Home » All posts
Kamis, 06 April 2017
Rabu, 05 April 2017
Karakter Ibu Baru. PANIKAN!
10:02:00 PM Maiyade Laila Yane
Senin, 03 April 2017
Sumber Kebahagiaan
10:09:00 PM Maiyade Laila Yane
Jumat, 31 Maret 2017
Komunikasi Pasutri
8:59:00 PM Maiyade Laila Yane
Kemarin baru saja ngikutin seminar untuk menjaga keharmonisan Rumah Tangga. Temanya tentang Komunikasi Pasutri. Berikut saya coba share yaa...
Semoga Bermanfaat ^_^
KOMUNIKASI PASUTRI
Saat berpacaran dahulu, anda masih sangat segar untuk menghabiskan waktu bersama dan mencoba hal-hal baru dengan pasangan, seperti bertindak sebagai sahabat yang mengerti atau kekasih yang sangat mencintai.
Hingga akhirnya memutuskan untuk menikah. Setelah menikah justru banyak pasanyan yang romantismenya memudar, karena merasa tidak ada lagi yang perlu dijajaki. Hal ini bisa menyebabkan pasangan mudah emosi dan mempermasalahkan hal kecil menjadi besar penyebab terjadinya pertengkaran.
Seks Dan Keintiman
Sediakan waktu untuk bermesraan dengan pasangan, jika perlu, titipkan anak pada orangtua. Bereksperimen saat melakukan hubungan seks akan memberi bumbu-bumbu yang penting bagi sebuah perkawinan
Keuangan
Masalah materi seringkali jadi permasalahan sensitif dalam hubungan rumah tangga. Banyak suami istri yang bertengkar akibat kurang terbuka dalam mengelola keuangan serta tidak merencanakan segala keinginan dan kebutuhan rumah tangga bersama. Masalah bisa bertambah besar apabila ternyata salah satu pasangan terlihat membeli barang kebutuhan yang tidak didukung oleh pasangannya.
Terbukalah kepada pasangan anda terutama masalah uang. Jika pasangan anda terlihat sedang butuh untuk keperluan pribadi, jangan diam saja tapi bicarakan berdua apa masalahnya. Karena dalam rumah tangga sudah bukan lagi masing-masing tapi kebersamaan atau saling.
Orang Ketiga
Pasangan yang sudah menikah, umumnya punya keterikatan satu sama lain. Sadar atau tidak, keduanya punya naluri yang akan “membisikkan” seandainya ada sesuatu yang berbeda mengenai pasangannya. Masalah terbesar muncul ketika ada orang ketiga yang dianggap mengusik rumah tangga. Bentuknya bisa apa saja seperti persahabatan yang “lewat batas” terutama dengan lawan jenis, hingga yang terparah yaitu perselingkuhan
Mertua
Masalah mertua ini besar hubungannya dengan penerimaan di keluarga pasangan. Jika hubungan dengan mertua relatif kurang baik, maka kemungkinan besar salah satu pihak akan membawa-bawa cara didik keluarganya dalam membesarkannya. Hal ini menjadi suatu perbandingan yang jelas tidak akan disukai oleh pasangan yang sudah menikah.
Kebersihan Dan Kerapihan
Masalah kebersihan juga dapat memicu pertengkaran. Seorang istri umumnya memiliki dorongan untuk menyusun, merapihkan, dan meletakkan segala sesuatu di tempatnya serta memberi kenyamanan bagi suami dan anak-anaknya. Sayangnya banyak suami yang tidak memahami ini dan malah menambah keadaan rumah acak-acakan kembali.
Ajak suami untuk bersama-sama membersihkan lingkungan satu minggu sekali, karena selain rumah akan bersih waktu berdua juga dimanfaatkan sangat baik. Maka anda dan pasangan akan selalu kompak.
Anak
Anak merupakan buah hati sekaligus tanda cinta dalam rumah tangga. Hanya saja terkadang hal ini bisa berubah menjadi perselisihan ketika salah satu pihak memiliki cara sendiri dalam menerapkan pola didikan bagi anaknya namun tidak sejalan dengan pihak lainnya. Masalah lainnya juga sering muncul ketika pasangan tidak seragam dalam menerapkan pola didik.
Over-Posesif
Ketergantungan, takut kehilangan, dan rasa cinta berlebih pada pasangan memungkinkan muncul rasa kepemilikan yang besar. Sayangnya banyak pasangan yang kemudian menjadi berlebihan.
Overposesif berakibat sangat buruk dalam hubungan rumah tangga, karena selain menciptakan kesalahpahaman dan menghambat salah satunya, keadaan ini juga secara tidak langsung memenjarakan keinginan salah satu pasangan.
Saling percaya di dalam suami – istri sangat diperlukan, lakukanlah hal-hal yang boleh dan jangan pernah mencoba hal-hal yang tidak boleh ketika sudah berumah tangga. Jaga perasaan suami maupun istri, maka tidak akan timbul over posesif terhadap pasangan
Sistem Rumah Tangga
Rumah tangga yang sehat dijalankan dengan pembentukan keputusan dua belah pihak. Baik dalam cara mengurus anak, hingga keputusan besar yang berhubungan dengan orang lain. Sayangnya masih banyak pasangan suami istri yang akhirnya bertengkar hanya karena satu pihak merasa tidak dianggap ketika pihak yang lain membuat suatu keputusan.Saling menghargai dalam rumah tangga adalah hal yang sangat penting
Berkomunikasi (yang baik dan benar) tidak mudah. Terutama dalam situasi yang sulit atau sensitif. Jadi, jangan menginterpretasikan atau mengasumsikan bahwa Anda tahu persis pikiran dan maksud lawan bicara. Lebih baik tanya, minta penjelasan atas apa yang diutarakan untuk memastikan Anda mengerti apa yang disampaikan.
2. Selalu merasa paling benar
Tujuan berkomuniasi adalah untuk saling mengerti. Bila tujuan berkomuniasi untuk membuktikan bahwa Anda (yang paling) benar, Anda hanya akan merusak hubungan dengan lawan bicara. Hal ini umum terjadi dan merupakan perilaku yang sangat merusak. Jangan pernah berkomunikasi hanya karena ingin menjadi yang paling benar. Percayalah, hal ini tidak akan berhasil.
Hal ini merupakan kesalahan yang sering terjadi. Semua orang pasti pernah dan sering melakukannya. Bila membuat pernyataan yang memperlihatkan semua orang di "kelas", kelompok, atau keluarga Anda dan merasa mereka punya pikiran yang sama, berarti Anda menguniversalkan pendapat pribadi.
Contohnya, Anda mengatakan, "Semua orang sudah tahu" atau "Orang-orang tahu, kok, apa yang saya katakan pasti benar."
5. Jangan bikin pasangan bingung
Sangat penting untuk menyadari bahwa dengan siapa pun kita berhadapan, kita harus berpikiran positif dan menyadari bahwa lawan bicara berusaha jujur dalam berkomunikasi dengan Anda walaupun cara yang digunakan dan diperlihatkannya mungkin terbatas dan tidak efektif. Setiap orang dapat melakukan kesalahan. Bahkan kadang kesalahan yang serius.
Perlakukan setiap orang sebagaimana Anda ingin diperlakukan. Sikap membeda-bedakan hanya akan merusak komunikasi antara Anda dan lawan bicara. Ingat, tindakan lebih keras daripada kata-kata.
Bila mengatakan suatu hal dan bersikap sebaliknya atau bila berperilaku berdasar prinsip yang Anda terapkan kepada orang-orang di sekitar tetapi tidak Anda terapkan kepada diri sendiri, maka kontradiksi ini akan tampak dan membuat orang tersinggung dan marah.
7.Menggunakan bahasa negatif
Bahasa emosional yang negatif seperti, "Kamu tidak pernah mendengar apa yang saya katakan" atau "Kamu selalu mengatakan itu" atau "Kamu betul-betul membenci saya" atau "Kamu memang tidak mau mendengar" semua ini merupakan contoh bahasa emosional yang negatif. Bahasa ini tidak memberikan jalan keluar.
8.Tidak menghargai sikap positif
Kesalahan seperti ini juga sering dilakukan. Misalnya, Anda minta pasangan atau lawan bicara untuk mengubah nada suaranya bila berbicara dengan Anda. Anda memintanya agar berbicara lebih manis.
Bila akhirnya pasangan atau lawan bicara mengikuti kehendak Anda, Anda justru mengatakan, "Tumben kamu baik, jangan-jangan ada sesuatu yang kamu mau. Kamu pikir saya bodoh!" Banyak sekali contoh mengenai hal ini.
Oleh karena itu, bila Anda meminta sesuatu dan akhirnya mendapatkannya, hargai dan jangan mencelanya. Sebaliknya, katakan terima kasih karena ia telah bersedia memenuhi permintaan
9. Berbohong
Apakah Anda senang bila dibohongi? Apakah Anda berharap orang yang dekat dengan Anda berbohong pada Anda? Jawabannya pasti "Tidak". Oleh karena itu, pastikan Anda jujur. Dengan cara ini, otomatis Anda memberi contoh dan memberi gambaran ingin agar orang di sekitar Anda jujurpada Anda dan bila tidak, Anda berhak untuk mengeluh. Tetapi bila Anda tidak jujur maka Anda tidak berhak untuk mengeluh.
Kejujuran merupakan cara yang terbaik dan hanya satu-satunya cara untuk meyakinkan bahwa Anda mendapatkan apa yang Anda perlukan.
10. Membiarkan campur tangan dari luar
Bila situasi menjadi lebih keruh dan harus diatasi, bicarakan langsung pada pasangan. Terutama bila ada hal yang perlu Anda jelaskan agar tidak terjadi kesalahpahaman. Tidak ada gunanya membicarakan masalah seseorang kepada orang lain sebelum Anda berusaha menyelesaikan permasalahannya dengan orang yang bersangkutan.
Kamis, 30 Maret 2017
Welcome Trisemester Dua
7:40:00 AM Maiyade Laila Yane
Senin, 20 Maret 2017
Perkembangan Bayi 10 Bulan
6:25:00 PM Maiyade Laila Yane
Habib menjadikan semuanya mainan. Mulai dari baju-baju yang dilipat, cangkir-cangkir plastik, sendok nasi plastik, tissue, bantal, buku, kotak-kotak dll. Kami mencoba memberikannya mainan, tapi realitanya alat dapur lebih menyenangkan buat Habib.
"Rabbi Habli Minasshaalihiin....."
Minggu, 19 Maret 2017
Demam Panas
9:42:00 PM Maiyade Laila Yane
Rabu, 15 Maret 2017
Rahasia Bayi Anteng
10:09:00 PM Maiyade Laila Yane
Lima hal diatas rutin setiap hari saya lakukan kepada bayi saya. Semoga pengalaman saya ini bisa menginspirasi, bermanfaat dan tidak ada salahnya mencoba.
Semangat ASI Ekslusif
9:30:00 PM Maiyade Laila Yane
Melahirkan di RS yang tidak langsung memberikan bayi kepada orang tua pasca melahirkan.
Memilih sedini mungkin tempat melahirkan yang tepat adalah sesuatu yang baik. Mencari informasi yang lengkap untuk memastikan bahwa tempat yang kita tentukan sudah yang terbaik. Beberapa hal yang menurut saya mungkin perlu menjadi pertimbangan adalah:
1. Harus memiliki peralatan dan pelayanan yang lengkap terkait proses persalinan sehingga jika calon Ibu membutuhkan tindakan medis tambahan tidak perlu dirujuk (rujukan ke tempat lain akan membutuhkan waktu dan penanganan menjadi lebih lama sehingga beresiko untuk keselamatan Ibu dan Anak).
2. Memiliki tenaga medis yang diketahui handal dalam hal persalinan. Berpengalaman dan terkenal ramah klo perlu :)
3. Memberikan dukungan untuk pemberian ASI Ekslusif terhadap bayi, dimana pasca melahirkan bayi boleh langsung diberikan kepada Ibu untuk segera mendapatkan ASI.
4. Memilik tarif harga persalinan yang terjangkau.
Empat hal diatas menurut saya perlu untuk menjadi pertimbangan.
Sayang, saya sendiri tidak bisa mewujudkan empat hal diatas secara sempurna. Terkait dengan biaya kesehatan saya yang ditanggung oleh perusahaan tempat saya bekerja, saya dengan terpaksa harus melahirkan di RS yang tidak bersedia memberikan bayi langsung kepada Ibunya pasca melahirkan. Saya baru bertemu bayi saya keesokan harinya pas mau pulang kerumah (sedih). Dan bayi saya sudah diberikan susu formula oleh pihak RS (sedih lagi).
Merawat puting sejak masa kehamilan.
Selanjutnya terutama bagi Ibu yang sedang hamil anak pertama, merawat puting sejak dini sangat berguna. Agar pasca melahirkan puting bisa langsung siap digunakan. Tidak mudah lecet (nyeri saat menyusui) dan mudah di enyot bayi sehingga bayi tidak perlu mengalami bingung puting.
Lagi-lagi saya gagal dalam hal merawat puting. Sepertinya saya kurang telaten saat masa kehamilan sehingga pasca melahirkan puting saya tidak muncul (sedih). Sehingga bayi saya mengalami bingung puting hingga berusia 21 hari.
Saya mencari solusi lain agar bayi saya tetap mendapatkan ASI meski dia belum bisa menyusu, yaitu dengan cara pumping. Proses pumping ini membantu puting saya akhirnya muncul sehingga di usia 21 hari bayi saya berhasil menyusu dengan baik.
Menurut pemaparan AIMI (Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia) Kepri bahwa meskipun Si Ibu tidak memiliki puting yang memadai, sebenarnya itu bukan halangan untuk anak mendapatkan ASI karena Bayi menyusu bukan pada puting tapi pada payudara (mulai dari daerah aerola bagian payudara sekitar puting yang berwarna cokelat). Nah saya baru tahu ini lo....realitanya anak saya tidak pandai menyusu karena tidak ada puting.
Dukungan keluarga besar, terutama suami.
Untuk mencapai target ASI Eklusif bagi bayi, kita para Ibu membutuhkan dukungan yang optimal dari keluarga terutama suami. Apalagi jika kondisi tertentu yang membuat Ibu mengalami kendala dalam menyusui bayinya. Sebaiknya dikomunikasikan dengan baik agar keluarga seperti Ibu, Ayah dan suami tidak mudah tergoda memberikan susu formula saat bayi mengalami kendala dalam hal mendapatkan ASI.
Terkadang rasa kasihan dari mereka membuat kita gagal dalam menggapai cita-cita. Contohnya saya. Saya tidak berdaya (hanya bisa nangis) disaat hampir semua orang menyuruh untuk segera memberikan susu formula kepada bayi saya yang memang sudah dua hari masih belum bisa menyusu (bingung puting). Meskipun saya pumping, ASI yang saya berikan dianggap kurang. Padahal di hari pertama kelahiran bayi, ASI kita memang tidak akan banyak karna kebutuhan bayi belum banyak. Lambung bayi hanya seukuran jempol yang hanya butuh ASI beberapa ml saja.
Akhirnya bayi saya mengkonsumsi ASI plus formula. Berkat rasa sedih Ayah, Nenek dan Kakeknya.
Bagi Ibu pekerja, jangan malas untuk mengupayakan ASI_Perah
Ibu yang bekerja harus telaten, memompa ASI sesering mungkin dan banyak mengkonsumsi air putih dan makanan kaya gizi. Sehingga meskipun bekerja, ASI tetap melimpah. Bayi kenyang anda senang. Teori menyatakan bahwa semakin sering ASI diperah semakin ASI melimpah. Dan kita perlu mempelajari lebih lanjut tentang cara yang benar dalam memerah ASI, cara penyimpanannya supaya terhindar dari bakteri (steril) dan cara penggunaan yang tepat untuk bayi.
Saya adalah Ibu yang gagal memberikan ASI Ekslusif kepada anak pertama saya. Antara cita dan realita yang tidak sejalan. Sayalah yang belum berusaha dengan maksimal.
Sedih iya, tetapi tetap optimis untuk anak berikutnya. Semua kendala yang dihadapi dijadikan pelajaran dan semoga tidak terulang.
Semangat, semoga para Ibu dimudahkan dalam memberikan ASI Ekslusif minimal 6 bulan pertama.
Selasa, 14 Maret 2017
Pengalaman Melahirkan Anak Pertama Dengan Normal
8:54:00 PM Maiyade Laila Yane
Awalnya tidak ingin untuk menulis pengalaman seperti ini. Tapi setelah difikir ulang sepertinya tidak ada salahnya menulis kisah pribadi. Dalam rangka berbagi sekaligus mengabadikan setiap jengkal pengalaman agar tidak hilang dimakan waktu. Semoga bisa diambil pelajaran yah...Agak sakit -- sakit -- sakit sekali -- sakit -- agak sakit -- reda beberapa detik -- agak sakit lagi dan begitulah seterusnya hingga menjelang zuhur. Selama itu saya lebih banyak berbaring. Pernah sekali mencoba jalan tetapi saya muntah untuk yang kedua kalinya.
Subhanallah luar biasa sakit semakin sakit, tapi insyaallah masih bisa dilalui asal dinikmati hehe...
Saya menikmati dengan gigit-gigit jilbab ajah.....plus genggam tangan suami (so sweet).
Meski sakitnya terbilang sangat tetapi tidak terus terusan lo...seperti yang saya gambarkan sebelumnya. Ada jeda dan tingkatan sakitnya seperti grafik naik turun dengan teratur.
Agak sakit -- sakit -- sangat sakit -- sakit -- agak sakit -- reda beberapa detik -- agak sakit lagi dan seterusnya. Masih bisa nafas kok...
Disini peran pendamping sangat besar. Baik itu Ibu ataupun suami, tergantung siapa yang membuat kita merasa nyaman. Saya memilih ditemani suami. Alhamdulillah punya suami yang suka bercanda. Lewat candaannya dengan suster yang membantu persalinan, saya sedikit terhibur dan tidak ada rasa cemas.
Yang ada waktu itu adalah optimisme dan yakin saya bisa melahirkan dengan baik. Dengan candaan mereka suasana ruangan tidak begitu tegang, sambil mengarahkan saya untuk mengedan ada saja candaan yang dilontarkan membuat saya kadang tertawa sambil ngedan. Kebayang nga. Saya suka.
Wadowww ternyata ada sesuatu yang sudah digunting dan robek. Ouhh pengguntingan perenium. Sakit? Entah lah saya tidak merasakan sakit...efek bius kali yaa...atau mungkin sudah kebal. Jujur sakit terakhir yang saya rasakan adalah saat bukaan 8 sebelum adanya rasa mau ngedan. Setelah itu boleh dibilang tidak ada yang terlalu sakit hehe...itu saya lo....setiap orang kan mengalami beda-beda yaa....
#Menurut Ibu saya agak susah melahirkan
#Menurut saya, saya dimudahkan melahirkan
#Kami beda keyakinan heheheh...
Senin, 13 Maret 2017
Hamil itu Siaga
10:12:00 PM Maiyade Laila Yane
Jumat, 19 Februari 2016
CERPEN "NURINA"
6:17:00 PM Maiyade Laila Yane
***
“Bi, jadi Nuri jawab apa ke Mas Bayu?”
“Hufffhhh……”
Bibi terdengar menghela nafas dalam. Kemudian menghampiriku sambil berkata “Berpandai-pandai lah Nduk…..Kami sekeluarga yang kini menjadi walimu belum berubah fikiran. Masih seperti kemaren”
Pelan dan tegas. Seketika mataku berkaca-kaca dan satu bulir bening akhirnya jatuh dipipiku.
***
Aku Nurina, gadis 20 tahun yang masih kuliah semester tiga. Ayah dan Ibuku sudah tiada. Hanya ada Aku dan adik laki-lakiku. Kami berdua dalam pengawasan Bibi. Ayahku meninggal dunia saat Aku masih kelas lima sekolah dasar. Dan Ibuku baru saja meninggal 3 tahun yang lalu saat Aku SMA.
Aku gadis biasa dengan perawakan sedang dan hitam manis. Sederhana. Mudah akrab dan mencintai sastra. Jiwa sastralah yang membuatku ada di fakultas sastra ini.
Dan sastra jualah yang kemudian mempertemukanku dengan seorang laki-laki yang akhirnya menjadi sahabat. Kami dekat. Dia pemuda yang menarik. Satu tahun lebih diam-diam Aku melirik. Rupanya ada cinta dalam diam. Hingga suatu ketika dia yang kuanggap sahabat itu datang menghampiriku. Tiada disangka diapun nyatakan cinta. Ya sudah gayung ternyata bersambut. Sosok yang selama ini menari-nari di diatas kertas berupa bait-bait puisi kini menjelma nyata. Hadir didepan mataku. Aku seolah tidak percaya.
“Mas Bayu yakin??” Kataku terbata. Takut masih berada dalam alam mimpi.
Aku terdiam lama. Ingat bahwa selama ini Aku sudah terlalu banyak menabung dosa. Kekagumanku dalam diam. Keinginanku untuk selalu dekat dengannya. Kebahagiaanku saat beraktifitas dengannya. Semua itu dosa. Lalu setelah ini akankah menambah dosa lagi?.
"Aku ingin kita menikah" dengan sangat yakin kalimat itu kolantarkan kepadanya.
Dan dia menjawab “Baik, kapan saya bisa kerumah mu?”.
***
“Nurina. Jangan kamu kira menikah itu gampang. Ingat kamu masih kuliah. Masih lama hingga waktu wisuda datang. Bibi dan keluarga tidak mengizinkan. Maaf ini demi kebaikan masa depan kamu. Kami tidak ingin masa depanmu berantakan hanya karena keinginan sesaat.”
Jelas sekali bahwa Bibi dan keluarga tidak memberiku restu. Meski sudah satu baskom air mata tumpah demi menjelaskan dan meyakinkan mereka bahwa semua akan baik-baik saja. Bahwa kuliah akan berjalan dengan lancar dan justru ini demi kebaikanku, dunia wal akhirat. Aku sudah siap dan sangat ingin menikah. Ahh bagaimana ini?.
***
Aku disini terdiam pilu.
Satu kata. Merana. Aku kewalahan dalam membujuk hatiku. Hari-hariku terganggu, sangat terganggu. Aku berantakan. Meski Mas Bayu bisa menerima dengan baik, tapi Aku tidak. Menikah belum dibolehkan. Lalu hubungan semacam apa yang akan Aku lalui, yang tidak akan menimbulkan dosa? Adakah?.
Realita kini menjadi pahit. Jiwaku dikuasai nafsu. Aku cinta, titik. Pernikahan, itu yang ku inginkan. Tak kuasa Aku melepaskannya, ingin tetap bersamanya dalam bentuk hubungan apapun. Ahh sementara dosa hendak ku asingkan kemana??.
***
“Mas Bayu maaf ya. Nurina minta kita jalan aja dulu masing-masing. Jika memang jodoh akan ada cara terindah yang Allah berikan. Keluarga Nurina belum mengizinkan dan Nurina tidak ingin pacaran atau hubungan tanpa status….Maaf….”
Aku tersenyum kecut. Hatiku hancur. Ingin sekali Aku menangis tapi tidak mungkin. Kemudian Aku berlalu dengan Jilbab lebarku yang melambai seakan menyisakan jejak kepahitan untuk Mas Bayu yang kukagumi itu. Aku meninggalkannya begitu saja. Rasa bersalah menyelimuti hatiku.
***
Waktu berlalu. Aku berupaya menghindar. Tetapi syaitan bekerja keras dengan sangat apik. Pertemuan demi pertemuan yang tak disengaja ternyata meluluhkan segalanya. Puisi cinta diam-diam kembali tercipta. Secara bahasa dan kata mungkin kami tidak ada hubungan apa-apa. Tapi jiwa tidak bisa berdusta. Setiap hari kami rajin menambah tabungan dosa. SMS an tanpa tema. Jalan bareng tanpa tujuan yang jelas. Kepustaka, kekampus dan ke ke lainnya. Entahlah….
Hari ke hari Aku terus mengusik Bibiku. Berusaha untuk mendapatkan restu. Mencari celah agar diberikan lampu hijau. Siapa sangka. Usaha tidak ada yang sia-sia. Beberapa bulan berlalu akhirnya Bibi luluh juga. Kalimat “Boleh” keluar dari mulut Bibi dan keluarga lainnya. Sungguh Aku bahagia.
“Mas Bayu, Alhamdulillah Bibi sudah mengizinkan. Bolehkah niat kita dulu itu dilanjutkan?” Dengan perasaan yang sangat bahagia dan sedikit gemetar Aku menyampaikan berita bahagia itu kepadanya.
Mas Bayu tercenung. Lama. Dan kemudian menarik nafas dalam.
“Emmmm....oh soal itu nanti kita bahas ya? O ya Nurina saya ada urusan sebentar…..Maaf ya saya tinggal…..” Diapun berlalu dengan langkah yang berat. Aku bingung. Memandang punggunggnya dengan seribu tanda tanya.
***
Aku baru saja hendak tidur. Jam dinding menunjukkan angka 23.03. Angka kegalauan. Seperti halnya hatiku yang masih kebingungan menjawab pertanyaan Bibi. “Jadi kapan pemuda itu akan kesini?”.
Tiba-tiba sebuah pesan singkat masuk. Dengan enggan Aku membacanya.
“Dek, Mas minta maaf ya. Untuk saat ini kita jalani aja dulu semua apa adanya seperti air yang mengalir. Setelah Mas tanya kediri Mas sendiri disitu baru tau kalau Mas ini belum benar-benar yakin untuk segera menikah. Rupanya keinginan sesaat. Berat. Maaf dan sekali lagi maaf…..”
Ingin sekali Aku berteriak kencang. Sayang handphone ku cukup mahal untuk dilemparkan. Tubuhku gemetar. Terguncang. Aku menangis. Sesak. Bahkan kalau boleh bunuh diri Aku ingin bunuh diri saja. Ahhhh.
Tujuh bulan berlalu. Selama itu pula semua sunyi. Aku memilih untuk menjauh. Bermain api tiada gunanya. Hanya akan menyiksa diri sendiri. Lebih baik fokus untuk kuliah. Tinggal dua semester lagi. Aku merasa kebodohan menguasai diriku sejak lama.Kebodohan tak terkendali. Sudah berapakah tabungan dosaku?.
Aku tau Allah sudah peringatkan untuk menjaga jarak dengan lelaki non mahram. Entah kenapa dulu malah tidak menarik diri, merasa lemah dalam menolak keinginan hati. Nafsu menguasai. Mata buta, telinga tuli. Terlena dengan indahnya kalimat cinta. Hari ke hari ku lalui dengan upaya membunuh kerinduan yang kadang masih menyala. Aku jelas tersiksa. Oh Tuhan berikanlah kekuatan dan jalan terbaik.
Sementara Mas Bayu, dia masih terus berupaya meminta maaf dariku. Rasa bersalah ada di tatapan matanya yang sendu. Setiap kali dia mendekat Aku segera menjauh. Sms dan telfon darinya ku abaikan dengan segunung rasa penyesalan. Hingga suatu saat Aku kembali diuji melalui pesan singkatnya.
“Dek, Apa kabar? Bolehkah Mas dan keluarga bersilaturrahmi dengan keluargamu....."
Bagai disambar petir Aku gemetar. Harapan yang sudah hampir mati itu kembali bertunas. Apakah dia sudah siap menikah pikirku dalam hati. Ada sedikit kebahagiaan didalam hatiku tetapi bercampur dengan seribu keraguan. Aku tidak ingin bermain-main lagi. Lelah. Upayaku menjaga diri selama tujuh bulan belakangan ini tidaklah mudah.
“Datanglah kerumah bila memang Mas sudah siap menikah. Antara halalkan atau lepaskan, pilihlah salah satunya. Insyaallah kami akan menyambut baik keduanya...."
Click. Tanganku gemetar. Sebuah pesan singkat baru saja kukirim. Apapun akhirnya semoga itu yang terbaik.









