Senin, 27 April 2015

Cerpen "Bumbu"


Idris termangu. Kembali memandangi kendaraan yang berlalu-lalang di depan rumahnya.

"Sudahlah Mas.....ikhlaskan semua. Jangan dikenang lagi. Kita hanya butuh satu kata yaitu "bangkit"...."

Istri Idris, perempuan dua puluh tahunan itu mencoba mengingatkan suaminya. Sudah hampir satu setengah bulan dari peristiwa yang mengguncang itu Idris rutin bermenung memandang ke arah jalan raya di depan rumah mereka.

"Tidak semudah yang kau ucapkan........"

Idris menarik nafas dalam dan bergerak beranjak pergi. Dengan wajah yang loyo dia pindah ke kamar. 

Istri Idris hanya bisa memandangi punggung suaminya sembari berkaca-kaca, kesedihan nan pekat menjalar kedalam aliran darahnya.

***

Dari kejauhan seorang lelaki memandangi tempat makan yang cukup terkenal di Kota itu. Pengunjung terlihat keluar masuk. Ya, tempat makan itu memang selalu ramai. Semua orang mengakui kelezatan menu special yang disajikan ditempat tersebut. Usaha kuliner yang satu ini sedang naik daun. Dalam kurun waktu dua tahun cabangnya sudah ada di tiga tempat, begitulah gambaran tingginya permintaan warga terhadap makanan yang mereka sajikan. Lezat dan selalu ingin kembali.

Lelaki itu nampak tersenyum sambil berguman "Terimakasih kang Adi...."

Ingatan lelaki itu terlempar ke dua tiga tahun silam.

***
"Kang...ini ayam bakarnya lezat tenan....." pemuda itu nyeletuk.
"Hehe...Alhamdulillah....saya senang kalau kamu bisa menikmati masakan saya.." Kang Adi tersenyum.
"Kang, boleh lah saya dapat bocoran resep ayam bakar ini ya?"

Kang Adi hanya tersenyum.

***

"Kang....apa yang harus saya lakukan untuk mendapatkan resep ayam bakar Kang Adi?" sore itu sang pemuda meminta dengan kesungguhan.

"Resep ini adalah harta yang paling berharga yang saya punya, saya belum berniat untuk memberikannya ke siapapun..." dengan tenang Kang Adi menjelaskan keberatannya.

"Kang, Akang jangan tersinggung ya, ini tidak ada maksud untuk merendahkan. Saya hanya ingin menghargai harta yang Akang punya. Saya bersedia membayar resep ayam bakar ini dengan uang dua juta rupiah......" pemuda itu terus berupaya melobi Kang Adi.

Kang Adi nampak tersenyum dan menggelengkan kepala sambil berlalu.

"Kang...Akang....apa kurang uang yang saya tawarkan? Saya kasih lima juta ya Kaaanggg....." dengan setengah berteriak pemuda itu masih berusaha untuk melobi Kang Adi.

Kang Adi nampak melambaikan tangan. Usaha pemuda itu belum membuahkan hasil.

***

"Kang, nanti makan siang bareng ya......saya mau traktir Akang...."

"O ya...Alhamdulillah, rezeki mah nga boleh ditolak....."  kelakar Kang Adi.

Kang Adi senang. Sejak hari itu selama satu bulan penuh sang pemuda berturut-turut mebelikan makan siang buat Kang Adi. Tak lain tak bukan masih dalam rangka upaya meluluhkan hati Kang Adi supaya mau berbagi resep ayam bakar. Ya, resep ayam bakar. Iyaaa....ayam bakar.

Kang Adi masih bersekukuh untuk tidak mau berbagi resep ayam bakar itu. Memang semua orang mengakui ayam bakar Kang Adi sangat lezat. Lain dari yang lain dan belum ditemukan ayam bakar seenak punya Kang Adi. Sampai akhirnya suatu saat pemuda itu memiliki kesempatan untuk belajar memasak ayam bakar Kang Adi.

"Kamu ingin tau cara memasak ayam bakar itu kan? Ayok besok temani saya. Saya diminta untuk memasak ayam bakar di acara pernikahan putrinya Pak Camat. Semoga kamu bersedia membantu saya. Nanti boleh diperhatikan bagaimana cara saya memasak ayam bakar itu...."

Pemuda itu sangat bahagia akhirnya Kang Adi bermurah hati untuk berbagi dengannya tentang resep ayam bakarnya.

Saat hari H tiba, sang pemuda dengan sangat cermat memperhatikan setiap gerak-gerik Kang Adi. Mencatat dengan seksama bumbu yang dibutuhkan. Kesempatan emas begitu pikirnya.

***

"Kang Adi, coba nasehati saya kira-kira apa yang salah dengan racikan bumbu saya sehingga ayam bakar yang saya masak tidak pernah bisa seperti yang Kang Adi buat...." 

Si pemuda terlihat putus asa. Bagaimana tidak, sejak mencatat rahasia dapur Kang Adi waktu itu dia sudah mencoba sebanyak dua belas kali. Dan belum pernah berhasil. Rasa ayam bakarnya menjadi "aneh". Kang Adi lagi-lagi hanya tersenyum.

"Semua yang kamu lihat waktu itu, itulah cara yang sebenarnya. Tidak ada apapun yang saya sembunyikan lagi. Cobalah terus dan jangan pernah berhenti sebelum kamu berhasil. Itulah nasehat saya...haha..." Kang Adi pun tertawa.

Pemuda itu terdiam.

***

"Ya Allah, ini adalah yang ke 27 kali saya mencoba resep ayam bakar Kang Adi. Saya sudah lelah. Dan hampir putus asa......." pemuda itu bergumam sembari memperhatikan ayam bakar yang sudah siap disantap.

"Bismillah.......emmmm...."

Selang beberapa detik, "Subhanallah...Alhuakbarr....Ya Allah rasanya lebih nikmat dari masakan Kang Adi..." pemuda itu terlonjak kegirangan.

Dia sangat bahagia dengan usahanya hari ini. Diluar dugaan, hari ini dia berhasil. Ayam bakarnya bahkan lebih lezat. Hanya sebentar kebahagiaan itu terluahkan tiba-tiba istrinya memanggil dari ruang tamu.

"Mas, ayo kita harus segera ke rumah sakit. Kang Adi barusan kecelakaan........" Istrinya memanggil pemuda yang sedang mecicipi ayam bakar itu dengan nada panik.

"Innalillah.....Ayo ayo dek cepat kita harus melihat kondisi Kang Adi...."

Mereka bergegas ke Rumah Sakit tempat dimana Kang Adi dirawat tanpa sempat mengganti baju. Setiba disana Kang Adi sedang diberi tindakan. Tangannya patah, kepalanya sobek cukup dalam. Sekitar tiga jam dari pertama kali mereka sampai di rumah sakit barulah Kang Adi bisa dibesuk.

"Resep ayam bakarnya tolong dijaga ya Mas....jangan beritahu siapapun....." 

Ternyata kalimat itu menjadi wasiat terakhir Kang Adi kepada si pemuda sebelum akhirnya kang Adi menghadap Rabbnya. Kang Adi sijuru masak itu meninggal diusia yang masih sangat muda.

***

Ayam bakar Idris. Enak tenan...

Itulah slogan ayam bakar yang terkenal lezat itu. Tetapi kini semua tinggal jejak serta tinggal kenangan. Setelah naik daun usaha Idris diuji dengan musibah. Usaha idris gulung tikar. Idris dikhianati oleh orang-orang kepercayaannya. Seluruh uangnya dilarikan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, sahabatnya sendiri. Kini Idris suka bermenung ria didepan rumahnya. Entah sampai kapan....

"Allah masih sayang sama mu Mas, sehingga diingatkan tentang pertemananmu yang mungkin saja salah. Orang-orang yang tidak amanah ternyata mengelilingimu selama ini, memanfaatkanmu. Iya tooh....Usaha ayam bakar bisa kita mulai lagi dari awal. Resepnya kan ada dikantongmu Mas??" 

Istrinya menghibur Idris dengan sedikit kelakar. Idris tak berkutik masih saja terpaku membisu. Tatapannya kosong. Dia masih belum percaya dengan tiga orang sahabat yang baru saja mengelabui dan menghancurkan semua usahanya. Tiba-tiba air matanya meleleh. "Kang Adi...."

Istrinya sedari tadi sudah berlalu. Idris masih saja terus menatap ke arah jalan raya. Usaha ayam bakarnya seolah menari-nari dipelupuk mata. Baru beberapa bulan yang lalu Idris memperhatikan usahanya itu dari kejauhan sambil berdecak kagum. Sedang kan kini tak ada yang bersisa. Bagaikan tanam-tanaman yang sedang lebat berbuah dilanda musim kemarau yang teramat menyeramkan. Semua buah berguguran ke tanah.

***
Batam, 27 April 2015
By. Maiyade Laila Yane














Jumat, 24 April 2015

PUISI "Selamat Tinggal"


Seakan berdiri disudut kapal.
Melawan arah angin.

Lembaran-lembaran kisah.
Satu persatu direnggut, Angin.
Terbang jauh tertinggal, tak ada yang bersisa.
Selamat tinggal.

Mata terpejam.
Terasa.
Angin lembut membelai wajah.

Saat mata terbuka.
Hamparan birunya lautan.
Penuh harapan.

Senyuman termanis,
Untukmu masa depan.

Batam 27 November 2014
By Maiyade Laila Yane

Puisi "Damai"


Pelukan-Mu damai
Kesakitan dan kegerahanku terhadap hariku
Luluh lantak dalam dekapan-Mu

Ada cahaya,
Disaat buliran itu berjatuhan bersama lirih.
Aku memujiMu

Tau
Kemanapun kaki pergi,
Aku pilih kembali.

Karena dalam pelukanMu itu,
Damai.
Ditemaram cahaya seprtiga malam,
Gelap lelap, Aku terjaga
Penuh puja dan puji cinta.

Batam, 01 Des 2014
By Maiyade Laila Yane

Senin, 06 April 2015

Puisi "KAU"


Beribu langkah ku jalani
Tunas patah tumbuh dan musim pun berganti

Pernah hujan dan rintiknya mengajakku menari
Sejenak saja, lalu kembali lagi rinduku tentangmu
Langit berpelangipun sekejap sendu 

Beribu juta entah apa lagi hitungan detik yang telah ku lewatkan
Menantimu
Seperti anak kunci kehilangan induk
Kumencarimu

Aku lelah berpayah, air mata hampir saja darah
Sekuat tenaga yang ada berupaya ku jaga
Kau tau? Mau saja rasanya ku benamkan diri kedalam tanah
Untuk sesuatu "segumpal darah"

Dan......

Kini benar tinggal lima centi.
Sekali saja KAU ku tatap lebih lama,
Aku mati rasa. 

Batam, 06 April 2015

Kamis, 18 Desember 2014

Cerpen "Ada Jingga Dimataku"




Seperti biasanya, siang ini aku bertemu lagi dengan Gadis Kecil penjual ikan itu. Dia selalu melewati halaman rumahku setiap mau pergi maupun pulang sekolah. Gadis Kecil yang menarik. Dia masih kelas tiga SD. Sering kudengar bisik tetangga bahwa Gadis Kecil ini pintar disekolah serta baik perilakunya.

Wajahnya manis, kulitnya gelap dan paling mungil diantara teman-temannya, gadis kecil yang periang. Lewat didepan rumahku dengan seragam merah putih, sepatu ditenteng. Rambutnya agak panjang dikuncir dua, kuncir yang semberaut. Kualihkan pandangan ke kakinya, terlihat kotor penuh debu.

Beginilah Sekolah Dasar di kampungku, sejak dulu murid tidak diizinkan memakai sepatu didalam kelas. Alhasil sepatu cuma dipakai saat berangkat sekolah, setelah masuk kelas hingga pulang kerumah sebagian besar anak tidak lagi memakai sepatunya. Jangan heran kalau akhirnya sepatu mereka tahan lama.

***
“Huuuu…huu..hu..uhh……,hiks…,hiks……..”

“Astaghfirullah……….” Aku tersentak. Nafasku tersenggal. Air mata mengalir dipipiku. Untuk kesekian kalinya memori masa kecilku hadir dalam tidurku. Seperti malam ini, dalam mimpi aku terisak menangis hingga akhirnya terbangun. Mimpi itu sangat dekat, aku teramat merasakannya.

Dalam mimpiku malam ini Aku menangis sambil berlari kencang. Ayah mengejarku seperti mengejar maling. Kaki mungilku berlari dengan lincah menelusuri pematang sawah, sore menjelang malam. Dalam suasana yang hampir gelap seutuhnya dan penuh dengan rasa takut aku berurai air mata. Takut pulang dan tak ingin sama sekali pulang. 

Dingin, takut, sedih dan entah perasaan apa lagi yang kurasa. Hingga akhirnya paman menemukanku masih terisak dibawah pohon kopi di tepian sawah tidak jauh dari rumah. Aku benci Ayah.

Mimpi ini membuatku terpaksa mengingat kembali kisah silam itu.

***

“Dasar anak tak tau diri. Memalukan!!! Benar-benar memalukan…!!!” aku mengintip dari balik tirai jendela rumah.

Dadaku naik turun. Entah sudah berapa kali gadis kecil yang baik hati itu kulihat diperlakukan tidak baik oleh Ayahnya. Awalnya dia dikejar-kejar hingga Ayahnya mendapatkannya. Setelah itu si Ayah mengambil rotan yang memang sengaja disimpan untuk memukul anaknya itu bila melakukan kesalahan. Berkali kali rotan itu dilecutkan ke kaki Si Gadis Kecil. Dia meraung kesakitan, terisak-isak sambil memohon kepada Ayahnya agar tidak dilecut lagi.

“Ampun Yaaah……, ampun Yaaahh. Tak kan ulangi lagi Yaaah……janji Yaaahh….Maaf Yaah…..”

Tetapi si Ayah keasyikan memukulinya hingga Si Gadis Kecil tidak mampu lagi mengeluarkan suara dalam tangisnya. Tidak ada yang membela anak itu. Hatiku pilu. Dadaku naik turun. Ada sesuatu yang kurasakan. Perasaan berkecamuk. Pasti nanti malam aku akan bermimpi lagi. Ingin sekali aku berlari keluar rumah, manarik tangan anak itu dari cengkraman Ayahnya dan membawanya lari kedalam rumahku. Karena Aku merasakannya…….sangat…..

***

Keesokan harinya dan dua hari berikutnya tak kulihat lagi Si Gadis Kecil. Andai dia lewat Aku ingin bertanya ada apa sehingga kemaren itu dipukuli?

Akhirnya kuputuskan main kerumahnya. Didalam rumah yang lebih cocok disebut gubuk itu kudapati hanya ada Gadis Kecil itu. Ayah da Ibunya tidak dirumah.

“Apa kabar dek….?” Tanyaku sambil tersenyum. Gadis Kecil itu hanya membalas dengan senyuman. Dia berbaring diatas gulungan kasur yang sudah sangat tipis berselimutkan kain lusuh. Sesuai dugaanku dia sakit. Aku mengelus kepala anak itu hiba. Ku singkap selumut yang menutupi kakinya.Ada garis-garis biru bekas rotan.

“Aduh sakit kak jangan disentuh……” katanya pada saat aku meraba kakinya.

“Oh maaf sayang….” Kulihat dia meringis tanda kesakitan.

Hari itu kuluangkan waktu untuk menghiburnya. Sambil berbincang-bincang. Ternyata beberapa hari yang lalu itu dia telah membelanjakan uang temannya. Mereka berniat menabung bersama dan Si Gadis Kecil dipercaya menyimpan uang itu.

Tiba-tiba ada perintah dari guru di sekolah agar membeli satu buah buku tulis, pensil, penggaris, penggarut dan penghapus. Si Gadis Kecil telah meminta uang kepada Ibu dan Ayahnya, tetapi mereka tidak punya uang. Kemudian timbullah niat untuk meminjam uang tabungan itu, bukan mengambil. Suatu saat akan diganti.

Malangnya orang tua temannya mengetahui tabungan itu dan melarang anaknya ikut, serta meminta agar uangnya dikembalikan. Karna tidak bisa mengganti, orang tua teman Si Gadis Kecil memaki-makinya dan juga Ayah Ibunya. Makanya Ayahnya naik pitam karena malu, tanpa mau tau kenapa anaknya melakukan hal itu. Langsung dihukum tanpa diadili, disebabkan uang yang tidak seberapa nominalnya itu ia tega memukuli anaknya. 

Setelah lama bercerita, tiba-tiba dia bangkit dari tidurnya dan memelukku. Mengangis tersedu, tubuhnya terguncang. Kurasakan ada resonansi didalam jiwa kami. Entah kenapa aku sangat sedih. Hidup dalam himpitan ekonomi, diabaikan orang yang disayang dan sering mendapat perlakuan kasar dari orang tua. Jelas jiwanya tertekan. Ingin sekali menjadi kakak asuhnya dan hidup bersamaku. Dia yang sekarang adalah potret aku dimasa laluku.

“Ada Jingga dimata kakak…….” Bisikku pelan. Kusadari ternyata Aku menyayangi Gadis Kecil yang bernama Jingga ini.

***

“Ibu…., bunuh saja Vina….., bunuh saja Vina…., bunuuuuhhhhh….” Kalimat itu ku ucapkan berulang.

Peristiwa itu saat usiaku sembilan tahunan. Aku diseret keluar dari rumah Nenek menuju rumahku yang berjarak sekitar 20 meter. Aku ngambek tidak mau sahur, sebagai bentuk protesku karna sejak punya adik baru aku kehilangan kasih sayang dan perhatian. Penampilanku seperti anak tak terawat, acak acakan ke sekolah. Rangkingku turun drastis. Ibu tidak begitu mempedulikanku lagi. Perhatiannya tercurah kepada bayi laki-lakinya yang baru. Aku merasa seperti anak tiri. Aku cemburu, aku muak. Begitu juga Ayah, dia sangat pemarah. Kesalahan kecil dihukum dengan hukuman yang berat. Sampai aku tidak mengerti beda antara benci dan cinta.

Ahh Jingga kenapa kau mengalami yang seperti ini juga, ikut menjadi anak malang sepertiku. Tapi kelak setelah kau dewasa maafkanlah Ayahmu walaupun itu agak sedikit sulit.  Ikhlas dan ikhlaskanlah…….

Seperti aku yang telah memaafkan dan mengikhlaskan Ayah Ibuku. 

***

Batam, 19 Agus 2014

Cerpen "Rumitnya Jodoh"




“Lebaran ini nga usah pulang ya, kalau memang masih belum ada. Setidaknya nama aja dulu cukup………” klik.

Kali ini Ibu kejam sekali. Nelfon dengan kalimat lugas, cepat dan tepat mengenai ulu hatiku. Hiks….

“Kucari kemanaaaaaaaa……, arrrgghhhhh……”

***

“tiktaktiktuktiktaktiktuk………..”

Suara keyboard laptopku masih gaduh, padahal sudah dini hari. Kulihat timer dilaptop, menunjukkan angka 02.13.

“hufffffhhhhhhh……..”

Aku menarik nafas, sangat dalam. Beberapa hari belakangan masih terngiang kalimat Ibu. Aku nga boleh pulang, kecuali bawa satu nama. Aku tau persis tabiat Ibu. Ini serius. Tapi nama siapa yang akan kubawa?
Kulampiaskan kegalauanku hari ini dengan menulis hingga larut malam. Sesuatu yang sangat jarang kulakukan.

Setelah jam 03.24 kuputuskan untuk berwudhu’ dan sholat hajat. Membasahi sajadah dengan air mata, memohon dan meminta kpada Allah agar segera mendapatkan “satu nama” sebagai tiket pulang kampung lebaran tahun ini.

***

“Gimana Neng, udah dapat nama?. Ingat, umurmu hampir 29 tahun. Kamu mau jadi perawan tua. Ibu malu sama tetangga…….”

Kalimat itu kalau dihitung sudah hampir seribu kali diucapakan oleh Ibu kesayanganku ini. Wajar, anak gadis semata wayangnya tak kunjung melenggang ke pelaminan. Khawatir tak sempat menimang cucu.

“Kamu jangan pilah pilih lagi, siapa yang datang langsung saja terima….”

Aku senyum sendiri melihat tingkah Ibu. Kebelet ingin punya menantu, siapapun jadi. Lalu aku yang akan memakai  ini entah bagaimana nasibnya. Malang.

“Bu, yang sabar. Nengsi kan lagi usaha….” Kataku membujuk.

“Usahaaaaaa terus. Jawabanmu basi…..” kata Ibu tak kalah sengitnya.

“Bu, jodoh itu Allah yang atur. Kita bisa apa. Yang penting usaha dan do’a. iya toooh…….” Kataku tak mau kalah.

“Iyaaaaaaa, terserah kamu lah. Ibu capek…..” klik. 

Tanpa salam telfon langsung diputus lagi. Ibu jengkel.

Sebenarnya rasa risauku jauh lebih besar dari kerisauan Ibu terhadapku. Bagaimana tidak, hampir semua teman sebaya sudah punya pasangan. Tidak sedikit diantara mereka sudah memiliki satu dan dua orang anak. Ada rasa malu dan hiba didalam hatiku. Bahkan beberapa waktu belakangan Aku memutuskan untuk tidak intip satupun akun socmed  yang kupunya. Hanya karna tidak mampu membendung rasa cemburu saat melihat foto bayi-bayi mungil itu. Bayi teman-teman sebaya. Atau foto-foto mereka dipelaminan. “Nyesek” kata anak-anak gaul sekarang.

***

Sebenarnya, seumur-umur Aku belum pernah pacaran. Kata Ibu cuma Aku gadis yang takut sama lelaki. Aku mangut-mangut cemberut. Ibu jelas salah, tidak pacaran tentu bukan karena takut sama makhluk yang bernama lelaki. Meski selalu gemetar hebat sa’at berbincang dengan lelaki, panas dingin grogi akut. Tapi bukan berarti Aku takut. Hanya satu alasan bahwa Aku tidak ingin berdosa. Pacaran itu mendekati zina, itu yang ku tau.

“Makanya, dari dulu sudah berbusa mulut Ibu mengatakan kepadamu. Miliki satu saja teman lelaki apa salahnya siiih……, lihat sekarang susah cari jodoh kaaan…??” Ibu kesal sekali padaku.

“Ibu, Nengsih kan sudah bilang. Bukan apa-apa. Nengsih nga mau berdosa masuk neraka. Yaaa…, kalaupun belum ketemu jodoh bukan berarti karena nga pacaran itu Bu…, belum ditakdirkan. Nah itu baru betul…..” kataku membela diri.

“Alah…..” ibu memang selalu kalah bila berdebat denganku soal yang satu ini.

Tetapi Ibu tidak tau bahwa betapa sekarang hatiku berbunga-bunga. Cuaca hatiku sedang cerah dan berpelangi. Seorang teman lama tiba-tiba menghubungiku ingin menjodohkanku dengan temannya.

“Apa??? Ta’aruf??”

Hampir kugigit jari sendiri karena rasa bahagia. Ini pertama kalinya hingga umurku hampir 29 tahun  Aku menerima tawaran ta’aruf. Mungkin ini bisa menjadi tiket pulang kampung pikirku. Sungguh pikiran yang salah.Terlalu.

***

“Neng, gimana udah jadi biodatamu? Email ke saya hari ini juga ya……” begitu bunyi sms dari Ringgo. 

Temanku satu tempat kerja dulu. Dengan tangan bergetar dan tubuh panas dingin kubalas sms Ringgo.

“Iya, ini lagi mau disend biodatanya”

Dadaku berdegup kencang. Aliran darahku berpacu. Ya Tuhan inikah rasanya? Pikirku. Malam itu penyakitku kambuh. Guling-guling nga jelas diatas kasur hingga larut malam. Aku insomnia. Perasaanku sulit untuk ku jelaskan. Yang pasti aku tidak bisa tidur hingga pukul 03.00 dini hari. Setelah tahajud dan berdoa dengan sepenuh hati akhirnya aku terlelap. Paginya terlambat ke kantor. Ah..

***

“Neng, selamat ya…..kamu diterima…..”

“Diterima gimana? Wong aku nga ngelamar kerjaan…..” jawabku enteng.

“Hehe….” Terdengar tawa renyah dibalik sana.

“Biodatamu lulus. Kata temen dia bersedia kenalan lanjut…..”

Tenggorokanku tercekat. Tiba-tiba Aku mual dan rasanya mau muntah. Sungguh berita tak terduga datang. Antara bahagia dan takut serta hampir tidak percaya. Apa benar laki-laki itu jodohku?. Masa iya segampang itu pikirku.

“Jadi gimana selanjutnya?” tanyaku bingung.

“Beberapa hari kedepan saya hubungi Neng lagi ya, untuk jadwal ketemuan. Ntar kalian tanya jawab disana. Saya dan istri akan menemani” Ringgo menjelaskan dengan tenang.

“Baiklah,,,terimakasih yaaa……”

Aku senang sekali. Dengan perasaan harap-harap cemas menanti informasi dari Ringgo. Setiap malam insomnia. Turun berat badan tiga kilo karna selain insomnia juga tidak lagi nafsu makan. Parah.

***
Sudah hampir seminggu, kini Aku sudah kembali bisa tidur nyenyak. Tapi kenapa belum ada kabar dari Ringgo. Sementara lebaran satu setengah bulan lagi. Setidaknya ada kejelasan hingga lebaran tiba, dan aku pulang kampung dengan bahagia.

Karena sudah tidak sabar menanti akhirnya kuberanikan diri untuk bertanya kepada Ringgo tentang kelanjutan perkenalan itu.

“Nggo….apa kabar? Gimana bisnis kita kemaren? Kok belum ada kabar….“

“Emmmm…..ehh…gimana ya menjelaskan ke kamu….” Aku menangkap kebingungan Ringgo.

“Kenapa, nga papa ngomong aja..” desakku.

“Gini, aku nga enak kasih tau Neng. Dua hari yang lalu dia nelfon. Katanya orang tuanya keduluan ngajuin calon. Dia nga bisa nolak tawaran Ibunya. Jadi proses dengan Neng minta dipending dulu. Dia mau liat calon yang dari Ibunya. Kalau tidak cocok baru lanjut dengan Neng….dia merasa cocok kok sama Neng….” Ringgo terdengar sangat hati-hati menjelaskan kepadaku.

“Oooh gitu…..” aku terdiam. Berpikir dalam. Sejenak terdiam.

“Tapi maaf ya Nggo. Neng nga mau dipending. Ya udah cukup sampai disini aja. Neng do’akan semoga calon dari Ibunya memang yang terbaik. Semoga dimudahkan…..”

Suaraku hampir tidak bisa didengar. Ringgo berusaha menghiburku, tapi gagal. Harapanku terlanjur pupus. Remuk redam. Dan baru kali itu aku menangis hebat di toilet kantor, banjir air mata . Kusadari kesedihan yang dalam telah melanda seluruh ruang dihatiku. Aku patah hati, Tuhan.

***

“Neng apa kabar?” kudengar suara Ringgo renyah.

“Kabar baik, Alhamdulillah….” Jawabku dengan riang.

Suasana hatiku sudah tidak berkabut lagi. Setelah peristiwa patah hati yang sangat menyakitkan itu, besoknya aku curahkan seluruhnya perasaan ku kepada Ibu. Dan Ibupun berempati kepadaku, beliau membolehkan Aku pulang kampung meski tak ada nama yang bisa ku bawa. Ternyata empati Ibu cukup menghibur luka dihatiku yang sempat berdarah-darah. Aku kembali bahagia, meski belum lupa.

“Neng…..” Ringgo menahan kalimatnya.

“Ya…..” jawabku dengan nada sedikit penasaran.

“Bersediakah Neng menjadi istri kedua ku??” dengan berani Ringgo menyampaikan maksudnya.

“Apa…!!!!” aku setengah berteriak tidak percaya dengan apa yang dia sampaikan. Bola mataku melotot hampir keluar dari tempatnya. Sejenak kurasakan bumi yang indah ini berhenti berputar.

“Iya, aku memberi kesempatan kepada Neng……” dia masih saja percaya diri.

“Kamu gila ya….., ingat anak istrimu bro….” Aku emosi dan marah sekali. Aliran darahku mengalami tegangan tinggi.Tiba-tiba aku benci kepada temanku itu, entah kenapa merasa dilecehkan.

“Tenang saja, Aku akan bertanggungjawab pada kalian semua. Kita bina rumah tangga seperti Aa Gym itu lo. Istriku sudah mengizinkan……”

Kepalaku pusing. Dari tadi rasanya seperti habis disambar petir. Degup jantungku kencang sekali. Aku teramat marah kepada Ringgo. Tega-teganya dia menyampaikan itu kepadaku. Aku tersinggung. Mentang-mentang usiaku hampir kepala tiga seenaknya dia mau menjadikanku yang kedua. Dia tidak tau bahwa sampai kapanpun aku ingin menjadi yang pertama. Apa dia dan istrinya kasian padaku. Aku tidak mau dikasihani. Oh Tuhan katakan padanya aku tidak bersedia dikasihani.

“Neng….., halloooo, Neng….., pikirkan dengan matang ya…, jangan lupa istikhoroh. Saya dan istri akan menunggu jawabanmu. Neng….., Neng….”

Aku pingsan tak sadarkan diri.

Batam, 21 Agus 2014