecil tiba-tiba bertanya. Aura sedih terlihat dipancaran matanya.

Ibu membelai rambut adikku “iya besok kita beli baju ya……” jawab Ibuku sambil tersenyum kecut. Aku tahu Ibu hanya menghibur.

Kondisi seperti ini setiap lebaran selalu kami alami.

***

Dua hari menuju lebaran.

“Bu, ini semua untuk kita. Ibu pake uang dari mana? Ayah kasih Ibu uang?” tanyaku penuh rasa bahagia. Mataku berkaca-kaca.

“Iya ini untuk kita Nak, Alhamdulillah Bu Ningsih memberi Ibu uang zakatnya……, yaa…., Ibu tadi langsung ke pasar dan membeli bahan-bahan dapur ini. Alhamdulillah dapat sebanyak itu Nak, kita masak apa yang ada aja dulu ya…., tetap bersyukur” kata Ibu padaku.

Siang itu sudah tersedia minyak goreng, tepung, telur, gula, sirup, beras dan bumbu-bumbu masak. 

Yang belum kulihat sejenis lauk seperti daging, ayam, ikan dan lainnya. Dan juga kue-kue, seperti punya tetangga tidak ada sama sekali. 

Namun dengan hati yang tetap berbahagia Aku dan Ibu mulai memasak, dengan penuh semangat. Tetap bersyukur, begitu kata Ibuku.

***

“Mana Ibumu….!!!” Ayah bertanya kepada adikku dengan nada yang tinggi. 

Seharian ini ayah sering sekali marah tanpa alasan yang jelas. Ada apa dengan Ayah pikirku. Kenapa Ayah marah-marah, pada hal esok sudah mau lebaran. Seharusnya Ibulah yang marah karena sampai detik ini beliau masih belum memberikan uang belanja untuk persiapan lebaran.

“Ibu ke rumah Bu Ijah, katanya mau jemput jatah zakat…..” jawabku sedikit kesal.

“Ibumu itu terlalu sibuk ke sana kemari, ayam tidak dikasih makan. Lebih penting uang zakat dibanding ayam-ayam ini rupanya…….!!!” suara Ayah menggelegar, Ayah marah besar. 

Aku hanya diam dan menggerutu dalam hati, Ayah yang aneh. Kenapa tidak dia saja yang memberi makan ayam-ayam itu. Toh dari hari ke hari Ayah tidak punya pekerjaan. Tidur, tidur dan tidur. 

Hanya itu yang dia bisa. Aku pun berlalu membawa kekesalan yang amat sangat di dalam hatiku.

***

Sorenya aku pulang dan mendapati Ibuku terisak, Ibu menangis. Adikku yang paling bungsupun menangis. Aku heran. Ada apa gerangan. 

Di dalam gubuk kudapati Ibu berdua saja dengan si Bungsu. Ayah sepertinya sedang pergi, dua orang adikku pasti sedang bermain. Seribu tanya dalam benakku. Apa yang terjadi?.

“Ibu kenapa?” tanyaku pada Ibu.

“Tidak ada Nak, Ibu baik-baik saja……” seperti biasa Ibu enggan bercerita padaku. 

Akupun tidak memaksa ingin tahu. Nanti pasti akan tahu sendiri. Kulayangkan pandangan ke salah satu sudut gubuk. Terlihat ada beberapa macam kue di sana, seperti kue-kue punya tetangga. Ini pasti uang zakat dari Bu Ijah pikirku. Aku tersenyum kecut.

Hari itu setelah selesai shalat isya, kakek dari pihak ibu datang. Beliau membawakan satu ekor ayam dan satu ekor itik untuk dibuatkan rendang. 

Menyusul pamanku tertua juga datang membawakan ikan dan beberapa biji kelapa. 

Alhamdulillah, bertemankan kumandang takbir ku bantu ibu hingga larut malam untuk memasak gulai, persiapan lebaran. Rasa bahagia menghiasi wajah kami.

“Itu bajuku, baju…, baju….” salah seorang adikku berbicara dalam tidurnya. 

Beliau mengigau. 

Ahh….., masih ada yang kurang. Ya, tidak seorangpun dari kami memiliki baju lebaran. 

Aku dan Ibu sangat kesulitan menghibur adik-adik, menjawab pertanyaan mereka soal baju lebaran dengan kebohongan. Kejujuran yang sulit untuk dijelaskan kepada mereka, bahwa mereka tidak akan memiliki baju lebaran.

***

“AllaahuAkbar….,AllaahuAkbar….,AllaahuAkbar,Laailaahaillaahuwallaahuakbar……..” 

Terdengar suara takbir dari mesjid. Lebaran pun tiba. Aku dan Ibu sudah bangun sejak sebelum subuh, tidak lain dalam rangka memasak. Ayah juga sudah bangun, beliau sibuk merapikan kumisnya. Adik-adik masih tertidur pulas kecuali Si Bungsu.

“Kakak…., Ibu…..” terdengar suara Si Bungsu memanggil.

“Ya, kenapa Nak…..” sahut Ibuku.

“Ini apa?” tanyanya sambil duduk jongkok. Di depannya ada kantong plastik besar. Aku dan Ibu bingung, karena tidak menyadari kehadiran kantong plastik itu. Sementara Ayah diam saja, masih sibuk merapikan kumisnya.

“Apa ya Nak…? Coba dibuka kantongnya…..” kata Ibu kepada adikku itu.

Dengan susah payah si kecil mencoba membuka kantong itu. Sekali dua kali belum berhasil. Ibu heran dan penasaran. Akhirnya Ibu bertanya pada Ayah, orang yang paling dicurigai telah membawa kantong itu.

“Yah, apa di dalam kantong itu?” tanya Ibu.

“Lihat saja sendiri……” jawab Ayah santai.

Akhirnya Ibu turun tangan membuka kantong itu. Setelah dibuka ternyata isinya adalah baju-baju baru. Hanya empat pasang. Untukku dan tiga orang adikku. Sepasang baju baru beserta sandal. 

Kami meloncat kegirangan, adik-adik yang awalnya belum bangun kini bangun dan ikut bergembira. Berebutan mengambil baju masing-masing. 

Baju sederhana tapi istimewa, karena datangnya dalam bentuk kejutan. Si Bungsu bajunya kebesaran. Tapi dia tetap bahagia. Gelak tawa membuncah di gubuk kecil kami pagi itu.

Mengalahkan suara takbir yang berkumandang.

Akhirnya kami ikut merasakan lebaran seperti yang lainnya. Bahagia sekali rasanya. Ayah Ibupun bahagia meskipun mereka tidak punya baju baru. Takbir yang berkumandang sampai dilaksanakannya shalat idul fitri terasa begitu syahdu. Melebur bersama kegembiraan kami di hari raya ini.

***

Belakangan akhirnya terjawab sudah tanyaku. Tentang penyebab Ibu menangis sehari sebelum lebaran. Ternyata waktu itu Ayah marah besar kepada Ibu dan menamparnya. Ayah kalut karena ayam-ayamnya lemas semua. 

Ibu lupa memberi makan ayam-ayam itu, Ibu sibuk ke sana kemari menjemput jatah zakat yang diberikan kepada keluarga kami.

Baju baru yang kami pakai saat lebaran adalah dari uang hasil penjualan ayam. Pantas tidak ada lagi suara ayam di pagi hari raya. Aku dan Ibu sungguh tidak menyadari akan keberadaan ayam-ayam itu. Kami terlalu sibuk di dapur. 

Kini kami kesepian tanpa ayam-ayam itu.

Batam,31/07/2014

Jumat, 07 Desember 2012

Kamis, 09 Agustus 2012

PUISI "Rindu.."


Tercekat, aku dimakan sepi
Mengalir hangat, membuat garis garis dipipi

Itu waktu, aku masih merah
Kuncir dua rambutku
Itu waktu dan kau masih muda

waktu berjalan, akhirnya sampai disini
Sampai dimana aku sudah sama tinggi
Setinggi mu diangka 25 tahun

Sebenarnya semua pergi,
Kecuali rasa kasih mu

Ibu.....
Aku rindu


Batam, 09 agustus 2012

Senin, 18 Juni 2012

PUISI "Angin"


Lembut...
Angin harapan berhembus dari arah matahari terbit
Sejuk, jauh sampai kerelung-relung
Dalam...

Aishhh.....
Dicubit pipi terasa sakit
Benar, tidak mimpi

Angin harapan, berjuta mimpi
Berasa hampir nyata
Ahhh....masih angin harapan
Dan ku kembali cubit pipi
Ohh...sakit

Batam, 19 Juni 2012

Senin, 09 April 2012

PUISI "Tua"



Tua

Berlipat lipat
Kini kulit dipipimu
Putih-putih
Kini berserakan dikepalamu

Dulu kau gagah
Dulu kau kuat
Dulu kau hebat
Dulu…..semuanya kau bisa

Terperangah, kau telah tua
Perut bumi, tampak lebih dekat

Aku hanya ingin merengkuh
Semampu yang ku bisa
Aku hanya ingin memapah
Sejauh yang ku bisa

Kini….
Aku hanya ingin kau merasakan
Inilah “anakmu” Abah…

Batam, 9 april 2012

PUISI "Tanah Itu"



Tanah itu

Tepian lereng
Miang bambu
Pakis, jambu-jambu

Ahhh…..
Tanah itu terus terus memburuku
Mengajakku pulang

Bergelut di lubang lubang belut
Berpacu dengan ikan “bada”
Menelusuri tiap jengkal pematang
Tanah itu terus memburuku
Mengajakku pulang

Batam, 9 april 2012