Kamis, 18 Desember 2014

Cerpen "Tidak Perlu Menggadaikan Bukit Tengah"


Tiba tiba aku ingin bersujud dihadapan Allah sebagai rasa syukurku. Aku tak peduli bahwa aku sedang berada di sebuah jalan setapak antara rumahku dengan rumah nenek. Disitu aku bersimpuh sesaat ketika suara adzan magrib baru saja dikumandangkan. Sinar  jingga telah mulai menghilang berganti dengan kegelapan yang perlahan menyelimuti seluruh kampung….magrib….

“Rara? Ngapain disitu…….”

Aku dikejutkan oleh suara seorang lelaki. Aku kaget dan langsung berdiri. Dengan sedikit malu aku tersenyum pada lelaki itu. Dia adalah tetanggaku yang baru saja pulang mandi dari “luak” sebutan tempat pemandian dikampungku
.
“Eh….Nggak……ini Rara lagi ngambil sesuatu yang jatuh...”
 Kujawab sekenanya dan Akupun berlalu dengan senyum terharu, sedikit sisa air mata dipipiku.

***
“Bah, si Marni katanya mau kuliah……” malam itu kubuka pembicaraan dengan Abah.
“Kulliah??? Kau dengan apa mau kuliah Rara?? dasar anak tak tau diri, apa yang mau kau gadaikan? Bukit tengah ini? Kerbau mana yang mau kau jual? Berapa luas tanah yang kau punya……..”

“Makan aja susah…….”. Abah menggerutu. Tiba-tiba Abah sangat sensitif.

“Memangnya siapa yang minta kuliah Abah? Rara kan cerita si Marni……..” Aku berusaha menjawab dengan suara selembut mungkin agar Abah agak sedikit reda.

Malam itu kami makan malam bersama. Aktifitas yang tidak pernah tertinggal dalam keluarga sederhanaku. Setelah melaksanakan sholat magrib, Aku, Abah, Ibu dan ketiga orang adikku akan segera berkumpul. Aku dan Ibu sibuk menghidangkan makan malam. Semuanya tanpa diperintah karena memang kebiasaan ini telah mengakar dikeluarga kami. 
Momen makan malam adalah momen untuk membicarakan segalanya. Aku dengan semua keinginanku, adik adikku dengan aktifitasnya seharian, Abah dengan keluh kesahnya dan Ibulah yang selalu menjadi pendengar sejati. Ibu jarang berkeluh kesah, beliau hanya berkomentar lalu akan tersenyum. Malam ini abah terlihat pendiam, sepertinya gusar dengan ceritaku tentang Marni. Ibu kulihat tidak senang dengan sikap Abah. Dan mereka berdua tidak dapat kumengerti, khususnya malam itu.

***
Minggu ini minggu yang sibuk di sekolah. Khususnya mereka yang hari ini telah kelas tiga. Kami kini berada disemester dua kelas 3 SMA. Siswa, guru, staf bahkan penjaga sekolah membicarakan tentang kelulusan dan kelanjutan kami setelah SMA.

Bapak kepala sekolah pagi ini memberikan nasehat khusus. Upacara bendera bertemakan PMDK, persiapan kelulusan dan persiapan SPMB. Kepala sekolah memberitahukan bahwa minggu ini sudah ada beberapa Universitas yang akan memberikan kesempatan penerimaan mahasiswa baru lewat jalur khusus yaitu PMDK. PMDK selalu ada setiap tahunnya, tidak sedikit dari siswa SMA ku lulus program ini. Kiri kanan kulihat sebagian besar teman-temanku agak sedikit ribut, mereka  membicarakan tentang beberapa Universitas yang diminatinya. Dan Aku?.

***

“Ra, kamu beneran ngak mau ambil PMDK? Nilaimu kan memenuhi….., Aku insyaAllah ambil, Aku mau jadi guru. Aku mau kuliah di Universitas Pendidikan. Ibuku telah mengizinkan, Abangku yang akan membiayai semuanya”
Marni bercerita dengan begitu bersemangat. Kulihat matanya berbinar-binar penuh harapan. Marni dengan segala impiannya waktu itu. Aku sedikit tidak senang. Aku cemburu.

“Nggak….aku ngak bakalan kuliah Mar. Aku tidak mampu. Lihat sendirilah kehidupan keluargaku. Lulus SMA aja aku Alhamdulillah…..”

Aku berusaha menahan kesedihanku, aku  ingin tetap tersenyum meskipun terlalu pahit.

***
Minggu ini adalah minggu tersibuk buat “mereka”. Sebagian dari mereka diizinkan untuk tidak ke sekolah karena harus mengurus surat keterangan sehat, akte kelahiran dan lain-lain yang menjadi syarat pengajuan PMDK. Mayoritas siswa di kelasku mengurusnya, karena memang kelasku terdiri dari siswa berprestasi sejak kelas satu.

Tidak jauh berbeda di tempat kos pun terlihat sibuk. Beberapa teman ikut PMDK, terutama mereka yang sejurusan denganku. Di kosan ini ada 3 siswa IPA. Aku, Marni dan Fitri. Hanya aku yang tidak sibuk.

“Kamu nggak ikut PMDK Ra?”
“Enggak……”

Dengan wajah yang tidak mengeenakkan aku langsung masuk kamar. Kulihat temanku yang baru saja bertanya kebingungan. Dia bingung tidak tau apa “salahnya” sehingga aku bersikap tidak mengenakkan. Akulah yang salah, karena untuk saat itu Aku sangat benci dengan pertanyaan-pernyataan dan cerita tentang PMDK. Aku benar-benar tidak suka dan mereka yang ada disampingku akan menjadi korban perlakuan dan sikap yang kurang mengenakkan.

***
Alhamdulillah Sabtu telah tiba. Saatnya pulang kampung. Aku rindu Ibu. Sore itu aku menemani Ibu memasak didapur. Kulihat dapurku semakin parah. Dapur yang berukuran tidak lebih dua kali dua meter itu terlihat becek disana sini. Ibu kesulitan. Aku duduk ditangga dapur.

“Bu…..”
“Ya…..” kulihat Ibu agak sedikit kerepotan untuk memasak dengan kondisi dapur yang becek.
“Dapur kita atapnya semakin banyak yang bocor ya….” tanyaku dengan lugu.
“Iya, kayu-kayu jadi ikut basah. Masak nasi aja susah…..”
“Bu, tau nggak…teman-teman Rara minggu ini sibuk semua ngurus PMDK. Itu lho, program khusus buat anak-anak berprestasi yang bisa masuk kuliah tanpa tes. Banyak teman-teman Rara yang ikut. Marni, Fitri. Rara sering ditanya, kenapa tidak ikut. Guru-gurupun heran kenapa Rara tidak ambil kesempatan ini. Rara stress jadinya…..”
“Nggak usah stress nak, bilang saja sama mereka kalau kamu tidak melanjutkan ke tinggkat kuliah. Ibu yakin kamu bisa dapat kerja setamat SMA nanti. Kata ibu Ita, dia nanti bisa bantu carikan kamu kerja. Kuliah butuh uang yang banyak Nak….mau kita cari kemana?”
 Suara ibu lembut dan meyakinkan. Ibu tidak mau bersedih dengan kesedihanku. Sore itu kami tersenyum getir.
“Bu…mana Kakak? Kakak belum pergi kan bu?” tiba-tiba suara adikku yang bungsu memecah pembicaraan kami. Dia selalu mengecek keberadaanku, hanya sekedar ingin tau apakah aku masih dirumah atau sudah kembali ke kos. Dia sangat menyayangiku, adik kecilku.

***

“Alhamdulillah, akhirnya selesai juga Ra... Anak anak kelas kita sebagian besar ambil PMDK lho, Si Nengsih ambil di UNBRAW kedokteran. Si Risa IPB, si Anu………………………………..”
Aku tidak mendengar perkataan Marni dengan jelas. Tidak berminat. Kulihat mereka begitu sumringah, Harapan dan impian mereka akan segera terwujud. Menjadi seorang mahasiswa kemudian bekerja dengan memakai seragam dan yang laki-laki mungkin akan berdasi. Sementara aku, aku ingin jadi tukang jahit saja. Aku ingin belajar menjahit.

***

“Nak, setiap kemauan itu selalu ada jalan. Kita ini adalah manusia yang lemah, segala sesuatu itu ada ditangan Allah. Ketika kita memiliki kemauan, maka disitu Allah akan memberikan jalan. Kita tidak boleh berputus asa terhadap rahmat Allah. Itu sebuah dosa besar. Maka selayaknya kamu coba untuk ikut PMDK, bagaimana nanti itu adalah urusan Allah….”

Kemudian ibu guru biologiku itu menceritakan kisah yang mirip dengan kisahku. Kisah anak-anak kurang mampu yang akhirnya bisa mengenyam pendidikan tinggi. Aku tidak tahu kenapa hari itu Bu Sakinah dengan senang hati menasehatiku. Selesai belajar di laboratorium biologi Aku disuruh untuk tinggal sebentar.

“Ibu sarankan ambillah PMDK dari kampus ini Nak. Ini adalah kesempatanmu yang terakhir. Walaupun hanya D3, tidak apa-apa. Masalah uang, ibu bersedia meminjamkanmu uang. Bayarnya kapan-kapan saja.”

Aku tersenyum. Kesedihan dan optimisme membuat hatiku siang itu galau. Aku memang yakin bahwa Allah selalu membantuku. Dulu bukankah masuk SMP dan SMA juga penuh dengan perjuangan? Tapi buktinya Aku bisa melalui semuanya.

Ku lihat dijari manisku ada sebuah cincin mas 23 karat. Hasil jerih payah Ibu sebagai “buruh cuci”.

***

Aku hari ini senang. Di papan pengumuman sekolah terpampang kesempatan beasiswa untuk melanjutkan kuliah. Bagi yang lulus administrasi maka akan diikutkan dalam tes penjaringan mahasiswa baru. Dibiayai, dikasih uang saku dan transportasi. Bagi yang lulus tes maka universitas yang bersangkutan akan memberikan beasiswa selama satu tahun. Selanjutnya beasiswa akan dipertimbangkan sesuai dengan nilai mahasiswa tersebut selama satu tahun kuliah.

Dengan wajah yang sumringah kusapa temanku Marni siang itu.

“Ikut masukin syarat beasiswa yuk…mana tau kita lulus. Lalu kita bisa kuliah…..” Aku benar-benar senang.

“Yuk, aku juga mau. PMDK ku kan belum tentu lulus juga. Mana tau ini lulus.” begitu jawaban Marni.

Dan kami berdua dengan beberapa teman yang lainnya melengkapi persyaratan beasiswa itu. Tidak banyak yang ikut, karena memang khusus untuk siswa kurang mampu.

***

“Ibu. Maaf……..” lirihku siang itu.

Aku bergegas mengurus surat keterangan sehat ke Puskesmas terdekat. Kemudian menyerahkan uang seratus dua puluh lima ribu rupiah ke Bu Sakinah sebagai syarat pengambilan formulir PMDK yang tinggal dua hari lagi. Aku dan satu lagi temanku, ya hanya dua  orang saja yang berminat mengambil PMDK ini. Mungkin karena D3 dan lagi pula yang lain sudah mengambil di Universitas yang lebih bagus dua minggu yang lalu.

“Wah kamu jadi ngambil ya Ra…kok nggak ambil yang kemaren-kemaren? Kan Universitasnya lebih bagus”

“Mungkin rezekiku ini Mar….oh ya kemaren juga ada beasiswa kuliah di AMPJ yang ada di Jogja kan? Kamu ambil? Aku kemaren juga masukin kesana…” dengan semangat empat lima aku menceritakan kepada Marni.

“Nggak lah….nggak minat…..” Marni menjawab dengan lesu.
Sungguh minggu itu minggu yang sangat menyenangkan.

***

Sabtu kembali datang dan aku harus segera pulang kampung. Rindu.
Sore itu kembali kubantu ibu memasak didapur. Kali ini dapur dua kali dua meter itu tidak lagi becek. Cuaca cukup bersahabat sehingga tidak ada hujan.

“Bu, Rara mau minta maaf…..”

“Minta maaf? Untuk apa Nak?” Ibuku terlihat heran.

Ku tunjukkan jariku kepada ibu. Ibuku kaget karena tidak ada lagi cincin 23 karat itu disana.
“Kemana cincinmu? Hilang dimana nak?” Ibu panik. Aku memeluk ibu dan menangis.
“Cincin itu Rara jual bu……Rara ingin ikut PMDK seperti teman-teman yang lainnya. Rara hanya ingin membuktikan apakah lulus atau tidak…..”

Ibu melihatku lekat-lekat dalam senyumnya penuh kegetiran.

“Kenapa kau ikut PMDK Nak, kan kamu tau bahwa kamu tidak akan pernah kuliah. Ibu tidak tau bagaimana Abahmu akan marah mendengarkan kamu ingin kuliah. Jangan bebani lagi Abah….dia sudah cukup susah menghidupi kita……” Aku menangis didapur kecil itu.

“Bu, kalau lulus PMDK itu tidak apa-apa kalau tidak jadi diambil. Rara hanya ingin mengobati hati Rara yang sedih. Rara ingin tau bagaimana hasilnya. Apakah Rara mampu bersaing dengan teman-teman atau tidak…”

“Kalau tidak lulus Alhamdulillah, Rara kelak punya cerita bahwa pernah mengajukan PMDK. Dan kalaupun lulus Alhamdulillah ternyata Rara mampu bersaing dengan mereka meskipun tidak diambil Bu…”

“Ohhh…….” Ibu memelukku. Aku merasakan kegetiran hatinya menyelimutiku. Betapa tidak, Aku harus berhenti disini disaat aku memiliki kemampuan untuk maju. Tidak semua orang pintar tapi tidak semua orang pintar bisa untuk terus maju.
 ***

“Rara, ada surat dari AMPJ Jogjakarta. Tadi disampaikan Pak pos. Katanya kamu diterima kuliah disana. Kamu dapat beasiswa…….” Abah menyampaikan berapi-api.

Aku mengambil amplop yang ada ditangan Abah. Didalamnya tertera namaku Sdri Rangkuti Majenah. Bahwa aku diterima kuliah disana dengan jalur khusus. Dalam waktu seminggu kedepan aku harus segera daftar ulang ke Jogja. Uang pendaftaran sekitar satu juta.

***

Hari ini pengumuman hasil PMDK. Para siswa berkerumun padat dipapan pengumuman itu. Aku juga tak mau ketinggalan. Beberapa temanku melonjak kegirangan karena namanya tertera disana. Sebagian dari mereka tanpak keluar dengan lesu. Berarti tidak diterima. Kulihat Marni dan Fitri teman satu kos ku keluar dari kerumunan itu dengan wajah tidak bersemangat dan aku tau mereka tidak diterima.

Kerumunan itu mulai sepi, Aku dengan leluasa bisa melihat pengumuman itu.

“Alhamdulillah……..” air mataku menetes. Aku benar benar terharu melihat namaku tercantum jelas dipapan pengumuman itu.

Rangkuti Majenah, D3 Akuntansi .
***

Sabtu ini Sabtu yang luar biasa. Aku pulang dengan kabar gembira yang tentunya akan menyedihkan. Aku membawa sebuah amplop. Aku tau bahwa aku tidak akan mengambil PMDK ini, tapi aku hanya ingin membuat Ibu dan Abah bangga padaku. Bahwa aku anak yang berprestasi.

“Bah, Rara juga lulus PMDK D3 jurusan akuntans. Daftar ulang tiga minggu lagi. Uangnya dua juta. Tapi Abah tidak usah khawatir karena Rara udah janji untuk tidak mengambilnya. Rara sudah bertekad akan bekerja setamat SMA…” dengan semangat aku meyakinkan Abah malam itu.

Abah kulihat melihat atap rumah. Rumah yang sangat sederhana. Tempat kami tidur, makan, sholat dan berkumpul bersama. Disanalah aku dan tiga orang adikku dibesarkan hingga aku SMA. Rumah  itu tidak banyak berubah. Seingatku hanya atapnya yang pernah diganti. Selainnya seolah permanent disana.

“Abah kemaren bincang-bincang di kedai mak Lanih, mereka menyuruh Abah tetap menguliahkanmu. Abah akan konsultasi dulu sama si Af yang bekerja di kantor camat. Abah bingung bagusnya kamu kuliah di AMPJ jogja atau kita ambil D3 itu saja. Allah akan mudahkan jalan kita meski Abah tak punya uang satu sen pun……”
Mata Abah berkaca kaca. Aku dan Ibu pun berkaca-kaca. Dalam keharuan kami sangat bahagia. Dengan satu keyakinan bahwa Allah akan mudahkan urusan kami. Malam itu Abah begitu berbeda. Aku sayang Abah, walaupun pemarah, Abah penyayang. Dia sangat menyayangiku.

***
Rasanya kebahagiaanku bertubi-tubi. Aku merasa mendapatkan durian runtuh. Setelah tau lulus AMPJ kemudian D3 Akuntansi dan ternyata hari ini aku mendapatkan kabar bahwa aku lulus seleksi  tes SPMB gratis.
 ***
Abah, Ibu dan keluarga besarku semakin sayang padaku. Sungguh semuanya diluar dugaan. Aku benar-benar telah membanggakan mereka. Dikampung kini aku menjadi bahan pembicaraan para tetangga. Ada yang mengatakan aku akan ke Jogja dan ada pula yang mengatakan bahwa aku tidak mungkin akan melanjutkan ke Perguruan Tinggi.

“Lihatlah…rumahnya saja seperti itu. Bagaimana mau kuliah…….untuk makan sehari-hari saja masih susah. Memanglah anak-anak sekarang kadang tidak tau diri. Selalu membebani orang tua…..” Aku hanya tersenyum. Mereka terlalu sibuk dengan urusanku.

“Mereka tak punya Tuhan, makanya bicara seperti itu…….mereka tak tahu bahwa Allah Maha Kuasa dan Maha Kaya…” kata Abah.

Kulihat Abah menahan amarah. Kami memang sering diejek tapi setiap ejekan selalu berbeda dengan kenyataannya. Mereka tidak tahu bahwa dengan hidup dalam kekurangan kami menjadi keluarga yang selalu meminta dan bersyukur kepada yang Maha Kaya. Dan mereka tidak pernah merasakan betapa nikmatnya, tidak akan pernah.
***
Dan magrib ini aku bersujud dijalan setapak ini karna bersyukur akan kebesaran Allah. Hari ini telah diputuskan bahwa aku akan kuliah di D3 Akuntansi itu. Abah beserta keluarga besar akan mengupayakan uang pendaftaran sekitar dua juta. Minggu depan aku daftar ulang. Aku sangat bahagia. Cita-citaku sebagai tukang jahit memang tidak terwujud tetapi aku akan bekerja sebagai Accounting tentunya.

***
Segala sesuatu kuasa Allah. Marni yang dulu selalu memanas-manasiku tentang kuliah ternyata tidak diperkenankan untuk itu. Dia sama sekali tidak pernah kuliah. Kini dia telah menikah dan memiliki satu anak dan kabarnya akan nambah satu lagi. Fitri kini kuliah setelah satu tahun terlebih dahulu menganggur. Dan Aku…, Aku masih ingat nasehat Bu Sakinah waktu itu. 
Aku berterima kasih kepada beliau karena telah mengobarkan api semangat kepadaku hingga akhirnya aku nekad menjual cincin hasil jerih payah ibu tanpa izin. Perkuliahanku berjalan lancar. Tiga tahun berlalu dengan begitu cepat. Aku mendapatkan beasiswa sehingga boleh dikatakan Aku kuliah dengan gratis. Ibu dan Abah tidak pernah memikirkan uang semesterku. Semua telah dibayar lewat beasiswa itu hingga Aku wisuda. Begitulah Allah dengan segala rahasianya.

Allah Aku selalu tersanjung dengan kebesaranMU.

Allah membuktikan kepada Abah bahwa untuk kuliahku abah tidak perlu punya banyak sawah, Abah tidak perlu punya banyak kerbau apalagi sampai menggadaikan BUKIT TENGAH. Satu satunya bukit yang ada dikampung kami.

***
By. Maiyade Laila Yane A.Md 
MENGENANG MASA SILAM ITU INDAH, MENAMBAH RASA SYUKUR….SEMOGA DAPAT DIAMBIL HIKMAH YA.

Cerpen "Aku Ingin Emak Masuk Syurga"


Hiks....hiks......

Kulihat emak terisak ditepi ranjang di kamarnya, Aku tak tahu apa gerangan yang membuatnya menangis sore ini. Kubiarkan dan Aku berlalu masuk ke kamarku, tentunya sambil berpikir "apa yang terjadi dengan emak?".

"Kan sudah kusuruh bertahun-tahun yang lalu, tapi kau tak pernah mau mendengarkan...!!! Lalu sekarang kemana akan kucari uang sebanyak itu......"

Sambil duduk dan meremas-remas kepalanya, kulihat Ayah sangat marah malam itu. Dibawah pencahayaan remang ruang tamu rumah kami, wajahnya terlihat menakutkan. Emosinya memuncak. Wajahnya memerah padam. Aku tergugu dibalik pintu kamarku, tak sadar telah kugigit jemariku.

***

Emak  terisak lagi, badannya yang kian hari semakin kurus begitu menyedihkan. Aku semakin bingung, entah apa yang sedang terjadi beberapa hari belakangan. Emak dan Bapak nampak sedih.

Dengan langkah yang diseret kudekati mereka. Pandanganku penuh tanda tanya. Semakin mendekati Emak, semakin kuat aura sedih menelusuk jauh kerelung hatiku. Buliran air mata satu persatu jatuh membasahi pipi. Aku menangis.

"Maaakkk.......napa?" 

Hanya itu kata yang keluar dari mulutku. Emak menatapku dengan pandangan sayu dan kembali menunduk. Isaknya semakin menjadi-jadi setelah melihatku. Aku tak mengerti. Kemudian Ayah berlalu tanpa sepatah kata pun. Emak kemudian merangkulku begitu kuat.

"Ratri sayang Emak kan?

Perlahan Emak bersuara. Aku mengangguk.

Aku gadis kecil 14 tahun, namaku Ratri Kesuma. Aku sudah tak bersekolah. Entah kenapa semua orang sulit berbicara padaku, mungkin karna kata-kata yang keluar dari mulutku selalu terbata-bata. Sejak kecil Aku mengalami hambatan dalam berkomunikasi. Aku tidak bisu tapi perkataanku sulit dimengerti oleh orang lain. Hanya Emak dan Bapak yang tau apa yang Aku katakan. 

Sejak setahun yang lalu Aku syock dan tidak mau sekolah lagi. Semua teman selalu mengolok-olok dan memandangku rendah. Mereka sering menirukan gaya bicaraku. Ejekan mereka begitu menyakitkan. Aku juga sulit untuk memahami pelajaran sekolah. Walau sudah belajar keras tetap saja aku tidak mengerti. Hingga diumurku yang sudah 14 tahun Aku masih duduk dikelas lima SD. Ya, Aku sering tinggal kelas. Tapi Aku tau bahwa Aku sangat menyayangi Emak, sayang Bapak.

***
Satu tahun terakhir, Aku tak tau kenapa Emak terlihat begitu kurus dan pucat. Sepertinya Emak tidak sehat. Emak jarang sekali bercerita padaku. Hingga akhirnya kemaren secara tidak sengaja kulihat Emak dikamar. Dari jauh kulihat Emak berbaring sambil memoleskan sesuatu kearah dadanya. Aku tidak berani mendekat kearah kamar Emak.

Hari ini tante Murni datang kerumah. Dia membawakan martabak manis kesukaan Emak. Tante Murni datang dengan suaminya dan kedua anaknya. Dia adalah satu-satunya saudara Emak. Orang tua mereka sudah lama meninggal.

"Ratri...kesini nak...duduk sini dekat tante..."

Aku heran kenapa semua orang sedih. Begitu juga dengan tante Murni. Tante Murni cukup membuatku tentram, jilbanya lebar dan wajahnya menyenangkan.

"Ratri....doakan Ibu ya nak. Semoga sehat dan masuk syurga......." 

Tante mengelus rambutku perlahan. Emak dan Bapak tersenyum.

"Mang Mak napa nte?" Sulit sekali menyampaikan apa yang ingin kutanyakan. Pada hal begitu banyak pertanyaan dibenakku. Aku heran melihat kondisi disekelilingku, semua sedih. Kenapa?.

"Emak esok kerumah sakit mau operasi. Do'akan semoga Emak lekas sehat ya.....". Senyum tante cukup melegakanku dan membuatku sedikit tenang. Aku hanya bisa mengangguk-angguk.

"Nte....sss urga ndahh kan? imana yar Mak sssuk na nte?" Pertanyaan nyeleneh yang terpaksa ku keluarkan.

Tante Murni tersenyum. 

"Emak bisa masuk syurga jika memiliki anak perempuan yang sholehah. Ratri jadilah anak yang sholehah ya. Dan doa-doa Ratri buat Emak akan diterima Allah, nah doakan agar Emak masuk syurga...."

Aku bengong. 

"Nte...nak holeh....ntu........" 

Aku tak bisa melanjutkan pertanyaan. Susah. Ternyata tante murni mengetahui maksudku bahwa aku ingin tau anak yang sholehah itu seperti apa.

"Anak perempuan yang sholehah itu menutup auratnya, memakai jilbab lebar seperti tante Murni......" dengan tersenyum tante Murni memperlihatkan jilbabnya.

"Anak perempuan yang sholehah itu menjaga sholat lima waktu, rajin membaca Qur'an dan berbakti kepada kedua orang tuanya. Anak yang sholehah selalu mendoakan orang tuanya......"

Aku mengangguk tanda mengerti. Paman, Emak dan Bapak tersenyum mendengar percakapan kami.

***

Besoknya pagi-pagi sekali Aku segera disuruh mandi sama Bapak, disuruh pake baju yang rapi. Katanya hari ini kami akan kerumah sakit, juga dengan tante Murni satu-satunya keluarga yang kami punya. Aku memakai baju terbaikku. Aku ingat kata tante Murni semalam, bahwa aku harus mendoakan Emak supaya sehat. 

Hari ini Emak operasi. Emak kulihat keluar dari kamar rawat, semakin pucat dan lebih kurus.

Seharian kami dirumah sakit. Tante, Bapak dan Paman sangat cemas. Tentunya mencemaskan Emak. Kata tante Emak akan dioperasi dibagian dadanya. Aku tidak begitu mengerti. Wajah mereka semua terlihat kusut dan mata agak cekung, begitu lelah.

***

Ini adalah hari keenam sepulang dari rumah sakit. Emak telah selesai dioperasi. Emak tiba-tiba memanggilku untuk kekamarnya. Dikamar itu kami hanya berdua. Bapak ada urusan keluar, tante Murni dari tadi pagi pulang sebentar kerumahnya dan nanti malam balik lagi kesini. Sepulang dari rumah sakit Aku jarang bicara sama Emak. Aku sangat sedih melihat Emak terbaring tak berdaya. Aku sayang Emak. Kupeluk emak dan ku cium pipinya. 

"Makkk.....Tri yang Mmakk......Tri doa ya, Makk ssuk urga....." 

Terbata-bata kusampaikan kalimat itu. Entah kenapa akhir-akhir ini Aku selalu menangis bila didekat Emak. Kesedihan mendalam yang kurasakan bila ada didekatnya.

"Sayang....Emak juga sayang sama kamu. Sayaaang....sekali......" Emak menyeka air matanya yang terus mengalir sejak tadi.

"Ratri anak Mak satu-satunya, jaga diri baik-baik ya sayang. Baik-baik sama Bapak, baik-baik sama tante Murni.....Mak senang sekarang Ratri sudah bisa mandiri. Ratri sudah semakin pintar.........." 

Suara mak terdengar begitu pelan. Aku tau Emak senang melihat perkembanganku. Beberapa bulan terakhir aku tidak terlalu merepotkan Emak lagi. Aku sudah pandai mandi dan pake baju sendiri, begitu juga makan sendiri. Bahkan aku sudah bisa bantu Emak cuci piring dan menyapu rumah. Emak senang.

Kupeluk Emak, Aku menangis tersedu dan Emak pun terisak-isak. Entah apa yang membuat kami begitu bersedih.

***

"Ratri sayang.......yuk pulang yuk........." 

Kurasakan dekapan tante Murni begitu hangat. Bapak sudah melangkah duluan. Langkah Bapak begitu berat. Aku tau bapak merasa kehilangan yang sama dan mungkin melebihi rasa kehilanganku.

"Maakk...Tri ulang ya........" 

Air mataku selalu saja mengalir. Ku usap gundukan tanah kuning itu. Aku tau bahwa Emak tak kan pernah kembali menemui kami. Menemui Aku, Bapak dan tante Murni. Aku tau bahwa Emak telah pergi dan Emak akan masuk syurga. Aku akan mendoakannya, Aku akan menjadi anak sholehah itu.

"Mmakk...angan angis ya....Tri sslalu doain Mmakk....ya Allah....sssukkan Mmak ke urga ya Allah....."

Rasanya tak ingin ku berajak dari tempat itu. Aku ingin temani Emak.

***

Kini umurku sudah 23 tahun. Aku tumbuh menjadi gadis yang dewasa. Sejak kepergian Emak, Aku terus dimotivasi tante Murni untuk lebih mandiri dan juga sholehah. Kini Aku sudah tidak terlalu terbata-bata lagi dalam berbicara. Tante Murni melatihku setiap hari agar sering berbicara. Dulu waktu Emak pergi, Aku hanya bisa mencuci piring dan menyapu. Tapi kini Aku sudah pintar memasak. Aku selalu bantu tante Murni di warung nasinya.

"Tante....makasih ya atas semua" 

Malam itu kupeluk tante Murni. Aku sangat menyayanginya. Sejak kepergian Emak beliaulah Emak ku yang kedua. Kini baru kumengerti apa yang membuat nyawa Emak melayang. Emak dulu mengidap kanker payudara stadium empat. Kemarahan Bapak waktu itu karena Emak tidak mau berobat kedokter, padahal sudah lama Bapak menyuruhnya. Emak khawatir pengobatannya akan banyak menghabiskan biaya. Emak memilih obat tradisional saja, mengingat pendapatan Bapak yang juga seadanya.

Pada akhirnya kanker itu menggerogoti semua hingga ke paru-paru dan harus dioperasi. Operasi itu sukses tapi nyawa Emak tetap melayang beberapa hari setelahnya. Aku tau Tuhan sayang sama Emak, Bapak dan Aku. Emak meninggalkanku disaat Aku sudah mulai mandiri.

"Tante...jilbabku cocokkan sama bajunya..." 
Aku berdiri dekat tante Murni. Kami ingin ke kondangan warga kampung.

"Hmmmm...cocok sekali sayang. Kamu terlihat cantik Ratri........" lagi-lagi kulihat senyum tante Murni yang begitu meyakinkan.

Kepergian Emak merobahku 180 derajat. Aku benar-benar ingin Emak masuk syurga. Kata tante Emak akan masuk syurga dengan memiliki anak perempuan yang sholehah dan aku ingin Emak masuk syurga. Kini aku memakai jilbab lebar seperti halnya tante Murni, Aku sudah mulai bisa mengaji. Habis maghrib kami selalu tilawah bersama. Tante mengajarkan banyak hal, Aku selalu mengikuti pengajian satu kali dalam seminggu. Hampir setiap malam disepertiga malam didalam tahajudku Aku selalu berdoa.

"Ya Allah, lindungilah Emak. Terimalah segala amal ibadahnya didunia, jauhkan Emak dari siksa kubur dan masukkan lah ia ke Jannahmu. Pertemukan kelak Emak denganku ya Rabb..."

Aku yakin Emak disana senang melihat perkembanganku yang sudah sangat jauh. Kesabaran tante begitu berarti. Bapak juga semakin sayang padaku. Kini Bapak memberiku adek kecil berusia dua tahun. Bapak sudah menikah lagi 3 tahun setelah kepergian Emak. Aku mengizinkannya karena Aku ingin Bapak juga bahagia.

"Emak........anakmu kini sudah dewasa. Anakmu ingin menjadi anak perempuan yang shalehah. Anakmu ingin engkau masuk syurga Emak.....kita ketemu disanan nanti ya........" lirihku dalam hati. Air mataku mengalir melihat foto Emak. Tante memelukku, ternyata sedari tadi dia memperhatikanku.

"Yuk kita ke kondangan........"



Batam, 22 Juni 2011

Puisi "Luka Palestina Adalah Luka Kita"


Masih adakah di antara kita yang belum tau tentangnya?
Sebuah negeri bernama Palestina?
Bila ya....terlalu!!

Masihkah hati kita di tempatnya?
Bisa-bisanya kita belum mengenalnya
Dialah negri yang terluka.

Semua orang telah memberitahu kita.
Lihat di layar kaca
Betapa merah darah-darah mereka, darah rakyat Palestina
Jiwa-jiwa mereka terluka demi sebuah kehormatan agama.
Kehormatan Al-Aqsha, di Palestina negeri para ambiya
Negeri mulia yang hendak direbut paksa
Oleh mereka, Israel laknatullah yang terhina
Apakah kita rela?

Ingat!!
Persengketaan ini bukanlah milik mereka semata
Tetapi milik kita semua,
Milik kita, para pemilih islam sebagai jalan hidup yang mulia

Darah mereka rakyat Palestina adalah darah kita
Luka dan derita mereka adalah luka dan derita kita
Kitalah yang sedang terluka, kita seluruh umat islam yang mulia.
Karna kehormatan Al-Aqsha adalah kehormatan agama kita.

Batam, 22 Juli 2014

Cerpen "Zakat, Ayam dan Lebaran"


Sore ini kuperhatikan wajah Ibu, kuyu bagaikan bunga layu. 

Bagaimana tidak, menjelang detik-detik menuju lebaran kami masih belum ada satupun persediaan dapur. Waktu tinggal tiga hari lagi. 

Para tetangga sejak seminggu bahkan dua minggu yang lalu sudah memasak bermacam-macam kue lebaran. Aroma kue mereka wangi sekali masuk ke celah dinding rumah sekitarnya. Termasuk rumahku.

Rumahku hanya berukuran empat kali tiga meter. Lebih tepatnya gubuk. Di dalam gubuk itulah semua rutinitas keluarga kami dilakukan. 

Tidur, makan dan bercengkerama. Gubuk tempat Aku, Ibu, Ayah serta tiga orang adikku berteduh setiap hari. Gubuk itu sudah ada sejak awal Ayah dan Ibu menikah. 

Hingga kini usiaku sudah 17 tahun lebih, gubuk itu masih bertahan. Tidak banyak berubah. Seingatku hanya dua kali gubuk itu direnovasi. Dinding yang awalnya dari anyaman bambu ditukar dengan papan. Kemudian atapnya yang terbuat dari daun limbio ditukar dengan seng bekas pakai. 

Dulu, hampir setiap hari sebelum tidur siang aku menghitung jumlah lubang, lubang bekas tancapan paku yang ada di atap gubuk itu.

Di sudut gubuk kami, kulihat Ayah tertidur. Sudah sejak tadi, dan sekarang menjelang adzan Ashar Ayah masih tidur. Aku tidak tahu kenapa Ayah bisa tidur begitu pulas. 

Padahal belum ada apapun persiapan lebaran yang kami punya. Ibu, Aku dan adik-adikku sepertinya tidak boleh berharap banyak. Bisa jadi tahun ini kami tidak ikut berlebaran seperti yang lainnya.

***

Adzan magrib berkumandang. Kami sekeluarga berkumpul untuk berbuka puasa, menikmati apa yang ada di hadapan kami seadanya. 

Sebenarnya untuk berbuka hari ini kami tidak punya apa-apa untuk dimasak. Untungnya ada saudara Ayah yang datang membawa ta’jil dilengkapi dengan nasi dan lauk. Porsi yang mereka bawakan pas untuk kami berenam.

“Emmm…., enak…..” celetuk adikku. 

Semua sangat menikmati hidangan malam itu. Alhamdulillah.

Setelah berbuka, Ayah langsung pergi. Kami tidak tahu persis ke mana beliau pergi. Aku terutama Ibu hanya berharap Ayah pergi untuk kembali dengan membawa belanjaan berupa tepung, gula, kelapa, cabe, daging dan lain-lainnya yang dibutuhkan untuk persiapan lebaran nanti.

“Bu, kami tak beli baju lebaran ya…….” 

Adikku yang paling kecil tiba-tiba bertanya. Aura sedih terlihat dipancaran matanya.

Ibu membelai rambut adikku “iya besok kita beli baju ya……” jawab Ibuku sambil tersenyum kecut. Aku tahu Ibu hanya menghibur.

Kondisi seperti ini setiap lebaran selalu kami alami.

***

Dua hari menuju lebaran.

“Bu, ini semua untuk kita. Ibu pake uang dari mana? Ayah kasih Ibu uang?” tanyaku penuh rasa bahagia. Mataku berkaca-kaca.

“Iya ini untuk kita Nak, Alhamdulillah Bu Ningsih memberi Ibu uang zakatnya……, yaa…., Ibu tadi langsung ke pasar dan membeli bahan-bahan dapur ini. Alhamdulillah dapat sebanyak itu Nak, kita masak apa yang ada aja dulu ya…., tetap bersyukur” kata Ibu padaku.

Siang itu sudah tersedia minyak goreng, tepung, telur, gula, sirup, beras dan bumbu-bumbu masak. 

Yang belum kulihat sejenis lauk seperti daging, ayam, ikan dan lainnya. Dan juga kue-kue, seperti punya tetangga tidak ada sama sekali. 

Namun dengan hati yang tetap berbahagia Aku dan Ibu mulai memasak, dengan penuh semangat. Tetap bersyukur, begitu kata Ibuku.

***

“Mana Ibumu….!!!” Ayah bertanya kepada adikku dengan nada yang tinggi. 

Seharian ini ayah sering sekali marah tanpa alasan yang jelas. Ada apa dengan Ayah pikirku. Kenapa Ayah marah-marah, pada hal esok sudah mau lebaran. Seharusnya Ibulah yang marah karena sampai detik ini beliau masih belum memberikan uang belanja untuk persiapan lebaran.

“Ibu ke rumah Bu Ijah, katanya mau jemput jatah zakat…..” jawabku sedikit kesal.

“Ibumu itu terlalu sibuk ke sana kemari, ayam tidak dikasih makan. Lebih penting uang zakat dibanding ayam-ayam ini rupanya…….!!!” suara Ayah menggelegar, Ayah marah besar. 

Aku hanya diam dan menggerutu dalam hati, Ayah yang aneh. Kenapa tidak dia saja yang memberi makan ayam-ayam itu. Toh dari hari ke hari Ayah tidak punya pekerjaan. Tidur, tidur dan tidur. 

Hanya itu yang dia bisa. Aku pun berlalu membawa kekesalan yang amat sangat di dalam hatiku.

***

Sorenya aku pulang dan mendapati Ibuku terisak, Ibu menangis. Adikku yang paling bungsupun menangis. Aku heran. Ada apa gerangan. 

Di dalam gubuk kudapati Ibu berdua saja dengan si Bungsu. Ayah sepertinya sedang pergi, dua orang adikku pasti sedang bermain. Seribu tanya dalam benakku. Apa yang terjadi?.

“Ibu kenapa?” tanyaku pada Ibu.

“Tidak ada Nak, Ibu baik-baik saja……” seperti biasa Ibu enggan bercerita padaku. 

Akupun tidak memaksa ingin tahu. Nanti pasti akan tahu sendiri. Kulayangkan pandangan ke salah satu sudut gubuk. Terlihat ada beberapa macam kue di sana, seperti kue-kue punya tetangga. Ini pasti uang zakat dari Bu Ijah pikirku. Aku tersenyum kecut.

Hari itu setelah selesai shalat isya, kakek dari pihak ibu datang. Beliau membawakan satu ekor ayam dan satu ekor itik untuk dibuatkan rendang. 

Menyusul pamanku tertua juga datang membawakan ikan dan beberapa biji kelapa. 

Alhamdulillah, bertemankan kumandang takbir ku bantu ibu hingga larut malam untuk memasak gulai, persiapan lebaran. Rasa bahagia menghiasi wajah kami.

“Itu bajuku, baju…, baju….” salah seorang adikku berbicara dalam tidurnya. 

Beliau mengigau. 

Ahh….., masih ada yang kurang. Ya, tidak seorangpun dari kami memiliki baju lebaran. 

Aku dan Ibu sangat kesulitan menghibur adik-adik, menjawab pertanyaan mereka soal baju lebaran dengan kebohongan. Kejujuran yang sulit untuk dijelaskan kepada mereka, bahwa mereka tidak akan memiliki baju lebaran.

***

“AllaahuAkbar….,AllaahuAkbar….,AllaahuAkbar,Laailaahaillaahuwallaahuakbar……..” 

Terdengar suara takbir dari mesjid. Lebaran pun tiba. Aku dan Ibu sudah bangun sejak sebelum subuh, tidak lain dalam rangka memasak. Ayah juga sudah bangun, beliau sibuk merapikan kumisnya. Adik-adik masih tertidur pulas kecuali Si Bungsu.

“Kakak…., Ibu…..” terdengar suara Si Bungsu memanggil.

“Ya, kenapa Nak…..” sahut Ibuku.

“Ini apa?” tanyanya sambil duduk jongkok. Di depannya ada kantong plastik besar. Aku dan Ibu bingung, karena tidak menyadari kehadiran kantong plastik itu. Sementara Ayah diam saja, masih sibuk merapikan kumisnya.

“Apa ya Nak…? Coba dibuka kantongnya…..” kata Ibu kepada adikku itu.

Dengan susah payah si kecil mencoba membuka kantong itu. Sekali dua kali belum berhasil. Ibu heran dan penasaran. Akhirnya Ibu bertanya pada Ayah, orang yang paling dicurigai telah membawa kantong itu.

“Yah, apa di dalam kantong itu?” tanya Ibu.

“Lihat saja sendiri……” jawab Ayah santai.

Akhirnya Ibu turun tangan membuka kantong itu. Setelah dibuka ternyata isinya adalah baju-baju baru. Hanya empat pasang. Untukku dan tiga orang adikku. Sepasang baju baru beserta sandal. 

Kami meloncat kegirangan, adik-adik yang awalnya belum bangun kini bangun dan ikut bergembira. Berebutan mengambil baju masing-masing. 

Baju sederhana tapi istimewa, karena datangnya dalam bentuk kejutan. Si Bungsu bajunya kebesaran. Tapi dia tetap bahagia. Gelak tawa membuncah di gubuk kecil kami pagi itu.

Mengalahkan suara takbir yang berkumandang.

Akhirnya kami ikut merasakan lebaran seperti yang lainnya. Bahagia sekali rasanya. Ayah Ibupun bahagia meskipun mereka tidak punya baju baru. Takbir yang berkumandang sampai dilaksanakannya shalat idul fitri terasa begitu syahdu. Melebur bersama kegembiraan kami di hari raya ini.

***

Belakangan akhirnya terjawab sudah tanyaku. Tentang penyebab Ibu menangis sehari sebelum lebaran. Ternyata waktu itu Ayah marah besar kepada Ibu dan menamparnya. Ayah kalut karena ayam-ayamnya lemas semua. 

Ibu lupa memberi makan ayam-ayam itu, Ibu sibuk ke sana kemari menjemput jatah zakat yang diberikan kepada keluarga kami.

Baju baru yang kami pakai saat lebaran adalah dari uang hasil penjualan ayam. Pantas tidak ada lagi suara ayam di pagi hari raya. Aku dan Ibu sungguh tidak menyadari akan keberadaan ayam-ayam itu. Kami terlalu sibuk di dapur. 

Kini kami kesepian tanpa ayam-ayam itu.

Batam,31/07/2014

Jumat, 07 Desember 2012

Kamis, 09 Agustus 2012

PUISI "Rindu.."


Tercekat, aku dimakan sepi
Mengalir hangat, membuat garis garis dipipi

Itu waktu, aku masih merah
Kuncir dua rambutku
Itu waktu dan kau masih muda

waktu berjalan, akhirnya sampai disini
Sampai dimana aku sudah sama tinggi
Setinggi mu diangka 25 tahun

Sebenarnya semua pergi,
Kecuali rasa kasih mu

Ibu.....
Aku rindu


Batam, 09 agustus 2012

Senin, 18 Juni 2012

PUISI "Angin"


Lembut...
Angin harapan berhembus dari arah matahari terbit
Sejuk, jauh sampai kerelung-relung
Dalam...

Aishhh.....
Dicubit pipi terasa sakit
Benar, tidak mimpi

Angin harapan, berjuta mimpi
Berasa hampir nyata
Ahhh....masih angin harapan
Dan ku kembali cubit pipi
Ohh...sakit

Batam, 19 Juni 2012