CERPEN "“Kirani”"

Jumat, 06 April 2012

CERPEN "“Kirani”"



“Menggantung di JUZ AMMA-nya Kirani”

Rasa haru menyeruak menelusuri rongga dada Kirani. Malam begitu indah tak terungkapkan. Bintang bintang bersinar lebih terang. Rembulanpun tampak tersenyum manis.

Dari lima belas menit yang lalu Kirani sengaja membuka jendela kamarnya.

Piusshhh...dingin, sedingin suhu dini hari. Sebuah rasa yang menyejukkan mengalir bersama aliran darahnya.

"Subhanallah………."

Ucapnya malam itu. Andai malam itu malam seperti biasanya tentu tetangga akan mendengar ucapan tasbih yang keluar dari mulut kirani.

Tetapi tidak ada tetangga yang mendengarnya. Riuh.

Beberapa orang masih sibuk diluar. Lalu lalang. Lelaki, perempuan dan sepertinya juga ada anak-anak. Jarum jam menunjukkan angka satu, dini hari tentunya. Tetapi di rumah Kirani malam ini sibuk sekali. Ada banyak orang dan mereka semua bekerja, ada yang mengaduk-aduk di kuali besar, ada yang melipat-lipat serbet, ada yang menghias-hias dan ada yang hanya sekedar mengunyah pisang. Entah sudah berapa buah pisang yang telah dihabiskannya.

Disela kesibukan terdengar canda tawa. Aura mereka menyiratkan kegembiraan. Ya, esok adalah hari yang sangat  membahagiakan. Khususnya buat Kirani.

Terimaksih ya Allah…
Setelah empat  tahun  azzam itu terpatri….

***

empat tahun tang lalu

“Kirani, kamu udah kerja belum? “

Sebuah suara terdengar dari ponsel gengam Kirani. Suara seorang perempuan.

“Alhamdulillah udah say…..Aku langsung direkrut tempat magangku kemaren. Maklum, anak magang berprestasi heheheh…..” ciri khas Kirani, gadis periang.

“Oh ya…huhuhu kamu beruntung yah….Aku masih nyari lowker nih. Udah enam bulan nganggur. Aku stress Kiraniiii……bantu Aku……” dengan nada cemen seperti biasanya sahabat Kirani curhat.

“Yang sabar ya say, rezeki nga' bakalan kemana tooh...Yang penting usaha maksimal. Sering update informasi dan jangan lupa perbanyak silaturrahmi... biarr.....” Kirani menggantung kalimatnya.

“Hmmm Aku tau, sering silaturrahmi biar panjang umur dan mudah rezeki kan? Ahhh…udah apal aku kata katamu itu Kiraniiii…..”

Kirani senang, sudah enam bulan sejak wisuda Sarjana Kirani tidak melihat sahabatnya ini. Hanya sekali sebulan mereka bercengkrama lewat sms atau telfon. Kirani dan sahabatnya dulu pernah serumah (di kos-kosan) dan kini terpisah jauh. Mengikuti arus nasib masing-masing. Sahabatnya itu memilih untuk pulang kampung, sedangkan Kirani tetap di Ibu Kota karna langsung bekerja seusai wisuda. Diantara teman-temannya memang Kirani termasuk beruntung, tidak merasakan menganggur dan langsung bekerja ditempat yang cukup bonafit.
***

Januari, genap sudah satu tahun Kirani bekerja. Kirani merasakan bahwa menghasilkan uang dari hasil keringat sendiri begitu indah dinikmati. Setahun pula lamanya kirani tidak lagi memungut jatah bulanan dari orang tuanya, bahkan setahun terakhir Kirani lah yang dipungut oleh keluarganya. Tidak hanya ke orang tua, Kirani harus nyetor dan bahkan tak boleh absen kepada adik-adiknya yang kini beranjak remaja.

Adik-adik Kirani hafal betul kalau tanggal 26 setiap bulannya dompet Kirani akan lebih tebal beberapa senti, ketebalan yang harus dikurangi.  Yang bungsu kelas satu SD minta dibelikan baju batman yang ada topeng dan sayapnya, yang tengah minta topi gaya anak muda masa kini. Dan adik yang paling besar minta dibelikan jaket gaul. Kirani hanya bisa tarik nafas sambil itung-itung gaji hehe...

Meski begitu tak satu kalipun Kirani sanggup menolak permintaan adik-adiknya. Semua akan dijawab dengan satu kata yaitu “ya….” dan adik-adiknya akan kegirangan. Semuanya begitu menyenangkan, Kirani terharu ketika kini mampu membuat mereka bahagia.

Kirani mendapati dirinya telah mandiri dan dewasa…….^_^.

***

Hari itu Kirani kembali menghadiri kajian rutin yang sudah 4 tahun terakhir diikutinya. Bertemu kembali dengan teman-teman seperjuangan, berjuang dalam membina diri menjadi lebih baik.

“Kirani, nga' berasa yah…ternyata udah 4 tahun aja kita dalam kelompok ini. Nuntut ilmu sama-sama……”

Tiba-tiba salah seorang teman mencoba menyadarkan Kirani akan umur kelompok kajian rutin mereka.

“Hmmm…iya yah….trus apa yang kamu pikirkan???” Kirani bertanya sekenanya.

“Aku bersyukur telah bersama-sama dengan kalian, banyak hal yang telah kita lakukan. Saling mengingatkan dalam kebaikan dan bertumbuh bersama dalam naungan dakwah islam” teman Kirani begitu terharu dan pancaran kedewasaan memancar dari matanya.

“Betul, dan masih ingat kan betapa dulu kita berdua error? Hehe….gadis centil yang hoby nongkrong? Huff.. waktu saat kita tak tau duha, qiyamullail, tilawah, matsurat, ukhuwah, dakwah…..ckckckck….sungguh empat tahun membuat semua berubah. Aku nga' tau lagi nih, dimanakah Kirani empat  tahun yang lalu. Tak nak kembali kemasa itu lagi hehe…..

“Yap betul, aku mencintaimu karna Allah Kirani…..”

Tiba tiba sahabat Kirani yang baik hati itu memeluknya. Kirani merasakan getaran persaudaraan yang begitu hebat dibalik pelukan itu. Getaran yang membuat kantong air mata Kirani pecah dan mengalairlah air matanya. 

“Semua ini sangat berarti kawan, perjuangan yang tak kenal lelah…..Aku juga mencintaimu karna Allah saudariku….” Lirih kirani kepada sahabatnya itu. Mereka menangis dalam haru.

Kali ini agenda di kajian rutin Kirani adalah evaluasi. Dari seluruh target kelompok mulai dari kehadiran, tilawah qur’an, shaum sunnah, qiyamullail dan target target lainnya dinyatakan baik. Hanya satu hasil evaluasi yang menjadi PR besar bagi tujuh orang, tujuh dari delapan anggota kelompok itu (kebayangkan? Dari delapan ada tujuh yang tidak mencapai target….ckckck….). Tujuh orang itu tidak mencapai target hafalan, dari evaluasi ke evaluasi selalu hafalan yang tidak tercapai. Entahlah…

“Yang satu ini banyak setannya.." celetuk Kirani sore itu.
"Ngafalnya sih cepet……tapi……." Kirani menggatung kalimatnya.

“ Tapi apa Kirani???” serentak teman-temannya melontarkan pertanyaan.

“Tapi kok gampang kali ilangnyaaa……….” Dengan ekspresi yang tidak perlu digambarkan karna lucu dan akan membuat semua orang tertawa.

“Iyaaaaa….kok gitu yaaa……….” Yang lain pun menimpali dengan gaya yang sama.

Namun yang terpenting adalah mereka kembali menyepakati solusi bersama atas masalah “hafalan” yang tak kunjung beranjak. Masih dijuz amma dan itu pun banyak surat yang belum hafal. Empat tahun terakhir mereka selalu mengevaluasi dan selalu mencari solusi. Tapi sejarah membuktikan bahwa solusi itu hanya “angek angek tai ayam….” kata orang padang. Semangatnya diawal saja, setelah itu semua anggota pura-pura  lupa. ^__^

Tapi Kirani memiliki ide. Sebuah jurus yang AMAT JITU agar taun ini juz ammanya kelar.
Sepanjang jalan kirani senyum-senyum memikirkan jurus jitu ini……^_^

***

Dengan lantang malam itu dikamar kosnya Kirani setengah berteriak “AKU TIDAK AKAN MENIKAH SEBELUM HAPAL JUZ AMMAAAAAAAA………..”

Enteng Kirani mengucapkan kalimat itu. Antara serius dan bercand. Tapi yang jelas Allah, kasur, guling, cermin, buku buku, dinding kamar, bedak, hand body, sapu, kipas angin, selimut dan pokoknya semua peralatan yang menjadi warga kamar kos Kirani menjadi saksi ikrarnya malam itu. Tentu juga para malaikat. Malaikat diam-diam mencatatnya.

Setelah mengucapkan kata-kata itu Kirani cengengesan, kebiasaan yang sangat sulit dihilangkan.

***

Dua tahun setelah ikrar itu.

Telfon gengam Kirani berdering, malam ini adalah malam minggu. Jadwal untuk keluarga. Kirani sudah rindu.

“Kak Kirani……kapan menikah kak? Ayok lah…kami udah pengen punya abang ipar niiiihhhhh…..” celotehan si bungsu yang membuat telinga Kirani memerah dan panas.

Tiga tahun sudah Kirani bekerja. Selama itu juga Kirani lulus dari perkuliahaannya. Kirani telah banyak berubah, yang jelas dia semakin dewasa. Tidak terlalu sanguinis seperti dua tahun yang lalu. Kini Kirani memiliki permasalahan sendiri yang menurutnya rumit dan tidak boleh diabaikan. Umurnya sudah menginjak angka 27 tahun, usia yang cukup mengkhawatirkan (kata kakek dan nenek Kirani umur 25 tahun kalau belum menikah berarti tidak laku. Sesuatu yang tidak pernah diterima oleh hati Kirani yang terdalam meski bisa jadi kata kakek nenek benar hehe..).

Sepupu kirani yang seusia dengannya sudah punya bayi. Teman satu angkatan di kampung sudah semua menikah, bahkan sudah ada yang memiliki dua anak. Kini tinggal dirinya. Kalau pulang kerumah, Kirani kebingungan harus jalan sama siapa karna teman-teman yang dulu diajak jalan kini punya suami. Masak Kirani jalan sama ABG tetangga rumah, kan ngak lucu…..(hiks..)

Kemudian satu tahun terakhir, satu per satu teman kuliah telah mendahuluinya dalam menyempurnakan dien. Jauh dari lubuk hatinya Kirani iri, teramat iri.

“Salah satu ciri diberkahinya seorang wanita adalah dengan cepatnya penikahannya……..”

Bait kalimat itu selalu menjadi cambuk yang menyedihkan bagi Kirani.  "Tidakkah engkau berkahi Aku sebagaimana mereka ya Rabb……." lirih Kirani.

“Kirani, gimana kalau kamu dijodohkan saja sama si Anu…….”

Suatu ketika nenek Kirani angkat bicara. Kekhawatiran yang sudah memuncak sejak satu tahun terakhir.

“Abis disuruh cari sendiri kamu tak dapat-dapat. Makanya, dari dulu nenek kan bilang. Miliki satu aja teman lelaki. Tapi ini ndak…….nga' ada teman lelaki satupun. Tak ada pacar, gimana mau nikah kamu…..kamu mau jadi perawan ting ting…..”

Nenek sepertinya gusar karna Kirani tidak pernah mendengarkannya untuk bisa punya pacar sejak SMA hehe....

“Ahh nenekku sayang….nenek  kan tau pacaran itu tak boleh. Masak jilbab gede kayak gini pacaran? Bisa diarak keliling kampung kan? Emang nenek mau cucu tersayang nenek menanggung malu? “

Sok serius, dengan nenek harus begini pikir Kirani.
Itu gaya lobi khas, khusus buat nenek….^_^

“Nek..nenek yang sabar ya…Kirani sedang usaha nyari mantu buat nenek. Hmmm….doakan yah moga dapat yang sholeh…..”

“Dari dulu kamu selalu bilang usaha, tapi mana?? Ngak ada………”

Nada bicara nene melemah. Nenek kecewa.

Begitulah cara Kirani menenangkan desakan neneknya. Bahkan nenek sempat menangis tersedu saat menceritakan kekhawatirannya, karna dengan umur yang telah semakin uzur nenek khawatir tidak akan melihat cucu kesayangannya “Kirani” bersanding di pelaminan. Nenek tidak mengira bahwa gadis lain yang tidak seperti Kirani jauh lebih laku. Apa kekurangan Kirani?.

Cieee….gaya berpikir nenek-nenek di kampung manapun sepertinya sama. Belum lagi ibu, ayah, tante, sepupu beserta seluruh kaum kerabat. Mereka selalu mengancam akan menjodohkan Kirani dengan pemuda kampung. Sesuatu hal yang sangat ditakuti Kirani. Seperti akan melihat hantu saja.

***

Kirani menghitung dengan jelas, dua tahun terakhir telah tujuh kali proses taaruf yang dilaluinya. Tujuh buah biodata telah singgah di memorinya. Kirani hafal satu persatu mulai dari wajah, hingga keterangan terkecil sekalipun dari ketujuh biodata itu (otak Kirani kayak computer aja….).

"Anehnya semua gagal………" (Kirani bertopang dagu dan manyun).
Harapan yang tidak tertunaikan selama tujuh kali berulang-ulang. Belum lagi tawaran diluar itu, dari teman ke teman bahkan duda sholeh pun pernah singgah dalam sejarah ikhtiarnya mencari jodoh, persis sejak azzam nya mulai kuat untuk menikah dua tahun yang lalu. Diusia menjelang 25 tahun.

Kirani selalu mengevaluasi diri, apakah gerangan kekurangan Kirani. Cantik memang tidak begitu, cerdas ala kadarnya, kesholehan masih standar seperti kebanyakan orang, kaya juga belum. Apakah karena itu sehingga urusan jodoh menjadi begitu sulit. Tapi bukankah Kirani anak yang baik? Tidak pernah kenal yang namanya pacaran, menjaga jarak dengan lelaki bukan mahrom, beribadah dengan baik dan sangat mengingikan kebaikan dalam kehidupan? Apakah itu kurang cukup sebagai  syarat untuk menjadi seorang istri dari lelaki baik dan sholeh?.

Kadang Kirani bingung dan hampir saja putus asa. "Aahhh……ternyata benar-benar tidak mudah….".
Atau mungkin diterima saja perjodohan dari nenek. Pemuda kampung yang jelas tidak memahami agama ini dengan baik. Akan seperti apakah hari yang akan Kirani lalui bila pasangan hidupnya tidak satu fikiran dengannya?. Tiba-tiba semua menyesakkan dada. Begitu sulit untuk diungkapkan, lidah yang fasih menjadi kelu.

Dibalik desakan keluarga dan kuatnya keinginan pribadi untuk segera menikah, Kirani berjuang sepenuh tenaga untuk menjaga syariat. Bukan tidak ada lelaki yang mendekat, bahkan sifat periang sering menjadi permasalahan tersendiri baginya. Sering mendapat fitnah wanita, ceria dan friendly menjadi magnet tersendiri bagi seorang lelaki terhadap wanita sepertinya. Kadang timbul dalam hatinya keinginan utuk mencoba menjalin komunikasi dengan lelaki yang memperlihatkan kecendrungan padanya.

"Tapi ahhhh……"

Semua itu tidak pernah terjadi. Selalu tertutup rapat. Itu bukanlah solusi, itu bukanlah solusi. Allah pasti marah.
 
***

Dan malam ini, Kirani bersyukur. Esok lelaki sholeh yang baru dikenalnya sebulan yang lalu lewat taarufnya yang  ke sembilan akan mengucapkan ijab Kabul di depan penghulu. Lelaki berjanji menjadi pemimpin untuk Kirani disepanjang masa perjodohan yang telah Allah tetapkan. Lelaki sholeh itu telah menyatakan kesediaanya untuk menjadi teman yang akan membimbing Kirani bersama-sama meniti jalan menuju syurga. Seorang lelaki yang akan menjadi ayah dari anak keturunan Kirani.

Diusia Kirani yang kini genap 28 tahun, memasuki 29 tahun. Bagi Kirani terlambat sudah memang, apalagi buat nenek Kirani. Tapi sepertinya tidak bagi segelintir orang. karena masih ada nun dimana-mana wanita yang lebih tua darinya tapi masih belum menemukan pasangan hidupnya. Dan tentu saja semua proses ini begitu indah.

Kirani sedikitpun tidak bisa memicingkan mata, rasa haru dan bahagia berkecamuk. Syukur yang tak terperi, tak terbahasakan apalagi tergambarkan.

Bersyukur dimana satu tahun sebelum malam detik-detik pernikahan ini Allah mengingatkan Kirani akan sebuah ikrar didalam kamar kosnya (yang telah diikrarkannya dua tahun sebelumnya). Waktu ikrar itu diucapkan,  Allah, para malaikat dan seluruh anggota penghuni kamar menjadi saksi.

Dulu pernah hampir putus asa, saat dimana kekuatannya untuk bertahan didalam syariat satu persatu seolah akan mengelupas. Kirani mencoba kembali menatanya, sangat melelahkan. Canda tawa teman-teman yang semakin hari semakin menambah jumlah pasukan. Iri yang menjadi jadi.

“Salah satu ciri diberkahinya seorang wanita adalah dengan cepatnya penikahannya……..”

Sebuah ikrar.

“AKU TIDAK AKAN MENIKAH SEBELUM HAPAL JUZ AMMAAAAAAAA………..”

***

Satu tahun yang lalu itu, Kirani tersentak dan bersujud memohon ampunan kepada Allah. Kirani melupakan ikrar itu. Kirani ingin dipercepat jodoh dan dengan orang yang sholeh pula, tetapi Kirani melupakan ikrarnya kepada Allah dan para malaikat, para saksi.

“Ya Allah hu Rabbi ya Ghafurr….ampuni Kirani……..”

“Kiranimu ini merasa menjadi hamba yang baik tetapi lupa akan janji. Kirani mu ini telah sempat lelah terhadap putusan-putusanmu…..Allaaah……….”

“Ya Allah….ampuni Kirani. Hafalan Kirani masih tidak jauh beda dengan dua tahun yang lalu. Hafalah itu masih sama seperti saat ikrar itu. Juz amma itu masih segitu, masih bersisa banyak ya Allah……..hiks hiks hiks….” (tersungkur terisak).

Ya Allah, inikah solusinya?
Ikrar itu kah? sehingga masih menggantung jodohku??
Juz amma inikah yang telah menyebabkan gagalnya taaruf demi taaruf itu???
Juz amma yang masih menggantung inikah alasanny??

Kirani tersungkur mengadukan kealpaannya kepada Allah, ditengah rasa malu yang tiada terperi kepada Rabb nya….

***

Malam detik-detik pernikahan, Kirani merasa malam ini malam yang begitu panjang. Menikmati rembulan, bintang dan semilir angin malam tidak mampu membuat hatinya tenang. Akhirnya Kirani memilih tahajud. Rukuk dan sujud. Kirani memurajaah hafalan qurannya yang kini telah berada dipenghujung juz 29. Kirani butuh satu tahun untuk menuntaskan ikrarnya itu. Kirani berjuang. Waktu yang sebenarnya cukup lama, tapi tidak bagi Kirani. Entah kenapa, dia butuh satu tahun untu menuntaskan Juz Amma itu hingga fasih.

Esok adalah hari yang telah ditunggu-tunggu sejak 4 tahun yang lalu. Esok dia akan berobah status menjadi seorang istri. Di usia 28 tahun, usia yang telat bagi Kirani. Terutama buat nenek…..”

“Nenek…..maafkan Kirani yahh……….”

“Tapi Nenek akan tetap berjumpa dengan mantu nenek yang shaleh ini kelak di syurga……Kirani dan mantu nenek akan menjumpai nenek disana, beserta barisan para cucut nenek yang juga shaleh (rencananya Kirani akan memberikan cucut ke nenek dengan jumlah hampir sebelas, makanya harus berbaris ^____^)”

Batam, 01 januari 2012
By. Hafshatuz Zikra
(segitu aja ya….hikmahnya simpulkan sendiri. Semoga bermanfaat, untuk menulisnya daya khayal tingkat tinggi. Maklumi aja ya, masih dalam proses belajar menulis cerpen hehehe……..)

1 komentar :

  1. “salah satu ciri diberkahinya seorang wanita adalah dengan cepatnya penikahannya……..”

    Ini kan hanya salah satu :), saya yakin masih banyak ciri lain dimana wanita dianggap mendapatkan keberkahan Allah.
    Dan jangan terpaku dengan kata2 tersebut, bukankah semuanya telah tertulis dalam kitab Lauh Mahfudz-Nya?
    Urusan jodoh, memang akan ada yang dipercepat datangnya dan ada yang lambat. Sebagaimana rejeki, ada yang dilebihkan antara 1 orang dengan lainnya. Semua ada hikmahnya. Semangat!!!

    BalasHapus