Bagaimana Berempati
Suatu ketika saat pulang kampung Batam-Payakumbuh. Beli oleh-oleh yang ternyata golongan coklat, keripik dan kacang-kacangan semua.
Sesampai dirumah banyak yang bahagia. Semua kebagian. Kecuali satu orang.
Ibu bilang "Kenapa bawa yang keras-keras semua? Abahmu sudah tidak punya gigi...."
Rasa bersalah menjalari relung hatiku. Sejauh inikah Aku dengan Abah. Hingga tidak "ngeh" kalau beliau sudah tidak punya gigi?.
Tanpa bisa ku bantah bahwa saat itu Aku melupakan & tidak memikirkannya 😢
Mungkin ini yang disebut tidak care, tidak ada empati sebab sebelumnya Aku sudah tau gigi Abah sudah mulai rontok.
Hal sederhana yang pasti menyedihkan buat Abah. Sebagai manusia biasa hampir semua kita mengharapkan sebuah empati , terutama dari orang-orang yang kita sayang.
Tanpa meminta dibelikan oleh-oleh yang bertekstur lembut, harusnya Aku berempati kepada Abah. Sebagai anak Aku merasa berdosa. Sejak saat itu Aku selalu belikan bolu khusus untuk Abah jika hendak pulang kampung 😀😀
Bagiku itulah yang disebut empati alias care. Datang tanpa dipanggil. Memberi tanpa diminta. Ingat tanpa diingatkan.
Ini hanyalah salah satu contoh kasus. Banyak lagi yang lainnya. Bisa jadi memberikan kursi yang sedang diduduki untuk ibu hamil yang tidak kebagian tempat duduk diatas bus. Bisa berupa uluran beberapa lembar rupiah saat teman ketinggalan dompet atau mungkin kehilangan. Dan lain sebagainya.
Ini hanyalah salah satu contoh kasus. Banyak lagi yang lainnya. Bisa jadi memberikan kursi yang sedang diduduki untuk ibu hamil yang tidak kebagian tempat duduk diatas bus. Bisa berupa uluran beberapa lembar rupiah saat teman ketinggalan dompet atau mungkin kehilangan. Dan lain sebagainya.
Selamat belajar untuk menumbuhkan sifat mudah berempati. Sebelum empati kepada orang lain, keluarga lebih dulu berhak mendapatkan empati kita.
Selamat belajar, terutama untuk diri saya sendiri.


0 komentar :
Posting Komentar